I Don’t Know When But I Love You (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

“Gue kayanya gak bisa deh nerusin rencana pernikahan ini sama Reno” Ucapku pada Lusi sahabat terbaikku. Mataku menatap jauh ke depan ke arah yang entah kenapa. Tubuhku lemas menangis semalaman dan mataku masih bengkak. Kembali aku ragu untuk menjalani kembali rencana pernikahanku dengan Reno. “Bukan salah lu juga sih Ra kan lu sama Reno dijodohin, yang jadi masalah gimana lu ngomong sama orangtua lu.” Ucap Lusi menatapku. “Gue gak tau Lus, gue baru ketemu dia 2 kali dan langsung harus merencanakan pernikahan. Gue punya impian nikah sendiri. Tapi.. semua lenyap karena impian orangtua gue.” Aku kembali terisak. Lusi hanya memeluk menenangkan. “Gue udah nurutin semua mau mereka, sekolah di tempat yang mereka mau sampai universitas dan jurusan semua mereka yang pilih, gue bahkan gak dikasih kesempatan buat punya karir yang gue mau, gue langsung bekerja di perusahaan dan mereka masih mengatur untuk pernikahan gue. Bahkan dengan pria yang gue gak kenal” Aku semakin terisak kencang. “Lu bisa berhenti kalo lu mau, tapi gimana lu ngomong sama orangtua lu.” Pertanyaan itu yang selalu terulang dan aku belum tau harus bagaimana. “Gue mau kabur ajah Lus, biar gue pergi buat sementara waktu buat mikir apa harus gue lanjutin ini semua” Ucapku dan beranjak ingin pergi, lusi memegang tanganku menahan “Apaan sih lu Ra gak lucu tau gak” Dia ikut berdiri semakin erat menahanku. “Biar gue nenangin diri gue sendiri yah Lus, gue mau sendiri” Aku melepas genggaman tangan Lusi dan keluar dari rumahnya. Aku mengendarai mobilku ke arah rumah berniat ingin pergi ke suatu tempat sementara waktu.

Mobilku berhenti dan aku beranjak masuk ke rumah. Aku anak tunggal mama papaku adalah pengusaha yang cukup sukses, dari kecil aku tidak dibiasakan untuk memiliki pilihan sendiri sehingga sampai dimana aku tiba di titik lelah dengan mengikuti keinginan orangtuaku. Aku masuk ke kamar dan membereskan semua barang-barangku.

Aku memacu kembali mobilku dan menuju daerah Bandung, entah yang terpikirkan hanya aku akan menginap di rumah Oma di Bandung beberapa hari untuk menenangkan diri. Menempuh perjalanan yang kurang lebih 4 jam dengan kemacetan yang biasa harus dilewati aku sampai di rumah Oma. Aku keluar dari mobil dan memencet bel menunggu pintu terbuka. Terdengar Oma tergopoh menuju pintu. “Tiara..” Oma terkejut dengan kedatanganku dan langsung memeluk. “Tiara kangen oma” Aku hampir terisak, karena aku dan Oma memang dekat. Sejak kecil aku didamping oleh Oma karena orangtuaku sibuk dan tidak ada yang menjagaku. Setelah aku dikuliahkan di luar negeri oma memutuskan untuk menempati kembali rumahnya di Bandung. “Masuk sayang” Oma membawaku masuk ke dalam dan menunjukan arah kamar yang masih seperti dulu. Kamar yang selalu aku tempati dari kecil. “Gak ada yang berubah Oma semua masih sama” Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. “Hanya kamu yang berubah menjadi Tiara oma yang dewasa dan cantik sekali.” Oma membelai lembut rambut ku. “Kamu gak bilang mama papa yah mau kesini?” pertanyaan oma membuat aku kaget dan bangun duduk di atas tempat tidur. Aku hanya mengangguk lalu memeluknya. “Oma sudah yakin pasti ini masalah pernikahan kamu dan Reno.” Oma memang selalu mengerti aku dibanding orangtua kandungku. Bahkan aku tidak perlu cerita dan oma bisa mengerti bagaimana perasaanku. “Sudah kamu istirahat dulu saja yah, nanti kita ngobrol lagi. Biar oma siapkan makan malam kesukaan kamu yah” Oma beranjak meninggalkan aku untuk istrirahat. Aku kembali berbaring di tempat tidurku tak lama terlelap karena fisik dan batinku yang begitu lelah.

“Tiara.. ayo bangun nak, kita makan malam dulu” Suara Oma membangunkanku. Aku bergegas bangun melirik jam sudah hampir jam 7 malam. Aku keluar pintu dan melihat oma sudah menunggu dari tadi. “wah.. Oma masih inget yah semua masakanku.” Aku hanya tersenyum ke arah Oma. “Sudah cepat di makan nanti dingin.” Oma mengambilkanku nasi dan semua sayur juga luauknya. Aku bahagia sekali bisa seperti ini. Di rumah dari sarapan hingga malam aku hanya berada di meja makan sendiri, karena orangtuaku sibuk dan jarang ada di rumah. “Besok rencana kamu apa Tiara?” tanya oma di sela makan malam. “Gak tau.. aku mau seharian tidur aja kali yah Oma” Jawabku asal karena memang masih belum punya rencana apapun. “Besok bisa bantu Oma?” Aku menatap oma bingung tidak seperti biasa oma minta bantuanku. “Tumben.. oma mau minta bantu apa?” aku tak sabar menunggu jawab oma. “Besok tolong kamu ketemu orang yang akan membeli lukisan Oma, oma ada janji lain lagi dan bentrok waktunya.” Oma menjelaskan dan aku hanya mengangguk mendengarkan. “Oma masih suka melukis? Sudah lama gak ke galeri Oma” Aku tau bahwa oma memang dari dulu suka sekali melukis, almarhum opa juga karena itu mereka membuka galeri lukisan di Bandung. “Besok orangnya yang akan ke galeri jadi ada dua kan yang bisa kamu lakukan, main ke galeri Oma dan menemui orang itu, bisa kan?” Aku hanya mengangguk mengiyakan toh aku memang tidak ada rencana untuk besok.

Suara alarm handphoneku berbunyi kuambil dan melirik jam menunjukan Pukul 07.00 WIB. Aku beranjak dari tempat tidur dan ke luar kamar. Dari dulu rumah oma tidak pernah ada pembantu. Ayahku anak tunggal jadi memang Oma lebih banyak menghabiskan waktu untuk melukis dan pergi ke beberapa tempat waktu Opa masih ada. Dari jauh kulihat oma sedang duduk santai sambil membaca majalah. Oma masih terlihat cantik di usianya yang sudah mulai menua. Aku menghampirinya manja dan memeluknya. “Dasar kamu masih saja manja, kamu kan sudah dewasa. Oma masih gak nyangka sekarang usiamu sudah 27 tahun padahal dulu oma masih melihat Tiara yang manja dan cengeng. Sekarang Tiara oma tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan tumbuh dengan kuat.” Oma membelai rambutku lembut. “Kalo kamu belum yakin sama Reno, kenali dia dulu” Ucapan oma membuatku sedkit kaget dan melepaskan pelukanku menatap Oma. “Kamu kenali dulu dia Tiara.” Oma tersenyum memegang lembut tanganku. “Iyah oma” aku tertunduk lemah. “Sayang.. jangan melihat sisi negatifnya terus, kamu harus belajar melihat sisi baik dari apa yang ada. Jika memang sudah kenal dengan Reno dan ternyata dia memang tidak sesuai dengan keinginan hati kamu baru kamu boleh ambil sikap.” Nasihat Oma dan aku merasa lebih tenang. Oma benar seharusnya aku bisa ambil sisi baik dulu, kenali dulu.

Aku bersiap diri ke galeri oma karena harus bertemu dengan orang yang akan membeli lukisan oma. Handphoneku berbunyi kulihat layar handphoneku dan sudah ada 20 panggilan tidak terjawab dari mama dan papa. Aku sudah mengirim informasi singkat ke sekretarisku bahwa aku ambil cuti untuk 2 minggu. Dengan mendadaknya pengajuan cutiku maka banyak sekali schedule yang dicancel dan aku yakin itu membuat mama dan papa repot. Tapi aku tidak peduli seperti mereka tidak peduli dengan apa yang aku rasakan.

Aku sampai di galeri oma, masih sama seperti dulu. Aku masuk dan di sambut oleh beberapa pegawai yang memang masih mengenali aku. “Non.. makin cantik aja” Puji Ibu asih salah satu karyawan Oma. Aku tersenyum menyapanya dan memberi salam “Lukisan yang mana bu yang di jual Oma? Orangnya belum datang kan?” Aku melihat-lihat isi galeri Oma yang semakin mengagumkan. “Itu yang sudah disiapkan sebentar lagi orangnya datang, Non duduk dulu biar saya buatkan minuman” Ucap ibu asih yang langsung masuk membuatkan minuman. Aku duduk dan menatap satu persatu lukisan yang ada di galeri ini. Aku tersenyum menatap lukisan yang paling besar di antara yang lain. Lukisan Oma, Opa dan Aku. Lukisan itu di buat oleh Opa waktu aku berusia 7 tahun. Pikiranku kembali mengulang kenangan akan lukisan yang dibuat oleh Opa. “Permisi..” Sapa seseorang yang membuyarkan lamunanku. Aku berdiri bermaksud menghampiri orang yang baru saja datang. Dan ketika mata kami bertemu aku kaget dan terdiam sama seperti orang yang ada di hadapanku. “Tiara” Ucap orang itu sangat kaget. “Kamu ngapain Ren?” Aku berusaha mencairkan suasana. “Aku mau ambil lukisan.” Jawab Reno mencoba tersenyum. “Ohhhh.. jadi lukisan ini pesenan kamu. Oma minta maaf gak bisa ketemu kamu langsung” Aku berjalan mengambil lukisan yang sudah disiapkan untuk di ambil oleh Reno. “Oma??” tanya Reno terlihat tidak mengerti. “Iyah oma” Kataku tak mengerti kenapa dia bingung aku menyebut kata Oma. “Jadi.. ibu Ratna itu oma kamu” Reno mulai mengerti dengan kondisi yang ada. “Iya itu Oma aku, mama dari papaku.” Aku duduk di bangku tempatku tadi duduk. Reno menyusulku dan duduk di sebelahku. Tidak lama ibu Asih datang membawakan minuman untuk kami berdua. “Ini loh mas Reno mba Tiara yang suka dibicarakan oleh Ibu Ratna.” Kata Ibu Asih dengan nada menggoda. kulihat wajah Reno yang memerah dan tertunduk malu. Aku hanya tersenyum simpul melihat keadaan ini. Aku tidak pernah sedekat ini dengan Reno setiap pertemuan kami selalu bersama dengan keluarga. Semua orang di galeri ini tidak tau bahwa aku sudah dijodohkan dengan Reno dan Reno tidak atu bahwa Ibu Ratna yang dia kenal selama ini adalah Omaku.

“Kamu lagi ada kerjaan di Bandung?” Tanyaku mengalihkan kondisi yang sudah semakin canggung. “Iya lagi ada proyek disini jadi aku stay disini untuk beberapa waktu, kamu sendiri?” Reno sudah semakin santai dan tidak secanggung tadi. “Aku kabur” Jawabku singkat dan tertawa. “Jadi.. orangtuamu gak tau kalo kamu di Bandung?” Tanya Reno menyelidik. “Iya, dan jangan ngadu yah kamu. aku lagi gak mau pulang” Aku malas untuk membahas soal rumah. “Makan siang bareng yuk, kamu pasti belum makan kan” Ajak Reno menatap ku. “Ya udah yuk aku juga laper.” Kami beranjak dari galeri dan pergi ke salah satu restaurant. Ini untuk pertama kalinya aku dan Reno jalan berdua.

“Kamu mau pesen apa Ra?” Reno menatapku yang dari tadi membolak balikan menu. “Aku bingung Ren” Jawabku dan dia hanya tersenyum. “Sup macaroni sama daging asap disini enak, mau coba?” Ucap Reno sambil menunjukan gambar makanan yang dia maksud. “Ehmttt… kayanya enak. Okeh lah aku mau yang itu” Akhirnya aku memutuskan untuk memesan makanan sama dengan yang Reno pesan. Kami mulai mengobrol ringan. Ternyata Reno orang yang asik tidak seperti apa yang aku pikirkan selama ini. Bahkan dari perbincangan kami, dia tidak pernah membahas tentang perjodohan atau masalah keluarga. “makasih yah ren untuk makan siangnya” Aku turun dari mobil di depan galeri. “Sama-sama, nanti malam ada acara? Kita makan malam yuk” Ajak Reno dengan ramah. “Ehemt.. belum ada sih ya sudah nanti aku hubungi lagi saja yah” Ucapku tersenyum agar tidak begitu terlihat menolak. “Bagaimana kamu mau hubungi aku kamu aja gak punya contact ku” Reno menatapku dengan senyum menggoda. Tak lama dia memberikanku kertas kecil berisikan no Hpnya. “Hubungi aku yah” Reno tersenyum dan pergi meninggalkan galeri. Aku tidak masuk lagi ke dalam galeri dan langsung bergegas menuju mobilku. Aku dilanda rasa bingung. Entah kenapa aku mulai nyaman dengan Reno padahal aku ke Bandung untuk menghindari tentang perjodohanku dengan Reno.

Aku sampai dan kulihat mobil Oma sudah ada di rumah. Aku bergegas masuk dan menghampiri oma yang sedang melukis di taman belakang. “Oma kenapa gak bilang sudah kenal Reno” Aku langsung bertanya dan duduk di sebelah Oma, oma menengok ke arahku dan tersenyum. “Tapi.. dia tidak tau kalo kamu cucu oma bukan?” Oma bertanya sambil melanjutkan melukis. “Iya.. kenapa oma gak cerita?” Aku masih ingin tau kenapa oma tidak memberi tau aku soal Reno. “Ketika Oma tau kamu dijodohkan oleh seorang pria, awalnya oma juga menolak. Tapi oma coba untuk realistis dengan keadaan karena asal kamu tau oma dan opa menikah karena perjodohan. Oma langsung cari tau tentang Reno. Dan beruntungnya Oma Reno ternyata bertugas menjalankan perusahaan di Bandung. Oma cari tau tentang kehidupan Reno dari semua sumber. Oma tidak ingin ceritakan seperti apa Reno. Biar kamu tau sendiri seperti apa Reno, makanya Oma minta kamu untuk cari tau tentang Reno.” Jelas oma dan aku hanya terdiam. “Malam ini Reno ajak aku makan malam oma, tapi aku bingung.” Aku mengingat ajakan Reno tadi setelah makan siang. “Wah.. wahh sudah secepat itu. Memang pria yang tidak suka membuang waktu” Oma tertawa. “Sudah pergi malam ini dengan dia, sebagai teman dekat saja. Kamu tidak perlu memutuskan apapun. Suruh dia jemput kesini” Aku tenang mendengar nasehat oma dan langsung menghubungi Reno.

Waktu pun menunjukan pukul 19.00 WIB dan aku sudah bersiap menunggu Reno menjemput. Tak lama suara mobil terparkir di depan rumah dan aku mendengar oma sedang berbicara ramah dengan seseorang. Aku keluar kamar dan kulihat Reno duduk di ruang tamu dengan Oma mengobrol. Mereka sepertinya sudah benar-benar dekat. Bahkan Oma lebih mengenal Reno dibanding aku. “Nah itu dia cucu Oma tersayang Nak Reno” Ucap Oma melihatku berjalan ke ruang tamu. “Kalau begitu kami pamit yah oma biar tidak terlalu malam.” Reno memberi salam pamit pada oma dan aku mngikuti langkahnya. Kami pergi untuk makan malam.

Reno mengajakku mengobrol membuat suasana lebih santai. Dan kami pun sampai di salah satu restaurant. “Tempatnya bagus Ren, kayaknya kamu sudah hafal betul dengan daerah bandung. Pasti sering ngajak cewek kesini yah” Aku coba menggoda Reno. “Bener kata Omamu tempat ini bisa buat kamu kagum. Oma nyaranin aku tadi ajak kamu ke tempat ini. Aku bahkan sudah tidak boleh lagi panggil Omamu dengan panggilan Ibu Ratna.” Reno menjawab dengan ringan. Tak lama pelayan datang dan kami memesan makanan. Kami berbincang untuk lebih dekat satu sama lain. Kami memiliki beberapa kesamaan. Aku bercanda tawa sampai tak sadar kalo waktu sudah menunjukan Pukul 22.00 WIB. “Ren.. ayo pulang besok kan kamu harus kerja” Ucapku pada Reno. “kamu berapa lama lagi di bandung?” Tanya Reno padaku. “Aku ambil cuti 2 minggu Ren.” Aku menjawab singkat. “Wahhhh.. lama juga yah ibu boss ini cuti. Besok aku ambil cuti juga rencananya mau ajak kamu jalan-jalan. Habis kata oma kamu mau habisin waktu cuti dengan tidur. Dari pada begitu mending aku ajak kamu jalan-jalan setuju?” Tanya Reno tanpa basa-basi. “Baiklah Pak boss besok jemput aku yah” aku memutuskan untuk pergi liburan setidaknya aku bisa lebih mengenal Reno. Kami pun pulang dan bersiap untuk pergi besok.

Cerpen Karangan: Dika Rosamala
Blog: dikarosmala.blogspot.com
Jakarta, 13 Desember 1991
0812 83000 764

Cerpen I Don’t Know When But I Love You (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat

Oleh:
Aku masuk ke dalam kelas. Ternyata ada Nauval, dia sudah sampai duluan. “tumben datang pagi-pagi sekali, kerasukan setan darimana kamu?” ejekku. “ya pengen aja berangkat awal, males kena hukuman

Ketika Cinta Berbisik

Oleh:
“Plakkk…!!!” Hendri menampar istrinya dengan penuh emosi. Tetesan air mata menggenangi pipi Asfy, istri yang dinikahinya setahun lalu. Baru kali ini ia mendapat tamparan keras dari suaminya. “Maafin aku

Bianglala

Oleh:
Ketika hati berkata iya maka tidak mungkin mulut berkata tidak. Seperti katamu padaku “ Hati itu tak bisa dibohongi, jangan menyakiti perasaanmu sendiri. Katakan apa yang ingin dikatakan hatimu.

Jodoh yang Ditunda

Oleh:
Ketika sadar aku sudah berada di rumah sakit dengan balutan di tangan serta kaki, untung saja kepalaku tidak apa-apa. Saat itu aku melihat Lia sedang berdiri di samping perawat

Kamu yang Mampir Sebentar

Oleh:
Banyak cinta yang datang seolah benar-benar memberikan keyakinan hati. Tapi pada hakikatnya cinta tersebut hanya mampir sebentar, memastikan untuk kemungkinan masuk ke hatimu. Hanya saja kamu harus pintar mengolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *