Inikah Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 September 2020

Di festival sholawatan
“Ya ampun ganteng banget ya dia” ucap Elisa sambil senyum senyum sendiri. “Kamu suka sama dia ya?” tanya Rifa yang begitu penasaran dengan sikap Elisa yang aneh. “Nggak kok. Aku nggak suka sama dia aku cuma kagum aja sama dia, coba deh kamu lihat kehebatan dia saat tampil tadi.” kata Elisa. “Iya aku lihat kok penampilan dia tadi. Kalau kamu suka sama dia nanti aku bisa bantu kamu biar bisa deket sama dia.” ucapan Rifa membuat Elisa menatapnya dengan wajah berbinar binar. “Iya Rifa aku mau banget bisa kenal sama dia. Tolong kamu bantu aku ya.” ungkap Elisa.

Keesokan harinya Elisa datang ke rumah Rifa, karena ada suatu hal yang ingin Elisa ceritakan pada Rifa. “Rif aku mau dimasukin ke pondok pesantren al-falah sama orangtuaku.” Elisa menangis di pangkuan Rifa. “Kok bisa sih kamu disuruh masuk pondok pesatren itu?” tanya Rifa sembari menenangkan Elisa yang terus menangis. “Kata ibuku, pondok itu bisa memperbaiki perilaku yang buruk.” suara Elisa dengan penuh tangis. “Udah deh kamu yang sabar aja. Mungkin semua ini ada hikmahnya, oh ya aku baru ingat loh kalau misalkan sih Harun itu tinggal di pondok pesatren al-falah.” ucap Rifa menenangkan hati Elisa. “Yang bener kamu Rif? kamu nggak bercanda kan?” tanya Elisa sambil menghapus air matanya. “Iya benar banget. Masa iya aku bohong.” jawab Elisa

Kini Elisa mulai merasa tenang dengan keadaan dia yang harus hidup di pondok pesantren, karena dia sadar jika cowok yang dia suka itu satu pondok sama dia. “Kira-kira dia sekarang ada dimana ya?” tanya Elisa dalam hati. *BRUK* “Aduh sakit banget kakiku.” teriak Elisa kesakitan karena dia jatuh terdorong orang dari belakang. “Aku minta maaf ya, aku bener-bener nggak sengaja. Solanya tadi aku lagi fokus baca buku.” ungkap cowok ganteng yang menabrak Elisa tadi. “Iya nggak apa apa.” jawab Elisa cuek tanpa menoleh ke arah cowok itu. Dari tadi Elisa hanya melihat luka di kakinya yang terbentur batu saat di jatuh tadi. “Sini aku bantu” cowok itu membantu Elisa berdiri. “Nama kamu Harun kan?” tanya Elisa dengan wajah kaget, karena dia tidak mengira yang membuatnya jatuh dan juga menolongnya adalah cowok yang dia suka dan juga dia cari dari tadi. “Iya, kok kamu bisa tau?” Harun balik bertanya pada Elisa. “Waktu ada festival sholawatan aku lihat kamu tampil, dan katanya temenku nama kamu Harun” ucap Elisa. “Oh gitu, ya udah sekarang mendingan kita ngobatin kaki kamu dulu aja.” “Ya udah deh, makasih banyak ya udah bantu aku.” ungkap Elisa.

Semenjak kejadian itu Elisa dan Harun semakin dekat, bahkan mereka sering ngaji bersama di mushola yang terdapat di pondok pesantren al-falah.

“Aku sepertinya cinta deh sama Harun, inikah takdirku? aku bersyukur bisa tinggal di pondok ini, karena bisa dekat dan kenal dengannya.” ucap Elisa pada Rifa melalui telepon. “Coba deh kamu cari tau dia apakah dia udah punya pacar atau belum?” ucap Rifa pada Elisa. “Oke deh Rif, udah dulu ya telponannya.” ucap Elisa.

Elisa janjian ketemu dengan Harun di dekat taman dan Elisa memulai percakapan “Run aku mau tanya sesuatu?” tanya Elisa. “Apa?” Harun begitu penasaran dengan omongan Elisa. “Oh iya Lis aku mau cerita duluan nih sama kamu, jadi kayanya tuh aku masih suka sama mantan pacarku dulu. Menurut kamu aku harus berbuat apa?” tanya Harun. “Oh gitu. Kalau menurutku kamu harus bisa mendekati hati mantan pacar itu.” kata Elisa menasehati Harun. “Oh iya aku mau kembali ke asrama dulu ya, soalnya aku masih ada tugas yang harus kukerjakan.” ungkap Elisa sambil berjalan meninggalkan Harun di taman sendiri.

Elisa menangis di kamarnya yang sepi dan sunyi. Dia terus memikirkan perkataan yang dilontarkan Harun tadi. “Apa salahku? kenapa aku sampai harus merasakan ini.” tangis Elisa tak lagi terbendung kan. “Aku suka sama dia dan kukira dia juga suka sama aku. Tapi apa buktinya selama ini.” ucap Elisa. Malamnya Elisa pergi diam-diam dari pondok pesantren, dia tidak ingin lagi tinggal di pondok pesantren al-falah. Jadi dia sementara tinggal di rumah neneknya, tapi orangtua Elisa tak mengetahui tentang kepergiannya saat itu.

Keesokan paginya Elisa menjadi gosip di pondok, karena sejak semalam tak terlihat. Orangtua Elisa panik dan khawatir dengan keadaan Elisa, tapi syukurlah nenek Elisa akhirnya memberitahu semua tentang Elisa. Harun pun juga kebingungan dengan kepergian Elisa, dia sangat cemas dan bahkan dia rindu jika tak bertemu Elisa. Elisa dan Harun begitu sangat akrab di pondok pesantren, sehingga Harun merasa hampa tanpa Elisa “Sepertinya aku sekarang mulai sering memikirkan Elisa dibandingkan mantan pacarku yang sudah dijodohkan keluarganya itu. Masa iya aku jatuh cinta pada Elisa?” gumam Harun sambil berjalan mondar mandir di depan pintu asrama. Tiba-tiba orangtua Harun datang untuk menjemput Harun, dikarenakan ada acara keluarga.

“Bapak akan kenalkan kamu dan juga bapak akan jodohkan kamu dengan anak teman bapak.” ujar bapak Harun saat di mobil mereka untuk perjalanan pulang. “Siapa namanya pak?” tanya Harun penasaran. “Namanya itu Rantika, dia itu anak dari sahabat bapak waktu SMP dulu.” “Ya sudah Harun terima, mungkin ini memang sudah ditakdirkan.” ucap Harun lirih.

Diwaktu yang bersamaan Elisa sedang makan malam dengan kedua orangtuanya. Kata ibunya, nanti neneknya akan datang ke rumah.
Tok Tok… Tok Tok.. “assalamualaikum.” “Walaaikumsalam. Ayo mari duduk.” ibu mempersilahkan tamunya datang untuk duduk di ruang tamu. “Kamu itu kan” ucap Elisa dan Harun bersamaan. “Apa kalian sudah saling kenal?” tanya ibu Elisa. “Iya, tapi kita tak terlalu akrab.” jawab Elisa. “Nggak apa apa kok, kalian ini kan memang sedang proses pengenalan, karena kalian akan kami jodohkan.” Elisa tercengang begitupun dengan Harun. Elisa tak menyadari jika orangtuanya telah menjodohkan dirinya dengan Harun, yaitu cowok yang dia suka selama ini. Seakan akan takdirnya itu begitu indah dan juga berjalan lancar. Harun pun terlihat bahagia, karena dia telah mulai mencintai Elisa. Dia pun tak nenyadari jika Rantika yang ingin dijodoh oleh bapaknya adalah Elisa Rantika Putri.

“Iya pak aku mau kok.” ucapan Harun membuat hati Elisa berbunga. “Inikah takdirku?” tanya Elisa dalam hati. “Iya pak aku juga mau kok.” jawab Elisa. Jawaban Elisa membuat kedua orangtuanya bahagia.

Cerpen Karangan: Niken Fadilawati
Blog / Facebook: Niken Fadilawati
Namaku Niken Fadilawati, aku lahir di Blitar 05 Agustus 2001. Aku sangat suka menggabungkan kenyataan dengan khayalan gilaku. Aku sangat senang kalau ada yang ingin ku buatkan cerpen, bahkan dari kisah nyatanya.

Cerpen Inikah Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Endorfin

Oleh:
“Sebenarnya Kebahagiaan yang indah itu berasal dari kesedihan yang tulus” Malam ini aku tengah bersandar di atas kursi berwarna biru susu. Pemandangan ingar bingar kota terlihat jelas dari balik

Sepenggal Kisah Itu

Oleh:
Langkah kakiku menapaki koridor kelas XI dengan hati lega, selega siswa-siswi setelah mendengar bel istirahat berbunyi. Di kanan-kiriku, berlalu lalang remaja yang notabene sudah berumur tujuh belas tahun. Raut

Aku, Aby dan Pagi (Part 1)

Oleh:
“selamat pagi dunia” teriakku dengan begitu ceria di atas balkon kamar. Ini hari keduaku menetap di sebuah komplek perumahan, dan aku tinggal sendiri disini. Kulihat sekitar, pohon tumbuh berjajaran,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *