Ingatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

Rasanya kami pernah sempat bertemu tapi di mana dan kapan, terasa tidak asing sekali ketika bertemu dengan perempuan itu. Wajahnya tidak asing bagiku dan bau parfumnya juga sangat kukenal tapi di mana, hanya itu saja yang aku tahu dan sisanya aku tidak ingat sama sekali

Namaku Nafa, bukan nama perempuan tapi laki-laki. Nafari Adi panggilanku Nafa entah artinya apa orangtuaku memberiku nama ini tapi pasti mereka punya maksud tertentu. Aku duduk di bangku Sma kelas 3 dimana masa-masa jatuh cinta sering terjadi di masa ini, akhir-akhir ini aku sering memandang diam-diam seorang perempuan dari kelas 2-E yang letaknya berada di sebelah kelasku 2-D. Dia manis, cantik dan juga senyumnya bisa membuatku sedikit deg-degan aku hanya bisa memandanginya dari jauh saja karena aku orangnya agak pemalu jadi rasanya mustahil sekali berbicara dengannya tapi dalam hatiku aku sangat ingin sekali mengajaknya bicara yah setidaknya mungkin bertatapan sebentar saja sudah cukup buatku.

Seperti biasa pagi hari sekali aku sudah berangkat ke sekolah dengan temanku Irna, dia adalah teman pertamaku di Sma dan kebetulan sekali rumah kami berada tidak jauh jadi kami selalu berangkat dan pulang bersama. Irna adalah teman sekelasku dan kami selalu berangkat paling pagi di antara teman-teman sekelas yang lain, biasanya aku dan Irna suka duduk dulu di taman sebelah sekolah melakukan sesuatu seperti mengobrol sesuatu, bercerita dan juga biasanya sarapan dulu. Maklum rumah kami jauh dari sekolah jadi di jalan terpaksa membeli sarapan lalu memakannya di sekolah.

Hari ini pelajaran olahraga dan juga kesempatanku untuk bisa memandang perempuan kelas sebelah terbuka lebar. Dia tampak cantik dan juga manis saat memakai baju olahraga, rambutnya yang diikat ke belakang membuatku terpesona olehnya tidak hanya aku saja yang suka memandangi perempuan itu tapi teman-teman sekelasku dan semua anak laki-laki juga kadang suka mencuri perhatian dengan melakukan sesuatu yang membuatnya tersenyum. Aku iri sekali.

Setelah selesai pelajaran olahraga kami pun istirahat, aku mencoba mencari cara untuk mendekatinya sebelum keduluan orang lain tapi aku bingung harus bagaimana akhirnya aku pun meminta tolong Irna agar bisa membantuku.

“Aku harus bantu apa?” tanya Irna
“Eee… yah aku juga tidak tahu sih harus apa eh aku tahu harus gimana. Begini, kamu kan satu organisasi sama dia kan, aku minta tolong bisakan kamu mintakan nomor handphonenya?” kataku memohon “Yah-yah tolonglah temanmu ini, nanti aku belikan es krim coklat saat pulang sekolah”
“Baiklah tapi bener ya awas saja jika kamu tidak membelikannya, aku tidak akan memberikannya dan juga tidak akan mengajarimu matematika”
Beginilah Irna dia memang teman terbaikku walaupun dia orangnya agak sedikit susah sih.

Pulang sekolah seperti biasa aku selalu menunggu Irna selesai organisasi di taman samping sekolah. Biasanya aku suka mendengar musik atau membaca buku sambil menghilangkan rasa bosan menunggu Irna, setelah menunggu setengah jam akhirnya dia pun datang. Aku pun menyambutnya dengan perasaan senang.

“Bagaimana? Apa sudah dapat?” tanyaku
“Tunggu sebentar, mana es krimku?” Irna menjulurkan kedua tangannya
“Eh gak bisa gitu dong, mana dulu nomornya? Apa kamu dapat?”
“Es krim dulu nanti aku beri tahu kamu hehe”

Aku pun menyerah dan menyerahkan es krim yang aku sembunyikan sebelumnya “sudah kan sekarang kamu dapat gak nomornya? Kasih tahu dong aku deg-degan tahu”
“Haha lebay kamu, ini nomornya oh iya dia kasih tahu aku jika kamu mau telepon dia atau sms dia kamu tidak boleh gagap. Nanti dia tutup teleponnya”
“Konyol sekali, aku tidak akan tertipu olehmu lagi. Baiklah ya sudah ayo kita pulang, sudah sore ini”

Kami pun pulang naik bus, Irna pertama turun karena rumahnya tidak terlalu jauh dan aku harus menunggu 30 menit dulu untuk sampai rumah.
Setelah sampai rumah aku langsung bersih-bersih, makan lalu mencoba menelepon perempuan itu. Perasaan senang dan juga gugup menjadi satu dan pikiranku kesana kemari entah memikirkan apa nanti jika dia menjawab teleponku.

“Tut…tut..tut…”
Sudah tiga kali aku mencobanya tapi tetap tidak dijawab oleh dia, apa nomornya palsu ya. Aku mencoba sms Irna tapi dia tidak bohong, mungkin dia sedang sibuk atau sudah tidur akhirnya aku pun menyerah saja dan melanjutkannya besok.

Besok ulangan matematika dan aku baru sadar aku belum belajar sedikit pun terpaksa malam ini aku tidur agak telat untuk belajar, sambil mendengarkan lagu aku tatap buku yang penuh rumus itu. Bukannya rumus yang masuk ke otak tapi lagu yang kudengar yang masuk ke otak, entah kenapa lagu ini selalu membuatku tenang dan juga serasa tidak asing bagiku. Seperti pernah mendengarnya

Lagu inilah yang setiap hari kudengar walaupun hanya suara piano tapi aku tahu bahwa si pembuat lagu seperti sedang kesepian, menunggu seseorang yang ingin dia temui dan juga dia harapkan. Entah kenapa aku bisa merasa seperti ini bagaikan di sebuah taman bermain yang ramai banyak orang tapi aku merasa sendiri, terabaikan dan juga tidak ada siapa pun yang menemani. Hanya sebuah lagu dengan dentingan piano yang terdengar halus dan menenangkan, lagu ini adalah satu-satunya yang bisa membuatku sedikit mengingat siapa orang yang selalu aku pikirkan itu.

Saat pulang sekolah seperti biasa aku menunggu Irna selesai organisasi, dari pagi tadi sepertinya dia kelihatan berbeda dari sebelumnya. Aku harus bertanya juga soal nomor yang diberikannya.

Satu jam kemudian dia datang dengan raut wajah kusut dan lemas, aku khawatir pada temanku ini. Aku tanyai dia apakah dia ada masalah? Dia hanya menggelengkan kepalanya. Sepertinya waktunya kurang tepat untuk bertanya soal nomor itu akhirnya kami pun langsung pulang saja, selama di bus kami tidak berbincang-bincang sepatah kata pun tidak seperti biasanya. Terpaksa aku harus mulai duluan.

“Irna kamu baik-baik saja?” tanyaku pelan, tapi dia hanya diam saja.
Aku pun mengambil pemutar musik dan menyodorkan earphone kepadanya “Dengarlah lagu ini, siapa tahu kamu suka”
Dia menerimanya, aku putar lagunya. Awalnya Irna biasa-biasa saja tapi lama-lama sepertinya suasana hatinya tampak tenang namun tiba-tiba saja dia menangis. Apa aku melakukan hal yang salah?

“Irna kamu baik-baik saja?” tanyaku sedikit kaget
“Aku baik-baik saja, tidak apa”

Aku benar-benar khawatir padanya, kami pun terdiam lagi sampai Irna turun duluan dia tampaknya masih merasa sedih. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya tapi sungguh benar-benar dia membuatku cemas, sebelum bus mulai jalan aku pun melompat keluar mengejarnya. Baru pertama ini aku melompat keluar dari bus saat setengah jalan, kakiku sepertinya keseleo.

Aku pun segera mengejarnya walaupun jalanku agak pincang dan akhirnya aku berhasil mengejarnya, aku teriaki dia seperti seseorang yang tidak ingin ditinggal pergi.
“Irna, aku khawatir padamu. Tidak biasanya kamu begini, katakan apa yang terjadi?” tanyaku setengah berteriak, dia hanya diam saja tidak menjawab
“Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu? Katakanlah aku benar-benar khawatir padamu”

“Sebuah dentingan piano dan juga bintang di langit malam” Irna mulai berbicara aneh “sebuah lagu instrumental yang menggambarkan kesepian dan juga penantian, menurutmu bagaimana? Apa perasaan si pembuat lagu itu?”
“Kesepian dan juga kegelisahan serta menurutku ada lagi tapi aku tidak bisa mengucapkannya lewat kata-kata. Irna ada apa denganmu? Bagaimana kau-“
Tiba-tiba saja dia mendekatiku dan wajah kami saling bersentuhan “Apa ingatanmu sudah kembali?”

Aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa maksud perkataan Irna tapi saat aku tatap matanya baru aku sadari, bola matanya bagaikan langit malam berbintang dan kilasan tentang ingatanku sedikit demi sedikit mulai muncul dan terlihat jelas. Posisi ini saat aku bersama perempuan itu kami saling bertatapan di bawah langit malam, aku tidak tahu pasti ada apa di sekitarku tapi yang kuingat hanyalah langit malam dan juga perempuan itu.

Kami saling berpegangan tangan dan dia bersandar di bahuku, saat itu kami berada di suatu tempat yang dimana bisa melihat begitu jelas bintang-bintang di langit malam. Saat itu langit sangat cerah dan milyaran bintang terlihat jelas dilangit dan juga kami tidak menyangka ada sebuah komet melintasi langit malam saat itu. Sekitar dua komet melintasi langit malam, begitu indah dengan sinarnya yang berwarna biru terang. Hanya kami berdua yang melihatnya saat itu, aku juga sedikit ingat bahwa dia juga mengatakan sesuatu padaku tapi aku tidak ingat apa yang dia katakan.

“Bisakah kita bahagia?”
Tiba-tiba aku tersadar dari ingatanku. Aku bingung ada apa dengan Irna, dia pun menarik tanganku dan mengajakku pergi entah ke mana. Aku tidak sadar sekarang sudah malam tapi Irna terus memegang tanganku dan mengajakku pergi entah ke mana, melewati jalan yang sepi, menaiki tangga dan akhirnya kami sampai di suatu tempat.

“Di sinillah saat itu kita melihat bintang bersama” Kata Irna

Kami berdua seperti bukan berada di bumi melainkan seperti di langit bersama bintang-bintnag, aku bahkan merasa bisa menyentuhnya walaupun aku sadar itu tidak mungkin. Bintang-bintang seolah menyambut kami berdua di sini, Irna masih memegang tanganku dan kurasakan genggamannya semakin erat.

“Lalu lagu itu bagaimana?” tanyaku
“Entahlah tiba-tiba saja terdengar begitu saja saat kita berdua di sini dan semenjak itu ingatanmu entah kenapa bisa hilang” jawab Irna sambil terus memegang tanganku
“Apa kau juga lupa ingatan?”
“Tentu saja, kita sudah berpisah selama 2 tahun dan tidak ingat apa-apa. Saat itu aku sadar, apa kita bisa jatuh cinta lagi seperti dulu?”

Kami terdiam beberapa detik saling menatap, aku tidak tahu apa-apa sebenarnya tapi dari beberapa ingatanku ini mungkin perempuan itu adalah Irna. Ternyata benar selama ini, perempuan yang kutunggu sudah aku temukan. Aku tidak sadar bahwa selama ini Irna lah yang sudah menungguku dan aku sudah membuat Irna menunggu lama.

“Tentu saja, kita bisa jatuh cinta lagi seperti dulu” jawabku sambil tersenyum.

Kami pun hanyut dalam suasana malam penuh bintang sambil saling menggengam erat satu sama lain.

Selesai

Cerpen Karangan: Mkhal

Cerpen Ingatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Bunga Lotus

Oleh:
Lembayung sore yang indah membuat bumi seakan bewarna jingga, suara burung seakan menambah keindahannya. Saat itu aku berumur tujuh tahun di sebuah danau dekat rumahku. aku berdiri tepat di

Through My Story

Oleh:
Namaku Banjiro Kiyoshi, aku bersekolah di SMA Date, aku duduk dibangku kelas 2C. Sesuai dengan namaku, Kiyoshi, yang artinya pendiam. Aku sangat jarang berkomunikasi dengan teman sekelasku, aku tidak

Rosalia

Oleh:
“Siapa wanita itu?” “Kenapa?” “Dia wanita sempurna yang pernah kulihat!” “Jangan bodoh, bung!” “Mengapa?” “Sebaiknya kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!” “Maksudmu apa?!” “Kau pura-pura bodoh atau

Her Password

Oleh:
Hei passwordmu apa? Aku hanya penasaran. Apakah nama Adikmu? Yura mulai menyumpal telinga dengan earphone Tosca favoritnya, kemudian tenggelam dalam semua lagu yang ada di playlist. Langkahnya perlahan saja,

Teman Facebook yang Misterius

Oleh:
Saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, Andine terbangun dari tidur nyenyaknya. Saat itu waktunya Andine online. Itu kebiasaannya ketika dia tidak bisa tidur… “wow…,, 35 notifications..” ucap Andine reflex.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *