Inikah Cinta Terlarang?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 August 2015

Bunyi Alarm itu membuyarkan mimpi indah Gita. Perlahan ia membuka kedua matanya yang sebenarnya masih sangat susah untuk dibuka. Lalu ia menyingkirkan selimut tebal yang melindunginya dari dinginnya malam. Diliriknya jam dengan suara bising itu, jam 05.00 pagi. Dan bergegas menuju kamar mandi.
Kini, ia sudah siap melaju ke sekolah barunya. Salah satu sekolah elit yang ada di Bogor. Di halte itulah ia menunggu angkutan umum untuk sampai ke sekolahnya. Gita terlahir dari keluarga yang sederhana, bisa bersekolah di SMA Bintang itu pun karena beasiswa yang diterimanya.
“Wah, sekolah baruku bagus banget.” Ujarnya takjub. Ia pun mencari ruang kepsek dengan menelusuri semua ruangan.
“Lo anak baru ya?” tanya seseorang. Gita menoleh ke arah suara.
“Iya. Gue pindahan dari Makassar.” Ujar Gita menanggapi.
“Lo cari ruang kepsek ya?”
“Iya.”
“Sini ikut gue!”

Gita mengekor di belakangnya.
“Nah, ini ruang kepsek.” Ucapnya menunujuk ke sebuah ruangan.
Gita mengetuk pintu itu. Ada sebuah suara yang menuyuruhnya untuk masuk. Ia pun menurutinya.

“Hai, gue Airin.” Sapa teman sebangku Gita.
“Gue Gita.” Balasnya menerima jabat tangan Airin.
“Oh ya, ayo gue temenin lo keliling sekolah!” ajak gadis di sebelahnya itu.
Gita menurut. Mereka mengelilingi sekolah itu berdua. Airin meninggalkan Gita di lapangan basket karena dia masih ada rapat osis.
“Aw, aduh sakit.” Keluh Gita sambil memegang kepalanya yang terkena bola basket itu.
“Bola basketnya kena cewek tuh.” Ujar Beni pada kapten basket.
“Alah, paling tuh Cuma modus dia doang. Lo kayak yang gak tau cewek sekolah sini aja. Itu mah Cuma trik mereka biar bisa kenalan sama gue. Alasan kayak gitu tuh udah basi tau gak.” Ketus Rafka.
“Tapi bro, cewek itu beneran kesakitan.”
“Yang bener lo?” Rafka sedikit khawatir.

Rafka dan Beni menghampiri gadis itu.
“Sorry, gue gak sengaja.” Ucapnya dengan menyesal. Gita menengadahkan kepalanya. Melihat ke arah Rafka. Pandangan mereka sama-sama bertemu.
“Woi bro, lo kok bengong sih?” ujar beni dengan melambaikan tangannya di depan mata Rafka.
“Hello?” Ujar dara.
“Ups, sorry. Gue minta maaf ya. Tadi gak sengaja bola basket gue kena kepala lo.”
“Ia. Gak apa-apa kok.”
“Ya udah, ayo gue obatin!”
“Gak usah. Gue udah gak apa-apa kok.”

Reva yang melihat hal itu merasa cemburu, karena Reva menyimpan rasa terhadap Rafka sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMP.
“Rafka,” sapa Reva.
“Hei, Reva”
“Lo kenapa?”
“Gak apa-apa. Oh ya Rev, lo percaya gak sama Cinta pandangan pertama?”
“Nggak. Mana ada orang jatuh cinta pada saat pertama ketemu. Itu gak mungkin.”
“Itu ada kok. Karena itu sekarang terjadi pada gue.”
“Lo jatuh cinta sama siapa?”
“Aduh, lupa lagi. Gue belum nanya namanya.” Ujarnya dengan memukul kepalanya.

Gita masih menunggu Airin di gerbang. Mereka sudah sepakat untuk pulang bareng.
“Hei?” sapa Rafka dengan mobil open cup-nya.
“Eh, lo?”
“Gue Rafka.” Ujarnya dengan mengulurkan tangan.
“Gita.” Balasnya.
“Oh ya Git, pulang bareng gue yuk!” ajaknya.
“Gak usah, gue pulang bareng Airin.” Tolak Gita. Lalu, Airin pun datang menghampiri Gita. “Ya udah, gue duluan.” Tambahnya.

Rafka yang terkenal cowok terfavorit di SMA Bintang, kini ia ternyata bertekuk lutut di depan Gita. Yang awalnya, cewek-cewek di sekolah itu antri untuk sekedar berjabat tangan dengannya, kini terbalik. Sekarang ia yang menjadi tergila-gila pada siswi baru yang bernama lengkap Gita Cantika itu.

Rafka masih sibuk memandangi monitor Laptopnya ketika Reva mengetuk pintu kamar Rafka. Karena tidak ada jawaban, Reva langsung masuk ke kamar itu.
“Siapa Raf?” tanya Reva yang melihat Rafka.
“Eh Reva, lo udah dari tadi di sini, kok gak ketuk pintu dulu?”
“Wah, bener-bener lo Raf, lo gak denger waktu gue ketuk pintu kamar lo. pantesan aja, gak ada jawaban dari lo.”
“Ya udah, maaf deh. Gak usah ngomongin itu gak penting. Mending, mikirin cewek yang udah nyuri hati gue.”
“Oh, jadi dia cewek yang udah buat seorang Rafka sibuk motretin seorang cewek baru.”
“Cantik kan?”
“Eh, tunggu! Kayaknya dia temen sekelas gue deh.”
“Serius lo? lo punya nomor hp nya gak?”
“Mana gue tahu.”
“Tolong dong, lo minta nomor Hp nya! Please…” katanya dengan memohon.
“Tapi gue gak janji.”

Hari minggu itu, Rafka dan Beny menuju ke sebuah rumah yang terletak di komplek A, tak jauh dari SMA Bintang. Sesampainya di sana, mereka mengetuk pintu itu. Tak sabar Rafka menunggu pemilik rumah itu.
“Kalian?” sapa Gita ketika membukakan pintu.
“Hei Gita,” serentak mereka.
“Ayo masuk!” Ajak Gita pada mereka berdua. “Oh ya, ada perlu apa kalian kesini?” tambahnya.
“Ini nih si Rafka,” belum sempat Beny meneruskan perkataannya, tiba-tiba Rafka menginjak kaki Beny.
“Tadi gue kebetulan aja sih lewat daerah sini, dan kata Beny rumah lo deket sini. Makannya gue mampir ke rumah lo.” jelas Rafka berbohong.
“Oh, kirain ada hal penting.”

Sebulan sudah Gita berada di sekolah itu. Selama itu juga Rafka memendam perasaannya terhadap Gita. Ia sudah lelah harus terus menerus memendam perasaan itu. Timbullah pikiran untuk menyatakan perasaannya.
Sekolah itu tampak sepi. Entah pada kemana penghuninya. Gita masih sibuk dengan hp-nya yang berdering, setelah akhirnya Beny dan Dino menarik tangan Gita. Mereka membawa Gita ke lapangan basket. Gita tercengang begitu melihat Rafka yang berdiri di tengah-tengah teman satu sekolahnya itu.
“Rafka…” ujar Gita.
“Gita, gue di sini Cuma mau jujur tentang perasaan gue. Gue di sini Cuma mau bilang tiga kata. Yaitu I Love Yo,” ujar Rafka yang membuat sekolah itu cetar membahana.
“Lo mau gak jadi cewek gue?” tanya Rafka.
Gita terdiam. Ia memandang Rafka. Lalu mengeluarkan jawabanya.
“Iya. Gue mau jadi cewek lo. I Love You Too.” Jawabnya disertai senyum.

Rafka langsung menghampiri Gita dengan memberikan bunga di tangannya, dan memeluk Gita di hadapan teman-temannya.
Kemana-mana mereka selalu berdua. Sampai membuat anak di sekolah itu iri pada mereka. Kemesraan dan perhatian yang diberikan Rafka pada Gita membuat Reva semakin kesal pada Gita. Tapi hal itu langsung ia tepis. Karena bagaimanapun Reva bukanlah orang pendendam. Ia mengakui kekalahannya.

Seminggu setelah hari jadian mereka, Rafka mengajak Gita ke rumahnya untuk bertemu dengan papanya.
“Raf, gue takut.” Ujar Gita menghentikan langkahnya.
“Udah, gak usah takut! Kan ada gue di sini. Gue gak akan biarin lo kenapa-napa. Lo gak usah khawatir, papa gue orangnya baik kok.” ucap Rafka dengan menggenggam tangan Gita.

Gita mengekor di belakang Rafka. Ia menyembunyikan tubuhnya di belakang Rafka setelah akhirnya pemilik rumah itu menyapa Gita.
“Kamu Gita ya?” tanya seorang lelaki setengah baya itu.
“Iya om. Saya Gita.” Jawabnya gugup.
“Rafka sudah banyak cerita tentang kamu.”
“Oh ya, cerita apaan dulu om?”
“Banyak dah pokoknya. Cuma kamu cewek yang dikenalin Rafka sama om. Kayaknya kamu udah buat jagoan om ini berubah.”
“Ah, om terlalu berlebihan.”
“Melihat gadis ini mengingatkan aku pada seseorang. sepertinya wajah gadis ini tidak asing lagi bagiku.” batinnya. “Oh ya, om pengen ketemu sama orangtua kamu.”
“Tapi, ayah saya tidak ada. Selama ini saya hanya tingal bersama ibu saya.”
“Maaf, ya sudah kalau begitu saya mau bertemu ibu kamu.”
“Baik om. Nanti saya akan sampaikan sama ibu.”

Hari itu merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Gita bisa bertemu dan berkenalan baik dengan orangtua cowok yang sangat dicintainya itu.
Rafka mengantarkan Gita ke rumahnya. Ibu gadis itu sudah menunggunya di depan rumah bercat hijau itu.
“Kalau gitu, saya pulang dulu tante.” Pamit Rafka.

Gita dan ibunya sudah sampai di Restaurant, tempat mereka akan makan malam dengan papa Rafka.
“Selamat malam tante, Gita.” Sapa Rafka dan papanya.
Gita dan ibunya menoleh ke arah suara. Mereka sama-sama terkejut ketika pandangan mereka bertemu.
“Mas Anton?” Sapa ibu Gita.
“Tina?” balasnya.
“Loh, kalian udah saling kenal?” tanya Gita heran.

Tak ada jawaban dari mereka berdua.
“Pa, kok papa malah bengong sih?” tanya Rafka penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
“Tina…” lelaki itu langsung memeluk ibu Gita. Mereka berdua semakin tidak mengerti.
“Raf, dia ibu kamu. dan Gita itu adik kamu sayang.” Kata pak Anton berterus terang.

Seperti sebuah tamparan bagi Rafka mendengar hal itu. Begitupun dengan Gita. Mereka berdua masih tidak percaya dengan kenyataan ini.
Ibu Gita adalah istri dari Pak Anton, papa Rafka yang harus terpisah karena kesalahpahaman di masa lalu. Pak Anton sudah bertahun-tahun mencari anak dan istrinya namun hasilnya selalu nihil. Kini, mereka sudah dipertemukan kembali. Namun, bukan ini yang mereka harapkan. Kenyataan bahwa kedua bersaudara itu menjalin hubungan.
Sudah beberapa hari ini Rafka tak terlihat di sekolahnya. Gita sudah sangat paham tempat yang pasti akan didatangi oleh Rafka setiap ia mempunyai masalah.

“Kak Rafka…” panggil Gita.
“Gita. Lo ngapain manggil gue kakak?”
“Lo kan emang kakak gue.”
“Ya ampun sayang. kenapa sih lo percaya sama kenyataan konyol ini?”
“Kak, ini bukan hal konyol? Ini kenyataan kalo kita saudara kandung.”
“Kalo lo Cuma mau ngomongin hal gak penting itu. Sorry, terpaksa gue harus ngusir lo dari sini!” bentak Rafka.
“Kak, lo harus nerima kenyataan kalo kita emang saudara. Emang yang terbaik kita jadi saudara aja. Gue aja nerima lo jadi kakak gue. Gue doain deh, semoga lo dapet cewek yang lebih baik dari gue.” Ucap Gita. Kemudian ia pergi.

Rafka masih dengan kemarahannya. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Gita adalah adiknya. Ia tidak bisa melupakan Gita. Karena cintanya pada Gita sangatlah besar.
“Raf, kamu harus menerima kenyataan kalau Gita itu adik kamu.” pinta Pak Anton.
“Maaf pa, Rafka gak bisa ngelupain Gita. Sulit rasanya ngerubah rasa sayang Rafka menjadi rasa sayang terhadap seorang adik. Rafka udah terlanjur mencintai Gita pa.”

Gita menangis tersedu-sedu di taman sekolah. Ia sedih melihat kondisi Rafka yang uring-uringan seperti itu. Ini juga berat untuknya melupakan Rafka sebagai seorang kekasih yang sangat ia cintai, namun ia tidak bisa melawan takdir. Tiba-tiba seseorang entah siapa menyodorkan sebuah sapu tangan ke hadapannya.
“Makasih.” Ujar Gita menerima sapu tangan itu.
“Iya sama-sama. Boleh gue duduk disini?”
Gita mengangguk pelan.
“Lo kenapa sih, sampe nangis gitu?” tanya lelaki itu.
Gita tak menjawab. Ia hanya menunduk dan semakin tersedu menangis.
“Sorry, gue gak bermaksud ikut campur. Lo boleh kok pinjem pundak gue.”
Gita terdiam. Lalu, cowok itu menyandarkan kepala Gita ke pundaknya. Gita hanya menurut. Dan tak terasa, ia menceritakan semua masalahnya pada cowok itu.

“Jadi, lo udah putus sama Rafka?” tanyanya.
“Iya. Lo kenal sama Rafka?”
“Ia. Dia itu sahabat gue.”
“Tapi, selama gue pacaran sama Rafka, gue gak liat lo deket sama dia.”
“Itu karena gue…”
“Karena lo kenapa?”
“Karena gue suka sama lo. Semenjak pertemuan kita pertama kali, gue udah suka sama lo. Tapi, begitu gue denger kalo lo udah jadian sama Rafka makannya gue ngejauhin lo termasuk juga Rafka.”
“Lo serius?”
“Emang, muka gue sekarang kayak lagi orang bercanda ya?”

Gita menggeleng.
“Oh ya, gue belum tau nama lo.”
“Gue Beny.”
“Gue…”
“Gak usah, gue udah tau kok. Lo Gita kan?”
“Kok lo tau?”
“Mana mungkin gue gak tau nama cewek yang gue suka.”
“Ah, lo. Oh ya, makasih ya atas semuanya.”
“Buat?”
“Pertama, karena lo udah nemenin gue ke ruang pak kepsek hari pertama gue masuk sekolah. Kedua, buat sapu tangan ini dan lo udah dengerin cerita gue. Dan yang ketiga, atas cinta yang lo kasih ke gue.”
“Lo gak marah, gue suka sama lo?”
“Ngapain gue marah? Malahan gue makasih sama lo.”

Dengan kesetiaan Reva, akhirnya kini Rafka sudah bisa move on dari Gita. Dan kini mereka berdua telah jadian. Seperti halnya dengan Gita dan Beny. Rafka maupun Gita sudah bisa menerima kenyataan bahwa mereka adalah saudara kandung yang tidak boleh menjalin cinta. Dan mereka menjadi kakak beradik yang sangat akur. Menjadi sebuah keluarga yang harmonis.
Pertunangan mereka berempat berlatar di kota pulau dewata, yaitu Bali. Pesta berlangsung meriah dengan kehadiran teman-teman sekolah mereka.

The End

Cerpen Karangan: Alief Dealova
Facebook: Alief Dealova

Gadis pecinta warna coklat ini suka menulis sejak ia duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Awalnya, ia hanya menuliskan semua inspirasinya lewat sebuah kertas yang hanya dibaca oleh teman-temannya. Saat ini ia mengenyam dunia pendidikannya di sebuah sekolah islam di Bondowoso. MAN Bondowoso
Alief Dealova

Cerpen Inikah Cinta Terlarang? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jembatan Asmara Penghubung Cinta

Oleh:
“kukuruyukkk… kukurruyukk” Kumendengar suara ayam jantan berkokok, pertanda hari akan menjelang pagi. Kubuka dua kelopak mata ini dengan rasa penuh semangat. Kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul 5 pagi.

The True Love Story

Oleh:
Setitik kasih yang masih kusimpan sejak kejadian itu… Kulihat sepucuk surat dan sebuah kotak berbentuk hati masih terbujur kaku di sudut kamarku, kuingat waktu itu, satu kisah satu cerita

Hujan dan Dia

Oleh:
Hujan di luar tak menggangguku sedikit pun. Malahan, aku menikmati alunan rintik-rintik tetesan hujan di dedaunan. Itu cukup menenangkan bagiku. Wangi hujan dan tanah basah yang lembut, rerumputan hijau

I Love You

Oleh:
“Hari ini kita jadi ke mall kan, Fel?” “Iyalah, Ris! Masak nggak jadi?!” “Ohhh… Ya udah kalau gitu. Gue tinggal bentar ya?!” “Kemana?,” tanya Felly dengan mendongkakkan kepalanya ke

Mualaf

Oleh:
Keherananku seketika memuncak, tak kala truk yang kami tumpangi tak kunjung sampai. Waw,,,,,,,hatiku berteriak (auw…auw…g juga gini kok man). Sejauh ini kah lokasi penempatan kami, ya, kami berenam. Untungnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Inikah Cinta Terlarang?”

  1. qori rafael says:

    cerpennya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *