I Love Him (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 May 2019

Setelah celingukkan mencari kendaraan umum melintas sebuah angkot yang segera Aku hentikan. Di angkot tidak juga kurasakan ketenangan yang lama, karena tepat kurang tiga ratus meter jaraknya dari sekolah jalan raya macet total. Kuputuskan untuk turun di sini dan berlari lagi hingga ke sekolah. Sesekali Aku berhenti, mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Aku menekan perutku, keroncongan tadi belum sempat sarapan. Aku tidak pernah sekalipun tidak sarapan karena dari kecil mamah selalu mengatakan ‘ke manapun perginya kamu harus sarapan, apalagi ke sekolah. Sarapan itu memberi energi kamu juga bisa membantu konsentrasi kamu’.

Ah tidak!! satu menit lagi pintu gerbang hampir kuraih. Kupercepat langkahku dan fyuhh… untung saja belum terlambat. Tepat saat Aku mengantri bersalaman dengan para guru juga OSIS yang berjejer rapi menyambut para siswa yang datang, bel tanda masuk berbunyi. Hampir saja, setelah bersalaman dengan OSIS selesai Aku berniat untuk segera berlari agar tidak terdahului oleh guru yang akan mengajar. Tapi pandanganku mulai berkunang-kunang, kakiku rasanya lemas, tiba-tiba semua berangsur-angsur redup dan akhirnya gelap Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Aku membuka kelopak mataku yang berat kepalaku pusing rasa perih di perut mulai menggigit. Aku tersadar setelah mencium aroma minyak kayu putih. Samar Aku melihat seorang perempuan beralmamater OSIS. “Kamu sudah sadar?” ucapnya lembut. Kemudian, dia terlihat memanggil seseorang. Lalu, seorang laki-laki masuk, tampan, putih, tinggi, siapa lagi kalau bukan Kak Septiyan. “Kamu udah siuman?” Ia menyentuh keningku terlihat khawatir. Aku tersenyum lemah. “Ini minum dulu” ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih.
“Kamu pucet banget, kamu kenapa sih? Lagi sakit apa kenapa?” dia bicara panjang lebar “Terus kenapa kamu tadi lari-larian sih?”

Aku belum sempat menjawab hingga suara perut yang keroncongan menjawab semuanya. Aku kira dia akan menertawakanku tapi dugaanku salah yang menahan tawa hanyalah seorang OSIS perempuan yang tadi mendampingiku. Kak Septiyan malah menegurku “Kalau belum sarapan ngapain juga lari-lari hah?” seorang OSIS perempuan tadi pergi meminta izin untuk membeli makanan untukku, Aku jadi merasa tidak enak padanya. Padahal, dia kan kelas XII sedangkan Aku junior yang baru kemarin selesai masa MOS. “Kalau berangkat yang pagi jangan sampe kesiangan jadinya gak lari-larian gitu” Ia masih saja mengomeliku. “Iya… iya Kak janji gak bakal gitu lagi…” ucapku mengalah
“Lagian kalau butuh tumpangan kan bisa ngehubungin Aku bisa Aku jemput kan?”
“Gimana mau ngabarin Aku kan gak punya nomor hp kakak” ups Aku tidak sengaja memancing Kak Septiyan. Ia mengambil tasku yang tergeletak di sampingku, lalu mengeluarkan hp ku dan menulis sesuatu. “Ini nomor hp Aku kalau butuh apa-apa hubungin aja”

Sejurus kemudian Aku menyadari sesuatu, mengapa Ia begitu perhatian padaku ia juga tetlihat khawatir denganku padahal kami baru kenal kemarin. Ada sesuatu yang aneh yang membuat kami semakin dekat. Apa ini cinta?

Tidak berapa lama kemudian, kak OSIS yang tadi membeli makanan sudah kembali dengan menenteng tas kresek yang berisi sebungkus makanan. “Aku pergi ke kelas dulu ya?, Kamu di sini aja jagain UKS sampai jam ke 3, hari ini piket kamu kan?” dia berlalu sebelum dapat jawaban dari Kak Septiyan.
“Mau makan sendiri apa disuapin?” ucapnya menggoda
“Aku makan sendiri saja Kak,” jawabku lalu membuka bungkus makanan.
“Ya sudah cepat dimakan, Aku tungguin”
“Apaan sih Kak jadi malu kalau makan diliatin..” keluhku
“Ngapain harus malu?, kalau kamu gak makan nanti Aku yang nyuapin”
“Dasar orang suka maksa…” gumamku dalam hati
“Oh ya kalau kamu mau pulang abis makan, nanti Aku anterin”
Aku menggeleng cepat “Gak ah Kak kalau Aku pulang sekarang sia-sia dong perjuanganku sampai sekolah”
Suapan demi suapan masuk ke mulutku dengan sukses. Entah kenapa rasa makanannya sangat enak padahal hanya nasi biasa. Aku rasa Aku benar-benar kelaparan.

Matahari condong kebarat bel tanda pulang sudah terdengar sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi Aku masih di depan kelas menunggu Kak Septiyan yang sudah berjanji untuk mengantarku pulang. Ia juga melarangku untuk ke parkiran. Aku harus menunggunya di depan kelas, katanya Ia akan menjemputku ke sini. Tapi hingga sekarang dia belum juga terlihat. Aku menyandarkan kepalaku ke tiang. Sebuah tangan besar menepuk pundakku “Ayo pulang” Kak Septiyan datang dengan wajah tanpa rasa bersalah “udah nunggu lama ya?”
Aku menggeleng cepat “Enggak kok cuma lima belas menitan”
“Oh baguslah” tangannya yang besar mengambil tas dari punggungku. Lalu, ia menentengnya.
“Aku bawain, kasian kamu lagi sakit”

Kami benar-benar dekat kali ini. Dan Aku merasa kalau kedekatan kami ini bukan kedekatan antar teman, atau kedekatan antar senior dan junior dan bukan pula kedekatan antar tetangga. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Setelah berminggu-minggu kami dekat. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Rasa yang selama ini tumbuh di hatiku ternyata adalah cinta. Tapi sesuatu mengganjal di hatiku. Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Aku takut cinraku hanya bertepuk sebelah tangan. Hingga pada suatu malam keraguanku itu dipatahkan. Ketika Kak Septiyan ke rumahku malam-malam. Aku membuka pintu dengan agak ragu apakah yang kulihat ini benar-benar Kak Septiyan atau bayangan fatamorgana. Karena tidak biasanya Kak Septiyan ke rumah malam-malam.

“Kak Septiyan…”
“Ehm… Hai Sa” ia terlihat ragu
“Ada apa Kak?, tumben malem-malem ke sini” tanyaku setelah mempersilahkan duduk
“Nggak… Cuma pengen main aja”
“Oh… Kak Septiyan mau minum apa? Aku ambilin minum dulu ya kak?” Aku berbalik masuk ke dalam rumah. Tapi Kak Septiyan mencegahku dengan menarik tanganku.
“Gak usah Sa, Aku ke sini cuma mau bilang kalau Aku cinta sama Kamu dan apa kamu mau jadi pacar Aku?” ucapnya cepat. Jelas, pendek, tanpa basa-basi tapi masuk ke dalam hati. Aku melongo mendengarnya. Sangat tidak romantis bahkan Ia lupa membawa bunga atau sejenisnya yang biasa dipakai seorang pria untuk menyatakan cintanya pada orang yang dicintainya. Tapi cukup membuat degup jantungku berlarian ridak menentu membuat darah berdesir lebih cepat.

“Gimana? Apa kamu mau nerima cinta Aku?” kini Ia mengenggam kedua tanganku
Aku mengangguk. Tidak bisa berbasa basi lagi Aku sangat bahagia, tidak kusangka Dia juga merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Rasa yang selama ini tumbuh di antara kami memang cinta. Kemudian hujan turun dengan derasnya seakan semesta juga ikut merasakan kebahagiaan kami.

Cerpen Karangan: N. Ratna. D
Blog / Facebook: Novitara Dewi

Cerpen I Love Him (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Yang Adanya Cinta

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku menggunakan pakain abu-abu putih. Sungguh sangat menyenangkan karena masa SMA adalah masa dimana kedewasaan itu dimulai, masa dimana akan mengalami indahnya percintaan dan

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Oleh:
Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagiku. Setelah aku selesai wisuda di kampusku sebagai lulusan terbaik, semua keluargaku berkumpul untuk merayakannya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan indahnya

Rangga (Part 3)

Oleh:
Kutatap lekat lekat tubuh seseorang itu dari belakang. Kayak kenal deh gue, ucapku dalam hati. “Ngapain lo berdiri di situ?” Ucapnya seketika yang membuatku tersentak kaget. Dengan sedikit kesal

Candy my Princess Candy my Love

Oleh:
kring. kring. Bel wekerku berbunyi waktunya pergi ke sekolah baru nih, perkenalkan nama gw Candy Zhaneta Amanda bisa dipanggil Candy, gw punya kakak namanya kak rashky qt slalu brangkat

Genggam Tanganku

Oleh:
“Jika suatu saat nanti aku terjatuh, aku berharap kamu bisa mengangkatku lebih tinggi.” Petang yang indah, warna langit yang jingga bersama awan-awan yang seakan turun melengkuk memutari bumi. Di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *