I Miss You, I Hope You Come Back to Me

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 September 2016

“Bram hari ini ke bandara untuk jembut bos kita? Dia pulang dari Perancis hari ini? Apa bener gosip itu?”
Felly mengangguk.
“Nggak cuma Bram aja yang sibuk. Billy juga. Dia harus menyiapkan hidangan pesta kedatangannya di rumah bos besar dan juga di kantor. Semua, dia yang urus. Makanya, belakangan ini mereka berdua nggak bisa makan bareng sama kita,” lanjut Felly.
Riska menanggapi Felly dengan anggukan kepala berulang kali.
“Tapi, gimana sama lo? Bukannya lo sekertaris dia? Nggak seharusnya kan, lo di sini?!”
“Gue udah lembur dua hari yang lalu. Menyiapkan jadwal dia untuk ke depannya. Dan, semua laporan itu udah gue kasih sama Bu Mega. Ketua Direksi gue!”
“Hmmmm pantes aja muka lo santai begitu!”
“Emang, lo nggak nyiapin presentasi untuk hari ini? Bukannya, lo akan menyampaikan penawaran produk baru Jepang, ya hari ini?”
“Gue cuma mengumpulkan bahannya dan juga memahami. Untuk masalah menatanya, udah diatasi sama bawahan gue. Jadi, gue cukup lihat slidenya dan juga memahami serta melaksanakan konsep yang udah gue siapin.”
“Oh… gitu… “
“Hmmmm,” kata Riska menganggukkan kepalanya. “Oh ya, lo udah tahu kan wujud bos kita kayak apa? Lo kan karyawan baru! Gara-gara akademis dan skill lo yang menunjang, gue jadi kalah deh,” lanjut Riska sambil manyun.
“Enggak. Lagian, waktu gue masuk di sini, dia uda ada di Perancis selama beberapa bulan sampai sekarang. Mana bisa gue tahu?.”
“Hahahaha, yah.. gitulah pekerjaan sekertaris. Tahu nggak, dia tuh cakep banget Fel.”
“Bukannya dia udah tua, ya?!,” tanya Felly sambil mengerutkan dahinya dan memundurkan kepalanya sedikit.
“Hussshhh!!! Ngawur! Dia itu masih muda! Mungkin, dua tahun atau tiga tahun lebih tua dari kita.”
“Masa sih, bisa sesukses begitu? Perasaan, biasanya yang pegang perusahaan sebonafit ini tua-tua orangnya. Kadang, juga om-om.”
“Gimana nggak bisa, Fel. Orang dia jenius. Udah gitu, bawaannya yang gila kerja, bikin kita takut kalau udah lihat matanya melihat kerjaan kita. Setitik debu aja kesalahannya, dia bakalan bikin kita panas dingin.”
“Oh, ya???!!!”
“He’em. Coba deh, kalau lo nggak percaya, tunggu aja di meeting room ntar.”
Mereka pun melanjutkan makannya.

Felly anggi Wiraatmaja. Gadis dengan tinggi 165 cm. Tinggi, dengan tubuh yang lencir dan seksi. Mata bulat sempura, bibir mungil yang merah pink merona, hidung mancung standart, kulit putih jernih, rambut hitam legam, bergelombang, perponi miring, dan tergurai panjang. Membuatnya terlihat begitu sempurna. Dan, begitu keras.
Tak lama kemudian, Handphone Riska bergetar. Terdapat anggilan masuk. Bram.

“Hallo, apaan Bram?”
“Eh, tolol! Lo sekarang ada dimana, bos udah datang. Tentor Management, nggak ada! Cepet datang ke meeting room! 10 menit!”
“Hah, bukannya dia datang kurang dua jam lagi?”
“Pemberangkatan dari Perancis, nggak sesuai dengan jadwal yang pernah diberikan oleh ketua direksi ke kita! Gue juga bingung! Dia sekarang udah ada di lobi dodol!”
“Tapi…,” katanya terputus saat Bram sengaja mematikan teleponnya.
Seketika Riska beranjak dari tempat duduknya. Menarik tangan Felly dan meninggalkan rumah makan yang terletak di depan kantor. Lumayan jauh untuk sampai di kantor. Bagaimana tidak? Kantin kantor hari ini tutup karena penyambutan bos mereka. Di tambah, mereka diharuskan bekerja dengan keras hingga lupa untuk makan sebelum pergi ke kantor.

“Ada apaan, Ris?”
“Bos datang! Dia sekarang ada di lobi!,” jawab Riska dengan lari dan nafas yang tersengal.
“Gila!”
“Makanya, cepetan!”
“Riska, berhenti!”
“Aduh, apaan lagi Fel? Kita bisa mati kalau ketahuan telat!”
“Kita pakai jalan alternatif aja!”
“Lo tahu jalannya?”
“Ya! Gue tahu jalannya! Ikut gue!”

Mereka pun berlari dengan wedges tingginya. Menyusuri lorong-lorong yang temaram. Berbelok-belok. Menyeberangi jalan raya di tengah kelancaran jalan raya. Menerobos kemacetan setelahnya, berlari ke arah gedung besar. Tepat di depan pintu. Berlari menaiki lift dengan rambut yang acak-acakan, keringan yang menetes, serta nafas yang berat dan deruan yang cepat.

Dan, sampailah mereka di depan ruang meeting room. Sebelum mereka memasukinya, Felly merapikan rambut panjangnya dengan kuncir. Tentunya, simple dan praktis dengan gaya gelung belakang. Menyisakan poni miringnya, dan sela-sela helai ramburnya sebagai hiasan. Tanpa harus menutupi, lehernya yang putih dengan kalung berukir.

“Maaf,” katanya menundukkan kepalanya.
“Dari mana kamu?!.” tanya ketua direksi.
“Maaf, kami dari break, “
“Bukanynya…,” katanya berkenti saat bos mereka mendahului ucapan ketua direksi.
“Cukup! Lanjutkan acaranya!!!,” pinta bos mereka dengan nada rendah namun tegas.
Felly dan Riska pun menganggukan kepalanya.

Sesuai dengan urutan susunan acara, Riska mendapatkan giliran untuk presentasi pertama. Iapun menerangkannya secara rinci. Semua pegawai yang ada di dalam ruangan itu memberikan masukan tanpa terkecuali. Hingga akhirnya, bos mereka yang menyatukan pendapat mereka dengan keputusannya. Seketika itu tanpa berfikir. Seolah, ia telah mengingat setiap kata yang diucapkan oleh seluruh orang yang mengutarakan pendapatnya. Sungguh benar-benar jenius.

Saat Felly beranjak dari tempat duduknya, bos mereka melemparkan perintah mati kepada Felly dan seluruh pegawainya.
“Felly Anggi Wiraatmaja. Ke ruangan saya sekarang! Kalian bisa keluar dari ruangan ini dan kembali kerja!,” pintanya dengan beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Felly masih tertegun dengan kata-kata bosnya. Bagaimana tidak? Darimana dia mengetahui nama Felly? Dan, kenapa tatapannya begitu tajam. Mengapa, ia seakan membawa hawa yang berbeda dari bosnya itu. Seperti, sebuah hawa yang pernah menyelimutinya dengan kedinginan. Seram!
“Fel! Udah jalan! Kehukum tahu rasa lu!,” getak Riska di tengah lamunan Felly.
Felly pun tergagap dan berjalan cepat mengikuti langkah bosnya itu. Namun, saat di depan pintu ia mendapati sesuatu.
“Fel, lo nggak papa kan?,” tanya Billy kawatir dan tiba-tiba muncul di depan Felly.
“Huuufffttt! Bikin gua kaget aja!”
Billy memegang kedua pundak Felly, menatap mata Felly dengan tajam dan penuh dengan kekawatiran. Fellypun membalasnya dengan senyuman tipis yang ramah. Menenangkan Billy dengan senyuman lembutnya. Dan, Billy mengerti akan hal tersebut. Hingga..,
“Felly!,” panggil seseorang yang tengah memperhatikan mereka berdua yang saling menatap mata satu sama lainnya.
Felly dan Billy seketika menolah ke arah sumber suara itu. Mendapati seseorang. Bosnya. Billy pun melepaskan genggaman tanggannya di pundak Felly. Dan, Felly meninggalkan Billy dengan langkah yang cepat. Mengingat, bosnya telah melemparkan tatapan yang tajam yang menyeramkan.

“Hari ini, kamu akan dapat lembur! Itu hukuman untuk kamu! Paham?!,” tanyanya dengan nada yang tegas dan menyeramkan.
“Baik, Pak,” jawabnya lembut dengan menundukkan kepalanya.
Hening. Yah… Bosnya tengah memperhatikan Felly. Seakan, ia ingin melihat mata Felly. Mata bulat itu. Mata yang telah memawanya ke sana.
“OB akan membawa berkasnya ke ruangan kamu. Dua jam lagi, saya tunggu kamu di ruangan saya. Kumpulkan tugas kamu ke saya. Harus selesai! Pergilah!”

Felly pun pergi meninggalkan ruangan bosnya. Ia berjalan ke arah ruanganya. Dan, sesampainya di sana, Riska, Bram, dan Billy menginterogasi Felly. Wajah mereka seakan terkejut mendengar hukuman itu. Bagimana tidak? Felly tidak terlambat. Bahkan, semuanya, masih berdiri di ruangan itu. Belum duduk! Dan, hukuman yang dijatuhkan berat.
Mereka semua berebut untuk membantu Felly. Akan tetapi, mereka terhalang dengan acaranya masing-masing. Riska terhalang oleh waktu untuk menjaga ibunya di rumah sakit. Sedangkan Bram terhalang oleh acara makan malam bersama dengan calon mertuanya. Sehingga, Billy memutuskan untuk menemani Felly malam ini dan membantu Felly untuk mengerjakan tugas. Mengingat, Billy adalah sahabat Felly.

Pukul 22.00. Felly masih terjaga di depan komputer yang menyala. Begitu juga Billy. Suasana sunyi menyelimuti mereka. Namun, tidak di detik itu.
“Felly!”
“Hmmmmm???”
“Lo pernah rindu sama seseorang nggak?”
Felly terdiam. Tenggorokannya tercekat, matanya terbelalak, dahinya berkerut, alisnya merapat, bibir terkatup rapat. Menahan, sesuatu.
“Pernah,” jawab Felly lirih. “Setiap hari, setiap detik, dan setiap waktu,” gumam Felly dalam hati.
“Dan, itu adalah rasa yang gue rasakan setiap hari. Bahkan, saat bersama lo!”
Seketika Felly menoleh. Menatap mata Billy yang tengah memperhatikan Felly lebih dulu.
“Apa maksud lo?!”
“Gue cinta sama lo!”
“Ehem!!!,” tersengar suara seseorang yang berdehem. Dan, suara itu bersumber pada pintu ruangan pegawai. Bos mereka. Yah.. dia di sana. Melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya yang terkena pantulan cahaya lampu membuatnya terlihat tampan. Terutama dengan garis tipis yang ada di tengah bibirnya.
“Kamu! Ikut saya ke ruangan saya!,” pintanya dengan menunjuk ke arah Felly. “Dan kamu, pulanglah! Meski ketua direksi mengizinkan kamu lembur, tapi saya melarangnya! Pulanglah!,” lanjutnya dengan tegas. Lalu, meninggalkan ruangan.
Mereka pun saling bertatapan. Siapa yang menyangka bahwa bosnya masih di kantor? Mereka mengira bahwa bos mereka sudah pulang. Siapa juga yang berani memabantah orang itu. Bos mereka. Arkana .A.

Ruangan yang remang-remang. Hanya lampu kerja yang menyala, dengan laptop yang menyala. Felly tengah berdiri di ruangan itu. Sepi. Tiada seorangpun di sana. Namun, kakinya melangkah saat ia melihat benda itu. Di samping laptop itu. Buku.
Felly membukanya. Dan, ia mengeryitkan dahinya. Nafasnya memburu, badannya gemetar, tubuhnya membeku, serta matanya terasa panas, jarinya melemah saat melihat bayangan dirinya sama persis di layar laptop itu. Siapa laki-laki itu? Kenapa dirinya ada di dalam buku ini dan laptop ini.
“Apa yang kamu lakukan!!!,” bentak bosnya dengan berjalan cepat dan menutup laptop itu.
Felly menggelengkan kepalanya. Menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya. Dan, bosnya meraih buku yang di bawa Felly dengan kasar. Matanya berair, menatap mata bosnya, hingga matanya menangkap benda itu.

Seketika Felly mendekat ke arah bosnya, membalikkan punggung tangannya ke arah telapak tangannya. Dan ia melihat ukiran itu. Ukiran namanya.
“Felly!!!,” bentak bosnya.
“Kenapa kamu melakukan ini? Jawab aku!!!!,” bentak Felly.
Bosnya hanya terdiam bisu. Gemetar setelah melihat mata Felly mengalir air mata. Membasahi pipinya.
“Arka, jawab aku! Jawab aku! Jawab aku, Arka!!!,” bentak Felly dengan menggoyangkan kedua lengan kekar Arka. Bosnya.
“Ok! Aku akan menjawab kamu!,” jawabnya dengan menelan ludahnya di dalam tenggorokan yang tercekat dan panas.
“Bagaimana bisa aku memintamu untuk bersamaku setelah aku meninggalkan kamu waktu itu. Meninggalkan kamu di tengah rasa cinta yang begitu dalam terhadapku?! Lagipula, aku tidak mempunyai hak untuk mencintai kamu lagi setelah kejadian 10 tahun yang lalu! Aku juga merasa tidak pantas untuk mencintai kamu lagi meski aku ingin mencintai kamu, itulah alasan aku bersembunyi. Dan, aku sengaja menyembunyikan nama belakangku. Kurasa, kamu akan melupakan aku setelah nama Aditya tiada. Nama yang selalu kamu sebut sebelum tidur. Tetapi, itu salah. Tch! Untuk apa kamu menangis seperti itu? Sedangkan aku sudah tidak mencintai kamu!,” katanya tegas, bercampur lembut dengan mengusap air mata Felly menggunakan ibu jarinya.
“Jika tidak, kenapa cincin itu melingkar di jadi manis kamu, Ka? Jawab aku Arkana Aditya.”
“Hanya sebagai hiasan,” jawabnya dengan mengalihkan tatapan matanya.
“Hiasan? Tch! Munafik! Sampai kapan kamu membohongi dirimu seperti itu, Ka? Sekarang, katakan kau tidak mencintaiku dengan menatap mataku! Jikalau kau bisa hidup tanpaku! Tidak tersiksa dengan rindumu! Dan, katakan padaku bahwa kau membenciku!”
Seketika Arka menatap Felly dengan gertakan giginya. Otot dahinya yang keluar, serta tangannya yang mengepal kuat.
“Bagaimana bisa aku membenci orang yang telah membuat aku merasa gila! Kau sudah membuatku gila, Felly! Gila! Gila, segila-gilanya! Apa yang harus aku lakukan dengan ini semua sedangkan cinta itu munafik!”
“Arka…,” ucap Felly lirih.
“Yah… aku akui aku mencintaimu!!! Aku sengaja menjadikanmu sebagai sekertarisku, bukan dengan skill semata!!! Melainkan, aku ingin berdampingan denganmu dimanapun aku bekerja!!! Tanpa meninggalkan kamu bersama laki-laki itu! Aku kembali karena aku mendengar hubunganmu dengannya yang begitu dekat! Aku sengaja bersembunyi, meski itu menyakitkanku! Aku rela tidak berada di depanmu atau di sampingmu! Tapi setidaknya, aku bisa melihatmu meski dari kejauhan! Dan, itu membuat aku harus menderita dengan rindu yang selalu ku pendam! Bagiku, lebih baik aku ada di belakangmu dan megiringi langkahmu dibandingkan aku ada di depanmu dan kehilangan kamu yang berada di belakangku, Felly!!!”
Seketika Felly mendekatkan dirinya ke arah Arka. Menepuk dada six pack Arka dengan ketukan tangan dan dahi yang melekat di sana dengan lemah. Basah. Yah.. itulah yang dirasakan Felly saat air mata Arka menetes di atas kepalanya. Felly mendongkakkan kepalanya, menatap mata Arka yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Tanpa menghilangkan ketajamannya.
Dan, suara tangis Felly memenuhi ruangan itu saat tangannya melingkar. Mendekap Arka dalam tangisnya yang berderu. Menyeruakkan rindunya yang telah tertahan selama ini. Menyesap bau maskulin dan tubuh Arka dalam rongga hidungnya.
Saat jarinya mencengkeram kedua pundak Arka menahan rasa sakit selama ini karena rindu mendalam itu, Arka membalasnya. Membalas pelukannya dengan hangat, menangis dengan suara yang tertahan, menggerakkan kepala Felly ke dalam tengkuk lehernya. Mencium pelipis Felly dengan tumpahan rindu dan juga air mata. Gesekan jemarinya, mempererat pelukan itu. Begitu juga Felly. Menyatukan cinta yang telah hilang 10 tahun silam.
Yah… Cinta pertama Felly dan Arka. Cinta yang murni. Cinta yang tulus. Dan, cinta yang penuh dengan kesetiaan meski hanya dalam sebuah kebisuan. Yah.. cinta yang hanya berbicara melalui udara. Udara yang berisi pesan rindu mereka. Rindu akan senyumnya, tawanya, dan juga tatapan matanya. Namun, saat takdir cinta itu datang. Semua tak akan bisa menghalangi. Sekuat apapun, mereka menghalanginya. Cinta, akan mengalahkannya. Itulah cinta sejati.
Cinta yang tak peduli dengan detik waktu yang terus berjalan. Cinta yang tidak peduli dengan adanya cahaya indah yang datang. Cinta yang selalu membuatnya gila dengan seruak rindu. Cinta yang begitu menyiksa dengan adanya bayangannya. Dan juga, cinta yang selalu ada meski telah terpisahkan. Seakan, semua yang terjadi adalah hasil dari melawan takdir.
Namun, hanya satu yang perlu untuk diingat. Masa lalu tak selamanya buruk. Waktu tak selamanya membisu. Ia akan menjawab saat waktu telah menemukan tempatnya untuk menjawab pertanyaan seseorang. Begitu juga dengan diri kita. Saat kita berani untuk setia, maka akan datang kesetiaan yang sama. Meskipun, dengan cinta yang berbeda. Karena, semua yang dilakukan dengan usaha tidak akan berujung sia-sia. Walau usaha tersebut hanya setitik debu.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM serta berbagai buku antologi lainnya.

Cerpen I Miss You, I Hope You Come Back to Me merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Endless Love

Oleh:
Sudah 5 bulan berlalu, kesedihanku belum juga terobati setelah aku putus dari pacarku Sandi dan sudah hampir 5 bulan juga aku tidak pulang ke kampung halamanku di Banten. Nah!

Penaluna

Oleh:
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama

Suka Cewek Tomboy

Oleh:
Ku duduk di tepian lapangan menatap gadis yang sedang terlihat bermain basket, gadis yang selalu membuat ku terlihat semangat dan bahagia, rambutnya yang pendek seperti lelaki dan agak kecoklatan

Gadis Pemimpi

Oleh:
Cinta… Cinta… Cinta… Kata itu terucap di bibir ku setiap detik, menit, jam, bahkan berhari-hari. Iya, itulah yang hanya ada dalam fikiranku. Aku tak tahu bagaimana menjalani cinta yang

When You’re Lost

Oleh:
Alvino Offyan Nugraha, sosok setengah ganteng, tinggi, sawo mentah menuju mateng, kalo dilihat di fotonya (gue belum pernah ketemu orangnya langsung sih) sosok yang gue kenal lewat aplikasi bernama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *