I Do, Nata!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 November 2013

Aku tersadar dari kegelapan yang entah berapa lama mengedap di mataku. Dan saat itu ketika pusing menyerangku, tiba-tiba jemari seseorang membuka kelopak mataku, dan memeriksannya dengan sebuah senter kecil dan menyorot mataku. Entahlah aku tidak tahu nama alat itu. Tekanan darahku di periksa, dan hal medis lainnya. Dan yang terakhir, sebuah jarum suntik merasuk dibalik kulit pergelangan tanganku. cairannya merambah pada pembuluh darahku.

Setelah terjadi percakapan kecil dengan Mama yang sejak tadi berada di sampingku, dokter itu berpamit pulang. Kemudian Mama menghampiriku
“Aku kenapa Mam?” Tanyaku parau. Dengan sedikit prihatin, Mama mengelus lembut ujung puncak kepalaku.
Sebelum aku bertanya lanjut, beliau sudah menyahut. “Kamu cuman sedikit demam kok, kemarin kata Mamang, kamu habis hujan-hujanan ya? Benar Nadia?” jelas Mama membuatku sedikit legah. Dan pertanyaannya membuat raut wajahku mengendur.
Akhirnya aku mengangguk setelah ingat kemarin aku terkena buliran air hujan saat pulang sekolah. Saat itu Mamang, supir pribadiku lama tidak menjemputku. Hingga ssampai sore aku menunggunya di pelataran sekolah. Dan hujan itu datang mengguyurku tanpa sadar. Seketika aku segera melindungiku kepalaku dengan tas sekolahku, dan aku putuskan untuk menuju pos satpam. Dan berteduh disana. Tapi naas, rambutku basah karena hujan.
“Ya sudah istirahat yaa..” Pesannya lalu mengecup keningku, dan kemudian dirinya menghilang di balik pintu kamarku.
Ku lirik sekilas jam yg ada di samping lemari pakaian. Menunjukkan pukul 7 pm. Sudah berapa lama aku pingsan? Entahlah. Rasanya berat sekali untuk bangun. Di tambah penyakit kecanduan kasur. Alias tidur Dan lama kelamaan aku tertidur akibat suntik bius dari dokter tadi.

Aku masih terbaring di kasur, dan aku putuskan aku tak ingin masuk sekolah hari ini. Flu dan cuaca di luar yang hujan membuat semangat putus. Apalagi kalau nanti ketemu cowok itu, eh.. namanya Nata. Dia cowok yang sudah jadi penolong aku.
Saat aku menunggu Mamang di pos satpam, ia datang secara tiba-tiba dengan seragamnya yang terbungkus jaket. Setelah lama beragumen dan beradu mulut, karena ia mengajakku untuk ikut dengannya. Akhirnya aku mau dibonceng motor dengannya, kelihatannya dia anak baik, ramah dan perhatian. Aku yang super cuek ini hampir larut dengan kepiawaiannya bicara. Dan satu alasan aku mau di boncengnya ternyata rumahnya hanya berjarak limabelas langkah dengan rumahku, dan artinya kita tetanggaan. Dan kita satu sekolah, satu kelas! Sebangku denganku. Huff.. Sebenarnya aku sangat jutek dengannya, tapi dia selalu sabar dengan sifatku. Dan tadi, saat aku menunggu di trotoar luar sekolah, aku hanya merasakan gelap saat terakhir aku mendengarnya meneriaki namaku. Dan kemudian aku pingsan. Hingga seperti saat ini. Dan kemudian aku tersadar. Saat itu Mama ku sedang berdebat dengan seseorang. Aku mengintipnya dari belakang. Dan sedikit mendengar pembicaraannya. Mamaku mengusirnya hanya karena aku di bawa pulang dalam keadaan pingsan. Tapi lebih tepatnya ia menolongku. Mama salah paham. Oh iya, dia kemana? Apa… Nata.. Aduuhh.. harus gimana aku ini… dia mungkin akan menjauhiku..

“Nadia!!” pekik seseorang dari balik pintu, suaranya berpadu dengan jemarinya yang terketuk pada dinding pintu. Tak lama lagi. Seseorang menyembul dari bailknya. Bella dan Salsha, tersenyum ke arahku dengan berpakaian masih seragam dan sebuah kantong plastik tertenteng di tangannya.
“Nadia apa kabar?” Tanya Bella ramah, kemudian duduk di sampingku “baik, kalian?” Baik? Baik di luar saja, aku tersenyum pada mereka, selain keadaanku yang belum stabil aku juga lara batin. Dan seperti biasa, ketika menjawab pasti bertanya balik. Hanya basa-basi saja.

Mereka kesini karena ijin gak ikut satu jam pelajaran hanya karena menjengukku siang ini. Aku sedikit lega bisa bercengkrama dengan nya, mengusir penat yang mengikat rasa bebasku di dada. Mama pasti sudah pergi sejak tadi pagi, dan keluar kota dan mulai sibuk dengan lembar-lembar kerjanya.
Aku biasa mengusik kepenatanku dengan mengobrol santai dengan Bi Kanni selaku adeknya Mamang, dia juga kerja disini sebagai pembantu.
Disaat seperti ini, aku jadi teringat Nata. Dia gak ngejenguk aku. Dan di balik kesenda gurauanku dengan Bella dan Salsha, aku murung dan merasa sangat begitu bersalah padanya – Nata

Sudah dua hari aku tidak masuk sekolah. Dan selama itu pula mereka – Salsha dan Bella – rutin menjengukku, walau hanya sekedar berbincang – bincang tentang topik di sekolahan, tentang materi pelajaran, pengalaman mereka dan lain sebagainya. Mereka mengalaminya bertiga dengan Nata, dan tanpa ada aku. Walaupun begitu Aku merasa terhibur. Ingin rasanya Aku menanyakan Nata. Tapi aku jadi merasa engga enak sama Bella dan Salsha. ah ya sudah aku buang jauh-jauh saja lah ya.. Hari ini hari pertama aku masuk sekolah –eh– maksudnya hari pertama aku berangkat sekolah tanpa menggunakan kacamata seperti biasanya, walaupun sebenarnya di rumah juga aku sudah tidak menggunakannya, pasti mereka akan menganggapku memakai softlens – lensa kontak. Kata mereka, mataku rada kecoklat-coklatan mirip bule, padahal gak satu pun keluargaku ada yang blasteran atau sedarah dengan orang asing. Haa… andai aku bisa berjalan dengan menutup mata pasti akan kulakukan agar tidak mendapat kritikan dari mereka.
“Non… ayoo!!” panggil Mamang dari bawah. Aku mengerjap tersadar di depan cermin dan kemudian meneriakinya “iyaaa” dari atas sini melalui jendela.
Aku menghela nafas, dan mengatakan, aku siap, dalam hati.

“ini bener lo Nadia?” “Waa lo cantik kalo kaya gini” “halo mata bule balik lagi deh!” Pertanyaan dan sapaan sepanjang perjalanan menuju kelas itu aku balas dengan senyuman saja. hari yang sudah siang ini membuatku gugup segera ke kelas. Dan segera menelungkupkan wajahku di meja? Atau mungkin bertemu Nata. Haa.. rasanya aku tak sabar… Tak sabar ingin meminta maaf dan rasa salahku akan segera hilang.
“Nadya!!” seru seseorang ketika baru saja aku melangkah melewati ambang pintu, Salsha dan Bella sudah menyambutku di situ. Dan aku segera duduk. Aku tersenyum legah, Nata sudah duduk manis disana, tapi.. dia tidak merespon kehadiranku sama sekali. dia memalingkan wajahnya ke arah lain ketika aku duduk di sampingnya. Yaa karena aku dengannya sebangku.

Di waktu yang terus bergulir yang tiba-tiba kekuatannya hilang untuk berjalan cepat, sang surya yang tadinya menampakkan sinarnya di ufuk timur merangkak lamban. Aku hanya diam sambil mendengarkan penjelasan dari Mr. Azam, ia mengajar Kimia kali ini. Di tambah beban rumus-rumus yang mulai menghantuiku sejak kedatangan Mr. Azam dan pikiranku mengenai Nata aku jadi semakin ruwet.. dan tidak enak hati padanya. Wajahnya yang kemarin-kemarin cerah berubah menjadi murung pucat. Wajahnya yang selalu berseri-seri seakan seperti buah cery saat ia tersenyum kini bertambah valuenya. Aku berhati-hati bergerak di sampingnya, takut jika tingkahku kali ini akan menambah sakit yang mungkin ada di hatinya.
Oh Nata… maaf!

Tak ada yang spesial, hanya keadaan seperti biasa di sekolah. 2 hari tidak sekolah membuatku harus hardwork untuk menyusul pelajaran yang tertinggal. Dan tadi saat bel terakhir berbunyi, aku tak sempat berbicara dengan Nata. Dia hanya kikuk, ia malah dingin terhadapku, dengan Bella dan Salsha ia bergurau tak karuan. Tapi kali ini tidak, tak sepatah kata pun di lontarkan kepadaku, walau hanya sekedar tegur sapa.

Sore ini ku beranikan diriku beranjak dari rumahnya, walaupun sebelumnya Mamang melarangku keluar rumah.
Sesaat aku terdiam, tiba-tiba kakiku kaku untuk melangkah. Ku tatap baik-baik pekarangan rumahnya, sepi. Hanya semilir angin sebagai penghuninya. Dan aku yakin itu pasti rumahnya, toh minggu lalu aku melihatnya masuk kesitu. Penuh tekad bin niat, akhirnya aku masuk. Menuju pekarangan rumahnya. Di gazebo samping dekat taman, aku melihat punggung seseorang. Aku lihat perawakannya sih seperti Nata. Huff.. aku menghela nafas dalam-dalam. Dan kemudian ku beranikan kakiku bertapak di sampingnya.
“ada apa?” sebelum aku sempat menepuk bahunya, ia sudah membuatku salah tingkah. Suaranya yang dingin nan berat menjadi canggung untuk aku berbicara. Terlebih ia tak menoleh sedikit pun. Satu tangannya dimasukkan dalam saku celana, dan yang satunya lagi memegang sesuatu.. entahlah, aku tak bisa melihatnya, karena berada dalam genggamannya
“ee..” hff.. aku mencoba menetralkan keadaan. “gue kesini pengen minta maaf sama lo!” ujarku parau menunduk, tak berani menatapnya. Tapi inilah sifat asliku, masih mencoba jutek saat-saat seperti ini.
“maaf buat apa?!” tanyanya, lagi-lagi lebih dingin. Dan sejurus kemudian benda yang tadi di genggamnya itu di terbangkan menancap pada dinding yang di lapisi Sterofoam. Sebuah paku payung berhasil menancap di tengah-tengah lingkaran warna merah. Aku terganga di buatnya, bagaimana bisa ia melakukannya hanya dengan sepersekian nano detik? Atau mungkin jaraknya yang hanya berkisar 4 m dari hadapannya.
“karena kemarin, nyokap gue sempet ngebentak ke lo! Dia gak tau masalahnya, wajar kalo dia marah sama lo! Dan..”
“dan apa?” saat aku menjedanya, ia memotong tak sabaran dan menoleh dengan wajah datar. Postur tingginya yang melebihiku membuatku menengadah untuk melihatnya
“makasih kemarin lo udah nolongin gue!” ucapku terlontar begitu saja tanpa terpikir lebih lanjut. Tiba-tiba senyuman miring di sunggingkannya.
“lo tau? Lo punya 3 kesalahan ke gue!” balasnya, aku tertegun. Apa Nata? Bicara!!
Seakan mengerti isi hatiku ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian tangannya yang menggenggam memekar menunjukkan payu payung itu. Apa? Aku mengerenyitkan alis. “do the same” – lakukan hal yang sama. Dengan ragu-ragu akhirnya aku mengambil 2 paku itu. Dan melakukan hal seperti yang tadi Nata lakukan. Tepat pada dugaaan. Aku bisa menancapkannya di area lingkaran merah.
“lo tau paku itu! 3 paku itu kesalahan lo!” dua buah paku yang tadi aku tancapkan dan sisa Nata yang tadi. Tapi, aku masih gak paham. Apa salah karena gak pas titik tengah hitam itu? Atau..
“pertama, lo udah cuek sama gue!” Haa? kali ini aku lebih melongo, memang bener aku cuek banget sama Nata. Tapi kan gak harus sombong gitu bahasanya. Emang lo siapa? Semua orang juga gue gituin kali!!
“kedua, elo udah buat gue gak bisa main sama lo minggu ini!” aku hanya mendengarkannya dengan menunduk. Melipat kedua tanganku di atas perut. Malas!
“ketiga, nyokap lo salah paham sama gue!!” Naahh yang ini bener! Memang ini tujuan gue dari tadi.
“gue minta maaf! Please lo maafin gue!!” mohonku merasa bersalah, ku tampakkan raut cemas yang terukir di wajahku.
Nata terdiam, dan aku sejenak berpikir. Kemudian kakiku menuntun dekat dinding berlapis sterofoam itu. Dan mengambil tiga paku tersebut. Oke! Nata mungkin akan mengajarkanku sebuah arti hidup atau apa.. entahlah aku masih penasaran, semoga terkaanku kali ini benar!
“pakunya ada di gue sekarang. Dan itu artinya,” Nata tersenyum mendengarnya, menurutku senyuman yang paling manis. Sampai tak terasa saat ia memberikan senyuman itu kepadaku, ludahku terasa manis saat aku menelannya.
“Ya! Itu artinya gue udah maafin lo walaupun bukan gue yang ngambil tuh paku! Tapi lo tau bekas sterofoam itu?” Tanya Nata, dagunya menunjuk ke arah yang dimaksud. Saking bodohnya aku, aku menggeleng. Nata mengajakku mendekat. Menghampiri seksama apa yang beda dari sterofoam itu. Menimbulkan bekas akibat tancapan paku tersebut, aku tahu. Pasti itu meninggalkan luka dalam pada Nata. Dan itu artinya, aku salah dua kali lipat. Aku menunduk.
“katanya, salsha sama Bella sahabat lo?! Dan kemarin gue udah jadi sahabatnya! Apa gue bisa jadi sekedar teman?” tawar Nata. Bukan hal yang sulit untuk menebus kesalahan itu. Tapi kenapa Nata menyebutnya “teman”?
Minggu lalu, saat pertama kali Nata bertemu dengan Bella dan Salsha mereka sepakat untuk menjadikannya sahabat, tapi aku hanya diam tak merespect. Apa sebab? Nata terlalu perhatian kepadaku membuatku risih. Dan saat ini dia mengutarakannya sendiri, membuatku menjadi lebih biasa padanya, rasa cuek itu seakan menjadi gas beracun pada tubuhku. “sahabat!” aku meralatnya sambil menengoknya, Nata tersenyum “janji!” katanya lagi, kelilingkingnya di acungkan di depan mataku, hingga saat itu mata kami bertemu pada satu titik. Ujung kelingking. “janji!” seruku sambil mengaitnya, dan kemudian. Senyum kami merekah. Lebih indah dari yang kuduga. ternyata aku bisa dibuat senyum oleh sosok cowok untuk yang pertama kali selain Papaku, dialah Nata.

Cerpen Karangan: Ike Amelia S.
Facebook: http://www.facebook.com/ikeamelias
Twitter: @ike_amelia13

Cerpen I Do, Nata! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kasih Yang Tak Dianggap

Oleh:
“Hari itu semuanya baik-baik saja aku masih bersamanya dan menjalani hari-hari dengan indah dan penuh keceriaan tapi entah mengapa 3 hari ini dia sangat berubah padaku bahkan tak menemuiku

Someday Will Be

Oleh:
Ini adalah sekelumit cerita tentang sebuah mimpi, cinta dan persahabatan. Semua tersurat dari tangan tangan 2 sekawan, dion dan zahira. Dua anak manusia berbeda gen ini, memiliki sejuta mimpi,

Mengikis Masa Lalu

Oleh:
“Hay,” mungkin hanya kata sederhana itu yang akan terlontar ketika aku bertemu denganmu suatu saat nanti. “Hay” Satu kata yang terdiri dari tiga huruf, sangat sederhana namun akan terasa

Cintaku Padamu Irene

Oleh:
Pagi itu Ayah mengajakku pergi ke rumah seorang rekan kerjanya, ku juga heran padahal jika ayah pergi kemana mana tak pernah mengajaku. “Koko (nama panggilan ayah padaku) sekarang kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *