I’m Lucky

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perjuangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 June 2016

Aku mengendarai sepeda motor kesayanganku dengan kecepatan penuh. Bagai kendaraan tempur bertenanga turbo, aku melaju membelah jalanan kota kelahiranku ini. Aku memasuki pelataran parkir yang sudah penuh dengan motor beraneka rupa. Aku celingukan kesana-kemari mencari singgasana untuk motorku. Aku tersenyum melihat celah di antara dua motor yang ada di depanku. Agak sempit memang namun aku yakin bisa memarkirkan motorku dengan sukses.
“I’m lucky. Aku beruntung masih dapat tempat pakir. Thanks number 10”

Ya, hari ini tanggal sepuluh bulan sepuluh tahun dua ribu sepuluh. Hari ini serba sepuluh yang merupakan angka keberuntunganku. Aku tersenyum sambil memarkirkan motorku. Karena tempat parkir yang sempit, aku tidak sengaja menyenngol motor yang ada di sebelahku. Aku menutup mata karena takut menyaksikan belasan motor yang akan tumbang karena senggolan mautku. Aku menunggu bunyi “gubrak” tapi sudah beberapa detik aku tidak mendengarnya. Aneh! Aku membuka mataku satu per satu. Aku segera mengucap rasa syukur berulang-ulang karena tidak ada motor yang tumbang.
“Alhamdulillah.. Alhamdulliah.. Alhamdulillah”
Tunggu! Aku yakin tadi motor di sebelahku hampir jatuh. Kenapa tiba-tiba bisa berdiri tegak lagi? Barulah aku sadar di sana ada seorang cowok yang memegangi motor di sebelahku. Tuhan! Bisakah waktu berhenti saat untuk saat ini? Aku begitu terpesona dengan cowok yang ada di hadapanku sekarang. Dia.. perfect! Aku menatapnya sampai lupa untuk memarkirkan motorku.

“Motornya diparkirin dulu. Biar aku geser sedikit motor ini.”

Tuhan! Tolonglah hentikan waktunya sekarang. Suara yang keluar dari mulutnya sangat merdu di telingaku. Suara itu sangat cocok untuknya. Tuhan telah mencipatakan makhluk yang sempurna yang membuatku terpesona pada pandangan pertama.

Aku berhasil memarkir motorku dengan sukses. Aku beralih pada cowok itu yang sudah melepaskan tangannya dari motor yang aku senggol tadi. Ini kesempatanku untuk berkenalan dengannya.
“Makasih, ya sudah dibantu. Aku gak tahu bakal ganti berapa duit kalau tadi motor itu jatuh.”
“Sama-sama. Lain kali hati-hati, ya.”
Aku mengangguk malu. Tanpa berpikir dua kali aku mengulurkan tangan. “Kenalin aku..”
Tiba-tiba seorang cewek menghampiri kami dan menepuk bahu cowok sempurna itu.
“Yuk, kita udah telat,” kata cewek itu.
“Duluan, ya. Lain kali hati-hati.”

Mereka pergi meninggalkanku mematung di parkiran motor. Aku menarik tanganku yang belum sempat tersambut olehnya. Aku melirik jam tanganku. Sial! Aku telat masuk kuliah. Aku segera berlari menuju ruang kuliahku. Untuk dosen satu ini tidak akan ada mahasiswa yang berani terlambat walau sedetik karena dosen ini terkenal sangat disiplin. Yang terlambat akan disuruh ke luar kelas.

Aku menunggu lift terbuka sambil terus memerhatikan jam dinding yang berada di atas lift. Waktuku tinggal semenit. Ting! Pintu lift terbuka dan aku segera masuk. Saat aku hendak menutup pintu, seseorang menahannya dan segera menyelinap masuk. Mataku terbelalak melihat siapa yang berdiri di sebelahku saat ini. Cowok yang menolongku tadi. Sepertinya dia mengenaliku karena dia tersenyum padaku. Ini kesempatanku untuk berkenalan dengannya.
“Tunggu!” teriak seseorang di luar lift. Terpaksa aku menahan lift agar tetap terbuka. Segerombolan orang masuk ke dalam lift memisahkanku dengan cowok itu. Diam-diam aku melihatnya dan dia tersenyum lagi padaku.

Aku segera turun di lantai yang aku tuju. Aku melupakan masalah berkenalan dengan cowok itu karena aku menghadapi masalah yang lebih serius sekarang. Terlambat masuk kelas.

Dosen itu benar-benar kejam. Aku hanya terlambat satu menit namun dengan kejamnya dia mengusirku dari kelas. Jadilah aku di sini, di lantai lima kantor fakultasku. Kantor fakultas ini bisa beralih fungsi menjadi tempat nongkrong buat kami. Aku menghampiri Tata, teman baikku yang sedang asyik dengan laptopnya. Aku duduk di sebelahnya dan mulai mengeluh.
“Sebel deh! Padahal aku Cuma telat semenit tapi aku tetap diusir. Sial banget hari ini. Padahal hari ini seharusnya jadi hari keberuntungannya karena semua serba sepuluh. Tapi..”
“Memang ada kejadian apalagi yang membuatmu sial?”
“Aku hampir merusak motor orang karena tadi motorku menyenggol motor lain saat parkir. Untung ada cowok itu yang bantuin aku. Dua kali aku betemu cowok itu dan dua kali juga aku gagal berkenalan dengannya.”
“Memang kayak apa sih cowok itu?”
“Kayak.. itu orangnya!”
Aku melihat cowok itu di dalam lift yang akan membawanya turun. Aku segera membawa tasku dan bergegas pergi dari lantai lima mengejar cowok itu. Aku harus berhasil berkenalan dengannya.
“Aku harus berkenalan dengannya, Ta!”
“Al.. cowok itu kan..”
Aku tidak menghiraukan kata-kata Tata. Aku turun lewat tangga darurat. Dengan kecepatan penuh menuruni setiap anak tangga. Karena tidak bisa mengontrol kecepatanku, aku menabrak seorang mahasiswa yang membawa banyak buku. Aku hanya berkata maaf dan meninggalkannya. Aku tidak ada waktu lagi. Aku melihat cowok itu keluar dari gedung. Aku mengejarnya, mengulurkan tanganku untuk menepuk pundaknya tapi sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi. Aku menginjak tali sepatuku sendiri dan terjatuh. Sontak beberapa temanku yang ada di sana tertawa. Aku masih mengulurkan tanganku sambil menatap cowok itu berjalan menjauh. Sebelum dia menghilang, aku melihat dia melepaskan earphone dari telinganya. Pasti saja dia tidak mendengar gelak tawa yang menertawaiku. Kini tinggal aku dan rasa malu.

Hari dimana seharusnya membuatku beruntung berubah menjadi malapetaka. Kesialan masih berlanjut saat hujan turun sore itu saat gue berjalan menuju kantin. Tata menyuruhku untuk ke kantin karena ada yang mau dia bicarakan. Karena hujan, aku berteduh di depan salah satu papan pengumuman. Aku mengacak rambutku yang basah karena hujan saat aku menyadari aku tidak sendirian di sana. Cowok itu ada di sebelahku. Entah ini jodoh atau kebetulan, yang jelas aku harus tahu namanya sekarang.

“Sepertinya hari ini aku selalu bertemu dengan kamu,” kata cowok itu tiba-tiba membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tersenyum dan mengangguk. Aku mencoba untuk memberanikan diri bicara.
“Kenalin..” Aku mengulurkan tangan. Dia mengulurkan tangannya dan siap untuk menjabat tanganku. Saat tiba-tiba..
“Alya!”
Suara cempreng Ester membuat kami menarik kembali tangan kami masing-masing. Ester mengajakku pergi ke kantin bersama dengan payungnya. Aku hanya bisa tersenyum kecut meratapi nasib susahnya berkenalan dengan cowok itu. Kami hanya saling senyum dan aku meninggalkannya.

Di kantin, aku terus menyalahkan Ester yang mengacaukan momen kami berdua tadi di tengah hujan yang turun.
“Ester, kenapa kamu datang di saat yang tidak tepat. Padahal hampir saja aku tahu namanya. Perjuanganku seharian ini berantakan gara-gara kamu. Padahal hari ini hari keberuntunganku kenapa berubah jadi begini? Susah banget buat tahu namanya. Padahal aku hanya ingin kenalan sama dia tidak lebih. Jatuh, jadi bahan tertawaan, diusir dari kelas. Aargh!!!”
“Alya! Stop! Cerewet banaget sih” kata Tata. “Aku suruh kamu ke sini karena ada orang yang mau aku kenalin ke kamu.”
“Kalau aku gak cerewet bukan anak ibuku dong! Siapa yang mau kamu kenalin? Aku maunya kenalan sama cowok itu.”
“Tuh orangnya datang!”
Aku menoleh ke belakang dan bola mataku seperti ingin keluar dari kelopaknya. Aku menatap Tata yang tersenyum jahil. Orang yang ingin dikenalkannya adalah orang yang paling ingin kau tahu namanya saat ini.
“Kenapa kamu gak bilang dari tadi?” tanyaku.
“Kamu yang tidak mau mendengarkan aku tadi di lantai lima. Oh, kamu sudah datang. Ini kenalin temanku, Alya,” kata Tata sambil menahan tawa.
Aku memberikan senyum termanisku. Aku mengulurkan tanganku yang akhirnya bersambut.
“Hai, aku Alya.”
“I’m Lucky.”

Cerpen Karangan: Murni

Cerpen I’m Lucky merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ditilang Cinta

Oleh:
“Dinda…!!! udah siang! kamu nggak ke kampus?” teriak mama dari dapur. “Apaaa…! mama kok baru bangunin aku sih?” aku teriak sambil menuju kamar mandi. “kok mama sih…? kamu tu

Memori Nami

Oleh:
Seorang gadis tampak sibuk membereskan sebuah gudang yang berantakan. Debu-debu menempel di setiap benda yang dipegangnya. “Aduh, mama, kenapa sih kita mau beresin gudang, kan kita uda mau pindah,

Mentari Berkabut

Oleh:
Pagi itu suasana hari sangat cerah, seperti hatiku yang sedang berbahagia mendapatkan hadiah dari sang ayah, hadiah yang sangat aku idam-idamkan hadiah yang tidak akan pernah aku lupakan dan

Kasih Sayang Yang Akan Ku Rindukan

Oleh:
Pagi cerah menemani langkah kakiku menuju gerbang sekolah. Tempat di mana aku menambah dan menuntut ilmu demi menggapai dan mencerahkan masa depanku kelak. Namaku Arisa Amanda, teman-teman sering memanggilku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *