I Love You Lily

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 November 2016

Kau eratkan genggamanmu di tanganku. Detak jantungmu kudengar beradu dengan nafasmu. Kutatap dalam wajahmu, air mata menggenang dalam kedua matamu. Cemas.

“Semua akan baik-baik saja, Bram” ucapmu setenang mungkin, dengan suara bergetar.
Aku tersenyum kecut mendengar kebohonganmu berulang kali. Entah ini yang ke berapa, aku sudah lupa.
“Kamu dingin?” kau bertanya padaku lembut. Kau usap kasar rambutku. Aku menggeleng.
“Ingat, jangan sekali-kali kamu menyusahkan orang lain” ucapmu lagi, ini sudah kedua kalinya kau mengatakan hal itu.
“Jangan…”
“Aku tahu, Bu. Jangan sampai merepotkan paman dan bibi” ucapku memotong perkataanmu.
“Iya, Bram. Hati-hati disana yah”
“Hm”
“…”

Hening menyelimuti, dingin di pagi hari ini tak sedingin perasaanku. Kupandangi wajah ibu, lagi. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali. Rasanya berat sekali melihat ibu seperti ini tapi, apa mau dikata keputusan sudah bulat. Aku harus berangkat ke Laimu, kabupaten Maluku Tengah, salah satu desa kecil terletak di provinsi Maluku, Indonesia. Aku harus kembali ke negara kelahiran ayah. Sebuah negara di kawasan Asia Tenggara beriklim tropis, yang berarti hanya terdapat dua musim yaitu musim panas dan hujan.

Peluit panjang kereta membuyarkan lamunanku. Ibu memelukku, erat.
“Berhati-hatilah, Bram”
“Ibu juga”

Kuangkat koper beserta satu tas besar menaruh keduanya tepat diatas tempat aku duduk, bangku nomor 28. Tas ranselku masih setia bertengger di punggung. Ibu masih berdiri menatap ke dalam jendela kereta tepat ke wajahku. Perempuan yang sangat kusayangi itu tersenyum lebar, sedang air matanya menyeruak keluar, jatuh membanjiri kedua pipinya yang tirus. Rasanya aku ingin berlari ke luar dan menghapus air matanya yang berharga.

Peluit terakhir berbunyi, aku melepas ranselku menaruhnya di atas pangkuanku. Ibu masih terpaku di tempatnya. Sengaja kukeluarkan kepala lewat jendela untuk melihatnya. Dia melambaikan tangannya kepadaku. Sesekali menghapus air matanya. Aku masih terus melihatnya sampai dia menghilang ketika kereta memasuki tikungan jalan.

Aku menarik nafas panjang hingga udara di sekitarku serasa kusedot habis barulah kuhembuskan nafas keras.

“You okay?”
Mataku yang tadinya tertutup perlahan kubuka demi mendengar pertanyaan itu. Otakku menyimpulkan bahwa pertanyaan itu berasal dari seorang gadis, terdengar dari warna suaranya yang halus. Benar sekali, dia adalah seorang gadis bermata bulat dengan alis tebal menghiasinya. Rambut ikal sebahu dengan warna senada matanya, cokelat. Hidungnya sedang, tidak mancung. Dari bentuk wajah yang agak bulat dan ukuran tubuhnya dapat aku simpulkan bahwa gadis ini berasal dari benua Asia. Hal terakhir yang paling mendukung yaitu cara pengucapannya dalam berbahasa inggris begitu fasih terdengar.
“Ya. I’m fine!” ucapku.
“Oh, I’m Lily and you are?”
“Bramviz Arman. Mm.. you can call me Bram.”
“I see. I’m from Indonesia”
Aku terkesima mendengar penuturan gadis ini, Indonesia. Sesuai tebakanku.
“Kamu bisa berbahasa indonesia?” tanyaku spontan. Kini gadis bermata cokelat itu yang terkesima.
“Yes, of course! Maksudku, tentu itu adalah bahasaku you know that!” jelas gadis itu bersemangat. Dia tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.
“But.. Bagaimana kamu melakukannya. Bagaimana kamu bisa berbahasa indonesia, padahal wajahmu lebih mirip orang kulit putih?” gadis itu bertanya antusias.
Kutatap wajahnya, iris coklatnya mengkilat terkena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela. Aku tersenyum.
“Ayahku Indonesia, ibu Groningen. Jadi beginilah aku. Heehee…” ujarku basa-basi.
“Keren!” serunya.
“Dan.. Kamu?”
“Oh, yap! Ayahku Indonesia dan ibuku juga Indonesia. Aku datang ke Groningen untuk menjenguk nenekku” jawabnya.
“No.. No. Nenekku juga Indo, tapi suka Belanda. Haahaa..” ucapnya melihat wajah bingungku.
“Oh.. Kakekmu?”
“Sudah tiada dua tahun lalu”
“Maaf, aku turut berduka”
“Tidak apa-apa”

Hening. Sekiranya itulah percakapan singkatku dengan seorang gadis yang bernama Lily. Dia duduk di bangku nomor 30 tepat di depanku. Dua bangku tersisa tidak terisi, hanya kami berdua. Gadis ini sangat ceria, dia terus berbicara sampai kereta memasuki kota Groningen. Kini aku benar-benar telah meninggalkan desaku. Ibuku.

Setelah kereta telah berhenti, kami melangkah bersama menuju taksi masing-masing.
“Kamu mau kemana?” tanya Lily.
“Rotterdam”
“Hm.. Hati-hati!”
Aku mengangguk. Aku menyetop sebuah taksi menuju bandara, seraya memasukkan barang-barangku. Lily masih memerhatikan aku.
“Bramviz Arman!” seru Lily ketika pintu taksi nyaris ku tutup.
“Apa kita akan bertemu lagi?”
“Entahlah” ucapku, mengangkat bahu. Kulihat cahaya matanya seolah akan redup.
“Kita pasti bertemu lagi” ucapnya tegas.
Aku menutup pintu taksi dan melambai padanya. Dia masih berdiri tak mempedulikan tawaran taksi-taksi yang lewat. Tangannya mengudara, melambai kepadaku.
“Kita pasti akan bertemu lagi” kudengar teriakan Lily, meski samar-samar beradu dengan bunyi kendaraan.

“Boleh gua duduk di sini?” tanya seorang cowok berkacamata di hadapanku. Kutengok seisi cafe, penuh.
“Silahkan”
“Thanks! Oh iya, gua Kevin. Lo?”
“Ar”
“Hm.. Nama yang.. Langka buat seorang cewek secakep lo” ucap si cowok yang mengaku bernama Kevin itu, entah dengan maksud apa.

Menit-menit berikutnya, kami bungkam sambil menikmati minuman masing-masing. Gerimis meninggalkan jejak kabut di jendela besar cafe ini, menghalangi jarak pandangku ke araea jalan. Kutatap cokelat hangat dalam gelas di genggamanku kemudian menyesapnya perlahan.
“Ng.. Sorry, gua ngeganggu yah?” tanya Kevin.
“Tidak. Selama kamu tetap diam” jawabku datar. Sukses membelenggu mulut Kevin.
Kualihkan pandanganku dari wajah Kevin yang tampak bingung.
“Sorry” tukasnya rapih.
Gerimis perlahan surut. Kuteguk habis cokelat hangat menyisakan gelas kosong kemudian beranjak pergi setelah sebelumnya membayar di kasir.

Jalanan masih basah bekas gerimis tadi. Seorang pedagang nampak menutup toko sepatunya tepat di seberang jalan yang kulalui. Aku melirik sekilas jam besar di dalam sebuah toko furniture yang terletak pada sisi kanan jalan, 17:40. Yup! Aktifitas kotaku hampir pada waktu istirahat. Kupererat ikatan tali sepatuku dan melangkah panjang, kadang berlari kecil. Kupercepat langkah pada belokan berikutnya setelah belokan di toko furniture tadi.

Toko Buku Blue Flower terlihat kontras di antara rumah penduduk dan beberapa deretan kios pedagang sembako. Warna biru cerahnya menyejukkan mataku. Pohon mahoni di samping toko buku milik kakek Rais itu, nampak berwarna kuning segar dari kejauhan.
Gemerincing bel berbunyi ketika pintu toko itu kudorong.
“Selamat datang kembali, Lily. Bagaimana perjalananmu kemarin, nak?” sapa beliau lengkap dengan senyuman khasnya.
“makasih, Kek. Perjalananku luar biasa!” seruku bersemangat.
“Daaan… Ini oleh-olehku untuk kakek” ucapku seraya memeluk tubuh orang tua yang sudah kuanggap kakek kandungku itu.
“Oh.. Anak ku. Ini oleh-oleh luar biasa. Udara Groningen, bukan?”
“Huh, ketebak lagi” tukasku, cemberut. Kakek Rais terkekeh pelan kemudian mengajakku duduk.
“Anda mau minum nona Lilyarlis?”
“No, no. Sudah kuhabiskan dua gelas cokelat swiss di cafe blossom demi menunggu gerimis surut”
“Baiklah. Rupanya cafe itu berhasil membujukmu untuk mampir” ucap kek Rais, tersenyum. Tangannya meraih remote kemudian menyalakan televisi.
“Mungkin beberapa buku” sahutku, dan beranjak menuju rak-rak buku, menelusurinya. Sekitar lima belas menit berlalu barulah aku menemukan sebuah buku yang menurutku bagus.
“Kek, aku pulang”
“Hati-hati. Salam buat mama dan bapakmu” ucap kek Rais, matanya masih menatap televisi. Serius.
“Okay!”

Malam ini masih seperti malam kemarin. Gerimis membasahi kotaku dan satu tradisi kehidupan setiap umat manusia yaitu makan malam sedang kujalani.
“Ar, besok langsung mau ke sekolah atau libur dulu?” tanya Papa di sela-sela acara makan malam.
“Sekolah dong, Pa. Sebulan gak sekolah itu rasanya hampa”
Semua yang mendengar hal tersebut terkekeh ramai.
“Yayaya. Satu sekolah pasti pada kangen dinginnya dirimu, dek” celetuk kak Alif, kakakku yang tua.
Makin menambah riuh suasana makan malam kami.

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, begitupula ketiga saudaraku. Seolah menyambut sang mentari dengan cahaya indahnya yang sempat hilang dua hari kemarin akibat hujan deras melanda kotaku di pagi hari. Setelah sarapan kami menuju tempat tujuan masing-masing. Papa mama ke kantor, dan kami berempat ke sekolah. Saat-saat seperti inilah yang paling aku rindukan ketika di Groningen.
Aku berangkat bareng kak Alif pakai motor. Sedangkan Seto dan si bungsu Alarah karena masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah dasar setiap berangkat ke sekolah selalu bersama papa mama.

SMAN I Telutih, akhirnya kita berjumpa lagi. Oh! Aku begitu merindukanmu. Terutama perpustakaanmu, tanah lapangmu yang hijau, pepohonanmu yang menyejukkan, semua hal tentangmu, aku merindukannya. Batinku berpuitis ria. Senyumku terus kubiarkan merekah lebar hingga motor yang kutumpangi berhenti di parkiran sekolah.
“Ar, you okay?” tanya kak Alif prihatin melihatku senyum-senyum sendiri, sambil mengusap kepalaku.
Kebiasaan kami semua, yang paling tua harus menyayangi adiknya dengan sepenuh jiwa
“Mm..”
“Awas, jangan nakal” canda kak Alif.
“Iya kakakku baweeel!” seruku kemudian berlari menuju kelas.
Kak Alif tersenyum, geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

Firasatku mengatakan bahwa akan ada hal baik hari ini di sekolah. Masih dengan senyuman mengambang kulangkahkan kaki dengan riang menuju kelas X Bahasa I. Namun, senyumku harus surut demi melihat cowok-cowok genit di ujung koridor. Huh, aku saja sudah mulai bosan melihat wajah mereka tapi mengapa mereka masih saja genit? Entahlah, mungkin hanya Tuhan dan orangtua mereka yang tahu. Aku melangkah dengan tenang di sepanjang koridor, semoga koridor ini cepat berakhir atau aku yang akan berakhir mendengar gombalan cowok-cowok genit itu.

“Ar…”
siapa yang memanggilku? Suaranya….

Perjalanan luar biasa cukup menguras tenaga. Akhirnya dengan tekad kuat aku bisa sampai di sini, kota kelahiran ayahku. Laimu, sebuah kota kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Tengah, provinsi Maluku. Udara segar di pagi dan sore hari melepas semua kepenatan yang ku rasakan satu minggu kemarin. Hari-hariku cukup menyenangkan. Aku tinggal berdua dengan kakek. Rumahnya besar dan luas dengan taman di sekeilingnya. Sangat asri, kota ini tidak jauh berbeda dengan desa kecilku di Groningen terutama rumah kakek. Bila mengenang Groningen membuatku sangat merindukan ibu. Semoga ibu selalu dalam lindungan Tuhan.

Sore ini gerimis membasahi kotaku menyebabkan udara menurun drastis, dingin. Aku masih setia menemani kakek menjaga toko bukunya. Hujan menghambat kegiatan kami berdua. Seharusnya toko buku ini sudah tutup dari satu jam lalu.
“Kek, tehnya”
“Terimakasih, nak”
kulepas syal yang terlilit di leherku kemudian mengalungkannya di leher kakek.
“Cuaca mulai dingin” ujarku. Kakek mengangguk sambil tersenyum hangat padaku. Rasa nyaman menyapu hatiku ketika duduk dengan kakek ku satu-satunya. Ya, kedua orangtua ibuku telah meninggal sejak aku berusia lima tahun. Dulu, kedua orangtua ibu tidak merestui pernikahan ayah dan ibu. Namun, demi anak dalam kandungan ibu, kedua orangtuanya mengizinkan pernikahan itu dilaksanakan dengan satu syarat. Bila aku sudah lahir, ibu harus kembali kepada kedua orangtuanya. Ayah beserta keluarga menyanggupi syarat tersebut. Setelah aku lahir, ibu kembali ke Groningen bersama orang tuanya. Ibu membawaku, mungkin karena aku masih kecil dan membutuhkan ASI darinya. Dengan berat hati ayah melepasku pergi. Menurutnya, demi kebahagiaanku juga. Aku harus merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang ibu, tidak seperti ayah. Ibunda ayah meninggal setelah melahirkan ayah. Terenyuh rasanya mendengar cerita kakek tadi malam. Tak bisa kubayangkan betapa beratnya hidup ayah ketika dua orang yang sangat disayangi pergi jauh. Ayah bahkan tidak di berikan kesempatan untuk menjadi seorang ayah sekaligus kepala keluarga.

“Kamu baik-baik saja, Bram?” pertanyaan kakek membuyarkan lamunanku. Mata teduhnya menatapku dalam.
“A-aku..” ucapku tertahan, air mata meluncur turun membasahi kedua pipiku. Kakek memelukku erat.
“Ada kakek di sini, kamu bisa menceritakan apa saja” kakek mengusap kepalaku lembut. Kakek melepas pelukannya ketika air mataku mulai surut, bersamaan dengan gelas kakek yang kosong.
“Buatkan lagi teh jahenya, Bram”

Bunyi bel terdengar nyaring, mungkin ada pengunjung. Tapi siapa yang masih mengunjungi toko buku pada waktu seperti ini. Jarak antara dapur hanya berbatas satu dinding, samar-samar ku dengar percakapan antara kakek dengan seorang perempuan. Suaranya begitu familiar, seperti pernah kudengar warna suara ceria itu. Aku mulai berusaha mengingat, kira-kira siapa dia. Deg! Kuseduh teh, cepat dan mengantarnya ke depan buat kakek. Tidak ada seorang pun. Kakek menatapku penuh selidik.
“Kamu kenapa pake bawa penyaring teh segala?” tanya kakek, ia terkekeh melihat wajahku yang bingung.
“A-hahaa… Aku akan ke dapur lagi” ucapku menunduk malu.
“Belikan roti di minimarket sebelah, Bram. Roti selai kakek habis”
“Aiai kapten” candaku. Kakekku memang pensiunan seorang AL.

Sekitar lima belas menit kemudian aku keluar dari minimarket setelah membayar di kasir. Seorang gadis berambut cokelat terlihat keluar dari toko kakek. Deg! Tiba-tiba jantungku bergetar hebat, apa mungkin gadis itu. Aku ingin meneriaki namanya tapi suaraku seolah tersangkut di tenggorokan. Mataku terus menatap punggung minimalis itu hingga hilang di belokan depan meninggalkan aku yang masih berdiri terpaku di depan pintu toko.

“Bram, ayo pulang”
“Bram…”
“Kek, tadi itu siapa?”
“Lily. Dia sudah seperti cucu kakek juga”
“Lily”

SMAN I Telutih, sekolahku yang baru. Kakek mengantarku ke ruang kepala sekolah.
“Kamu boleh masuk kelas sekarang. Kelas XI Ipa I, pak Maman akan menunjukkan jalannya” tukas pak kepala sekolah.
“Baik pak. Kek, Bram pamit”
Kutelusuri koridor, sesekali menengok kanan kiri sekedar melihat suasana di pagi hari ini. Sebagian besar siswa sudah datang. Ada beberapa orang siswa laki-laki di pojok koridor utama.
“Hai, gua Kevin. Lu?” tanya seorang dari mereka.
“Bram”
kami terlibat omongan santai, cukup seru hingga Kevin menyapa seorang cewek berambut cokelat yang berlalu di depan kami. Aku yakin betul mengenalnya tapi, mengapa Kevin menyapanya dengan sebutan Ar? Dia menoleh dan aku kenal betul senyuman itu.
“Bramviz Arman” ucapnya. Kevin bingung dibuatnya.
“kita ketemu lagi” ucap gadis itu lagi sama ceria seperti pertama kali kami bertemu.
“Lily, aku. Senang bertemu denganmu”
“Aku pikir kamu mau bilang kangen”
Kutatap matan cokelatnya dalam, ada rona merah di wajah manisnya. Debaran jantung kami terdengar seirama.
“I love you Lily”
Dia menangis haru. Kami pun melangkah bersama menatap hari dengan janji untuk selalu bersama.
“I love you too Bram” ucapnya sebelum masuk ke dalam kelas.

Cerpen Karangan: ALis W
Thanks for reading gaes! 🙂
aku masih pemula semoga kalian suka cerpennya.

Cerpen I Love You Lily merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ujian Nasional

Oleh:
“jangan ulangi lagi!!” ini sudah ke-20 kalinya aku dihukum karena tidur di kelas saat pelajaran. entah ada apa dengan mataku yang selalu mengantuk di setiap pelajaran guru bahasaku. Aku

Janji Palsu dibalik Senja Biru

Oleh:
“Selamat pagi Milla”, sapa wanita paruh baya itu kepadaku. “Pagi juga ibu Rita”, sapa balik ku sembari menaiki sepeda. Seperti biasanya aku mengayuh sepeda ke sekolah, Melewati jalan raya

Tentang Sebuah Penyesalan

Oleh:
Terkadang.. Terkadang tak semua yang kita anggap benar itu benar. Dan terkadang tak semua yang kita anggap dapat dipercaya itu dapat dipercaya. Mungkin kita pernah menganggap sesuatu benar adanya,

Catatanku di Perjalanan Singkat Waktu

Oleh:
Perjalananku ke Semarang hampir sampai, sepuluh menit lagi Stasiun Tawang akan tampak. Malam terus bergulir, sepi.. dan kesepian ini mengikutiku, membiaskan perjalananku yang lalu-lalu, meniti galau yang lama ku

Maaf Dari Sahabat

Oleh:
Hidup yang dipandang kejam, sebenarnya tak selalu seperti itu. Begitu juga dengan kebaikan dari seseorang belum tentu itu yang sebenarnya dan sebaliknya. Mungkin itu yang ia pikirkan tentangku, seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *