Inikah Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Ketika senja berlalu pergi, ketika sinar jingganya mulai kelam, ketika langit biru mulai menghitam, Ia, wanita yang manis itu menumpahkan segala air mata pengharapannya. Menumpahkan segala rasa sesal akan kehidupannya yang terasa gelap ketika senja berlalu. Senja Januari. Dia adalah seorang gadis cantik yang penuh dengan berjuta pesona awalnya. Seorang gadis yang dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Seorang gadis yang lebih senang dipanggil Senja. Terlebih karena dia sangat menyukai sebuah momen ketika senja menyapa dirinya. Namun saat itu, saat senja menuju malam yang terasa tak seperti biasanya. Saat langit-langit semakin menua, saat hujan-hujan tertahan di antara mega, ada sesuatu yang terasa hampa dan berbeda. Dirasakannya sakit dan sesak yang menyelimuti setiap ruang dalam batinnya. Memaksa bola matanya mengeluarkan aliran air yang sungguh sulit untuk ia bendung sampai matanya terasa perih.

“Sungguh, tak ada hal yang lebih menyakitkan dari sebuah kehilangan,” Mulutnya yang semula terkunci enggan berbicara, kini mulai bergumam mengeluarkan sebuah kalimat yang menggambarkan tentang makna dari semua tangisannya. “Ibu, sungguh, aku menyayangimu. Aku tak ingin sendiri tanpamu. Aku tak ingin menelusuri setiap mimpiku tanpa adanya sosokmu Bu. Sungguh, kenapa Tuhan tak mengambil nyawaku sekalian Bu. Kenapa harus ibu yang diambil olehNya? Kenapa aku tidak? Bu, ku mohon, kembali bersamaku,” Tangisnya semakin membuncah kuat sambil mengeluarkan semua kalimat-kalimat penyesalan atas sebuah kehilangan.

Bagaimana tidak, saat senja berlalu, saat senja menghilang, hilanglah jua seseorang yang amat dia sayangi. Saat senja telah berganti malam, kegelapan bertambah kelam dengan kehilangan sosok orang yang sangat berarti untuk hidupnya. Malam itu, adalah malam ketiga ia benar-benar ditinggalkan oleh ibunya. Dan malam itu merupakan malam ketujuh usai kejadian itu terjadi. Kejadian yang berujung keputusasaan. Kejadian yang merenggut semua semangat dalam hidupnya. Kejadian yang hampir membawa seluruh kesempurnaan hidupnya.

Ya, akibat kejadian kelam itu, ibu yang sangat Senja sayangi harus pergi untuk selamanya dari kehidupan dunia setelah 4 hari dirawat di rumah sakit karena sebuah kecelakaan. Segala hal sudah diusahakan untuk menyelamatkan sosok wanita lembut itu, tapi takdir berkehendak lain. Takdir berlawanan dengan harapan. Takdir mengharuskan Senja hidup sendiri tanpa seorang ibu juga ayah yang telah hampir 5 tahun meninggalkan kehidupan indah di keluarga mereka. Hari-hari setelah sepeninggalnya sang ibu, dipenuhi oleh tangisan-tangisan yang sulit untuk dihilangkan oleh gadis itu. Akibat kejadian itu, Senja menjadi malas untuk pergi kuliah. Bahkan untuk sekadar mencari angin segar, tak jua ia lakukan. Harinya dipenuhi oleh kemurungan, sebagian semangat hidupnya sudah hilang terbawa senja yang berlalu pada malam itu.

Hingga keadaan itu, membuat sahabat-sahabat baiknya merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Tak biasanya Senja seperti itu. Sebelum kejadian itu, meski tanpa seorang ayah, Senja adalah sosok gadis yang sangat ceria juga ramah pada siapa pun. Keramahannyalah yang membuat cantik di wajahnya tak pernah pudar, dan karena keramahannyalah yang membuat Senja disayangi oleh banyak orang. Sering kali teman-temannya berkunjung dan menemani Senja sembari memberikan beberapa catatan juga tugas kampus. Sering kali pula sahabat-sahabatnya bertingkah bodoh demi membuat sedikit saja ulas senyumnya tercipta. Namun tetap saja, bibirnya hanya terkunci rapat dengan tatapan mata yang kosong.

“Sen, ayolah, please, jangan terus-terusan seperti ini! mana Senjaku yang dulu aku kenal sebagai seorang yang sangat ceria dengan ulasan senyum manisnya. Mana Senjaku yang baik juga cantik yang selalu menebarkan pesona kebaikannya? Lihat, dunia masih luas. Dunia masih menunggu untuk kamu genggam. Dan hidupmu, hidupmu masih terpampang luas dengan nyata. Tak ada artinya jika kamu terus bermurung seperti ini. Apa kamu tega jika di sana Ibu kamu ikut menangis melihat keadaanmu yang seperti ini? apa kamu tega Ibumu tidak tenang karena meninggalkanmu dengan keputusasaan? ayo dong Sen, bangun lagi semangat untuk mencapai kehidupanmu yang sempurna. Masih banyak yang menyayangi kamu dan siap untuk menemani kamu. Juga sebenarnya masih banyak orang yang hidupnya lebih parah dan kesepian daripada kamu. Kamu harus buka lebar mata hati kamu Sen,” Nia, sahabat dekat Senja mencoba memecahkan kemurungan gadis itu. Dengan harapan, semua kata-kata yang sering kali ia ucapkan itu dapat membangun motivasinya untuk memangkas keputusasaan. Namun, tetap masih sulit rasanya untuk membuat Senja menjadi jiwa yang kembali ceria.

Hingga saat malam tiba, masih dalam kemurungan yang menyelimuti setiap hari-harinya, Senja menyempatkan diri untuk membuka salah satu media sosial yang dia senangi. Facebook. Ya, setelah kejadian itu, ia tak lagi membuka media sosial. Bahkan untuk sesekali melihat layar handphone-nya pun enggan untuk ia lakukan. Dinyalakannyalah sebuah komputer yang berada di ruangan kamarnya itu. Perlahan ia mulai mengetikkan alamat email dan kata sandi untuk facebooknya. Hingga setelah beberapa saat ia onface, ada seseorang yang menyapanya lewat chat.

“Hai Sen, apa kabar?”

Tak ia hiraukan. Karena seperti biasa, Senja adalah seorang gadis yang enggan untuk meladeni chat dari orang yang tak jelas ia kenali. Terlebih setelah kejadian itu, untuk bercakap dengan orang terdekat pun ia enggan, apalagi orang yang tak jelas. Namun, entah kenapa rasanya terbesit sebuah keinginan untuknya membalas chat dari seseorang yang membuatnya penasaran. Dengan ragu-ragu, dibalaslah chat tersebut dan muncullah sebuah obrolan yang tidak terlalu panjang.

“Ya, kabarku begitu-begitu saja. Dengan siapa ini?”
“Hmm, begitu gimana? Apa kamu baik-baik saja? Lupakah kamu denganku?”
“ini siapa ya? Kalau tidak jelas, aku sudahi obrolannya,”
“Oke-oke, maaf, aku Fajar. Ingatkah kamu padaku?”
“Aduh Mas, umurku sudah 18 tahun, dan selama itu telah banyak sekali nama Fajar yang aku temui. Kalau ada penjelasan yang lebih signifikan, mungkin aku bisa coba mengingat,”
“Hmm, ya sudah, tak usah kamu paksakan. Tak penting juga. Sudah terlalu lama pula, mungkin kamu sudah lupa,”
“Ya sudah,” Tak ada balasan lagi setelah itu. Karena merasa penasaran, Senja iseng-iseng membuka dan melihat profil orang tersebut. Sebetulnya malas sekali ia melakukan hal seperti itu. Mencari tau informasi dari seseorang. Tapi, entah mengapa, ada sesuatu yang aneh dengan orang yang bernama Fajar itu.

Waktu terus berlalu, detik demi detiknya terus bergulir memangkas waktu. Senja yang indah. Warnanya yang terang bersiluet jingga, menciptakan sebuah ketenangan bagi hati seorang gadis cantik bernamakan Senja. “Hmm, selalu begitu. Senja ini selalu membuatku nyaman. Senja ini selalu menghadirkan ketenangan. Meskipun saat ini senja terpasung sepi, tapi selalu ku terbangkan angan pada jingganya, semoga Ibu, selalu bahagia di sana,” Tanpa sadar, air matanya kembali menetes bersamaan dengan kalimat yang ia ucapkan. Namun, tangisan kali ini berbeda. Ada sebuah keikhlasan yang mengiringi tangisan itu. Tentu saja, Senja mulai memahat keikhlasan atas kepergian ibunya.

Lain dari itu, Fajar, sosok laki-laki yang beberapa minggu ini menemani Senja lewat sebuah chat facebook, mulai menampakkan kejujuran. Kejujuran atas sebuah pengakuan. Pengakuan yang membuat Senja kaget namun ada senang dalam hatinya. Ya, Fasya Harpijar, itulah nama asli dari sosok laki-laki yang beberapa minggu ini telah berhasil mengukir kembali senja indah dalam keseharian gadis itu. Dan sungguh, nama Fasya Harpijar adalah nama yang tak asing untuk Senja. Laki-laki itu adalah pangeran kecil yang selalu Senja harapkan. Fasya Harpijar yang telah menemani kemurungannya itu, adalah laki-laki yang sebenarnya telah lama ia kenal. Laki-laki yang pernah mengukir senja indah pula dalam hidupnya kala itu.

Senja dan Fajar, adalah 2 sosok anak kecil yang dahulu mengukir persahabatan indah. 2 sosok anak kecil yang selalu memahat keindahan di kala Fajar dan senja. Samar-samar kilauan cahaya di kala Fajar dan senja adalah hal yang paling mereka sukai. Ketika sinar mentari tidak begitu jelas, ketika mentari baru menampakkan diri dan bergegas menyembunyikan diri, ketika samar-samar cahaya akan berubah menjadi siang dan malam, itulah momen paling indah bagi pandangan matanya. Dan saat ini, setelah 11 tahun jarak memisahkan mereka, setelah 11 tahun siang dan malam menghalangi pertemuan antara Fajar dan senja, kini, di saat malam dan siang mereka kembali menuai sebuah percakapan, mereka mulai memangkas jarak. Jarak yang memang begitu jauh, mulai tak berarti.

Sosok sahabat kecil yang sangat dirindukannya, kini kembali ada. Menemani di saat senja yang kian memudar. Menemani Senja, hingga senja berlalu dan muncul kembali senja berikutnya. “Sungguh, aku tak sanggup menjelaskan apa yang aku rasakan. Namun, sebelum aksara menua dan lapuk digerogoti musim, aku hanya bisa menulis sebuah kalimat bahwa aku sangat senang kau kembali hadir, dan aku sungguh sangat merindukanmu,” Tulis gadis itu dalam obrolannya dengan Fajar.

Dan tentu saja, hal yang sama dirasakan oleh laki-laki bernama Fajar itu. Telah lama ia mencari akun atau media sosial apa pun yang bisa menghubungkannya dengan sahabat kecilnya itu. Namun, harus menunggu selama 11 tahunlah akhirnya mereka bisa kembali berkomunikasi. Hingga setelah pengakuan itu, mereka semakin dekat. Komunikasi mereka berlanjut pada media sosial lain. Sampai suatu saat, Fajar, berencana untuk berkunjung ke daerah tempat ia tinggal dahulu. Sebuah daerah, yang banyak tersimpan kenangan antara Fajar dan Senja. Tak hanya Fajar, Senja pun berniat hal yang sama. Setelah mereka berunding, mereka akhirnya menentukan waktu yang pas agar mereka bisa berkunjung ke tempat itu secara bersamaan.

03 September, adalah tanggal dimana akan ada sebuah pertemuan antara sahabat yang telah lama berpisah. Tentu saja, mereka telah menyiapkan semuanya dengan indah. Senja, yang mulai merasakan ada sebuah perasaan lebih dari seorang sahabat merasakan keraguan yang hebat dengan pertemuan yang akan dijalaninya. Sementara Fajar, ia sangat bersemangat untuk menemui Senja yang telah lama berlalu. Siang itu Fajar memulai perjalanannya. Mereka berjanji untuk bertemu saat senja akan datang. Mereka berjanji akan bertemu saat matahari akan kembali ke peraduannya. Dan Fajar, dengan semangatnya datang lebih awal dari waktu yang mereka janjikan. Tepat pukul 04.00 sore itu, Fajar tiba di suatu tempat di mana ada sebuah rumah pohon usang yang masih tegak berdiri di sela-sela dahan pohon. Sambil menunggu, ia mencoba membersihkan debu-debu tebal yang memenuhi rumah pohon itu. Sembari ditaruhnya hiasan-hiasan kecil agar terlihat sedikit lebih indah.

Ya, Fajar ingin membuat sedikit kejutan untuk Senja sahabat kecilnya itu. Namun, entah kenapa, kabut hitam tampak tersirat di sela-sela senja yang mulai menguning. Begitu pun dengan gadis bernama Senja itu, bayangan samar keraguan mulai menghujami pikirannya untuk mematahkan niatnya bertemu dengan Fajar. Turunlah gadis itu dari sebuah taksi dengan dibantu oleh sang sopir. Untuk sampai tempat tujuan, ia masih harus berjalan. Ditengah perjalanan dengan kesusah payahannya, hujan turun membasahi jalanan yang Senja lalui. Senja yang diharapkan akan indah, tertutup oleh kabut hitam dan rintikan hujan. Hal itu membuat gadis itu semakin ragu untuk menemui Fajar. Dengan dibantu oleh sebuah tongkat penopang kakinya agar mampu berdiri tegak, ia menepikan diri dan duduk di sebuah benteng tidak terlalu tinggi. Di tengah air hujan yang membasahi badannya, Senja menangis. Seolah-olah hujan adalah air mata yang mengalir di sela-sela pipi Senja.

“Tuhan, aku tak yakin dengan pertemuan ini. Aku tak yakin akan menemui Fajar dengan kekelaman yang ada pada diriku. Saat ini, Senja tak lagi indah. Saat ini Senja cacat. Tak ada rona jingga yang menyertai. Tak ada samar-samar kilauan cahaya mentari yang mengagumkan. Tuhan, kejadian itu sudah merenggut semua keindahan senjaku. Aku tak ingin menemui Fajar dengan keadaanku yang tidak memiliki keseimbangan untuk berjalan melalui hari,” Air matanya kembali membuncah ke luar mengalir deras di pipinya.

Kecelakaan itu, ternyata membuat kaki Senja patah. Membuat Senja harus berdiri tegak dengan bantuan tongkat. Dan hal itu, membuat Senja enggan menemui Fajar. Membuat Senja malu untuk menemui Fajar. Berulang kali handphone gadis itu berdering karena panggilan laki-laki itu, namun sama sekali tak ia hiraukan. Dengan rasa sesak tak tertahan, Senja membantingkan dan membuat handphone-nya terombang-ambing terbawa arus selokan air hujan. Ia telah memantapkan hati untuk menutup diri dari siapa pun. Kejadian itu, benar-benar merenggut kesempurnaan hidupnya. Tanpa mempedulikan laki-laki itu, dengan rasa sakit yang amat menyekat di dada, ia berlari kencang di tengah hujan tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia kembali menuju tempat tinggal di mana ia akan hidup sendiri. Tanpa siapa pun. Setelah tiba di tempat menanam sepinya itu, ia membuka sebuah pesan di facebooknya.

“Aku melihat semuanya, aku melihat ketika kamu pergi. Aku melihat ketika Senja menangis. Apa yang kamu pikirkan? Apakah ini indahnya senja yang kau bangga-banggakan? Gelap, tanpa kilau matahari yang turun mengendap-endap. Apakah seperti itu senja indah yang kau dambakan? Hitam, tertutup kabut gelap dengan keheningan dan duka yang bergeming? Hei, kenangan itu memang untuk diingat. Namun, jika kenangan itu untuk menyakiti, jangan kau ambil rasa sakitnya. Apa kau pikir hanya senja yang bisa berkabut?”

“Apa kau pikir hanya jingganya senja yang dapat tertutup awan hitam? Apa kau tak memikirkan kala Fajar? Ia bisa saja kelam. Saat musim hujan, Fajar tak nampak. Tertutup oleh kabut. Namun, setelahnya? Ada siang yang benderang menghapus kabut. Meskipun tidak terlalu silau, tapi ada keindahan. Dan aku bisa menemui Fajar selanjutnya. Begitu pun senja, kau seharusnya senang. Karena setelah senja, ada malam dengan taburan bintang. Dan setelah itu, kau bisa menemui Fajar.”

“Kau harus tahu, Fajar tak selalu indah. Sama seperti senja. Dan aku? Aku adalah Fajar, aku tak seindah yang Senja pikirkan. Kau tidak tahu karena kau belum menemui Fajar. Dan kau harus tahu, bahwa aku, sama seperti kau. Kecelakaan tiga tahun lalu membuatku harus menggunakan kaki palsu. Lalu kau? Kau beruntung hanya cidera beberapa saat. Seperti inikah Senjaku yang aku harapkan dari dulu? Seperti inikah Senjaku yang ingin aku temui dari dulu? Sungguh, bukan seperti ini Senja yang aku tahu,”

Tangis gadis itu semakin pecah. Mengalirkan derasnya aliran air mata penyesalan yang sangat membuat hati dan matanya perih. Ia menangis. Ia menjerit atas kesadarannya. Kembali, di sela-sela malam yang kian menua, senja mengeja bait pelangi yang hampir mati. Ia menyatukan tiap warna yang tercecer dengan rapi. Hingga rindu itu muncul, rindu sosok seorang ibu dan laki-laki sahabat kecilnya itu. Ia mulai bercerita pada malam, tentang semua kerinduannya. Kerinduan dengan pengharapan dapat kembali bersama dengan sosok-sosok yang begitu berharga untuknya.

Di penghujung hari, ketika tangisnya mulai terhenti, ia menerbangkan semua debu kesedihan. Ia lenyapkan semua kemurungan. Ia yakinkan dalam hatinya, sebelum kata usang, sebelum kalimat menghilang, ia berkata, “Ya, senja tak harus selalu mempesona. Karena Fajar tak jua selalu indah. Aku harus terus mengukir keindahan walau tanpa senjaku yang indah. Karena bagaimanapun, setelah senja yang gelap, berikutnya aku akan menemukan senjaku yang indah. Dan aku, adalah Senia Januari. Aku adalah Senja, yang meskipun tak selalu mempesona, yang meski saat ini tertahan oleh kabut ketidaksempurnaan dengan kecacatan, tapi aku pantas mengukir alur kehidupan yang sempurna tanpa cacat sedikit pun. Walau senja kelam, tapi senjaku, aku yang menjadi Senja, harus tetap mengukir keindahan,”

Cerpen Karangan: Silvi Novitasari
Blog: silvinovitasari30.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/Novitasarisilvi

Cerpen Inikah Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bancinta

Oleh:
Aku segera membuka kunci kamar kosku dan segera berbaring di tempat tidurku, hari ini adalah hari yang melelahkan setelah seharian aku dan teman teman baruku mengikuti kegiatan ospek, setelah

Kenangan Saat Hujan

Oleh:
Saat ini hujan. Padahal tadi pagi cuaca benar-benar cerah. Tapi beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi, hujan langsung turun dengan derasnya. Seolah tengah menjebakku untuk tetap tinggal. Menjebakmu

Ku Merindukannya (Part 1)

Oleh:
Kududuk terdiam antara kursi dan meja di sampingku, tak terasa jika aku sudah usai dengannya, ya Tiberias Calvin Natalarik Marcel Saputra sebut saja Calvin, cowok yang dulu pernah menemaniku

Bi Imagin

Oleh:
Dua orang pria sedang duduk minum kopi di bar sebuah rumah mewah “bisa kita konsultasi sekarang, tuan Bi? tanya pria berstelan kemeja rapih dengan pandangan yang penuh harap dari

My Name Is Angel Part 4

Oleh:
Bel pulang telah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas dengan perasaan bahagia. Bahagia karena pelajaran hari ini telah selesai. Begitu juga dengan Angel. Angel berjalan menuju keluar kelas nya. Lalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Inikah Senja”

  1. Aku suka ceritanya.. Bagus banget..

    Salam kenal.. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *