Indah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 February 2019

Aku masih mengingat kala itu. Dua bulan menjelang dilaksanakannya Ujian Nasional tingkat SMA. Aku harus pergi ke bagian gudang untuk mengambil spidol. Aku melewati tangga belakang, entah apa yang membuatku memilih jalan itu, dan bukan melewati koridor yang lebih dekat.

Kudengar sayup-sayup suara orang yang tidak asing bagiku. Aku menuruni tangga pelan-pelan untuk memastikan.

“Jangan ketawa keras-keras, ntar kita ketahuan kalau bolos,” ucap suara itu.
Benar, tidak salah lagi. Itu adalah suara Gea, sahabatku. Tadi pagi ia memang sempat bilang padaku bahwa ia ingin bolos saja, tapi ia bolos dengan siapa? Bukankah biasanya ia mengajakku?

Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arahnya untuk menyapanya.
“Hey, Ge. Kamu sama si…”
Aku tak dapat melanjutkan kalimatku. Hatiku kelu melihat pemandangan tak menyenangkan ini. Aku tak sanggup.

“Win, Wina, tunggu. Aku bisa jelasin,” ucap Gea.
Aku tak menghiraukan ucapan Gea dan langsung berlari menaiki tangga. Aku masuk ke dalam kamar mandi dan meledakkan emosiku. Tangisku tak tertahankan lagi.

Apa salahku hingga Kau memberiku kenyataan sepahit ini, Tuhan?
Sahabatku sendiri, sedang bermesraan dengan kekasihku di belakangku? Tapi kenapa? Apa kesalahan yang telah kuperbuat? Apa karena aku kalah cantik dibandingkan dengan Gea? Apa karena aku sudah tidak pantas bersama Iqbal?
Jika perempuan itu bukan Gea, kuyakin takkan sesakit ini.

Ya, aku punya masa lalu sekelam itu. Dikhianati oleh dua orang yang kusayangi. Karena hal itu, aku hampir tak bisa mengerjakan Ujian Nasional. Tapi untungnya, aku masih lulus. Dan setelah wisuda, aku memutuskan untuk menghilang dari mereka.

Dan sekarang, inilah aku. Anastasya Winanda yang baru, yang lebih baik dan lebih mandiri dari yang dulu. Sejak detik itu, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tak pernah percaya pada cinta. Aku tak ingin merasakan luka itu lagi.

“Hey, Win. Kamu inget sama temanku yang namanya Vincent itu kan? Yang kemaren ketemu di Red Bowl?” tanya Sarah, rekan kerjaku.
“Yang mana, Sar?”
“Alah, yang kemaren nimbrung ke meja kita itu lho,” jelasnya.
Aku mencoba mengingat seseorang bernama Vincent itu. Lelaki tinggi berkulit putih, ia ramah, dan lumayan juga.
“Kenapa emang?”
“Mau aku ajak ketemu sama dia, nggak, Win?” ucapnya ragu-ragu.
“Buat apa, Sar?”
Ia memutar bola matanya. “Win, coba buka hati lah. Jangan nutup diri gitu terus. Kamu juga berhak bahagia..”
Aku tersenyum simpul. Aku malas membahas hal-hal seperti ini. Sarah sudah sangat sering mengingatkanku akan umurku yang tidak muda lagi untuk membuang waktu masalah cinta. Cinta, cinta, cinta. Hal bodoh itu lagi.

Akhirnya aku mengiyakan ajakan Sarah untuk menemui temannya. Kukenakan dress berwarna tosca. Flat shoes dan tas kecil berwarna putih melengkapi penampilanku malam ini. Sarah menjemputku dengan mobilnya.
Kami pergi ke sebuah cafe. Sarah menuntunku masuk dan menemui temannya.

“Hey, Vin. Udah lama? Sorry macet banget tadi, gila bener malem minggu jalanannya,” cerocos Sarah saat berhasil menemukan temannya itu.
“Santai, Sar. Udah pada makan? Aku baru pesen minum aja sih,” ucapnya.

Obrolan kami mengalir. Maksudku, obrolan Sarah dan Vincent. Aku hanya sesekali menanggapinya, tapi sama sekali tak punya niatan untuk berbincang lebih jauh.

Vincent menanyakan hal-hal pribadi mengenai diriku. Alamat kontrakanku, pekerjaanku, keluargaku, alasanku tinggal di kota ini, dan lain sebagainya. Seperti sedang wawancara lamaran pekerjaan saja.

Makan malam kami berakhir dengan saling tukar kontak antara aku dan Vincent. Agar lebih cepet kenal, katanya. Dan kuiyakan saja agar cepat selesai. Lagi pula, walaupun aku tak memberinya, Sarah pasti akan tetap memberikannya.

Semenjak malam itu, atau lebih tepatnya sejak kami saling tukar kontak, Vincent jadi sering menghubungiku. Ia juga kerap mengajakku pergi makan siang, atau nonton ke bioskop saat ada film bagus tayang.

Memasuki bulan kesepuluh, hubunganku dan Vincent semakin dekat. Ya, kurasa kami sudah benar-benar resmi berpacaran. Ia mengutarakan perasaannya lima bulan yang lalu. Ia orang yang baik dan bisa membuatku nyaman dengan hal-hal kecil tentangnya.
Kuterima cintanya. Sebelumnya, aku telah mengkonsultasikan hal ini pada Sarah, karena ia yang sudah lama mengenai Vincent. Hal itu semata-mata hanya untuk membentengi diriku sendiri agar tak lagi membuka luka lama.

Aku yang terlalu takut dan tak acuh terhadap sesuatu yang disebut dengan cinta, berhasil dibuatnya lupa dan menikmati indahnya kebersamaan kami. Aku merasa sempurna menjadi seorang perempuan yang ia cintai.

Hubungan kami yang masih seumur jagung ini benar-benar membuka mataku akan arti cinta. Cinta bukan melulu mengenai seberapa lama kamu mengenalnya, atau menjalin hubungan dengannya. Cinta adalah mengenai bagaimana seseorang bisa membuatmu merasa sempurna atas ketidaksempurnaanmu, dan menjadikanmu prioritas utamanya.

“Anastasya Winanda, will you marry me?”

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
-Adera, Lebih Indah-

Cerpen Karangan: Rachell DK
Blog: Radekhaa.blogspot.co.id
Hai, aku Rachell DK, tinggal di Yogyakarta. Suka kopi, suka didongengin. Aku suka naik gunung, tapi ke mall juga oke. Apalagi ya? Oh iya, jangan lupa kunjungi blogku ya di radekhaa.blogspot.co.id ya, aku sangat mengharapkan kunjungan dan komentar kalian. Terimakasih

Cerpen Indah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Getar Kenangan Dinda

Oleh:
Suatu hari sahabatku Dinda divonis sakit oleh dokter. Memang bagi kami tak begitu kaget ketika mengetahui bahwa dia telah divonis karena sebelumnya dia memang sering sakit. Dinda adalah anak

Lookin’ For Ya (Part 1)

Oleh:
“Tidak ada yang lebih indah dari dua orang yang bertemu karena saling menemukan. Sama-sama berhenti karena telah selesai mencari.” Hari ini. Kutukan kembali terjadi pada tanggal yang sama setelah

Penantian Untukmu Tha

Oleh:
Semilir angin senja menerpa rambut indah Septariani membuat aku semakin mengagumi kecantikannya. Masih teringat aku 3 bulan yang lalu ketika dia pulang dari kota, sebuah kejutan yang kuterima sungguh

Masa Orientasi Sekolah

Oleh:
Hari itu adalah hari pertama Orientasi Siswa baru untuk masuk SMA. Rini menjadi salah satu panitia yang bertugas mengorientasi para siswa baru. Pagi-pagi dia bangun, untuk bersiap ke sekolah.

Penyakit Ini Akhir Hidupku

Oleh:
Pagi ini aku berangkat sekolah di antar oleh kakakku karena papa tidak sempat mengantarku, ada urusan mendadak. Keluargaku sangat mengasihiku kami hidup sangat rukun dan berkecukupan, rumahku penuh canda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *