Inikah Takdir Tuhan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 June 2016

Pernahkah kamu jatuh cinta? Beginikah rasanya? Sesakit ini? Oh, Ya Tuhan, mengapa jatuh cinta begitu menyakitkan? Akankah selamanya tetap seperti ini? Ah, aku berharap, aku takkan jatuh cinta lagi, tapi mana bisa? Manusia hanya berusaha, namun takdir berasal dari Tuhan.

Angin pagi membelai rambutku manja. Aku enggan untuk beranjak dari tempat duduk ku di depan kelas. “Zahra!” Panggil seseorang yang tak asing lagi bagiku. “Iya, Ta. Ada apa?” Tanyaku pada Talita, sahabatku sejak kelas 7. Sekarang aku kelas 9, sebentar lagi Ujian Nasional. Huh, pusing. “Kamu ngapain di sini? Udah mau masuk tuh.” “Gak papa. Pengen duduk aja, sebelum menyantap pelajaran yang sangat sangat membosankan. Hahaha” Kami tertawa bersama. Ya, memang aku sangat bosan dengan mata pelajaran nanti, PKn. Tak usah tanya mengapa, karena aku tidak suka dengan gurunya, beliau kalau sedang mengajar seperti mendongengkan seorang anak kecil yang ingin tidur.

Saat pelajaran aku sering mengantuk dan tak paham apapun. Tiba-tiba bel tanda masuk sudah berbunyi. Aku dan Talita segera masuk dan duduk di bangku bersebelahan. Teman-temanku ada yang masih berada di luar kelas. Masih menunggu guru datang. Beberapa menit kemudian, ada guru piket di datang, memberikan tugas kepada kami. Satu kelas berucap syukur. Kami segera mengerjakan tugas yang diberikan tadi. Aku pun mengerjakan dengan cepat.

Di tengah aku mengerjakan tugas, tiba-tiba temanku banyak yang membahas kalau Zayn, orang yang aku suka, suka sama Fira. Hatiku terasa sakit, hancur berkeping-keping. Sia-sia sudah penantianku. Lama-lama telingaku rasanya terbakar, panas sekali. Aku segera membawa buku dan alat tulisku dan menuju perpustakaan. Disana aku bisa menenangkan pikiran dahulu. Saat aku membaca soal, pikiranku entah pergi kemana. Aku tak bisa memahaminya dengan baik. Tak terasa air mataku jatuh dengan sendirinya. Entah mengapa hatiku sakit saat mendengar kata-kata tersebut. Ya Tuhan, mengapa cinta itu sangat menyakitkan. Aku masih diam tak bergerak. Hanya air mataku tak bisa berhenti mengalir. Tak ada satu pun yang tahu kalau aku mencintai Zayn. Aku hanya mencintainya dalam diam.

Saat aku sudah mulai tenang, aku berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku dan alat tulis ku. Aku segera kembali ke kelas, karena sekarang menjelang jam ke tiga. Saat di dalam kelas, Talita sedikit curiga dengan raut mukaku. Hidungku sedikit merah. Aku berusaha menutupinya. Aku sangat tidak konsentrasi di dalam kelas. Aku hanya melamun membayangkan hal yang sangat mustahil terjadi. Tak terasa, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku sudah terbiasa pulang paling akhir. Aku tak mau tergesa-gesa sampai rumah. Palingan rumahku sama saja kalau aku pulang cepat. Tapi, hari ini ada yang berbeda. Zayn masih berada di dalam kelas. Di kelas hanya kami berdua. Aku segera menghindar dari Zayn. Saat aku hendak melangkah, Zayn memegang pergelangan tanganku. Aku sekuat tenaga menjauh darinya. “Zahra, kamu kenapa? Kok menjauh dariku?” Tanyanya. Aku hanya bisa diam, berdiri memunggunginya. Air mataku kembali menetes. Aku hanya menggeleng pelan. Aku segera menutup mulut dan berjalan meninggalkannya. Tangannya bergerak secepat kilat, mendekapku dari belakang. “Aku tahu kalau kamu menangis. Kamu kenapa menangis? Please, jawab aku!” Aku hanya diam masih menangis. Serasa air mataku tak mau berhenti. “Sebenarnya…” mulutku bergetar. Tak bisa mengatakan apapun. “Please, jujur sama aku!” Pintanya. Aku mencoba memegang tangan Zayn yang masih memelukku dari belakang. “Aku cinta sama kamu. Tapi apa daya, kalau kamu mencintai orang lain. Aku tau aku tak sesempurna dia yang kau cintai. Aku pun tak sepenuhnya berharap untuk memiliki mu. Melihatmu tersenyum saja, aku sudah senang, walau senyum itu bukan untukku. Aku pun tahu diri, kalau aku memang tak pantas untukmu. Aku juga tahu, kalau kau takkan pernah memilih ku. Aku hanya ingin kau menganggapku ada. Kalaupun kau memilihnya, aku pun tak keberatan. Walau harus menahan rasa sakit ini.” Air mataku tak henti-hentinya mengalir. “Stop!!!” Zayn membalikkan badanku. Aku hanya tertunduk. “Kau tak usah membawa orang lain. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku. Aku tak memandang mu dari fisik, tapi dari hatimu. Sebenarnya aku hanya mencintaimu. Tentang Fira itu, teman-teman hanya salah faham. Namamu kan Zahra Safira. Nah, aku menyebut namamu Fira, teman-teman salah faham. Sekarang, berhentilah menangis. Aku tak suka melihat perempuan menangis.” Zayn tersenyum manis sambil mengusap air mataku. Jantungku berdegup kencang. Aku mulai tersenyum. “Mulai sekarang, kamu adalah ratu hatiku.” Tiba-tiba dia memelukku erat. Aku merasakan detakan jantungnya sama denganku. Aku merasa nyaman berada di pelukanmu. “I love you, Zahra.” “Love you too” jawabku.

Dia melepaskan pelukannya dan mengecup keningku dan berkata, “Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan selalu berada di sisimu. Aku tak akan pernah membuatmu menangis lagi. Maafkan aku!” Aku hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum manis. “Ayo pulang, aku antar deh!” “Oke” jawabku singkat.

Zayn menggandeng tanganku lalu pergi ke parkiran. Zayn membawa sepeda motor sendiri. Aku membonceng dengan hati-hati. “Boleh aku peluk? Aku takut jatuh. ” Tanyaku ragu. “Boleh aja kok. Kan kamu sekarang pacarku.” Di sepanjang jalan, kami bercerita banyak hal. Dari kebiasaan kami yang sama, sampai guru kami. Tak lama kemudian, kami sudah sampai di depan rumahku. Aku turun dari sepeda dan mengucapkan terima kasih. Sebenarnya Zayn ingin main dahulu, tapi ada kepentingan pribadi. Aku sedikit kecewa sih. Tapi tak apa, besok kita bisa bertemu. Aku segera masuk ke dalam rumah sambil tersenyum mengingat kejadian tadi.
Tak pernah terbayang dalam pikiranku kalau aku menjadi kekasihnya. Ibuku menanyakan tentang hal itu, aku bercerita panjang lebar kepadanya. Ibu tidak melarangku berpacaran, hanya jangan sampai melebihi batas. Aku segera ganti baju lalu makan.

Malam harinya, aku hanya memikirkan Zayn, untung saja besok hari minggu, jadi aku tidak belajar. Ada orang yang mengetuk pintu, Ibu menyuruh ku membuka pintu. Tiba-tiba, Zayn memelukku dengan sedih. Aku kaget sekali. “Kenapa Zayn? Ada yang salah?” Tanyaku penuh tanda tanya. “Maafkan aku Zahra. Please, jangan marah. Sebenarnya aku juga tidak mau hal ini terjadi.” Aku masih bingung dengan apa yang disampaikannya. “Maksudnya?” Tanyaku. “Besok, aku dan keluargaku mau pindah rumah.” Aku kaget setengah mati. “Apa? Pindah? Kemana??” Tanyaku menahan tangis. “Pindah ke Inggris. Tempat ayahku bekerja. Dia ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Ternyata ayahku sudah mengurus tentang pindah sekolah itu. Aku pun tidak tahu pasti kapan akan kembali. Kata ayahku mungkin sampai 5 tahun. Mana mungkin aku bisa hidup tanpamu selama itu?” Ucapnya, matanya mulai berkaca-kaca. Aku tak bisa menahan air mataku. Aku menangis di pelukan Zayn. “Mengapa Tuhan memisahkan kita di saat kita sudah bersama?” Ucapku sambil memukul-mukul kecil dada bidang Zayn. “Maafkan aku Zahra. Aku tak bisa bersamamu lagi. Tapi cinta kita takkan pernah mati. Aku akan selalu menjadi rajamu. Dan kau akan selalu menjadi ratu hatiku. Aku berjanji, aku tak akan melupakanmu. Kita masih bisa berhubungan jarak jauh.” ucapnya menenangkanku. “Tapi kalau hubungan jarak jauh biasanya putus Zayn!!” Ucap ku meninggikan suara. “Tenang saja, kita tidak akan pernah putus. Atau sebulan sekali aku pulang untuk menemui mu. Jangan nangis, please!” Sahutnya sambil mengusap air mata di pipi ku. Zayn kembali memeluk erat tubuh ku. “Besok aku akan menjemputmu untuk mengantar ku ke bendara. Jangan lupa dandan yang cantik. Tapi tiap hari kamu udah cantik kok” Gombalnya membuat ku tersenyum. Aku hanya mengangguk pelan sambil melepas pelukannya. “Aku boleh masuk gak? Pengen kenalan sama camer.” “Boleh kok. Yuk masuk.” Aku menggandengnya masuk. “Kamu duduk dulu ya. Aku panggil ibuku dulu.” Zayn hanya mengangguk. “Bu, Zayn pengen ketemu sama ibu.” “Iya sebentar.” Aku segera menuju dapur untuk membuat teh hangat. Tak lama kemudian Ibu keluar dan ngobrol dengan Zayn. Karena teh nya sudah selesai aku buat, aku segera membawa ke ruang tamu. “Ini Zayn, silakan minum” ucapku sambil mencari tempat duduk. Zayn hanya mengangguk. Sepertinya Ibuku menyukai Zayn. Aku senang sekali. Tapi sedih juga, mengingat kalau besok Zayn akan pergi jauh. Kami mengobrol sampai larut malam. Ibuku menyuruh Zayn pulang. Zayn menurut karena besok ia akan pergi ke London. Ia memelukku seperti pelukan terakhir. “Besok akan aku jemput ya!” “Ya Zayn” Zayn segera pulang. Aku tak sabar menunggu esok hari datang, untuk bertemu dengan Zayn. Tapi ada juga rasa sedih. Aku segera tidur dan berharap Zayn tidak jadi pergi ke London.

Kring….. “hoaaahhhmmm” Malas sekali bangun hari ini. Tapi seketika aku teringat Zayn akan menjemput ku. Aku segera mandi, dandan, sarapan lalu menunggu di depan cermin ku. “Tiin tiinnn..” mungkin suara klakson mobil Zayn. Ya benar, Zayn sudah menjemputku bersama keluarganya. Aku pamit kepada Ibu dan masuk ke mobil Zayn. Aku duduk di samping Zayn. Di mobil kami bercerita untuk yang terakhir kali. Tiba-tiba muncul mobil dari depan dan mobil kami oleng ke kanan kiri. Semua orang di mobil panik. Aku berteriak sambil menggenggam erat tangan Zayn.

Pening kepalaku dan sangat sakit. Aku mencoba membuka mata, sangat buram. Namun lama lama terlihat jelas. Ada seorang wanita bersama seorang pria berdiri di depanku. Wanita tersebut menangis tersedu-sedu. “Mengapa mereka menangis? Mereka siapa?” Batinku. “Kalian siapa?” Tanyaku dengan suara parau. “Yah, cepat panggilkan dokter. Sayang, ini ibu yang melahirkan kamu. Dan tadi ayah kamu. Dia jauh-jauh dari Kalimantan ke Jakarta hanya untuk kamu.” jawab wanita tersebut yang mengaku sebagai ibuku sambil menangis. Aku memejamkan mata mencoba mengingat sesuatu. “Aaaauuu.” Teriakku karena kepalaku terasa sangat sakit. Tak lama dokter datang bersama pria yang katanya ayahku. Dokter mengecek kondisi ku. “Anak Bapak dan Ibu mengalami amnesia permanen. Memori yang ada di otaknya tak bisa kembali. Jadi dia tak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya.” ucap dokter tersebut. Wanita itu semakin keras menangis. Aku mengingat satu nama yang sangat asing bagiku. Tapi aku merasa sangat sayang pada nama tersebut. “Zayn” nama yang aku ingat. “Siapa Zayn?” Tanyaku pelan. Wanita tersebut menangis lagi. Dan pria tersebut mengusap wajahnya seperti frustasi. Aku tak tahu maksudnya. “Kamu akan tahu pada saat yang tepat sayang.” Jawab wanita itu sambil mengelus rambutku. Aku bingung apa yang telah terjadi denganku. Akupun tak tahu namaku siapa, dimana aku. Aku hanya ingin tahu siapakah Zayn. Zayn, siapakah kamu?

THE END

Cerpen Karangan: Melisa Dwi Wulandari
Facebook: facebook.com/melisa.dwi.140
Namaku Melisa Dwi Wulandari. Aku seorang siswi kelas IX SMP N 1 Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Aku bercita-cita menjadi seorang penulis profesional. One Direction telah menjadi semangatku.

Cerpen Inikah Takdir Tuhan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Eccedentesiast

Oleh:
‘biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Ungkapkan segala apa yang kurasa dengan kata-kata, supaya tak habis kau baca jka suatu saat kita tak lagi bersama. Sebab ku tau memoriku

Jalan Terbaik

Oleh:
Aku tersadar dari lamunanku ketika mobil melaju dengan cepat dan mencipratkan genangan air di pinggir jalan tepat di sampingku yang tengah berjalan, dan sontak membuatku kaget. “Aaaww.. Pak kalau

Senyuman itu

Oleh:
“Panasnya lapangan hari ini” Ujarku. “Iya nih.” Lanjut seorang cowok di sampingku. Cowok sok tahu, dia adalah Vikron. “Apa sih? nyambung-nyambung aja lu.” Ucapku ketus. “Iya dah, Kha.” Jawabnya

Pertama Kali

Oleh:
Sore itu, hujan datang membasahi bumi. Hujan yang datang cukup besar. Seisi sekolah telah kosong, tapi aku belum dijemput. Aku baru saja selesai dari ekstrakurikuler matematika, pelajaran favoritku sejak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *