I’m Not Happy (Terlihat Indah Pada Awalnya)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 25 April 2013

One Start Of Something Beautiful
“Jangan jadikan hidup itu sebuah derita.. Jadikanlah hidup itu sebagai hadiah terindah dalam hidup kita.. Di balik semua masalah pasti akan ada sebuah pelangi yang akan bersinar menyambut kita..”

Paris, pagi itu musim gugur hampir berakhir dan keadaan di SMA milik Opa Keryn seperti SMA lainnya. Di pagi yang cerah itu sudah bisa di tebak bukan, Keryn adalah pemimpin SMA tersebut, dia selalu bertindak sewenang wenang terhadap semua murid di sekolah itu, opa Keryn saja tidak suka dengan tingkah Keryn. Opa Keyn memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Keryn!. Pagi itu, Keryn tidak sendiri dia ditemani dua orang yang selalu mengikutinya, sebut saja budak nya (Sisil dan Jessy) turun dari mobil mereka dengan anggun nya, di barengi dengan Carlos ya.. Laki-laki tertampan di sekolah, sekaligus laki-laki yang menjadi pujaan semua anak perempuan di sekolah itu serta pacar setia Keryn.

Hanya satu anak yang tidak tertarik sama sekali dengan Carlos, satu anak perempuan adalah aku Agatha Ziudith Ivana yang biasa di panggil Ziudith. Aku tidak mengerti apa keistimewaan Carlos, menurutku Carlos biasa saja, tidak ada satupun keistimewaan dari Carlos, aku memang terkenal sebagai gadis pendiam, pintar, murah senyum, agak judes, tegas, namun diam-diam menyimpan ribuan rahasia, ribuan misteri, dan ribuan akal serta ribuan pengetahuan tentang apapun di otakku, dan sama sekali tidak tertarik dengan percintaan.

Sebagai anak perempuan aku ini terlalu menutup akses untuk berteman, aku lebih suka sendiri sambil memandangi semua anak anak yang berlalu lalang dihadapannya, tidak lama setelah itu aku mulai membuka akses hidup ku untuk berteman mulai dari berteman dengan Sani dan Katrin yang duduk di belakang bangku.

Aku saat itu sedang menunggu makanan di kantin, aku sedang gelisah memikirkan tentang pendaftaran ekskul drama itu, aku merasa bahwa dia tidak terlalu pandai ber-akting namun aku tidak bisa menolak saran dari Katrin dan Sani. Katrin dan Sani beranggapan bahwa aku memiliki wajah yang mungil, cantik, dan manis, sehingga aku pasti bisa dengan mudahnya mendapatkan hati senior dan guru drama itu.
“Ini mba’ minuman dan makanannya” Kata pelayan yg mengantar makananku, membuyarkan lamunanku.
“O.. Ia terimakasih” Kataku yang berusaha menenangkan diri karena terkejut.
Aku terus memikirkan tentang pendaftaran drama itu sambil berusaha menghabiskan makananku dan mencoba menerka-nerka apakah yang aku lakukan dengan menerima saran Sani dan Katrin itu benar? Entah..
“Braakk!!..” Suara gebrakan meja itu lantas membuat ku kaget dan tersentak. Aku segera menoleh untuk memastikan siapa orang yang melakukan itu. Oh ternyata Carlos CS lah yang melakukan hal tersebut.
“Apa-apaan sih lo? Apa lo itu gak punya sopan santun? Gak di ajarin ya sama orangtuanya?” Lawanku terhadap Carlos.
“Lo itu cewe’, tapi lo itu aneh. Kalo cewe lain aku ganggu tuh kesenengan, dan pergi. Karena gua mau duduk disini!” Kata Carlos sambil menciptakan senyum liciknya.
“Aku bukan tipe gadis seperti itu! Saya tidak suka perlakuan semacam ini! Hal ini jelas.. Itu sama seperti aku duduk di sini pertama! Mengapa saya harus pergi?” Lawanku menantang.
“Ohh… Lo nantangin cerita nya?!” Kata Carlos sambil tertawa licik.
“Kalo ya? Gue takut sama lo?!” Kataku dengan suara lantang nyaris berteriak.
“Kalo gitu lo mau apa?” Balas Carlos
“Maksud lo?” Kataku tak mengerti
“Dalam permainan, harus ada yang ditaruhkan bukan? Gini aja, kalo gue menang lo harus nurutin semua perintah gue, tapi.. Kalo gue yang kalah terserah lo deh mau ngapain gue! Deal?!” Kata Carlos memperlihatkan senyum liciknya lagi.
“Deal!” Balasku tak mau kalah

Aku sudah memulai tanda perang detik ini. Mendengar hal itu Sani dan Katrin tidak habis fikir, namun mereka tetap harus membantu Ziudith bukan? Untuk meyakinkan Ziudith bahwa mereka adalah teman. Selagi mempersiapkan diri untuk lomba basket (bukan tantangan Carlos, tapi emang beneran lomba sama sekolah lain) aku menyempatkan untuk berfikir mengenai ekskul drama tersebut.
“Ziudith!” Teriak Sani dan Katrin serentak
“Ouw.. Yaa, gue jalan..” Kataku tersadar dari lamunan
Ziudith! Ziudith! Ziudith!… Teriakan pendukung team basket ku (Aku yang Kebetulan menjadi pemimipin team basket sekolah ini) TEAM DEAR (Nama team basket ku) PASTI BISA!! HUUUUHHHHHH.. Teriakan pendukung Team sekolahku ini. Aku tersenyum lega karena simpati anak-anak begitu besar terhadapku, meskipun aku memang terkenal lumayan judes. Tapi setiap orang pasti memiliki sisi baik bukan? Aku juga terkenal sebagai murid tercerdas, pemberani, dan murah senyum. Karena kebiasaanku yang murah senyum sifat judes nya jadi tidak terlalu terlihat.

“Siapppp mulai!” Suara wasit memulai pertandingan.
Belum apa-apa aku sudah bisa merebut bola dan mengelabui lawan dengan cepat sehingga aku bisa memasukkan bola nya.. Dan….
“Yeaahhhhhhhh hiuuhhh.. 4 point guys!.. Yesssss” Teriak ku kesenangan, teman-teman yang lain hanya bisa tertawa sambil mengelap keringat mereka dan tanpa sadar aku telah menciptakan senyuman yang mempesona. Carlos yang sejak tadi hanya meremehkanku hanya bisa menelan ludah, namun beberapa saat kemudian Carlos terus menatapku yang sedari tadi terus berjuang memenangkan pertandingan, sambil tersenyum kecil dan tanpa sadar Carlos terus menyoraki dan menyemangatiku dalam hati sambil berharap aku dapat mendengarnya.

“PRIIITTT!!!” Suara peluit wasit yang menandakan pertandingan usai. Dan Team Dear tetap menjadi juara bertahan selama 2 tahun berturut turut dan ini yang ke-3. Aku terus berteriak gembira.. Sangat gembira.. Aku dan kawan-kawan meloncat-loncat kegirangan sambil memegang piala yang team ku dapat.
Keryn sebagai pemimpin team cheers tentunya tidak sepenuh-nya gembira. Dia tidak ingin ada saingan dalam hal apa-pun, jadi Keryn segera menyusun rencana untuk menjatuhkan Team Dear terutama aku sang kapten, Tanpa sengaja aku menoleh ke arah kiri dan mendapati Carlos memandangiku sambil tersenyum, karena mati gaya aku langsung mengalihkan pandanganku dan melihat seorang laki-laki yang aku tau sedari awal pertandingan selalu memotretku, dia tersenyum kepada ku dan aku tidak punya pilihan lain selain membalas senyumannya dengan cepat karena aku tidak suka di potret.

Aku dan kawan-kawan langsung menuju ke ruang ganti untuk mengikuti pelajaran selanjutnya usai pertandingan.
“Benar-benar pertandingan yang melelahkan” Kata Sani sambil tersenyum
“Emangnya ada pertandingan yang gak melelahkan?” Kataku sambil tertawa kecil dan mereka pun tertawa sambil membicarakan humor-humor tentang pertandingan basket.
“Heh!” Kata Keryn CS dengan sinis.
Para pemain basket yang lain langsung mendekat ke arah ku sambil memasang wajah khawatir akan terjadi sesuatu.
“Ada apa, Keryn? Lo ngapain di sini? Bukannya lo seneng kita menang? Harusnya kan lo seneng, karena gua sama teman-teman mampu buat sekolah kita menang, dan nama sekolah lo kan jadi tenar” Kata Sani terpatah-patah
“Heh diem lo Sani, Lo itu gak perlu ngatur-ngatur gue dong!. Ini juga sekolah gue, bukan sekolah lo!” Kata Keryn membentak
“Keryn.. Keryn.. Aneh banget sih lo.. Apa lo gak seneng sekolah lo menang? Ok kalo gitu.. Jadi lain kali gue gak perlu melatih mereka ya.. Jadinya kan pasti kalah dan lo bahagia. Bukan begitu, Keryn?” Kataku dengan tawa kecil tanpa ragu di barengi teman-temanku yang mengangguk tanda setuju.
“Terserah lo deh ya mau ngomong apa, yang penting, gue gak mau punya saingan dalam hal apa pun. Gue tetep harus jadi orang yang nomer 1 di sekolah ini! Paham!” Kata Keryn membentak
Aku hanya tersenyum tidak menghiraukan perkataan Keryn itu.

Karena kesal omongannya tidak di dengarkan, Keryn mendecak lalu pergi.
“Kita harus menemukan cara untuk membuat nama Ziudith jatoh, jadi gue gak punya saingan lagi!” Kata Keryn sambil berjalan menuju kelas.
Aku mengerti bahwa aku memulai perang dengan 2 orang! Jadi aku sangat berhati-hati dalam segala hal. Aku mulai jarang keluar rumah dan terus mengisi waktu senggang dengan latihan drama, latihan basket, latihan dance dan belajar. Tak selang lama kemudian aku mulai kecapean dan kekurangan tidur, kemudian hal itu menyebabkan wajah ku sangat pucat dan aku mulai lemas seperti tidak bersemangat di sekolah. Aku terlalu lelah untuk melakukan hal apa-pun, aku pun berjalan lunglai menuju ke kantin, belum saja separuh jalan badanku sudah tidak bisa bergerak lagi, aku terlalu lemas untuk melakukan hal itu hinggga aku terjatuh pingsan ke pelukan Joeg (orang yang selalu memotret ku tersebut).

“Haduh apaan sih, kenapa harus sama gue jatohnya?! Haduhh ngerepotin aja ni cewek.. Hufff” Kata Joeg sambil garuk-garuk kepala, pasang muka melas, dan geleng-geleng kepala. Akhirnya Joeg memutuskan untuk menggendongku ke UKS. Sesampainya disana Joeg langsung merebahkanku di atas matras. “Dasar.. Jadi cewek ngerepotin banget.. Mana lo berat lagi.. Berapa sih berat badan lo?!” Kata Joeg berbicara sendiri sambil memandangiku yang belum juga siuman.
“lo itu sebenernya cantik, tapi ngeselin.. Coba aja lo bisa jadi pacarku.. lo tuh benar-benar, benar-benar manis .. Gua gak bisa dekat dengan lo.. Kalau saja aku bisa deket sama lo Dith” Kata Joeg yang kemudian terdiam karena melihat aku telah sadar dan sedikit merintihkan sakit.

Aku yang kini telah siuman hanya bisa memandangi Joeg tercengang sambil sesekali menunjukkan senyuman yang mempesona. Joeg yang sedari tadi mengomel dan mengoceh gak jelas tiba-tiba berhenti berbicara sambil marik nafas dalam-dalam, Joeg tiba-tiba deg-degan banget ngeliat wajahku yang sedari tadi ternyata tersenyum. Joeg merasa senyuman itu pernah ia lihat sebelumnya, Joeg kenal senyuman itu.. Tapi mengapa senyuman itu bisa Ziudith miliki? Bagaimana bisa? Joeg yang sedari tadi membatin terkejut saat aku memanggilnya.

“Hehh makasi ya udah nolongin gue” Kataku sambil tersenyum, dan sekali lagi Joeg cuma bisa menelan ludah sambil terus-terusan menatap senyuman itu. Kini Joeg ingat dia pernah memiliki sahabat sejati, sahabat yang selalu menemaninya dalam keadaan apa-pun yang pada akhirnya mereka berakhir begitu saja karena sudah tidak pernah sms-an lagi, ketemuan lagi dan melakukan hal-hal konyol yang biasanya mereka lakukan. Orang itu adalah Ivana. “Masa ia sih Ziudith ini Ivana? Tapi kenapa aku gak pernah tau? Kenapa wajahh mungil itu gak pernah aku inget kalo dia adalah sahabatku? Apa mungkin itu alasan ku senang ketika melihatnya dan senang jika mendapatkan gambarnya?” Batin Joeg sedari tadi. Dan akhirnya kembali terpecah karena suara ku.
“Kayaknya aku gak betah deh di UKS terus.. Kamu mau gak anterin aku ke kelas?” Kata ku sambil menaikkan alis.
“Ehm.. Yup.. Lagipula masa ia aku gak mau nganterin orang yang lagi sakit gini.. Apalagi kamu cewek” Kata Joeg sedikit heran. Cara ku menaikkan alis, itu persis dengan cara Ivana menaikkan alisnya batin Joeg.
“Ehm.. Lo itu Ziudith kan?” Tanya Joeg ragu
“Iya kok loe tau sih?” Tanya ku heran
“Ya pasti taulah.. Lo kan satu-satunya cewek yang berani nantangin Carlos. Lagipula loe juga terkenal sebagai murid yang cerdas dan memiliki segudang prestasi, benerkan?” Tanya Joeg meyakinkan
“Ah.. Gak segitunya juga kali..” Kata ku malu-malu kucing

Seketika suasana menjadi hening. Aku melihat Joeg yang sedari tadi cengang, aku memperhatikan wajah itu, merasa mengenali wajah itu. Tapi aku tetap aja gak inget, aku merasa pernah mengenal Joeg.
“Lo Ivana bukan?” Kata Joeg bertanya ragu sambil merunduk
“Ivana? Darimana lo tau gue Ivana? Gue dipanggil Ivana itu Cuma SD dan SMP aja kali.. Ivana itu udah gak ada setelah aku SMA.” Jelas ku sedikit ragu
“Kenapa lo ganti nama panggilan itu?” Kata Joeg tiba-tiba memasang wajah sinis.
“Emang kenapa? Tapi jawab dulu pertanyaan gue yang satu ini… Lo tau dari mana?” Kata ku heran tingkat tinggi
“Lo udah lupa gue Iv?” Kata Joeg memasang wajah sedih
“Lo? Siapa? Apa lo temen SMP gue? Atau mungkin lo temen SD gue?” Tanya ku menyelidik
“Hemm.. Gue Jo Iv! Sahabat lo yang sering lo panggil bawel itu! Kita pertama kenal saat kita satu kelas di tempat les. Apa lo juga udah lupa itu?” Tanya Joeg menahan tangisnya
“Jo? Lo Jo? Apa? Apa aku mimpi? Ketemu sama lo lagi? Hah gak mungkin..” Kataku setengah tidak percaya
“Lo gak mimpi.. Lo emang ketemu gue disini. Di UKS ini, di sekolah ini, di kota ini.. Gua mau nanya, apa lo udah ngelupain gue dan berusaha seolah-olah gak mau ketemu gue lagi?” Tanya Joeg membuat suasana hening seketika, hanya ada suara jam.
“Berhentilah terdiam, jangan berpura-pura tak mengenalku! Atau kau ingin aku juga berpura-pura tak mengenalku?” Kata Joeg memecah keheningan.
“Aku mencoba berbicara. Tapi aku gak bisa, mulutku seperti terkunci rapat!” Kata ku terpatah-patah
“Jangan berpura-pura!!”
Bantak Joeg yang. Dan aku pun segera kembali ke kelas lalu menganggap tidak pernah terjadi apapun. Besok dan beberapa hari setelah kejadian itu Joeg tidak pernah menghiraukan ku lagi, setiap malam aku selalu memikirkan Joeg, Apa yang Joeg lakukan Apa yang Joeg sedang lakukan, Apa yang Joeg sedang pikirkan. Joeg meneruskan aksi bisunya itu berhari-hari dan seringkali membuat Aku menahan nafas untuk menghindari airmata jatuh. Aku melupakan perang dengan Carlos dan Keryn namun terus mengejar Joeg yang semakin lama semakin jauh. Joeg hanya tidak ingin bersama ku untuk sementara, maka dari itu Joeg menjauhi ku, tapi aku sangat merindukannya.. Aku ingin dekat dengannya.

Aku melewati kantin dan mendapati Joeg berjalan tidak terlalu jauh di depanku, aku berusaha menyamakan langkahku dengan Joeg, namun aku terhenti karena ada yang menahan lenganku.
“Apaan sih!” bentakku yang membuat semua orang memperhatikan ku
“Ngejar siapa sih lo?” Kata Carlos yang menyadarkanku bahwa aku terlihat seperti orang bodoh, berlari gak jelas apa yang di kejar.
“Gue gak ngejar siapa-siapa! Kenapa?” Kata ku judes sambil melepaskan genggaman Carlos di pergelangan tanganku.
“Ngapain?” Tanya Carlos seperti ingin tau segala hal
“Hahh, bukan urusan lo” Bentakku
Aku tetap saja mengejar Joeg yang akhirnya sadar ada yang mengikutinya, dan Joeg menghentikan langkahnya seketika dan langsung mmenoleh ke belakang, Joeg sudah bisa menebak siapa yang mengejarmya. Aku senang melihat Joeg menghentikan langkahnya. Aku berusaha berfikiran jernih dan positif, di otakku hanya ada satu kalimat “Joeg adalah temanku”. Dan aku segera berlari dan ingin menghambur ke arah nya, namun Joeg menolah dan membelakangiku. Aku merunduk dan berusaha menahan emosi yang terus meluap, dan Joeg pun menoleh, dengan tatapan yang sangat tidak mengenakkan dia terus menatapku seperti itu hingga beberapa detik kemudian aku sadar, dia tidak ingin aku bersamanya.

Aku merunduk sambil terus berjalan, terus entah kemana, aku bisa mendengar suara hembusan nafas panjang nya dan rasanya itu sangat menyakitkan sekali untukku. Aku terus berjalan sampai akhirnya aku menemukan bangku kosong di taman tengah sekolahku tersebut, aku duduk di situ sambil terus merunduk berharap semua menghilang saat aku membuka mata, berharap semuanya pergi hilang Carlos, Keryn, Sani, Katrin, Jessy, Sisil, Richie, Derra, dan terutama Joeg. Berharap aku mengalami kecelakaan hebat sehingga tidak dapat mengingat apa-pun, dan aku akan mudah melupakan Joeg, itulah yang ada di otakku saat ini, ya.. Hanya itu harapanku.. Dada sesak, dadaku perih sekali.. sangat perih apalagi saat mengingat pertama aku bertemu dengan Joeg, hal itu begitu mengesankan namun aku melupakannya, tapi ada hal yang lebih parah dari melupakan nya. Joeg membenciku, dia membenciku, Joeg tidak ingin aku kembali ke hidupnya lagi.

Siang ini aku pulang ke rumah jalan kaki, aku terus berjalan tidak memperdulikan apapun, bahkan panggilan Carlos, sampai akhirnya aku melewati sebuah taman dimana aku pernah menghabiskan waktu disana bersama Joeg, berdua.. Aku tertunduk berjalan menuju taman itu dan duduk di bangku sambil mengingat semua keisengan yg pernah aku perbuat bersama-sama dengan nya, semua keisengan itu terlihat jelas di bayanganku akan masa laluku yang begitu menyenangkan yang aku yakin tidak akn pernah terulang kembali. “KRIIKK!!” Suara jepretan itu mengagetkanku, dan aku membatin “Jangan lagi, jangan akan bayangan nya lagi” Aku salah, Aku tidak sedang mendengar ingatan ku, ada laki-laki yang benar-benar memotret ku, namun kali ini aku tidak mengenalnya, aku rasa aku bisa melupakan masalah ku dengan berkenalan dengannya dan kelihatannya laki-laki itu asyik. Dia sempat terpaku karena mungkin takut aku akan marah padanya, namun aku memberikannya senyuman memberikan kode bahwa aku tidak keberatan di potret. Dia tersenyum ke arahku untuk membalas dan kembali memotret ku, lalu mendatangi ku bermaksud memperkenalkan diri.
“Hai.. Sorry sebelumnya gua gak minta ijin lo buat motret lo.. Tadinya gua udah takut lo bakal marah, tapi ternyata lo gak keberatan.. Eh sorry kenalin Rico” Kata Rico memulai
“Ia gakpapa kok, kenalin juga gua Ziudith. Ehm.. Salam kenal ya..” Kataku sambil tersenyum. Lagi-lagi ternyata Rico terpukau dengan senyumanku yang aku memang sadar memiliki kekuatan mempesona.
“You’re smile like an angel” Kata-kata itu terlontar dari mulut Rico tanpa sadar. Aku memandang Rico keheranan.
“Lo tuh ngomongin apa?” Kata ku penasaran yang ternyata berhasil membuyarkan lamunan Rico seketika
“Bukan apa-apa.” Kata Rico menutupi.

Aku pun mengobrol seharian seperti orang yang sudah kenal lama dengannya. Aku tidak ingin memikirkan jika aku pulang terlambat akan mendapat masalah apa. Bahkan Rico berkata belum pernah ada teman wanita nya yang berhasil sebegitu dekat dengannya. Makin hari kami semakin menambah jadwal pertemuan kami, hubungan ku dengan Rico makinn dekat dan berubah menjadi sangat dekat, hingga suatu saat dia memintaku untuk menggerai rambutku, karena dia bilang belum pernah melihatku di gerai. Aku pun mengikutinya dengan senang hati, setelah aku melepas ikatanku dia berkata lebih baik jika aku menggerai rambutku setiap hari. Aku emang gak suka tapi entah kenapa aku pingin ngelakuin apapun buat Rico, sejak pertama kami bertemu kami selalu bersama dan mengenal satu sama lain jauh lebih dekat, hingga suatu saat Rico memutuskan untuk pindah sekolah ke sekolah ku, dan entah kenapa aku merasa sangat bahagia untuknya. Dia sangat senang saat mengabariku tentang hal itu, hubunganku dengan teman di sekolah sangatlah tidak biasa, aku yang biasanya jarang memegang handphone dan lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan kini berubah menjadi lebih sering menghabiskan waktu duduk di bawah pohon yang cukup rindang di tengah taman sekolahku sambil sesekali membaca novel, namun aku lebih sering telfon-telfonan atau smsan dengan Rico sebelum Rico pindah ke sekolahku. Semua temanku seakan menjauh dariku termasuk Joeg yang semakin lama menjauh, aku tidak bisa mengerti, aku yang selama ini menjauh dari mereka atau mereka yang menjauh dariku? Sungguh aku memang bingung, tapi aku tidak memikirkannya karena aku merasa tidak mau mengeluh di hadapan Rico sekalipun dan tidak memperdulikan seberapa jauh aku dengan teman sekolahku asal aku dekat dengan Rico.

Hari-hariku menjadi lebih ramai saat Rico pindah ke sekolahku. Saat dia memperkenalkan diri di depan kelas, semua anak perempuan terkagum-kagum dengan wajahnya yang begitu tampan. Aku tidak menyukai hal ini, aku tidak suka, aku tidak ingin ada perempuan lain yang menaruh perhatian pada Rico lebih dariku. Aku beruntung, Joeg tidak duduk bersamaku saat itu dia lebih memilih untuk duduk bersama dengan Richie. Aku sungguh tidak perduli Joeg mau duduk dengan siapa, yang penting di sebelahku kosong dan itu pertanda Rico akan duduk di sebelahku, selesai perkenalan aku tersenyum kepadanya dan dia membalas senyuman ku, dia tidak memperdulikan banyaknya anak perempuan yang terus memanggilnya dan memintanya untuk duduk di sampingnya sambil sibuk mengusir teman sebangkunya, Rico terus berjalan sambil menatapku tersenyum dan menyambar kursi di sebelah bangkuku, aku tau seluruh perempuan dikelas iri padaku.

Joeg sepertinya sadar usahanya untuk membuat ku mengejarnya tidak berjalan lancar, bahkan sekarang aku tidak memperdulikannya sama sekali.
“Aku gak bohongkan?” Kata Rico membuyarkan lamunanku
“Hehe, ia.. Aku kira kamu Cuma bercanda. Aku seneng banget!” Kataku nyaris berteriak di hadapannya
Ricopun langsung membungkam mulutku cepat, karena menyadari seluruh isi kelas memperhatikanku termasuk bu Intan yang sedang mengajar.
“Apa ada masalah Ziudith?” kata bu Intan menyelidik dengan tatapan tajam
“Gak ada bu. Maaf saya keceplosan.” Kata ku sambil merunduk.
Aku tidak sadar ternyata di balik wajahnya yang khawatir dia membungkam mulutnya sambil tertawa kecil, aku menyipitkan mataku menatap Rico dengan penuh rasa marah. Tapi tatapanku seakan berubah menjadi tatapan merasa bersalah setelah Rico tersenyum kepadaku. Aku menyadari Rico adalah “THE BEST THING IN MY LIFE”. Yang padahal pikiran itu juga muncul saat aku bertemu dengan Joeg saat SMP.

Happy Winter..
Di pagi yang dingin itu, musim gugur kini telah berubah menjadi musim dingin. Rasanya aku tidak ingin beranjak dari tempat tidur yang dingin itu. Meskipun mama ku sudah memanggilku berkali-kali, aku tetap saja bersikeras untuk tidak bangun dan malah menarik selimut tebalku ini. “…Marry me Juliet you’ll never have to be alone.. I love you and that’s all I really know… I talked to your dad go pick out a white dress.. It’s a love story baby just say yes…” Suara hp ku lantas membangunkanku. Aku tau siapa lagi yang menghubungiku kalau bukan Rico.
“Halo…” Kata Rico di ujung telfon
“Apa?” Kata ku samar
“Pagi ini aku jemput kamu, seperti biasa ya.. Tapi aku nih baru bangun jadi baru aja mau mandi.. Kamu lagi ngapain di sana?” Kata Rico di ujung telfonnya
“Jam berapa sih sekarang Co? Aku masih ngantukk” kata ku samar, bermalas-malasan
“Udah cepetan mandi, entar aku nyampe rumahmu kamu harus udah siap oke?” kata Rico bersemangat
“Ckk.. Ia deh” kataku tidak ingin menolak
Aku segera mandi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, aku menata rambutku untuk di gerai, merapikan nya sehingga rambutku rapi. Entah kenapa sejak Ricco menyuruhku melakukan itu, aku tidak ingin melanggar janji ku.
“Ziudith.. Mama seneng deh liat kamu berubah jadi rambutnya, meskipun baru rambut yang rapi tapi mama seneng.. Kamu berarti udah mulaii nyadar ya kamu cewek? Mama seneng banget kamu udah mulai berubah jadi sedikit lebih lembut” Kata mama dengan penuh senyum
“Apaan sih ma” Kata ku menunjukkan aku tidak suka
“Sayang.. Ki..” Ucapan mama terputus karena suara klakson motor Rico dan suara Rico memanggilku
“Ma Ziudith berangkat ya” Pamit ku terhadap mama

Aku segera keluar dan mendapati Rico disana, tapi dia tidak tersenyum, malah sebaliknya, Rico cemberut melihatku. Aku tidak mengerti sampai akhirnya aku sadar di depan pagarku Joeg juga sudah siap menjemputku, aku melihat Joeg tersenyum ke arahku. Aku sungguh bingung yang mana yang harus ku pilih, I don’t understand, kenapa tiba-tiba Joeg jemput aku? Aku terus membatin, namun aku tidak perduli pada Joeg, aku langsung naik ke motor Rico, menyadari hal tersebut Rico tersenyum lebar, dia sangat senang, beda halnya dengan Joeg yang hanya tertunduk marah.

Setelah beberapa menit Rico menjalankan motornya aku baru sadar Rico dan aku memakai sweater yang sama, bahagianya hatiku, aku mulai memberanikan diri berpegangan ke pinggangnya. Beberapa saat kemudian aku sadar Joeg ingin kembali bersama ku, tapi aku bisa apa? Dia sudah terlalu jauh, aku butuh waktu lama untuk kembali padanya. Lagi pula aku sudah punya Rico bukan? Untuk apalagi aku bersama Joeg disaat aku sudah memiliki penggantinya? Aku sadar Joeg bukanlah pilihan, Joeg bukanlah orang yang tepat untuk berada di sisiku saat ini, yang aku butuhkan saat ini hanyalah Rico. Ya hanya Rico, tidak lama kemudian angin bertiup sangat kencang di barengi dengan salju yang sangat membuatku bahagia, aku terus mempererat pelukan ku pada Rico yang sedari tadi terus tersenyum, aku menyadari betapa aku membutuhkan Rico di sampingku. Aku terus tersenyum, sesampainya di sekolah, Rico tersenyum sambil berkata
“Bukankah Salju ini dapat membuat mu bahagia?” Kata Rico yang memarkir motornya sambil tersenyum lalu melihat ke arahku
“Snow can make you and your parteners verry close” Kata ku dengan Jail, dan aku terkejut saat seseorang menarik tangan ku menjauh dari Rico.
“Ivana, kenapa sih lo lebih milih bareng Rico dari pada aku yang udah lama kamu kenal. Kamu tuh baru aja kenal Rico, tapi udah langsung percaya!” Kata Joeg menghilangkan senyuman ku
“Because you can’t make me smile again, Rico always make smile if he’s near me, but you? Can you make me smile just this time? Only this time Jo..” Kataku menahan amarah yang sedari tadi ingin di tumpahkan
“Sebaik itukah dia? Dari mana kamu tau?” Kata Jo berusaha membuka kedokku

Aku tidak memperdulikan Jo yang sedari tadi terus memanggilku, aku terus berjalan di samping Rico, aku ingin bersama nya. Selalu. Always, i hope he can stay longer in my near, forever. Saat aku dengan Rico sudah cukup jauh dari Joe, ada yang menarik ku dan membuatku nyaris terjatuh. Aku tau pasti itu tangan Joe, aku sudah mempersiapkan wajah marahku. Joe menatapku dengan penuh rasa kecewa, marah, dan rasanya saat itu aku sudah kehilangan wajah marahku menjadi wajah merasa bersalah. Aku tertunduk sambil berjalan mundur berusaha menjauhi nya dan kembali menghadap ke depan dan ku temukan Rico tercengang melihat sifatku yang begitu dingin pada JO.. Aku sadar akan hal itu. Aku memang tidak berguna! Jerit ku dalam hati, Rico yang mulai menyadari bahwa aku terus berjalan mulai berlari mengejarku dan menyamakan langkahnya dengan ku. Aku menatapnya dengan penuh harapan dia memperlihatkan senyumannya itu, yang selalu membuatku tenang. Tak selang lama kemudian dia memberikan senyuman itu padaku. Aku tersenyum lebar melihatnya, aku tersenyum karena menemukan senyumnya itu. Aku yang awalnya berjalan bungkuk sambil tertunduk kini hanya bisa tersenyum sambil berjalan tegap dan membuang nafas, karena aku merasa hanya itulah satu-satunya cara membuat ku sedikit lebih tenang.

Aku memang terkenall judes tapi apa kalian tau bahwa aku itu adalah orang yang percaya the power of magic. Aku suka segala hal yang ada kaitannya dengan magic, dan saat ini aku teringat akan hal itu. Hingga aku ingin sekali bertanya pada Rico “Ric, Do you believe the power of magic?” Hal itu yang ku ingin ku tanya kan yang pada akhirnya hanya aku telan diam sendiri. Aku hanya diam tapi apa ada yang tau setiap gerak-gerik Rico selalu ku perhatikan.

Rico sangat cepat mengenalku dengan dalam, belum genap dua minggu dia masuk sekolahku dan duduk denganku, dia sudah bisa menirukan tanda tangan dan gaya tulisanku. Dia mengetahui banyak hal tentangku, tapi aku? Aku hanya tau dia suka makan chiki di kelas saat pelajaran yang tidak di sukainya dimulai, aku tau dia suka ketiduran saat pelajaran sejarah dan menguap sebanyak 32 kali selama pelajaran fisika, aku tau dia suka mengendap-endap memotret bu Intan saat pelajaran Biologi dan anak-anak khawatir bahwa penyelundupan kameranya itu akan ketahuan banyak guru dan banyak yang akan menirunya. Hanya itu yang aku tau tentangnya, apa itu bisa di masukkan dalam kategori banyak? Rico seperti terlalu menutup akses untukku mengenalnya, dia ingin mengenalku lebih dalam namun dia tidak pernah memperbolehkanku untuk mengenalnya lebih dalam.

Tapi semua hal itu tidak pernah ku jadikan masalah besar, aku selalu tersenyum didekatnya. Aku tidak pernah mudah marah, judes, pokoknya semua sifat lamaku yang berhubungan dengan judes sudah hilang entah kemana setelah Rico ada di sisiku. Aku juga tau satu hal yang mungkin tidak ada satu orangpuun yang tau mengenai hal ini, Rico selalu menyembunyikannya dari semua orang karena dia bilang dia hanya ingin orang yang benar-benar dia sayanglah yang tau. Dan dia memberitauku hal itu, “AKU SANGAT SUKA WINTER..” Kalimat itulah yang diucapkannya padaku, aku tau persis di Paris jarang ada musim dingin maka dari itu Rico selalu menanti-nantikan musim dingin, dia selalu meloncat-loncat di taman belakang rumahku sambil terus tersenyum, aku sangat bahagia melihat hal itu. Aku tak bisa berhenti tersenyum melihat hal itu, aku sadar “WINTER” memang segalanya untuk nya dan untukku saat ini dan kurasa bisa untuk selamanya begini.

Start Of One Bad News ..
Tidak terasa bagiku waktu berlalu begitu sangat cepat, aku dan Joeg sudah seperti orang yang tidak saling mengenal. Joeg sibuk dengan dunia nya sendiri yang sangat mencintai Seni lukis, dan kabarnya Joeg sedang menjalin cinta dengan teman Keryn yaitu Jessy, kabarnya mereka hanya sandiwara pada awalnya. Jessy hanya ingin tau apakah Derra menyukainya atau tidak. Ternyata, hal itu membuahkan hasil, Jessy sadar bahwwa Derra ternyata tidak memperdulikannya, dan Joeg lah yang menjadi pelariannya sampai akhirnya mereka berdua benar-benar saling suka dan hubungannya langgeng sampai sekarang.

Segalanya sudah benar-benar berubah, tanpa disadari semuanya sudah berpasangan. Joeg-Jessy, Sisil-Tarjo, Katrin-Richie, Sani- teman Richie yang bersekolah di Bandung (Jerry), Keryn-Carlos, dan sekarang hanya tinggal aku dan Rico yang masih menggantung. Banyak sekali orang yang bertanya tentang apa sebenarnya hubungan kami, tapi aku harus jawab apa? Jika memang tidak ada hubungan apapun antara kami berdua. Ingin sekali rasanya aku mengatakan “YA” saat mereka bertanya “Kamu pacaran sama Ricko?” itu yang ku inginkan. Selama bersama Ricko, Ricko selalu menutup sebagian besar akses semua temanku yang ingin berhubungan dengan ku. Aku memang senang selalu berada di dekatnya, namun di satu sisi aku merasa sangat terikat dengannya, dia selalu memintaku untuk mengabarinya setiap waktu keadaanku. Namun, hal itu tidak pernah berlaku untuknya, dia hanya terus-terusan mengikatku. Aku tidak tau apa yang mambuatku betah berada di dalam ikatan itu. Namun, hingga satu hari terjadi pertengkaran antara aku dengannya. Dia yang berkeras untuk menarikku jauh dari Carlos terus saja tidak memperdulikan aku yang terus memintanya untuk berhenti hingga tiba-tiba dia melempar tanganku dengan penuh marah, aku tidak ingin melihatnya marah, aku langsung mengejarnya dan memohon padanya untuk mendengarkanku. Dia hanya diam dan tidak mau menatapku, hingga sudah genap satu bulan lamanya dia memusuhiku, aku hanya bertemu dengannya saat jam pelajaran dan pulang pergi sekolah.

Dia terus melakukan aksi bisunya itu hingga berhari-hari dan berminggu-minggu lamanya. Dia memang tetap melakukan kesehariannya di rumahku yaitu mencoba masakan baru buatan ibu, dan berdebat tentang bisnis yang ayah baru saja buka dengannya sambil bermain catur dan minum kopi hitam kesukaan ayah. Aku tidak bisa berkutik saat dia tertawa bersama dengan ayahku, aku dan Ricko memang bukan asli Paris. Kita adalah orang Paris pindahan dari Indonesia saat kita masih kecil. Aku dan Ricko tidak mengenal saat kita masih di Indonesia. Aku baru mengenalnya saat di Paris ini, saat aku menangis sendiri di taman dan dia memotretku. Itulah untuk pertama kali aku mengenalnya, dan dia adalah orang yang pertama kali bisa membuatku begitu tenang saat di dekatnya.

Aku menangis setiap malamnya, saat dia tidak membalas smsku dan me-reject telfonku. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan. Besok siangnya entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali saja dia menelfonku. Saat aku ingin menelfonnya terlebih dulu, tiba-tiba handphoneku sudah berbunyi . “…Marry me Juliet you’ll never have to be alone.. I love you and that’s all I really know… I talked to your dad go pick out a white dress.. It’s a love story baby just say yes…” Itulah nada dering handphoneku, aku langung menyambar handphoneku dan mengangkatnya.
“Rick..” Aku berbicara memastikan, namun aku hanya mendengar suara keributan diujung telfonku.
“Zi.. Lo bisa denger gue?” Kata Rick di ujung telfon yang hanya samarku dengar namun aku masih mampu mendengarnya.
“Rick.. ce qui se passe2? ce qui ne va pas avec vous? pourquoi est-il si encombré?” Kataku dengan sangat khawatir
“Zi.. All gone .. All gone .. Ma maison a brûlé et elle est toujours là3” Kata Rick yang sedang di tenangkan oleh warga sekitar. Aku tau rumahnya, tapi dia tidak pernah mengijinkanku memasuki rumah putihnya yang dari luar terkesan bersih dan sangat rapi, rumah yang sebelumnya tidak pernah kumasuki telah terbakar hangus..

“J’ai été immédiatement là, attendant4” Kataku dengan cepat, yang aku pikirkan hanyalah “Rick.. apa kah kau baik-baik saja?”.. Sesampainya disana semua warga menjelaskan kronologis cerita kejadian tersebut dengan rinci terhadapku. Aku mengangguk mengerti pada setiap kata yang mereka ucapkan, aku meneteskan airmataku sedikit demi sedikit dan aku mencoba menahan dan akhirnya aku berhasil.. Rick hanya duduk dengan kepala di tundukkan ke bawah melihat tanah, dia tidak menangis saat itu. Aku hanya terus mengelus-elus pundaknya dan punggungnya, berusaha memberi pengertian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pada akhirnya, dia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepadaku, senyuman mempesona itu masih ada disana. Apakah kamu sekuat itu Rick, apa kamu memang orang yang sangat tegar? Qu’est-ce que vous avez vraiment difficile de renoncer5? Batinku terus-menerus.. Rick pun tidak menangis saat pemakaman jenasah ibundanya, dia hanya terjongkok dan terus menatap tanah yang kini telah mengubur ibundanya. Ayah dan saudaranya menelantarkannya begitu saja, ayahnya berkata tidak bisa merawatnya lagi, dan ayahnya hanya memberikan uang sedikit, paling tidak hanya bisa menginap di hotel berbintang 2 tiga hari.. Aku menawarkan satu kamar kosong di rumahku, ayah dan ibuku juga mengizinkannya bahkan dengan senang hati, awalnya Rick ragu tapi akhirnya dia memutuskan untuk tinggal dirumahku. Ia, karena hanya aku yang dia punya saat ini, harusnya dia sadar akan hal itu.

Sore ini Rico masuk ke rumahku, ayah dan ibuku menerimanya dengan senang hati. Aku langsung membawa semua kopernya kedalam kamar kosong yang sekarang telah menjadi miliknya, sedang aku membereskan kamarnya dan pakaiannya dia hanya duduk manis dengan terus tersenyum kepada ayah dan ibuku yang trus KEPO dengan kekuarganya-keadaannya- dan masih banyak lagi, disaat aku sudah sangat lelah ayah dan ibuku malah menyuruhku cepat karena kasihan Rico. “Biarlah dia beristirahat cepat malam ini”, kata ayah dan ibuku dengan penuh perhatian wajar bukan jika aku langsung naik darah kerena ayah, ibu, dan Rico sendiri tidak memperdulikan aku yang sendirian bekerja keras membersekan kamar.

Malam itu jam kamarku sudah menunjukkan pukul 23.15 namun aku belum bisa tertidur karena badanku sangat pegal, lalu aku memutuskan untuk keluar dan membuat segelas coklat panas untukku minum belum aku turun ke dapur langkahku terhenti karena mendengar suara nafas berat yang aku dengar dari depan kamar Rico, jika hanya mendengar sekilas itu seperti suara seseorang yang sedang terkena flu, tapi aku tau persis itu adalah suara nafas berat dari seseorang yang sedang menangis. Aku langsung tau saat mendengar, tidak tau mengapa apa mungkin karena belakangan ini aku sering mengalaminya, aku mengintip kedalam kamar yang setengah terbuka. Aku melihat sebuah punggung yang terlihat sangat rapuh, aku langsung berjalan mundur dan melanjutkan niatku untuk membuat coklat panas namun coklat panas tersebut tidak kubuat untuk diriku melainkan untuk Rico.

Saat kembali kekamarnya aku melihat punggungnya yang tertunduk dan sangat rapuh, ternyata melihat Rico menangis seperti itu sangatlah menyakitkan jauh lebih menyakitkan daripada aku ditinggal oleh Joeg. Ternyata selama ini aku salah, Rico tidak sekuat itu, dia hanya laki-laki biasa yang juga bisa menangis. Aku berusaha menahan tangisku dan berjalan mendekat.
“Rico, ini aku buatin kamu coklat panas” Kataku dengan gugup sambil menahan tangis
“Oh ia makasih Zi” Kata Rico yang tekejut dan langsung menghapus air matanya dengan cepat
“Gak perlu dihapus air matanya, airmata itu indah kok” Kataku tanpa berfikir
Rico hanya tersenyum dan mengambil coklat panasku, senyuman manis itu masih ada di bibirnya, aku hanya bisa duduk disebelahnya sambil menggigit bibirku dan memandanginya yang berusaha menghabiskan coklat panasku. Aku bergumam dalam hati “Kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi sih yang mau nangis? Kenapa gak langsung diungkapin aja waktu kamu sedih?” Setelah dia menghabiskan coklat panas buatanku dia mengembalikan gelasnya padaku, dan kembali tersenyum.
“Kok jam segini belum tidur?” Kata Rico sambil terus menunjukkan senyum manisnya.
“Gak bisa tidur, badanku pegel semua” Kataku dengan polos. Yang selanjutnya ditertawakan oleh Rico. Di langsung memutar badanku yang semula menghadapnya menjadi membelakanginya, di langsung memijat pundakku dengan penuh perasaan, nyaman sekali rasanya. Jika boleh setiap hari aku akan bilang badanku pegel semua sehingga dia mau memijat pundakku lagi seperti itu. Sadar Rico mulai beberapa kali menguap aku langsung melepas tangannya dari pundakku dan menyuruhnya tidur karena ini sudah larut malam, lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Dia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur sembari aku membuka selimut dan menyelimutinya, lalu mematikan lampu kamarnya dan ingin kembali kekamar. “Zi, kamu mau gak tiap malem nyelimutin aku kayak gini?” Kata Rico yang membuatku terkejut dan membuatku sangat senang. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan menutup pintu kamarnya sembari berjalan kembali kekamarku.

Ayah dan ibuku sangat memperhatikannya bahkan menurutku itu terlalu berlebihan dan harusnya aku tau apa yang akan terjadi jika aku membiarkannya tinggal dirumahku, ya seperti ini apapun yang aku kerjakan sama sekali tidak dihiraukan, jadi menurutku wajar jika sejak itu aku tidak terlalu bersikap baik terhadap Rico. Aku selalu di abaikan dan sepertinya Rico senang melihat aku diabaikan oleh ayah dan ibuku sendiri. Aku juga seringkali menjelek-jelekkan Rico didepan beberapa teman yang duduk dekatku dan mereka semua telah terasuki oleh fitnahanku, dan mulai menjauhi Rico, sampai suatu saat aku tertangkap basah oleh Rico menjelek-jelekkannya. Aku sangat malu dan merasa bersalah dia hanya memberikanku 2 kata setelah itu dia tidak menemuiku lagi di bilang “TEGA KAMU”.

Aku berlari ke toilet sambil menangis membungkam mulutku, aku menyandarkan tubuhku ke dinding, aku merasa hancur aku menyesal seharusnya tak ku biarkan ini semua terjadi. Aku terlalu ceroboh, aku terlalu iri hati jika aku tak membiarkan mulutku ini berbicara buruk seperti itu, Rico tidak akan membenciku seperti ini! Aku tidak bisa berhenti berfikir bagaimana perasaannya mendengar bahwa aku menghianatinya.

Saat kembali kekelas aku menatap Rico yang berpura-pura sibuk membaca novel yang aku dengannya pinjam kemarin dari perpustakaan, aku berjalan sambil merunduk kembali ke tempat dudukku, aku terus memandangi Rico yang seolah tidak perduli dengan kehadiranku, saat aku mulai membuka mulutku dan berusaha memulai pembicaraan dia langsung menutup bukuku dan berbicara kepada Derra teman sebelah bangku ku, aku sadar dia tidak ingin membicarakan hal buruk yang telah kuperbuat. Bodohnya aku, aku mengulangi kesalahanku untuk ke-2 kalinya, cukup Joeg yang pergi dari hidupku! Apa aku harus membiarkan hal yang sama terjadi pada hubunganku dengan Rico? Aku telah dibutakan dengan irihati!

Aku bisa memahami perasaan Rico saat itu, tapi tiba-tiba pikiran sedihku itu langsung hilang dan malah menjadi pikiran negatif. Untuk apa aku merasa bersalah? Bukankah aku adalah orang yang memang tidak perduli dengan perasaan orang lain? Gumamku.

Tapi beda lagi dengan kata hatiku yang satu ini, Aku memang bodoh, membiarkan mulutku menyakiti perasaan, orang lain. Aku memang bodoh! Gumamku dalam hati.

Cerpen Karangan: Ivana Yudith Walujo
Facebook: Ivana Yudith Walujo
Namaku Ivana Yudith Walujo yang terkenal dengan nama panggilan Ivana. Aku anak umur 13 tahun Kelas 7H di SMPN 02 Bangkalan, Madura. Aku memiliki hobi menulis, sejauh ini sudah lebih dari 4 cerpen & novel yang kubuat, namun aku belum berani mengirimkannya ke blog blog yang ada. 😉

Cerpen I’m Not Happy (Terlihat Indah Pada Awalnya) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Aby dan Pagi (Part 1)

Oleh:
“selamat pagi dunia” teriakku dengan begitu ceria di atas balkon kamar. Ini hari keduaku menetap di sebuah komplek perumahan, dan aku tinggal sendiri disini. Kulihat sekitar, pohon tumbuh berjajaran,

Telepon

Oleh:
Panggilan pertama tidak diangkatnya. Begitu juga dengan panggilan yang kedua, hingga panggilan yang ketiga… “Asslmualaikum” suaranya terdengar. “Waalaiksalam, apa Riri mengganggu waktu mu” tanya ku “tidak!” sahut Bima. “Riri

Cinta Untuk Maura

Oleh:
Maura dengan hati yang berbunga menatap sendu lelaki yang baru saja menikahinya. Sesekali ia membelai cincin yang melingkar di jarinya. Laki-laki itu mendekat padanya. “Sayangku, sekarang kau jadi bagian

Waktu Yang Gak Tepat

Oleh:
Nama gue aris, gue orang yang sedikit kuper, gue suka numpahin cerita gue di laptop kesayangan gue tapi sayangnya gue terlalu takut untuk ceritain semua curhatan gue dan ini

Mirror Mirror I’m in Love (Part 1)

Oleh:
Yume Alfonsa adalah sahabatku, cantik, baik dan ramah. Dia selalu tersenyum pada siapa saja. Dia merasa tidak pupuler dan tidak ada yang mengenalnya. Dia merasa ada tapi seperti tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “I’m Not Happy (Terlihat Indah Pada Awalnya)”

  1. nini oryeza rasya says:

    bahasa prancis nya kan ga semua orang ngerti. harus nya di kasih artinya di bawah nya…thanks

  2. Dwi Setiawan says:

    penulisan kalimatnya masih kurang rapi.. Tapi,ceritanya cukup menarik..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *