Iis Safriani

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 October 2013

Malam yang dingin di tengah suasana hati yang hening. Kalimat itu mungkin tepat untuk menggambarkan perasaanku saat malam. Bagaimana tidak, pagi hari kujalani biasa saja. Siang yang aku lalui tetap sama. Dan malam selalu datang menghadirkan bayangan masalalu. Aku nggak mau munafik karena di satu sisi “malam” adalah teman untukku. Namun di sisi lain “malam” kerap datang menyiksaku sampai datang pagi yang mengusirnya pergi. Entah apa maksud dari fenomena ini, tapi itulah HATI! takkan pernah ada orang yang tau tentangnya kecuali pemiliknya sendiri.

Malam itu, dari balik kamar adik bungsuku. Aku mendengar suara yang tak lain adalah suara dari handphone yang sedang aku charge. Aku mengabaikan karena fikirku pasti itu kawan yang bertanya “kamu dimana?” atau ajakan untuk keluar. Aku yang saat itu tengah asyik mendengarkan lagu kesukaanku memilih menikmati setiap syair lagu yang kudengar daripada harus check handphoneku. Aku memang begitu, mungkin itu juga sebabnya banyak teman-temanku terkadang jengkel dengan sikapku yang nggak jarang mengabaikan pesan atau telfon dari mereka. Beda halnya ketika dulu aku menjalin hubungan spesial dengan seorang wanita. Aku akan sakit kalau aku jauh dari handphone, makanya handphone selalu di tangan. Hahahahaha hanya kiasan aja kok untuk menggambarkan kedekatanku dengan handphone pada saat itu. Ooo yaa, beberapa jam aku menghayati setiap syair lagu yang kudengar, aku memutuskan untuk check handphoneku. Dan ya, Baterai Full adalah hal pertama yang kudapat sebelum akhirnya aku mengaktifkan keypad yang tadinya terkunci. Disinilah awal segalanya…

Aku nggak tau siapa kamu dan darimana asalmu. Intinya aku nggak tau sedikitpun tentang kamu. Dan aku yakin kamu juga begitu, nggak punya sedikit informasi pun tentang aku. Kamu datang tiba-tiba dalam dunia “blackberry” ku. Aku pun asal accept aja tanpa banyak mikir. Maklum, di antara teman sebayaku aku terkenal sebagai anak yang paling banyak fikiran terutama dalam hal sosial atau solidaritas. Jadi nggak ada salahnya aku accept, nambah teman aja fikirku. Seperti biasa, setelah berteman dalam dunia “blackberry” aku terbiasa check profil dari teman baruku. Wanita berjilbab dengan senyum tenang, 3 rangkaian huruf menjadi sebuah nama sudah cukup membuatku ingin tau lebih jauh siapa wanita ini?

Tanpa fikir panjang kumulai layangkan serangkai kata untuk menyapanya. And you know, tanpa menunggu lama aku telah mendapat balasan darinya. “Sent Receive Sent Receive Sent Receive… Again and Again”. Darisana aku dan dia mulai saling berbagi cerita. Saling tanya-tanya sekilas profil aja menjadi tema awal dari chat kita. Setelah sama-sama telah banyak melemparkan tanya, akhirnya titik terang untuk semakin dekat dengannya mulai terlihat. Satu nama yang dia sebutkan ternyata nggak lain adalah sahabat baikku, bahkan aku dan sahabatku yang disebutkan dia itu telah mengikat tali saudara. So, kalaupun dia tidak share tentang hal yang menurut dia nggak perlu untuk aku ketahui, aku dengan mudahnya mendapat informasi itu dari sahabatku yang juga temannya. Nggak adil sih, tapi ya begitulah aku. Apapun yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan! prinsip awal sekaligus motivasiku untuk berbuat…

Hari demi hari aku lewati bersama dia dalam dunia “blackberry”. Dia banyak memberiku pencerahan terlebih ketika aku memutuskan untuk jujur tentang masa lalu yang aku jalani dulu. Masa lalu yang hitam, masa lalu yang kelam, dan masa lalu yang sama sekali tak ingin kuulang. Wanita ini menarik! bisikku dalam hati. Pernyataanku itu memang benar adanya, karena disaat kebanyakan “wanita” berpenampilan menggoda iman, dia lebih memilih bertahan dengan pakaian ala muslimah yang ia kenakan. Dan sungguh menggoda hati. Aku memang nggak pernah secara langsung bertemu dengannya, tapi perkataan sahabatku tentangnya sudah sanggup membuatku percaya. Hal ini juga yang membuatku seakan gelisah menjalani hari tanpa berkomunikasi dengannya. Kejujuran demi kejujuran mulai kulontarkan padanya, sedikit demi sedikit semua keburukanku diketahui olehnya, tapi itu tak membuatnya takut atau menjauhiku. Justru dia terus dan terus memberikanku pemahaman akan kehidupan. Memberiku semangat untuk berubah, membuaku tergerak untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bukan cuma itu, dia juga berwawasan cukup luas. Buktinya setiap perkataan atau keluhan yang aku berikan kepadanya, dia selalu bisa memberikan tanggapan berupa pengertian. Yang sangat membuatku kagum adalah ketika dia memandang kehidupan dari sisi “Islam” yang merupakan Agama yang alhamdulillah menjadi Agama yang kami anut setidaknya sampai detik ini. Semoga selamanya, amin…

Banyak hal yang telah aku share ke dia, begitu juga dia. Tapi aku yakin masih lebih banyak lagi yang aku nggak tau tentang dia. Sampai suatu hari, aku memberanikan diri memintanya menemaniku mencari “Nebulizer” untuk ayahku disebuah Health Shop. Meski telah kucari, sedikit informasi yang kudapat tentang keberadaan Health Shop di kota ini. “X Mall Lantai 1” adalah informasi tercepat yang kudapat. Kusampaikan informasi itu kepadanya sebelum aku menuju ke kota.

Waktu itu, hari pagi terasa lama kujalani, malam yang datang inginku cepat terlewati. Harapan melihat wajahnya telah tertanam dalam benakku. Informasi tentang Health Shop tadi merupakan sebuah keyakinan untukku karena informasi itu akan mewujudkan harapanku bertemu dan melihat wajahnya. Chat and share dengannya masih kulakukan. Dinginnya udara semakin menembus tulang kerempengku, gelapnya langit menjadi atap atas diriku, dan kerasnya suara hewan malam adalah pertanda larut malam telah datang. Handphone di tanganku berhenti berdering, aku check chat terakhir yang kukirimkan kepadanya. Delivered, but not read. Aku fikir dia telah tertidur, dan semoga dia tertidur. Kini aku sendiri, tanpa ada teman lagi. Aku yang biasanya tersiksa kala sendiri, kini sedikit berbeda. Kenangan masa lalu yang selalu datang saat aku sendiri terlebih pada malam hari sepertinya absen atau mungkin tertangkis karena hayalku akan hari esok ketika aku benar-benar menemuinya. Hmmm aku tersenyum, ya aku berhayal. Sampai akhirnya lama berhayal mencoba menggambar senyum di wajahnya membuatku tertidur merajut mimpi.

“Kukuruyuuuk… Kukuruyuuuk” sepintas terdengar suara ayam jantan bangunkan aku dari mimpi. Kulihat jam dinding yang sengaja aku pajang di kamar. Ini memang sudah pagi, ucapku setengah sadar. Lalu aku bergegas menuju kamar mandi, dinginnya air yang membasahi tubuhku hangat kurasakan. Kopi tanpa gula yang aku minum manis kurasakan. Sinar mentari semakin terasa menyegarkan. Jam kini menunjukkan pukul 09.00 Wita, artinya aku harus segera berangkat ke kota.

Kuambil tas punggung di meja kamar, lalu senyum orangtua mengantarku pergi meninggalkan desa ini. Kini hati tak sabar lagi, rasanya ingin segera bertemu dengan seorang wanita yang lama kubayangkan. Perjalananku yang biasanya tak terasa lama kini beda. Aku menjadi lebih sering melihat jam tangan yang kukenakan. Traffic Light yang menyala merah pertanda berhenti selalu hadirkan gelisah dalam diriku. Dan saat itu aku sungguh sedikitpun tak mengerti apa yang tengah aku rasakan. Hanya pasrah menerima apa yang memang menjadi kenyataan.

Tak lama berselang tibalah aku di tempat tujuan. Aku yang menanti akan saat-saat ini seharusnya bisa sedikit tenang. Kenyataan berkata lain, hatiku justru semakin berdebar mendekati detik pertemuanku dengannya. Hati yang berdebar semakin terasa berdebar sesaat setelah aku mengabarkan kedatanganku ke kota tempat tinggalnya. Dan beberapa jam kemudian aku dan dia membuat janji untuk bertemu di sebuah Mall di kota itu, tetap dengan tujuan awalku. Sesampai di Mall, aku dan dia nggak langsung ketemu. Maklumlah, Mall itu lumayan besar dan luas untuk sebuah pertemuan kecil seperti ini. Untuk mempercepat proses pertemuan, akhirnya aku dan dia sepakat untuk bertemu disebuah tempat di Mall itu. Wooow… ketika aku telah bertemu dengan dia untuk pertama kalinya, semua kata pujian sengaja aku simpan dalam hati. Dan sampai saat ini pun aku yakin dia nggak tau tentang pujian itu. Aku yang dulunya hanya membayangkan wayahnya saat ini berjalan di sampingnya. Health Shop yang kami cari belum juga kami temui meski telah mengelilingi Mall. Mungkin karena aku kurang menyukai keramaian dan mungkin juga karena aku takut dia bosan. Aku dengan berat hati mengajaknya pulang. Sejujurnya aku sangat menginginkan waktu yang lebih lama untuk bersama. Tapi ini masalah konsistensi, tujuan awal mencari Health Shop adalah mutlak tujuan awal. Jadi aku nggak punya alasan untuk menahannya lebih lama bersamaku. Setiap langkah kaki kami menuju halaman parkir Mall itu diiringi percakapan basa basi sampai aku mengantarnya tepat dimana dia memarkir motornya. Itulah saat-saat yang memisahkan kami pada hari pertama bertemu.

Hari-hariku setelah itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Aku yang biasanya termenung kini tersenyum. Ya, semuanya karena kehadirannya. Seorang wanita berjilbab dengan tutur kata yang terjaga dan dengan penampilan apa adanya telah mampu merubah hariku setidaknya pada waktu itu hingga aku mengabadikan moment itu dalam tulisan ini. Keesokan harinya, aku tanpa sengaja mengajaknya keluar untuk mencari angin. Kebetulan saat itu juga dia sedang diluar. Aku menentukan titik pertemuanku dengan dia untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku dan dia jalan dengan satu motor. Artinya aku dan dia bisa lebih dekat dengan kesan sedikit romantis. Laju motor sengaja kupacu pelan agar bisa lebih lama bersamanya. Namun tujuan dia adalah prioritas utama, dan setelah tujuannya terpenuhi aku dan dia pun bingung mau kemana selanjutnya. Aku tanya ke dia, dia justru bilang kemana aja. Aku yang bingung kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama kepadanya. Dan dia tetap dengan jawaban yang sama. Karena kita sama-sama belum makan, dia menawarkan untuk pergi ke suatu tempat yang nggak terlalu jauh dari jalur kami. Aku pun setuju dengan sarannya. Sesampainya kami di tempat itu, aku dan dia langsung memesan makanan dan minuman lalu menunggu di meja yang ia pilih. Aku sih ngikut aja, yang penting kan bukan tempatnya dimana asalkan sama dia. Lima belas menit menunggu, seorang waiter berjalan mendekat membawa makanan yang kami pesan. Makanan telah siap dimakan, minuman telah diminum pelan, aku dan dia pun terasa semakin akrab saja.

Sepulang dari tempat itu, chat and share masih tetap kami lakukan hingga saat ini. Aku yakin dia menyimpan banyak cerita yang nggak akan pernah sanggup ditulis. Tapi apalah daya, semuanya harus aku simpan sendiri sebagai cerita manis dalam pahitnya kenyataan. Kenyataan yang mengharuskan aku mengubah segala cerita indah menjadi duka dan mungkin airmata sebagai lanjutannya. Betapa tidak, dia yang aku kagumi, ternyata telah memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Kini aku dihadapkan dalam dua pilihan sulit antara bertahan dengan segala bentuk sandiwara dalam sakitnya penantian ataukah pergi membawa cinta yang belum sempat diucapkan dan berpura-pura berlaku tenang? Pertanyaan inilah yang selalu menghantui fikiranku mulai dari saat itu sampai saat selesainya aku tulis cerita ini…
Terima kasih telah hadir dalam hidupku…
Terima kasih telah mengusir gundah dalam hatiku…
Terima kasih untuk yang nggak sesuai harapan ini…
Terima kasih IIS SAFRIANI …
Semua ini sungguh akan menjadi kenangan indah dari kedekatan kita dan sengaja dituangkan dalam “Tulisan” sederhana oleh seorang penulis cerita.

Selesai…

Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori
Facebook: Nicky Fals ( Untukmu Negeri )

Cerpen Iis Safriani merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktu

Oleh:
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, waktu yang sudah begitu gelap. Tapi yang namanya kota Jakarta tidak pernah sepi dengan suara bising kendaraan terkecuali hari raya idul fitri. Kiran yang

Akhir Cerita Cinta

Oleh:
Selamat pagi dunia, nampaknya hari ini kau tak memancarkan cahaya yang cerah secerah biasanya… mengapa? Apakah harimu sama denganku? Hari ini, tepat empat tahun setelah kepergian ayah dan bunda

Cappucino Espresso

Oleh:
Aku teringat saat itu. Ketika kehujanan dan nggak bawa payung, aku berteduh di depan cafe mu. Kamu yang melihat aku basah dan kedinginan, mempersilakan aku masuk dengan senyum cerahmu.

Pertemuan Singkat

Oleh:
Bermula dari pertemuan yang singkat dengannya. Aku merasakan ada perubahan pada diriku. Dulu aku yang selalu murung dan tertutup. Tetapi setelah aku kenal dengan Dika semuanya berubah, aku jadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *