I Love Him (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 May 2019

Aku menjalani hari-hariku dengan bahagia hingga tak terasa hubungan kami sudah lebih dari setahun. Kak Septiyan sekarang sudah jadi mahasiswa. Meskipun sudah tidak satu tempat menuntut ilmu yang sama Kami masih sering jalan bersama. Tapi sudah dua hari ini Kami tidak bertemu meskipun kami tetanggaan. Ia lagi sibuk ngurusin tugas kuliah. Hingga akhirnya Aku yang memutuskan untuk menghampirinya di kampusnya. Kebetulan hari ini siswa dipulangkan lebih awal karena ada tamu ke sekolah. Dengan berdandan ala anak kuliahan Aku menyusup ke area kampus. Kuputuskan untuk menanyakan di mana keberadaan Kak Septiyan tapi Aku tidak memberitahu kalau Aku akan datang. Setelah bertanya ke sana kemari Aku menemukan punggung milik Kak Septiyan, Ia sedang duduk membelakangiku di sebuah kantin tapi di sampingnya duduk pula seorang perempuan. Aku langsung sembunyi dibalik tiang mengintip mereka berdua. Ia tampak sangat akrab seperti kenal lama. Sayang Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka karena suasana kantin sangat ramai.

Tidak berapa lama kemudian perempuan itu pergi, perempuan itu sangat cantik dan anggun. Setelah memastikan perempuan itu benar-benar sudah tidak kelihatan Aku muncul menepuk bahu Kak Septiyan. Ia tampak sangat terkejut. “Ka..mu kok bisa ada di sini? Sudah berapa lama?” tanyanya gugup
“Aku di sini sejak kamu bicara sama perempuan yang Aku gak kenal” ucapku dengan tenang
“Kamu gak cemburu?” tanyanya setengah menyelidik
“Kamu gak usah kuatir Aku gak cemburu kok, lagian itu cuma temen kamu kan, untuk apa Aku cemburu?” Aku membelai rambutnya sesaat
“Kamu harus cemburu,” Aku mengernyit “Karena dia mantan pacar Aku”
“Oh” Aku meng oh pendek “Tapi tenang, Aku percaya kok sama Kamu. Asal kamu gak main-main sama tu cewek”

Akhir-akhir ini intensitas perjumpaanku dengan Kak Septiyan semakin sedikit. Ia mulai berubah, susah dihubungin kalau diajak ketemuan selalu ada alasan. Malam ini Aku ingin membeli kado ulang tahun pernikahan mamah dan papah. Kuputuskan untuk minta diantar oleh Kak Septiyan.

Chat
Kak boleh minta anterin gak?, pengen beli kado ulang tahun pernikahan papah sama mamah… Sekalian jalan kita kan udah lama gak jalan bareng…

Dia membalasnya
Maaf Sa kalau sekarang gak bisa. Ini Aku masih di kampus ngurusin persiapan acara mapala. Sekali lagi maaf ya…

Lima menit Aku belum membalasnya. Memikirkan jawaban apa yang tepat sebenarnya Aku ingin sekali bertemu dengannya tapi, Aku juga kasihan kalau dia kecapekan. Dia membalas lagi.
Kamu marah ya?, maaf banget besok saja bagaimana?.
Aku mulai mengetik untuk membiarkannya sibuk dengan kegiatannya. Namun belum selesai Aku mengetik ada Wa lain yang masuk dari Fely teman sekelasku. Ia mengirim sebuah foto. Ternyata itu adalah foto Kak Septiyan dengan seorang perempuan dan yang mengejutkan itu adalah mantan yang kujumpai sewaktu di kampus dan itu di foto pada malam ini. Berarti Dia sudah bohong kepadaku dia malah enak-enakan jalan sama mantan pacarnya. Kali ini Aku marah padanya, cemburu.

Kuhapus semua tulisan yang kuketik panjang lebar, Aku ganti dengan mengirimkan foto dia. Setelah kupastikan pesanku terkirim, profil handphoneku Kuubah silent. Esoknya ada sekitar lima puluh pesan darinya dan dua puluh panggilan tak terjawab. Aku sama sekali tidak menghubunginya Wa sms atau telepon darinya tidak Aku jawab. Hingga pada suatu hari Ia datang ke rumahku, meminta maaf padaku dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Aku tidak bisa lama-lama jauh darinya, lalu Aku memaafkannya

Satu minggu selanjutnya Aku mengajaknya untuk pergi menonton di bioskop. Untuk filmnya Aku bebaskan dia yang memilih. Apa film yang dia sukai asalkan tidak horor. Setelah antre tiket kami masuk dan duduk di bioskop. Sayang film yang dipilhnya bergenre action. Meskipun tadi Aku hanya bilang jangan yang horor seharusnya dia mengerti apa yang Aku inginkan. Aku sempat mengeluh “Kenapa film ini sih?”
“Katanya terserah Aku…”
“Seharusnya kamu tau kalau aku pengen nonton film romantis” Aku menggumam pelan tapi cukup keras untuk didengar Kak Septiyan.
“Kamu mau ganti film?, ya sudah kita ganti film..”
“Ah tidak” Aku menarik tangannya “Gak perlu sayang uangnya”
“Dasar perempuan, padahal Aku juga yang membeli tiketnya” dia menggumam

Aku duduk menyandar ke pundaknya dengan mengaitkan tangan kananku kelengan kirinya Ia juga menautkan jemari kirinya di jemari kananku. Kenyamanan yang kurindukan.

Seperti dugaanku Aku sama sekali tidak menikmati alur ceritanya. Sudah hampir setengah durasi dari film yang kami tonton, berulang kali Aku merasa ngeri dengan aksi laga para pemain film. Berbeda denganku Kak Septiyan malah tidak mengalihkan pandangannya dari layar bioskop. Awalnya, Aku ingin tidur di pundaknya. Namun, niatku berubah ketika tanganku menyentuh handphone Kak Septiyan yang diletakkan di saku jaketnya. Aku sangat penasaran dengan isi handphonenya.

Dengan hati-hati Aku melepaskan genggaman Kak Septiyan Ia sama sekali tidak menyadari kalau handphonenya sudah ada di tangan kiriku. Aku tersenyum melihat wallpapernya terpampang fotoku yang cantik. Sambil mengawasi Kak Septiyan Aku membuka Wa nya dari urutan atas ada riwayat chatting denganku tapi di bawahnya ada chattingan dengan seorang perempuan yang bernama Nina. Aku melihat fotonya dan betapa terkejutnya Aku ternyata itu mantannya. Kubuka chatnya mereka saling memberi perhatian. Bahkan Kak Septiyan menanyakan sudah makan belum. Dan yang lebih mengejutkan ketika Nina meminta bertemu dengannya dan Ia juga menyetujuinya untuk bertemu dengan Nina besok. Emosiku langsung tersulut pasalnya Ia sudah berjanji untuk tidak menghubungi si Mantannya itu tapi dia juga yang melanggar janji.

Aku mengembalikan handphonenya dengan diam-diam pula. Aku langsung berdiri “Aku mau pulang!” ucapku ketus. Ia malah menarikku kembali duduk, Aku juga kembali berdiri “Aku mau pulang!” kini Kak Septiyan juga ikut berdiri “Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau sayang uangnya kan?”
“Tapi kali ini Aku mau pulang!” tiba-tiba seseorang dari kursi bagian belakang berteriak “Hei! kalau mau berantem di luar sana!!” Aku langsung berlari meninggalkan bioskop. Kak Septiyan mengejarku. “Kamu kenapa sih?, Kamu gak suka filmnya?”
“Aku mau pulang!!”
“Oke kalau Kamu mau pulang, Aku anterin” dia memegang tanganku. Aku melepaskan tanganku “Gak perlu Aku bisa pulang sendiri!” dengan setengah menahan tangis Aku berusaha melepaskan tarikannya, Ia menarik tanganku ke dalam mobil. Di dalam mobil kami tidak saling bicara hanya kesunyian yang menguasai kami. Aku tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah memenuhi mataku. Aku menangis tanpa suara tidak membiarkan Lelaki di sampingku mengetahui. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela.

Dia mengusap tanganku lembut “Kamu kenapa sih?”
“Aku gak bisa ngomong sekarang”
“Ya sudah kamu istirahat aja, Aku tunggu sampai Kamu siap bicara”

Sudah tiga hari Aku tidak berjumpa dengan Kak Septiyan. Semua Wa dan telepon darinya tidak Aku jawab. Kalau kami tidak sengaja bertemu Aku sengaja menghindarinya. Lama-kelamaan rindu juga Aku padanya. Aku putuskan untuk mencari alasan agar bisa datang ke rumah Kak Septiyan. Kebetulan Mamah sedang membuat kue bolu dan menyuruhku untuk mengantar kerumah Kak Septiyan. Namun, Aku sungguh tidak beruntung Kak Septiyan tidak ada di rumah katanya Ia pergi dari siang. Kemana dia pergi, padahal ini kan hari minggu. Aku pulang dengan senyum hampa. Sampai di rumah, Ega teman sebangkuku kerumah mengajakku pergi ke Mall mau shooping. Kami berangkat dengan gembira.

Ega terlihat senang mendapat baju yang indah. Aku juga sejenak melupakan Kak Septiyan. Namun, entah darimana datangnya muncul Kak Septiyan dengan Nina yang menenteng beberapa tas belanjaan. Aku yang melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakan langsung pulang dengan air mata yang bercucuran di pipiku.

Cerpen Karangan: N. Ratna. D
Blog / Facebook: NovitaRa Dewi

Cerpen I Love Him (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buku Helen

Oleh:
Hujan masih meneteskan sisa airnya. Beberapa saat yang lalu suasana gelap terselimut awan. Namun dalam hitungan menit angin menyapu langit dan mengirim sinar matahari kembali ke bumi. Jalan-jalan basah

Ini Kisahku

Oleh:
Tak! Seorang gadis berambut sebahu menendang kaleng bekas minuman dengan amarah menggebu-gebu. Entah apa yang membuat hatinya panas. Tetapi yang jelas dia benar-benar kesal dengan ucapan anak laki-laki yang

Sahabat Pertama dan Terakhirku

Oleh:
Hai kenalin nama aku Eka. Kali ini aku mau bercerita tentang persahabatanku bersama teman-temanku. Aku punya sahabat yang sangat menyayangiku, mereka adalah Iluh, Candra dan Vian. Kami berjanji untuk

My Love Story

Oleh:
“Mulai sekarang kau adalah milikku dan akan selalu menjadi milikku sampai maut memisahkan kita berdua.” — Namaku Belva Erly Christyna atau singkatnya Belva. Aku sekarang kuliah di UI, dan

Kau, Sajak dan CYMK RGB

Oleh:
Satu, dua kuhitung hari-hari yang akan datang. Sudah sekitar sebulan lebih hal ini terus aku lakukan. Entah, belum ada rasa bosan. Hari demi hari masih terasa menyenangkan. Masih membuatku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *