Inikah Cintaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

“Hoaaam,” aku masih mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih terperangkap di kasur kesayanganku ini. Rasanya enggan sekali beranjak dan pergi ke sekolah baru.
“Pagi sayang,” suara merdu mamah menyapa pagi ini.
“Pagi Ma, Pa” jawabku.
“Kamu udah siap Del? Di sekolah baru jangan lagi berbuat ulah yah! Papa udah pusing ngurusin berkas-berkas setiap kali kamu pindah sekolah. Tolonglah jangan mempermalukan Papa lagi!” cerocos papa yang sedang sarapan.
“Iya Pa.” singkatku jawab perkataan papa tadi.

Namaku Dela Herawan, aku anak tunggal dari Pak Kurnia Herawan, seorang bos di perusahaan ternama di kota ini. Hampir setiap orang mengenalnya. Tapi sayang, karena ia terkenal aku selalu menjadi alasan mengapa ia merasa malu. Aku memang seorang wanita, tapi kelakuanku jauh dari perkiraan. Maklumlah aku anak tunggal, segala kemauanku selalu dituruti oleh kedua orangtuaku. Karena itu aku tumbuh menjadi anak pembangkang, hidupku susah diatur. Apa yang ku mau, pasti aku lakukan. Meski terkadang orang-orang menganggap itu tak baik. Tapi, yaa inilah aku.

Oh ya, kau tahu apa alasanku pindah sekolah lagi dan lagi? Biar ku ceritakan, pertama aku sekolah di SMA Nusa Indah 1, namun saat itu aku dikeluarkan karena setiap senin aku bolos dan berpacaran dengan kekasihku di cafe depan sekolah. Akhirnya papa memarahiku dan membuatku berjauhan dengan Sandi kekasihku sejak SMP. Semenjak kejadian itu aku ditinggal bersama nenekku di kota kembang, aku bersekolah di salah satu sekolah ternama di sana. Namun kelakuan ku tak kunjung membaik. Malah saat itu aku tertangkap basah sedang berciuman di toilet sekolah dengan teman sekelasku. Akhirnya kepala sekolah menelepon nenekku dan memberitahunya bahwa aku diskors selama satu minggu. Sepertinya nenek sudah tidak sanggup mengurus cucu kesayangannya yang seperti ini, hingga ia menelepon papa dan memohon agar aku tinggal kembali di jakarta. Ah betapa bahagianya aku kembali pulang ke Jakarta. Aku akan bertemu dengan Sandi kekasihku dulu. Meski saat di bandung aku beberapa kali menjalin hubungan dengan yang lain, tetapi hanya ada Sandi di hatiku.

Di sekolah baru ini, sikapku masih bisa terkontrol, aku tidak lagi senakal dulu. Aku tidak bolos sekolah untuk bertemu Sandi, tetapi sekarang setiap pulang sekolah hingga larut malam aku pergi ke disk*tik dan berpesta ria dengan Sandi, pujaan hatiku. Sore ini aku dan Sandi bertemu di taman tempat kesukaan kami. Aku akan menceritakan sesuatu yang mungkin akan membahagiakan hatinya. Meskipun aku juga takut ia tak terima.

“Mau bilang apa Del?” Sandi membuka pembicaraan sambil memegang tanganku.
“Akuuuuuu.. Akuuuu hamil San,” aku memeluknya sambil memberikan tespack.
“Apa? Kamu hamil? Jangan bercanda Dela!” Ia langsung melepaskan pelukanku dan menatapku sinis.
“Iya, memangnya kenapa? Bukankah kamu berjanji akan bertanggung jawab? Aku sudah rela memberikan segalanya kepadamu. Bahkan aku siap di DO dari sekolah dan menikah denganmu!”
“Dela! Aku ini masih sekolah! Aku masih ingin membahagiakan kedua orangtuaku! Aku tak percaya itu anakku! Kau itu wanita j*lang! Bisa saja itu anak hasil kelakuanmu dulu ketika di bandung!” Bentak Sandi kepadaku.

“Plaaaak..” Tamparan keras mendarat di pipinya.
“Kau seenaknya berbicara Sandi! Aku menyerahkan kep*rawananku hanya kepadamu! Dari pertama kau menciumku! Hingga aku rela menyerahkan segalanya kepadamu! Lalu kau bilang ini bukan anakmu? Biadab! Kau bilang aku wanita j*lang? Apa kau sehat? Kau yang merayuku! Kau yang berjanji akan bertanggung jawab! Jika kau berkata ingin membahagiakan kedua orangtuamu. Aku pun sama! Kau masih sekolah? Bukankah aku pun begitu? Coba kau pikir Sandi! pikir!!!” Seketika emosiku meluap begitu saja.

“Kau masih ingin sekolah dalam keadaan hamil? Apa kau bodoh! Gugurkan saja anak itu jika memang kau masih ingin membahagiakan kedua orangtuamu! Aku tak pernah ingin menikah karena suatu hal yang dapat mempermalukan keluargaku!” Dia berbalik dan melangkah pergi. Aku menyusulnya.
“Apa? Kau pikir aku ini wanita macam apa? Anak dalam kandunganku ini tak berdosa Sandi! Dia tak tahu apa-apa! Kau tega ingin membunuhnya?” Aku menangis sejadi-jadinya tanpa mempedulikan orang di sekitarku.
“Oke, minggu depan aku akan menikahimu, aku akan membicarakan hal ini kepada orangtuaku! Dan akan segera meminangmu Dela.” Akhirnya dia kembali mendekatiku dan memeluk tubuh mungilku.

Akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah. Aku lemas sekali. Dan enggan pergi sekolah, aku belum membicarakan masalah kehamilanku kepada mama dan papa. Aku takut mereka marah.

“Dela, kamu kenapa? Sakit? Biar Mama panggilin dokter ya?” Wajah ibuku terlihat cemas.
“Aku gak apa-apa kok Mah, mungkin cuma masuk angin,”
“Ya sudah kalau kamu tidak mau, kamu jangan pergi ke sekolah dulu istirahat saja di rumah.”
“Iya Mah.”

Nomor handphone Sandi tidak aktif, ia susah sekali dihubungi. Padahal ini sudah satu minggu dari pertemuan kami saat di taman. Apakah dia akan mengingkari janjinya? Aku semakin kalut dengan keadaan ini. Dua bulan berlalu, aku masih pergi ke sekolah, meski dalam keadaan hamil. Aku sangat kecewa dengan kelakuan Sandi yang tidak mau bertanggung jawab. Tapi aku harus apa lagi.

“Del lo gendutan ya? Bohay amat deh sekarang,” rayu Anto teman sekelasku.
“Ah lo bisa aja To, mungkin gue lagi doyan makan aja haha,” candaku.
Tiba-tiba aku mual dan berlari ke toilet, karena terburu-buru aku terpeleset dan semuanya menjadi gelap.

“Aku di mana?” Suaraku parau.
“Lo di UKS Del, gue khawatir banget, soalnya tadi kaki lo penuh darah, gue kira lo lagi mens. Tapi..”
“Del, lo dipanggil kepsek tuh!” Suara Ani memotong pembicaraan aku dan Nisa.
“Oh iya.” Ah aku kaget setengah mati dengan pembicaraan Nisa tadi ketika di UKS. Apakah dia tahu kalau aku hamil? Atau bahkan kepala sekolah juga sudah tahu semuanya? Ya Tuhan bagaimana ini? Ternyata di ruang kepala sekolah sudah ada papa dan mamaku. Aku takut setengah mati. Aku berjalan gontai mendekati mereka.

“Maaf Pak, kelakuan anak bapak bisa mempermalukan sekolah kami, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya Pak.”
“Dela ayo pulang!” Bentak papaku.
“Bu kami pamit ya, mohon maaf atas kelakuan anak kami Bu.” Mamaku berpamitan kepada kepala sekolah.
Sepanjang perjalanan mama menangis dan tak menyapaku. Sementara papa mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku hanya bisa terisak tanpa tahu harus berkata apa. Maafkan aku ma, pa. Aku mengecewakan kalian untuk yang kesekian kalinya, gumamku dalam hati.

“Dela! Papa sudah sering malu dengan kelakuan kamu! Apa kamu tidak berpikir? Papa kerja keras untuk siapa? Untuk kamu Del! Anak Papa satu-satunya! Papa sayang sama kamu! Tapi bagaimana denganmu? Dengan kelakuan kamu yang kemarin-kemarin Papa masih bisa sabar! Tapi sekarang? Kamu hamil! Siapa yang melakukannya padamu? Apakah lelaki tengil yang tempo hari kau temui? Apakah dia orang yang sama yang menyebabkanmu sering bolos? Pantas saja akhir-akhir ini kamu terlihat murung dan selalu diam di kamar! Ternyata ini yang kau sembunyikan! Mau disimpan dimana muka Papa Del! Bisa-bisa Papa gila memikirkan ini semua! Siapa yang mengajarimu seperti ini! Kurang apa Papa dan Mama selama ini? Apa yang kau mau selalu kami penuhi! Tetapi kenapa kau seperti ini Dela!”

“Ma.. Maafkan aku Paa..” Suaraku terbata-bata. Aku masih terisak menyesali semuanya.
“Dela, Mama tak pernah mengajarimu seperti ini! Dari kecil Mama membesarkanmu dengan kasih sayang, Mama selalu mendidikmu sebaik mungkin. Tapi mungkin Mama salah dalam memperlakukanmu hingga kamu seperti ini,” mamaku menangis dan tiba-tiba pingsan.
“Puas kau Dela? Setelah apa yang kau lakukan membuat semuannya hancur? Apa lagi yang kau mau dari orangtuamu ini? Apa lagi Dela? Apa lagi?” Papaku kembali membentakku. Aku hanya bisa diam dan terus menangis.

Semenjak mama dan papa tahu bahwa aku hamil, aku lebih sering berdiam di kamar dan menjadi pendiam. Mamaku jadi sakit-sakitan. Aku merasa sangat bersalah, karena kelakuanku mama dan papa harus menanggung malu yang amat luar biasa.

“Untuk apa aku hidup jika aku hanya menyusahkan orang-orang di sekitarku? Maafkan aku Ma, Pa. Maafkan aku,” aku menangis sejadi-jadinya. Mungkin jika aku mati, keadaan akan baik seperti dulu. “Sreeet, goresan pisau masih terasa di pergelangan tanganku, darah segar membasahi seprai hellokittyku. Bau anyir seolah memabukanku. Keadaan menjadi remang-remang. Hingga aku tak dapat melihat apa pun lagi di hadapanku. Apakah aku mati?

“Delaaa, kamu gak apa-apa kan sayang?” Mama memelukku dengan erat.
“Dela di mana Mah?” Suaraku serak
“Kamu di rumah sakit sayang, maafkan Mama sudah membuatmu merasa hidup sendiri Del,” mama kembali memelukku.
“Enggak Ma, ini salah Dela, maafin Dela Ma,” aku kembali menangis.

Setelah kembali pulih, aku pun pulang bersama mama dan papaku. Beruntung Tuhan masih menyayangiku, aku masih hidup, dan bayi dalam kandunganku pun tak apa-apa.
“Dela, Papa sudah jodohkan kamu dengan Hendri, anak teman Papa,”
“Tapi kan..”
“Sudahlah sekarang turuti apa kata Papamu,” papa memotong perkataanku.
“Ba..baiklah Pa.”

Acara pernikahan pun digelar, aku menikah dengan laki-laki tak berdosa yang harus menanggung apa yang ku perbuat. Aku menikah dalam keadaan hamil, dan aku tak tahu, apakah Hendri tahu kalau aku hamil? Jika dia tahu kenapa dia mau menikahiku?

“Aku sudah tahu semuanya, kamu jangan takut,”
Hendri membuka pembicaraan ketika kami sedang berkemas akan pergi ke luar kota.
“Maksudmu?” Aku pura-pura tidak tahu.
“Semua tentangmu, tentang apa yang terjadi,”
“Baiklah aku tenang jika kau mengetahuinya. Tetapi kau jangan pernah berani menyentuhku! Aku menikahimu hanya karena menuruti permintaan Papaku. Aku tidak mencintaimu,”
“Tenang saja.” ucapnya singkat.

Setelah kami pindah ke luar kota, aku tak pernah lupa memberi kabar dan menanyakan keadaan mama dan papaku. Syukurlah mereka baik-baik saja. Semenjak menikah, Hendri tak pernah mendekatiku. Dia selalu tidur di sofa dan aku di kamar. Kami hanya bertingkah manis jika di depan orangtuaku atau orangtua Hendri. Sebenarnya Hendri orang yang baik, dia selalu perhatian kepadaku. Setiap pagi ia yang menyiapkan sarapan dan susu hangat untukku. Meski aku selalu bersikap dingin kepadanya. Dia bilang aku tak boleh cape, aku harus beristirahat dan menjaga kandunganku. Padahal dia bukan ayah dari bayi di rahimku. Maafkan aku Hendri.

Setelah bayiku lahir, rencananya Hendri akan menceraikanku. Karena ia tahu aku tak pernah mencintainya. Tapi dia salah, sebenarnya hari demi hari rasa untuk Hendri mulai tumbuh di hatiku, aku sudah mulai melupakan Sandi dan menerima Hendri di hatiku. Tapi apakah Hendri juga mencintaiku? Bulan demi bulan, kandunganku semakin membesar, Hendri semakin perhatian kepadaku. Kini aku juga bersikap hangat kepadanya. Aku mencintainya. Aku tak mau kehilangannya. Hingga suatu hari aku memintanya untuk selalu bersamaku, tanpa harus menceraikanku. Dan syukurlah dia orang yang sangat baik, dia menerimaku apa adanya, dia selalu membimbingku ke jalan yang benar. Kami selalu solat berjamaah bersama layaknya sepasang suami istri yang berbahagia.

Akhirnya detik-detik yang menegangkan pun terjadi, aku kontraksi dan akan segera melahirkan. Hendri terlihat sangat cemas dan sibuk menyiapkan barang-barangku untuk dibawa ke rumah sakit, tingkahnya sangat lucu, aku beruntung memilikinya. Hendri tak pernah jauh dariku, saat aku akan melahirkan dia mendampingiku, menguatkanku, dan membacakan lantunan ayat suci al-quran di telingaku. Meski aku malu, karena yang ku lahirkan bukanlah anak dari Hendri. Bayiku lahir dengan keadaan sehat, tak kurang satu pun, dia akan tumbuh menjadi seorang jagoan yang kuat karena akan hidup dengan sosok ayah yang sangat luar biasa. Dia adalah Hendri. Pelengkap hidupku yang tak pernah ku duga akan datang dan membuatku bahagia. Terima kasih Hendri, maafkan aku karena bukan istri yang sempurna untukmu.

Cerpen Karangan: Yusrini Nur Kulsum
Facebook: https://m.facebook.com/yusrini.kulsum
Terima kasih sudah membaca 🙂 kritik dan sarannya di tunggu yaa hehehe. Facebook: Yusrini Nur Kulsum. Twitter: @yusrininur.

Cerpen Inikah Cintaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengorbananmu

Oleh:
Bbbrraaakk!!! Ku banting pintu kamarku sambil menangis. Harapanku ingin melanjutkan sekolah ke perguruan negeri pupus sudah, ketika orang tuaku melarangnya. Bukan karena aku kurang mandiri, tapi masalah ekonomi yang

Dunia Akademik or Dunia Seni?

Oleh:
Hmmm… inilah aku Seperti biasa rutinitasku bangun pagi sarapan tanpa ayah dan ibuku, pergi ke sekolah sama supirku dan di rumah juga ada bi mita pembantuku yang sangat ramah,

Ada Cinta di Bis Kota

Oleh:
Pagi ini aku buru-buru berangkat sekolah. Aku hampir lupa kalau hari ini ada jam tambahan pelajaran pagi. Yups, aku sekarang kelas XII SMA dan wajib mengikuti jam tambahan pagi.

Gombal Maut

Oleh:
“Hai Rin,” Desta kembali datang dengan sepucuk surat dan setangkai mawar. Rina hanya memutar kedua bola matanya menatap Desta tak selera. Sudah terlalu sering dia ngalamin hal ini yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *