Inikah Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 29 March 2016

Pernah ngerasa jatuh cinta? Gimana sih rasanya? Kalau aku tanyakan ini pada teman-temanku yang jelas aku pasti sudah dibully habis-habisan. Dan mungkin sahabat paling dekatku. Jean akan nyeletuk, “Helooo Rainn! Lo itu udah tua. Udah kepala dua dan lo masih gak tahu jatuh cinta itu apa?” ieewwhhh yang ada nanti kupingku yang akan panas mendengar ocehannya yang panjang itu.

“Woy sayang!” aku menoleh ke sumber suara itu. Suara yang aku kenal hampir dua tahun ini. Aku menghela napas berat. Seberat beban yang aku panggul saat ini. Dia memanggilku dengan lantang dengan panggilan “Sayang” tetapi ditambahi dengan awalan “Woy!” mana ada coba pacar yang manggil begitu. Panggilan itu hanya untukku. Bukan aku terlalu PD tapi satu penghuni kampus yang nyata dan tidak nyata pun tahu. Lelaki yang berpenampilan cuek tapi tampan ini adalah pacarku.
“Radit please deh. Bisa gak kalau manggil orang itu biasa aja. Nggak usah pake teriak. Berisik tahu.” omel Jean sahabatku saat Radit yang notabene adalah pacarku ini sudah duduk di sampingku.

“Whatever!” serunya cuek. Aku menghela napas berat lagi.
“Lo pesen lagi aja ya baksonya gue laper banget nih,” katanya cuek sambil menyabotase bakso di hadapanku yang bahkan belum aku sentuh itu tanpa peduli aku setuju atau tidak. “Ya udah makan aja. Udah gue bayar juga kok. Gue mau ke perpus dulu.” kataku cuek. Sementara dia tanpa menjawab dengan lahapnya memakan baksoku. Aku menarik napas panjang dan menghempaskannya dengan kasar. Kalau aku jahat. Bakso panas itu sudah mendarat cantik di wajahnya yang menyebalkan itu.

Perpustakaan mungkin adalah tempat paling mujarab untuk melenyapkan emosiku yang sudah naik ke ubun-ubun. Kadang aku lelah. Kadang aku menyesali kenapa aku menerima cintanya hampir dua tahun lalu itu. Dan lebih tolol lagi kenapa aku masih bertahan walaupun sebenarnya hatiku sudah lelah. Jika dibandingkan dengan kak Roy. Radit sangat jauh berbeda. Dia tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik dan benar. Hampir dua tahun kami menjalani hubungan pun terasa hambar. Dia tidak pernah mengajakku nonton berdua, kalau pun pergi ke bioskop selalu dengan teman-temannya. Dia tidak pernah menelepon.

Sms pun bisa dihitung dengan jari. Dan itu pun hanya untuk mengabarkan ada rapat. Tapi aku tak mengerti kenapa teman-teman kampusku begitu iri padaku. Sehingga mereka selalu bilang bahwa aku sangat beruntung. Beruntung dari segi apa? Oh ya. Mereka hanya melihat dari luarnya saja. Saat aku dan dia mendaki gunung bersama. Dan berpose berdua atau juga bersama pendaki lainnya saat aku masuk ke kampus lagi foto-foto itu sudah mendarat cantik di mading kampus. Dan orang-orang akan berpikir betapa romantisnya mendaki gunung bersama pacar. Apanya yang romantis? Dia bahkan tidak pernah mengajakku bicara. Walaupun sesekali dia membantuku memanjat tebing yang tinggi. Atau membantuku memasang tenda itu sama sekali tidak romantis.

“Rain.” ya benar saudara-saudara. Lelaki yang ku pikirkan tadi muncul di hadapanku sekarang. Memanggil namaku.
“Khusyuk banget sih baca bukunya sampe nggak denger gue panggil,” sulutnya.
“Sorry lagi fokus, kenapa?” tanyaku.
“Nggak penting sih. Cuman mau ngingetin entar sore rapat anak-anak mapala sekalian mau ngenalin anak baru.” katanya. Kemudian ngeloyor pergi.

Look! Si ‘tuan irit bicara itu’ hufftt aku menghempaskan napas sebal. Kami tidak pernah bicara paling lama dari 10 menit. Aku hanya bisa mendengar dia berceloteh saat rapat. Atau ketika kami sedang nongkrong bersama teman-temannya dan teman-temanku. Denganku? Mana pernah dia bicara banyak. Aku mengantuk-antukkan kepalaku ke meja ingin bunuh diri saja rasanya. Kenapa aku begitu bodoh.

“Rain lo ngapain? Bunuh diri?” Jean tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Kayaknya gue butuh ketemu psikiater deh Jean,” keluhku.
“Emang kenapa? Kok ke psikiater segala?”
“Nggak usah pake nanya deh…” seruku sebal. Gak nanya juga dia udah tahu semuanya.
“Radit lagi?” dia menarik napas panjang.
“Gue nggak tahu ya. Kan gue udah bilang berkali-kali sama lo. Kalau lo udah gak ngerasa nyaman tinggalin. Tapi lo masih bertahan aja sampe sekarang. Gue gak tahu ya dia pake pelet apa sampe lo sebegini cintanya sama dia.” repetnya.

“Stop! Yang bilang gue cinta sama dia siapa?” protesku.
“Terus kalau lo gak cinta apa dong namanya. Sampe lo bertahan sebegini jauhnya. Kalau gue jadi lo udah gue tendang dari dulu. Dulunya aja romantis nembak lo di depan seluruh penghuni kampus. Tapi ke sininya. Lo itu kayak pacaran sama patung es tahu gak.” jujur aku sebal dengan pernyataan sahabatku ini yang selalu blak-blakan apa adanya. Tapi yang Jean katakan ada benarnya juga. “Eh udah jam 4 lo bukannya ada rapat sama anak mapala ya?” Jean mengagetkanku. Aku pun bergegas menuju ruang mapala. Saat aku masuk aku agak sedikit terlambat. Ternyata semua sudah berkumpul di ruangan itu. Di samping Radit aku melihat ada seorang cewek yang aku pikir sangat feminim berdiri manis.

“Rain tumben telat. Kenalin nih Tisha anggota baru mapala,” Radit mengenalkanku dengan Tisha. Keningku berkerut. Aku melihat cewek ini dari ujung kaki ke ujung kepala. Saat ini dia mengenakan high hells 17 centi yang menurutku nggak cocok dipakai ke kampus. Dengan rok di atas lutut dan baju kaos biru. Serta tas biru yang aku tafsir harganya membuatku ingin bunuh diri. Tak lupa dengan anting besarnya dan contact lens warna birunya. Are you kidding me? Anak mommy kayak begini mau masuk mapala? Saat bersalaman dengannya pun aku merasakan tangannya yang sangat halus dan lentik itu.

“Selamat bergabung. Semoga betah yah.” kataku berbasa-basi. Aku memilih duduk di samping David karena kursiku sudah diambil alih oleh Tisha. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Tumben ini manusia pada anteng. Biasanya mereka selalu ribut. Oh yeah. Aku lupa. Jelas mereka sedang terpesona dengan gadis di depan ini. Gadis yang sedari tadi. Deg! Entah ini perasaanku saja atau sedari tadi Tisha memperhatikan Radit sedemikian rupa. Tatapan itu. Entah kenapa aku tidak suka. Sebenarnya ada apa ini. Rapat itu sudah tiga hari yang lalu. Dan aku masih menjalani hari-hariku yang membosankan. Dan sudah tiga hari ini aku melihat Tisha menempel dengan Radit. Dan Radit sama sekali tidak keberatan.

Uh, menyebalkan. Aku saja tidak pernah sedekat itu dengan Radit. Kadang kala Jean meledekku dengan mengatakan aku cemburu. Apa yang aku cemburukan sebenarnya. Aku hanya tidak suka Radit begitu baik dengan wanita lain. Dan begitu acuh padaku. Aku pun memasang aksi mogok bicara padanya. Tapi ya percuma juga. Nggak bakalan mempan. Toh dia lebih asyik dengan wanita itu. Dan sialnya lagi setan-setan di kepalaku ini membisikkan hal-hal tolol yang membuatku jadi pusing sendiri.

“Lo gak bosen dandan terus. Bedak lo udah sekilo itu,” ledekku saat sahabatku Jean asyik berdandan di dalam kelas yang sudah sepi. “Rain please deh. Perempuan itu harus tampil cantik terus biar cowok lo gak kepincut sama cewek lain,” kata-kata ini begitu menamparku. Jean benar. Mungkin Radit sudah bosan denganku. Aku dan Tisha bagaikan bumi dan langit. Dia selalu jadi miss perfeck di kampus ini. Dan aku cuman jadi kutu yang tak dianggap. Aku menghela napas berat. Mencoba menahan air mata ini. Mungkin ini udah saatnya. Aku sudah terlalu lelah menghadapi ini sendiri.

“Hai semua.” suara itu suara Radit yang menggema di ruangan kelas ini. Dia hendak menghampiri aku dan Jean tapi aku buru-buru mengambil tasku dan melangkah pergi.
“Rain!” keajaiban dunia kedelepaan saat manusia satu ini mengejarku. Aku tak mempedulikannya. Tapi tanpa sadar ada tangan yang menarik tanganku. Aku sontak berhenti.
“Lo kenapa sih? Marah sama gue?” teriaknya padahal aku sudah di dekatnya. Untung kampus sudah sepi. Aku membalikkan badanku. Kemudian menatap wajahnya untuk terakhir kali. “Kayaknya kita udah nggak bisa lanjut deh Dit.” aku menguatkan hatiku untuk mengatakan ini.

“Kenapa Rain? Bukanya kita selama ini baik-baik aja?”
“Menurut lo baik-baik aja Dit tapi menurut gue nggak.”
“Gue tahu lo cemburu sama Tisha kan Rain? Ya ampun lo cuman salah paham,” dia tertawa. Tapi kemudian terdiam saat melihat air mataku.
“Apa yang lucu Dit? Kenapa lo ketawa. Lo ngetawain kebego-an gue selama ini kan?”
“Rain maksud lo apa sih?”

“Tisha bukanlah satu-satunya alasan gue mau mengakhiri ini semua. Harusnya dari awal gue gak usah nerima lo jadi cowok gue. Mungkin harusnya gue sama lo nggak pernah menjadi kita. Gue tanya sama lo. Pernah gak lo menghargai gue sebagai cewek lo. Pernah gak lo nganggep gue sebagai cewek lo. Kadang gue berpikir kenapa waktu dulu lo nembak gue. Kalau lo gak pernah cinta sama gue. Dua tahun ini. Dua tahun yang sia-sia Dit. Dua tahun yang gue buang cuman buat cowok nggak tahu diri kayak lo.” aku merepet panjang lebar dan seperti biasa dia hanya diam seperti patung. “Tapi gue emang beneran sayang sama lo Rain..” katanya lirihh.

“Sayang? Gue nggak pernah ngerasain rasa sayang lo ke gue Dit. Malam minggu emang pernah lo ngajak gue jalan berdua kayak orang-orang yang lain pacaran. Pernah nggak lo. Ngomong panjang lebar berdua sama gue selain rapat. Pernah? Tapi lo malah akrab banget sama Tisha. Dan kalian mau naik gunung berdua kan minggu depan? Mungkin menurut lo gue kekanak-kanakan. Gue nggak peduli. Dan gue udah nggak mau tahu. Kita putus.” sekuat hatiku mengatakan hal ini dan dia cuman diam. Aku menghempaskan napas kesal dan kemudian pergi. Dia hanya diam tanpa mengejarku.

“Indah banget ya Vid,” aku menoleh ke arah David sekarang pukul setengah 7 pagi di puncak mahameru. Aku dan beberapa anak mapala lainnya. Sampai di puncak ini setengah jam yang lalu sambil melepas lelah aku memandangi keindahan yang Tuhan suguhkan di hadapanku ini. Dan David di sampingku hanya tersenyum simpul. Aku merindukannya. Raditku. Hari ini bertepatan dengan anniversary kami yang kedua. Tanpa ku sadari aku merindukannya.

“Happy anniversary Rain,” aku menoleh mendengar suara yang selama ini aku rindukan.
“Radit kok ada di sini?” kataku bengong.
“Itu nggak penting yang penting sekarang. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku minta maaf atas sikap aku selama ini. Aku cuek. Nggak perhatian. Itu karena aku selalu mati kutu saat di depan kamu Rain. Aku sayang kamu. Maafin aku. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Aku mau menjadi apa yang kamu mau.”

Aku tersenyum sedari tadi melihat perubahannya dia menggenggam tanganku. Dan mulai mengganti kosa kata lo gue. Dengan aku kamu. Aku mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian memelukku erat. Mahameru di ketinggian. 3.676 mdpl aku baru menyadari apa itu cinta. Apa itu cemburu. Apa itu pengorbanan. Maafkan keegoisanku Dit. Aku sayang kamu.

Cerpen Karangan: Bella Efriani
Facebook: Bella Efriani
Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan kata dan tempat. Lagi proses belajar.

Cerpen Inikah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lukisan Terburuk

Oleh:
Ruang perpus yang dingin ini selain membuatku mengantuk juga mengingatkan kepadaku suatu momen. Tiga tahun lalu saat aku melihat sosok tegap, tampan, berkacamata yang pikirku pasti cowok itu pintar

Sedikit Waktu

Oleh:
Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta adalah anugerah. Mereka membangga-banggakan cinta sebagai sesuatu yang agung. Bahkan mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka demi cinta. Orang juga berpendapat bahwa cinta tidak

Gombal Maut

Oleh:
“Hai Rin,” Desta kembali datang dengan sepucuk surat dan setangkai mawar. Rina hanya memutar kedua bola matanya menatap Desta tak selera. Sudah terlalu sering dia ngalamin hal ini yang

Selamat Natal Kasih (Part 1)

Oleh:
RAY dan KASIH berkenalan di sebuah acara pernikahan sahabat Kasih, yang juga merupakan keluarga Ray. Ray anak seorang yang sangat kaya sedangkan Kasih dari keluarga yang sederhana. Awalnya hubungan

Seperti Sepasang Merpati

Oleh:
Langit menjadi kelabu. Awan hitam mulai tak mampu lagi membendung butiran air. Matahari pergi. Sinarnya pun tak berbekas. Di samping rumah Nada, nampak Dio masih asyik bermain dengan merpatinya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Inikah Cinta”

  1. duri@rt says:

    Bella..cerpen lo keren2, terus berkarya dan jgn pernah melupakan karya lo..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *