In Another Life

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 3 June 2013

Namaku Maura, mahasiswi semester 4 di universitas di kotaku Bandung. Orang bilang aku itu wanita yang non-ekspresi. Mereka bilang aku gitu karena keseharianku yang super cuek, jarang bercanda, dan… bahkan kata mereka aku adalah orang yang kuper (kurang pergaulan). But, it’s OK! Aku terima kok apa yang mereka bilang tentang aku. Tapi aku itu pengen mereka tahu kalau aku itu sebenarnya gak seperti itu. Ya mungkin hanya teman-teman SMA ku lah yang tahu kalau aku itu sebenarnya ceria, ramah, dan supel. Dan pasti mereka tahu apa penyebab perubahan ku yang drastis ini. Jadi gini nih ceritanya..

Pertama masuk SMA duku, tepatnya kelas 1, ada seorang pangeran tampan pindahan dari Bogor yang ditempatkan guru di kelasku X-A. Yah.. memang (katanya) kelas X-A itu adalah kelas unggulan. Aku tuh langsung fall in love sama dia. Habis gimana yaa.. Dia itu ganteng banget loh. Tinggi, putih, dan satu lagi yang bikin dia makin imut abis itu adalah bibirnya yang merah itu loh..

“Baik teman-teman, perkenalkan nama saya Muhammad Sheddy Al-Mirza. Saya pindahan dari SMA Negeri 1 Bogor.” Ucapnya. Menurutku itu adalah nama yang sangat bagus dan indah. Lalu ibu guru menyuruhnya duduk di sebelahku. Yah karena memang bangku di sebelahku itu kosong. Mhihihi, ada kesempatan nih buat deketin dia.

Selama pelajaran berlangsung, tak henti-hentinya mataku ini tertuju padanya. “Ya ampun, makan apaan sih ini cowok. Kok ganteng banget?” bisikku dalam lamunan. *Proookkkkkk!* Ibu guru memukul mejaku dan membuyarkan lamunanku yang indah tadi. “Ibu perhatikan dari tadi kamu melamun melulu. Ada apa sebenarnya Maura? Apa jangan-jangan karena ada Sheddy nih?” ibu guru memasang senyum kecil di wajahnya. “Ciyeeeeeeeeee” serentak teman-teman menyoraki aku. Sementara Sheddy yang tersipu malu hanya bisa melemparkan senyum ke arahku. Aku kembali melamun, “Ya ampun, dia makin manis banget yah kalo senyum gitu. Dan yang aneh, aku jadi lebay kalo ada dia, kenapa ya? Atau jangan-jangan aku suka sama dia? Ah!! Gak-gak! Gimana kalau dia sudah punya pacar? Pasrah deh gue gak pernah pacaran.”

Ku akui aku itu cukup manis (itu sih kata orang) hehe. Tapi apakah mungkin aku bisa bersamanya? Setidaknya aku bisa menjadi sahabatnya dan itu harus!

Hari kedua dia masuk sekolah, dia tiba-tiba berbalik ke arahku. “Halo, bisa kenalan nggak?” tanyanya. “Oh bisa kok, nama aku Maura Khairuna.” Jawabku dengan jantung yang berdebar dan tanganku yang dingin seketika. “Namaku Muhammad Sheddy Al Mirza. Kamu bisa panggil aku Sheddy. Salam kenal ya manis” balasnya dengan wajah tersenyum. “Ya ampun mimpi apa gue bisa di ajak ngobrol sama dia abis itu di bilang manis lagi” bisikku dalam lamunan. “Ra.. Ra.. Maura! Kok melamun, Ra?” tanyanya mengejutkanku. “Oohh.. Ng.. Nggak kok. A.. Aku gak melamun. Oh iya, by the way, kamu kenapa pindah dari Bogor?” tanyaku. “Papa aku pindah tugas, Ra. Aku sudah pasti menetap di kota ini kok. Soalnya papa gak ada pindah tugas lagi setelah ini.” Jawabnya sambil melempar senyuman kecil. Mataku terus menatapnya, “oh bagus deh, Dy.” Dia tiba-tiba menarik tanganku, “Ayo Ra, tunjukin aku tentang sekolah ini. Sekalian kita ke kantin.

Di kantin, kami melanjutkan pembicaraan kami. Sekarang aku sudah bisa menilai kalau dia itu anak yang baik, ramah, dan tidak sombong.

Hari demi hari berlalu, aku makin suka sama dia. Ternyata dia pinter. Setiap kali pembagian rapor, dia selalu masuk ke peringkat 3 besar. Ya aku akui, aku tak sepintar dia. Aku hanya bisa meraih 10 besar saja. Dia jago dalam bidang seni. Dia pandai mainin musik, dan dia pernah nyanyiin lagu kesukaan aku yaitu The One That Got Away. Di tambah dengan suaranya yang merdu dan akustik gitarnya yang indah. Aku jadi lupa diri kalau dia nyanyiin itu.

Hari berganti bulan, aku makin dekat sama dia. Bulan 5 ini kita akan jalanin ujian semester. Penentu kenaikan kelas dan pemilihan jurusan. Kita berdua rencananya pengen masuk ke IPA. Menjelang ujian, kita sering belajar bersama. Kayaknya nih, perasaan aku udah berubah jadi cinta kali ya. Rasanya aku gak bisa jauh-jauh sama dia.

Ujian berjalan dengan sukses. Dia sangat banyak membantu aku. Dia juara 1 dan aku rangking 5. Dan kami akhirnya bisa satu kelas lagi di IPA-1. “Makasih ya Dy, udah banyak bantu aku.” Kataku dengan penuh semangat. “Sama-sama, Ra. Bagaimana kalo kita rayain kenaikan kita?” tantangnya dengan mata yang tajam. “Oke, siapa takut”, jawabku. Seluruh tempat kami jalani, kami layaknya orang yang sama-sama di landa cinta. Ini adalah hari terbaikku bersamanya

Sekarang aku dan Sheddy udah duduk di bangku kelas 2 SMA. Ku akui banyak perempuan yang tergila-gila sama dia. Dan aku harus bersabar kalau bel istirahat tiba, karena dia pasti akan jadi kejar-kejaran wanita-wanita lain. Jealous bangeeettt! 3 hari lagi aku ulang tahun. Dan aku yakin Sheddy pasti lupa walaupun aku dulu udah pernah kasih tahu ke dia.

Ulang tahun ku tiba, aku yakin dia gak ingat. Aku pergi ke sekolah seperti biasa. Saat aku mau masuk kelas, aku menemuinya berdiri di depan pintu kelas, “Selamat ulang tahun ya Maura Khairuna yang cantik dan manis. Semoga panjang umur dan makin pinter”. Sheddy adalah orang pertama yang mengucapkannya kepadaku, “Terimakasih ya, Dy. Aku kirain kamu lupa, ternyata kamu ingat” jawabku. “Ya enggaklah, Ra. Pokoknya nanti malam kamu harus mau aku jemput ya. Aku punya sesuatu buat kamu.” Katanya. Aku masuk ke kelas, dan perasaanku benar-benar sangat gelisah, dan tidak tenang memikirkan apa yang dikatakannya tadi.

Malam harinya jam 7, dia datang menjemput aku. Dia membawaku ke sebuah restoran yang romantis dengan kerlap-kerlip lampu dan hiasan warna-warni. Sangat romantis! Sehabis makan, dia memberikan sesuatu kepadaku, “Ra, aku punya kado buat kamu. Di jaga ya, Ra. Anggap aja kalo barang itu adalah aku.” Katanya. “Hahaha, iya-iya Dy. Aku pasti jaga kok. “Ra, sebenarnya aku pengen bilang sesuatu ke kamu” katanya dengan wajah yang serius. “Apaan sih Dy?” aku begitu penasaran. “Ra, sebenarnya aku suka sama kamu sejak pertama kita bertemu, dan lama-kelamaan rasa itu berubah jadi cinta Ra. Kamu sahabatku tapi aku cinta sama kamu. Aku suka semuanya tentang kamu. Aku cinta kamu karena Allah, Ra. Aku mau kamu jadi pacarku yang pertama dan terakhir” ujar Sheddy dengan begitu tulus. “Dy, aku juga ngerasain hal yang sama kayak kamu. Aku cinta sama kamu, Dy. Aku mau kamu jadi pacarku yang pertama dan terakhir” jawabku sambil menitikkan air mata.

Ternyata kado dari Sheddy itu isinya kalung liontin emas yang sangat cantik. Aku senang sekali. Aku akan menjaga kalung itu sampai kapanpun.

Setahun kemudian saat kami mulai beranjak dewasa, dimana kami sudah kelas 3 SMA. Kelas kami sudah tidak sama lagi, karena ada pembagian kelas. Hubunganku dengan Sheddy sudah terhitung 1 tahun lebih. Lama-kelamaan hubungan kami menjadi sedikit renggang. Terkadang aku melihatnya, dan terkadang tidak. Dia jarang membalas SMS dan jarang mengangkat teleponku. Aku merasa sangat mengambang, dan aku merasa sangat dipermainkan olehnya. Aku terus berusaha untuk mengSMS dia. Akhirnya masuklah sebuah sms darinya, “Ra, kita putus ya. Aku udah punya calon tunangan pilihan papaku, dan aku akan kuliah di Australia.”

Aku merasa sangat marah, aku mencoba melupakannya. Terkadang jika dia muncul di sekolah, kami tidak bertegur sapa. Begitulah yang ku alami sampai sekarang ini, bahkan 2 hari lagi UN sudah di mulai. Aku memutuskan untuk fokus ke Ujian ku, dan berusaha untuk tidak mengingatnya. Apalagi dia bilang dia akan bertunangan. Aku sangat membencinya, dia mengingkari janji yang pernah kami buat.

Hari ini adalah hari terakhir aku menjadi seorang siswi SMA. Aku mengurungkan niatku, aku mencarinya di sekolah. Tetapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Setibanya aku di rumahnya, aku tak melihat seorangpun disana, layaknya tak berpenghuni. Aku memencet-mencet bel nya berkali-kali. Akhirnya bibi nya membukakan pintu, “Bi, Sheddy nya ada?” tanyaku. “Loh, Non gak tahu ya? Mas Sheddy itu lagi sakit parah Non. Dia lagi di rawat di rumah sakit.” Kata bibi. “Rumah sakit mana, Bi?” tanyaku tergesa-gesa. “Anuuu non. Rumah sakit Dr. Hasan Sadikin kamar 139” jawab bibi. Dengan perasaan kalut, aku segera pergi ke rumah sakit.

Aku tiba di rumah sakit, aku masuk ke kamar rawat Sheddy. Aku melihatnya terbaring lemah. Dengan spontan aku memeluknya dengan erat.
Sheddy : (berbisik ditelingaku dengan suara yang begitu tampak lemah) Apa kabar kamu sayang? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sangat rindu sama kamu.
Aku : Tega banget sih kamu Dy, kenapa kamu ga kasih tahu aku kalo kamu sakit? Sakitnya gak parah kan? (menangis tersedu-sedu)
Sheddy : Ra, sudah saatnya aku ngasih tahu kamu yang sebenarnya. Sebenarnya aku sudah lama sakit, Ra. Aku terjangkit kanker otak, dan di vonis stadium akhir. Nafasku tidak akan bertahan lama lagi. Aku sengaja bilang kalo aku akan bertunangan dan kuliah di Australia supaya kamu membenci dan melupakan aku. Aku gak mau UN kamu jadi berantakan karena mikirin aku. (dia menangis dengan senyuman)
Aku : Ya tapi gak gini caranya. Setidaknya aku bisa berbagi sama kamu. Dan aku gak akan ninggalin kamu. Kita sudah janji untuk selalu bersama, Dy! (tangisku histeris)
Sheddy : Iya Ra, aku minta maaf ya. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu, Ra. Allah tahu kita saling menyayangi. In another life, I would make you stay. So I don’t have to say you were the one that got away. Ingat lagu itu kan Ra? Itu lagu kesukaan kamu. Lagu itu menceritakan tentang aku dan kamu Ra. (Sheddy menangis sambil menitikkan air mata) Ra, Aku cinta kamu karena Allah.
Aku : Aku juga cinta kamu karena Allah, Dy. Jangan tinggalin aku ya.
Sheddy : (hanya tersenyum dan menatap mataku)

Keesokan harinya, aku menemani Sheddy lagi. Kata dokter kondisinya semakin parah dan tidak akan ada harapan lagi. Mendengar perkataan dokter, kaki ku menjadi sangat lemah, tanganku berkeringat dingin dan bibir ini sulit untuk digerakkan. Mama dan papa Sheddy hanya bisa menangis di ruangan itu. Aku pun hanya bisa menangis sambil memegang tangannya. Sheddy yang saat itu tertidur, bangun dari tidurnya.
Sheddy : Sayang kenapa kamu menangis? (sambil tersenyum)
Aku : Gapapa, Dy.
Sheddy : Ra.. sepertinya inilah saatnya aku untuk pergi. Aku sudah tidak kuat lagi.
Aku : kamu gak boleh ngomong gitu, Dy. Aku gak mau hidup tanpa kamu. Kalau kamu mati, aku juga harus mati!” (aku menangis histeris)
Sheddy : Ra.. Kamu gak boleh ngomong gitu. Aku harus pergi menghadap Allah. Ini cobaan dari Allah, Ra. Allah tahu kita saling menyayangi. Dan aku yakin kita akan bertemu di kehidupan yang indah nanti. Maaf, Ra. Aku gak bisa jadi pria yang menemani hari tua kamu. Kamu gak boleh mengakhiri hidup kamu yang indah ini Ra. Kamu akan meninggal di tempat tidur empukmu sebagai wanita tua yang bahagia. Aku yakin, Ra. (Sheddy terlihat lemah, tetapi ia tetap tersenyum.)
Aku : Kamu jangan tinggalin aku, Dy! Plisss!
Sheddy : Ra, aku boleh minta pelukan dari kamu?
Aku : (aku memeluknya dengan eratnya)
Sheddy : (berbisik ketelingaku) Ra.. Aku pergi ya sayang. Terimakasih karena kamu udah menjadi cinta pertamaku. Kita akan bertemu dalam setiap mimpimu. Ingat semua pesan aku ya Ra. Assalamualaikum…

Sheddy menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah yang begitu tampak bahagia. Sejak saat itulah hidupku berubah. Tapi aku tak pernah melupakannya. Sejauh ini, aku selalu mendoakannya dalam setiap doaku. Kami selalu bertemu walau hanya dalam mimpi. Aku selalu ingat kata-katanya. Aku akan mati di tempat tidur empukku sebagai wanita tua yang bahagia.

Terimakasih untuk segalanya yang kamu berikan dihidupku, Dy. Kamu layaknya seorang bidadari yang datang untuk merubah hidupku. Jiwamu begitu kekal, walaupun ragamu telah tiada. Bahagialah kamu di surga sayang. Aku yakin, In Another Life I Would Be Your Girl. Dan malam ini aku akan tidur bersamamu dalam hatiku. Aku cinta kamu karena Allah, Muhammad Sheddy Al Mirza..

-END-

Cerpen Karangan: Nona Nada Damanik
Blog: littlethingaboutnona.blogspot.com
Nama saya Nona Nada Damanik

Cerpen In Another Life merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

Move on

Oleh:
Hari ini hari senin haduh panas banget. Matahari telah mengalahkan lapisan ozon yang ada. Angin sepoi sepoi mengurangi rasa panas yang ingin menyengat kulit ini. Dari kejauhan terlihat warung

Cahaya Penakluk Hati

Oleh:
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanaman yang kusirami selama ini akhirnya tumbuh subur, membuahkan hasil yang sesungguhnya, memekarkan bunga yang elok dipandang, mengundang lebah seolah melambai pada siapa saja

Setahun Lalu (Part 1)

Oleh:
Menunggu. Ya, Sisi memang selalu berada di taman itu setiap harinya. Sendirian, dan selalu saja sendirian. Entah apa yang selalu ditunggu Sisi disini. Seakan-akan dia sedang menanti seseorang untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “In Another Life”

  1. cahaya_bolang says:

    Hmm.. ceritanya menyentuh, meskipun d awal kosa katanya kurang rapi tapi kata2 menyentuh. mirip pengalamanku, outhor keren bisa buat aku meler bacanya. sukses selalu ya author 😉 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *