Inggit, Inggit dan Inggit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 February 2013

Panggil aja aku dimdim, aku sekarang bersekolah di salah satu SMA favorit di kota Medan. Aku punya pengalaman tentang ehemm cinta. Uhuk uhuk, ya seperti biasa untuk masalah satu ini mungkin hal yg paling kompleks di kalangan remaja, iya kan? Iya dong? Harus iya! πŸ˜›

Awal cerita, saat perlombaan PMR (Palang Merah Remaja) se-kota Medan pada akhir desember 2011 dengan agenda utamanya adalah berkemah. Aku adalah anggota PMR di sekolahku, pada saat itu aku menjabat sebagai ketua umum pada organisasi yg membesarkan namaku itu. Aku melihat seorang cewek yg tidak lain dan tidak bukan adalah Inggit. Inggit adalah anggota PMR yg bisa dibilang menjadi rival kami pada setiap perlombaan dan kegiatan PMR. Kami bertemu saat perlombaan PMR pada pertengahan 2010. Pada awalnya aku tak menyadari bahwa dia sering memperhatikanku. Aku sih fair fair aja. Lagian pada saat itu aku tidak memikirkannya.

Inggit Inggit dan Inggit

Oke kita balik lagi ke yg tadi. Aku melihatnya pada pagi hari saat menunggu antrean toilet di depan tenda utama milik PMI dihari kedua perlombaan tersebut. Aku melemparkan senyum maut kepadanya dan dia juga membalasnya dengan senyum imut padaku. Icut, teman Inggit bersuit-suit pada kami. Aku orangnya enggak bisa di godain, apalagi berhubungan dengan yg namanya cinta dan wanita. Ach sorry ya, ga tau tuh :P. Pada saat itu entah kenapa mukaku merah malu, entah kenapa juga aku salah tingkah. Jangan tanya kenapa, pasti kamu tahu juga pastinya dong ya, hehehe.

Pada waktu itu aku memang memiliki pacar yg bernama Dara. Hubungan aku dan Dara pada saat itu memang sedang di ambang batas. Aku yg sering marah, dia sering marah juga, intinya kami terlihat enggak cocok lagi untuk bersama. Dara enggak tahu kalo aku kenal lama sama Inggit dan aku sama Inggit pun seperti org berteman sebagaimana adanya selama kurang lebih 4 hari 3 malam di perkemahan. Tepat pada saat malam terakhir sebelum api unggun aku sedang tidur-tiduran di depan basecamp PMR-ku bersama Bryan adik juniorku di PMR, tiba-tiba ada 2 orang cewek yg ternyata Inggit dan Icut datang menghampiri basecamp kami yg becek karena sebelumnya hujan deras pada hari pertama, entah apa yg membuat mereka datang kemari. Pada saat itu aku dan Bryan sedang bercanda masalah kelucuan anggota PMR kami. Pada saat mereka datang aku spontan terkejut dan langsung duduk melihat Inggit terlebih dahulu dan diikuti oleh Icut di sampingnya. Icut menyapaku,

“eh dim, ngapain kau tidur disini?” icut bertanya.
“gapapa cut lagi lihat bintang aja, rame soalnya bintang dilangit” kataku.
“timbang kau disini ga jelas entah ngapain, kita keliling jalan-jalan yuk?”
“oh bole, ayok” aku langsung berdiri dan berpamitan dengan Bryan.
“dek, bentar ya, kakak mau keliling dulu” kataku pada Bryan.
“oh iya kak” jawab Bryan.

Aku langsung berjalan berkeliling melihat basecamp PMR lain bersama Icut dan Inggit. Dengan urutan berjalan Inggit, Icut dan aku. Aku berjalan bersama mereka dengan obrolan ringan, candaan dan gombalan-gombalan maut yg kupelajari dari Pebri sahabatku yg aku tujukan pada Inggit. Hehehe. Tapi siaaal bangeet, Inggit cuma merespon “OHH”. #GUBRAAAAK. *jatuh dari pesawat sukhoi*.

Hal paling bodohpun dimulai, saat aku sampai di basecamp mereka dan lagi-lagi aku salah tingkah di suit-suitin sama teman PMR Inggit. Entah mungkin untuk menghilangkan salah tingkahku, aku mencoba stay cool aja dengan meminta nomor hape Icut, dan Imam temanku dan teman PMR Inggit pun berkata,

“alah dim dim, kau minta nomor Icut supaya kau bisa dapet nomor Inggit kan?”

Semua teman PMR Inggit bersorak. Aku makin bodoh disitu. Aku melihat Inggit hanya tersenyum manis dengan gayanya yg feminim itu. Aku pun menjawab celotehan Imam,

“ah enggak ah, kau ada-ada aja” dengan mukaku yg semakin memerah.
“cie..cie..cie.. Muka kau merah dim, malu kau kan, berarti memang bener selama ini kau naksir Inggit”.

Sial penderitaan semakin belanjut. Aku memutuskan meninggalkan basecamp PMR Inggit dan berpamitan pada mereka dengan muka yg tersipu malu. Aku berjalan menuju basecamp PMR-ku dengan masih kepikiran senyuman Inggit yg manis tersebut. Aku kembali bercengkrama dengan adik-adik junior tersayang sampai larut malam menjelang acara api unggun.

Keesokan harinya pada saat pengumuman hasil perlombaan dan persiapan pulang ke sekolah masing-masing, aku berpamitan dengan Icut dan Inggit dari kejauhan. Besiap pulang dengan sedih karena ini adalah acara perpisahan kami yg kelas XII dengan PMR-ku ini.

Hubungan aku dan Dara semakin kacau setelah pulang dari perlombaan itu. Aku mulai menyadari aku semakin tidak cocok lagi dengan Dara. Aku memutuskan hubungan kami yg telah kujalani selama 8 bulan itu. Dara hanya menangis saat aku memutuskan hubungan kami yg aku dengar dari percakapan kami via telepon. Aku hanya berharap dia segera mendapatkan pengganti yg tidak mungkin lebih sempurna daripada aku :-D. Tak lama setelah putus dari Dara, aku melihat progam motivasi dengan pembicara adalah pak Mario Teguh. Beliau mengatakan bahwa sesuatu akan tenggelam apabila ada penggantinya dan salah satu untuk menggantikannya adalah mencari sesuatu yg baru dan lebih baik. Entah kenapa aku refleks berpikiran “Inggit adalah orangnya”. Dugaan Imam pun benar, aku meminta nomor hape Inggit dari Icut. Aku mau kenal Inggit lebih dalam lagi. Akhirnya aku mendapatkan nomor hape Inggit dan langsung mengirimkan SMS padanya

“Inggit :)”.
“Iya, ini siapa ya?”
“Ini Dimas”.
“eh Dimas ada apa?”

Inggit ternyata sedang berlibur di Bukit Kubu daerah Berastagi bersama teman-temannya. Percakapan via SMS pun berlanjut sampai aku menggunakan gombalan maut yg kupelajari dari Pebri.

“dulu Bukit Kubu tidak cantik, nah sekarang pasti cantik, karena kamu ada disana” gombalku pada Inggit.
“aduh, uuuu πŸ™‚ Dimas pande deh :)” jawab Inggit

Bisa dibayangkan kan gimana rasanya, aduuuuuh *daamaaaaai*. Malam harinya dia mengirim SMS padaku,

“mau tidur la, nyanyiin lagu la Dimas”.

Aduhhhhhhhhhhhhh, makin naik lah kuping ini. Aku berpikir sejenak lagu apa yg akan kunyanyikan, akhirnya lagu Dari Hati yg di populerkan oleh Club 80’s. Aku menelpon Inggit dan langsung bernyanyi. Eehhmmm, uhuukk (setel suara).

“ku ingin kau menjadi milikku, entah bagaimana caranya, lihatlah mataku untuk memintamu, ku ingin jalani bersamamu, walau dengan sepenuh hati, kuingin jujur apa adanya, dari hati” melodiku.
“makasi ya Dimas, uda nyanyiin buat Inggit” tuturnya.

Seneng banget aku bisa nyanyi buat dia. Ah rasanya seperti berada di surga dunia. Hubungan kami pun semakin akrab. Seperti PDKT biasa, menanyakan biodata, hobi, kesukaan dalan lain sebagainya. Aku semakin nyaman dengan Inggit dan kami pun semakin dekat. Sampai suatu sore kebodohanku dimulai dengan aku mau minta saran Imam untuk menyatakan cinta pada Inggit lewat SMS.

“Mam, kau bener, aku suka sama Inggit, aku minta saran donk gimana aku bisa nembak Inggit?” tanyaku.

Eh keidiotanku muncul 100% kontan tanpa kredit. SMS yg tadinya akan ku kirim ke Imam ternyata terkirim ke Chat Inggit, karena yg ada dipikiranku hanya Inggit, Inggit, dan Inggit. Aku berlari ke segala penjuru rumah dan berteriak seperti orang gila yg kesurupan. Aku memang orang paling bodoh di dunia maupun akhirat.

“mampus la aku ini, enggak mau la Inggit SMS-an lagi sama aku” dalam hatiku.

Toet toet toet….. Masuk SMS Inggit

“Dimas?”
“iya Inggit πŸ™ , maaf ya tadi, salah kirim :'( ”
“oh pantes πŸ˜€ ”
“maaf ya :'( ”
“iya gapapa, enjoy aja, Dimas lagi apa?”

Aku merasa bodoh sekali, aku merasa frustasi dengan Inggit. Rencana perang udah diketahui musuh, kan jadi gawat, memang gawat, gawat dan gawat. Aku berpikir jika dia memang punya feel ke aku pasti dia ngerespon dengan baik juga. Dugaanku benar, aku mencoba SMS dia, dia membalasnya dengan baik. Betapa bahagianya aku. Seperti biasa kami mengobrol dengan hal-hal yg ringan, dan akhirnya dia SMS seperti ini,

“Dimas, senin tanggal 9 malem ada acara enggak?”
“ha? Ada apa rupanya Git?
“tanggal 9 januari kan Inggit ulang tahun sweet 17th, Dimas kalo sempat dateng ya?”
“dimana acaranya Git?
“di Pizza Hut Krakatau Dim”.
“siapa-siapa aja yg Inggit undang?”
“teman dekat aja, anak PMR”.
“oh iya, Dimas pasti dateng kok πŸ™‚ ”

Waaaaaah, bahagia banget aku. Di undang Inggit ke acara ultahnya. Tapi aku berpikir kenapa aku di undang bersama teman dekat Inggit saja? Kenapa dia tak mengajak teman yang lain. Aku merasa lebih optimis untuk mendapatkan hati Inggit. Yang ada di pikiranku saat itu pastinya seneng banget. Hehehehe. Cuma Inggit, Inggit dan Inggit.

Ini adalah hari minggu, aku semakin bingung dengan kado apa yg akan kuberikan pada Inggit. Kan enggak mungkin aku memberikannya sekotak guci atau perhiasan yg mahal. Dari mana aku uang sebanyak itu. Jual diri? Ah enggak lah, kau aja sana, hehehehehe. Aku berputar otak dan menanyakan kepada teman temanku kado apa yg cocok untuk Inggit nanti. KALUNG. Ya kalung, aku mau kasih dia kalung sebagai persembahan kepada Inggit karena aku suka dan nyaman padanya.

Hari yg ditunggu pun tiba, aku pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota Medan untuk membeli kado bersama adik juniorku, Aqib, Fiska, Sarah dan Citra. Mereka bersedia menemaniku mencari kado buat Inggit. Kalung perunggu berlapis emas putih dan boneka elmo merahlah yg kurasa cocok. Aku pulang dan bersiap siap pergi ke acara itu dengan hati yang berdebar-debar, mulai dari penampilan dan kado imut menuju penembakan doooooor, mati.

Aku bilang pada Inggit bahwa aku akan pergi bersamanya sepulang les. Aku menunggu Inggit yg sedang diskusi di Bimbingan Belajar kami. Kami ternyata 1 bimbingan belajar tapi lain kelas yg baru kusadari sebelum akhir semester 1 lalu. Hampir 15 menit aku menunggu Inggit, dia keluar menuju aku yg berdiri di depan gerbang dan menyapaku. Adduhhh, bisa kebayang kan cantiknya Inggit waktu itu. Dia memakai dress batik, celana jeans dan sepatu merah yg mana merah adalah warna favoritku. Kami langsung bergegas menuju Pizza Hut dengan sepeda motorku. Sampai disana, teman-teman Inggit sudah menunggu Inggit di Pizza Hut. Merekapun bersorak-sorak dengan kedatangan kami berdua itu dan ternyata yg diundang adalah teman lamaku saat SMP dulu. Tak lama kemudian aku mulai memberanikan diri untuk mengatakan dengan bantuan Icut untuk mengalihkan pembicaraan teman-teman Inggit untuk membuat forum sendiri. Aku pun mulai dengan kata-kataku,

“Git?”
“iya Dimas?”
“Dimas mau ngomong sesuatu lah”.
“ngomong apaan?”
“Dimas itu suka sama Inggit?”
“ha, serius?”
“iya serius”.
” : ! Sejak kapan?”
“sejak kita mulai SMS-an”
” :$ “.
“mau enggak Inggit jadi pacar Dimas?”
“iya πŸ™‚ “.
“iya apa? :/ ”
“iya, Inggit mau jadi pacar Dimas”.
” *alhamdulillah* (dalam hati) makasi ya Inggit”

Aku punya paacaaaaar! Seakan aku jatuh dari langit ke-7. Disambut oleh bidadari dan dibawa ke surga. Aduuuuh senengnya dapetin hati Inggit. Dan tak lama kemudian aku memberikannya sebungkus kado berisi Elmo Merah kalung dan memakaikannya ke leher Inggit. Ketika aku memakaikan kalung, Icut mengabadikan moment itu. Kebahagiaan ku semakin menjadi. Aaaaahh seneng nya. Sudah malem. Aku mengantar Inggit pulang kerumah. Sesampainya dirumahku, aku mendapatkan SMS dari Inggit,

“Dimas makasi buat 9 nya ya, elmonya lucu :* “.
“iya sama sama itu untuk Inggit, Unforgetable 9th Jan’12 “.
“iya, Dimas lagi apa sayang?

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh. Hatiku berteriak kegirangan setelah dia memanggilku sayang dan memakai emot :-*. Aku melompat lompat kegirangan. Yg ada dalam pikiranku saat ini hanya inggit, inggit dan inggit :p
I Lop Yu Pull Nggit…

Nah itulah posting pertamaku tentang cerita cinta antara aku dan Inggit. Buat agan agan sekalian yang mau sharing cerita cinta dan hal-hal unik please follow me @Dimas1Prasetya atau email ke prasetyaexactly@gmail.com. sekian dan terima kasih.

Aku bahagia…

Cerpen Karangan: Dimas Muhammad Prasetya
Blog: dimdimprasetya.blogspot.com
My Name is Dimas Muhammad Prasetya. you can call me dimas or dimdim. please ejoyed.

Cerpen Inggit, Inggit dan Inggit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Cinta si Berondong

Oleh:
Tak pernah terpikirkan sama sekali jika aku lisa seorang mahasisiwi semester 3 berpacaran dengan ikhsan seorang siswa kelas 3 SMU. Singkat cerita, aku dan dia dicomblangin oleh adikku dan

Imsomania Rindu

Oleh:
Bulan mengatakan cintamu akan terulang oleh sepi. Senja menarik kesimpulan rindumu kan menepi. Mentari mengolah fikirku bahwa tangisku kan menyeruak ke sisi kamar. Aku bingung percaya pada ujarnnya siapa,

Bukan Yang Sempurna

Oleh:
Ku lihat jam di tanganku sudah pukul 1 lewat 45 menit. Itu artinya aku sudah menunggu selama 1 jam 45 menit. Yah kalau mengikuti perkuliahan 2 sks sudah lebih

Cintaku Tak Kan Berubah

Oleh:
Malam itu cuaca di luar rumah begitu cerah. Sang bulan muncul dengan kesempurnaanya, memancarkan cahaya yang sangat menawan. Aku termangu duduk di tepi teras sambil menatap bintang-bintang yang bertebaran

Tangisan Tak Berarti

Oleh:
Januari 2014 Aku termenung dalam lamunan ku yang tak kunjung henti. Ada hal yang selalu buat ku tak lelap dalam tidur ku. Kenangan satu tahun silam yang masih menoreh

β€œHai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *