Introvert

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Dosenku baru membagi tugas kelompok untuk makalah tentang Permasalahan seputar Lingkungan Sosial. Aku cukup terkejut dengan siapa aku harus bekerjasama, yaitu dengan cewek paling pendiam di kelas. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Jangankan dekat, menyapa pun belum pernah. Namanya Arini Setyaningsih. Aku tidak tahu dari mana memulainya. Tidak bisa canggung begini, kalau aku tidak ingin nilai mata kuliahku jadi hancur.

“Rin, kapan mau mulai mengerjakan makalahnya?” Rini yang tengah sibuk dengan novelnya tampak terkejut.
“Sekarang juga tidak masalah”. Kupikir dia akan sulit diajak kompromi, tapi nyatanya mudah juga.

Hari pertama, kami berdiskusi tentang persiapan sebelum observasi. Tidak seperti yang telah kudengar, Rini sangat banyak bicara dan terbilang aktif. Aku sama sekali tidak kesulitan untuk mengerjakan tugas ini bersamanya. Semua terasa nyaman, apalagi Rini orang yang cerdas dan cekatan.

“Ada lagi tidak yang perlu dibahas?”
“Dafa, Daf, Dafa?” Aku terlonjak kaget. Aku terlalu fokus memperhatikan wajah Rini, sampai-sampai tidak mendengarkan ucapannya.
“Eh i-iya Rin, ada apa?” Tanyaku gagap.
“Aku tadi bilang ada yang lain yang perlu dibahas tidak, soalnya aku mau pulang. Kan sudah sore”. Rini mengulangi ucapannya.
“Ya, baiklah. Sampai jumpa besok ya”. Aku segera mengakhiri kegugupanku sendiri. Aku segera bangkit dari dudukku dan bergegas meninggalkan taman kampus.

Entah kenapa hatiku tiba-tiba merasakan hal yang aneh. Saat sosok Rini terpikir oleh hatiku, maka jantungku akan berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku terus kepikiran soal Rini. Rasa tertarikku padanya berkembang lebih besar. Aku jadi penasaran tentang gadis seperti apa Rini yang sebenarnya. Hari-hari di kampus jadi sangat aku rindukan. Hanya disanalah aku bisa bertemu Rini. Dan soal kerja kelompok akan jadi alasan terbaik.

“Hari ini observasinya kan?” Aku ingin cepat pergi bersama Rini, walaupun dengan alasan tugas kuliah.
“Iya, ayo pergi”. Tanpa ragu sedikit pun Rini mengiyakan.

Rasa canggung menguasai kami. Sepanjang perjalanan menuju tempat observasi terasa bisu. Aku buru-buru menyetel lagu dari kaset di mobilku. Rini nampak asyik dengan lamunannya sembari menatap pinggiran jalan yang kami lewati.
“Hallo, ada orang disini?” Tegurku berusaha menarik perhatian Rini. Cukup berhasil ternyata, Rini menoleh ke arahku.
“Maaf Daf, aku gak bermaksud…”. Ucap Rini menggantung kalimatnya, tanpa menyelesaikannya.
“No problem. Tapi kita satu kelompok kan, tidak baik diam-diaman begini. Ngomong-ngomong Kamu kok tahu banyak mengenai tempat lokalisasi itu?” Rini terlihat bingung. Lagi-lagi dia terkejut. Apa pertanyaanku aneh baginya.
“Aku baca di internet”. Akhirnya Rini menjawab juga.
“Ouh begitu, hebat ya, kamu telaten banget. Ngomong-ngomong kita belum tukaran nomor telepon. Aku takut kerja kelompok kita tidak berjalan lancar kalau jalan sendiri-sendiri”. Yang sebenarnya aku ingin punya nomor teleponnya saja.
“Aku akan berikan. Sini ponselmu!” Aku segera menyerahkan ponselku.

Ini aneh sekali, aku terus saja memperhatikan Rini di sela-sela konsentrasi mengemudiku. Sebenarnya Rini adalah gadis yang cantik, tapi sepertinya dia tidak suka bergaul dengan orang lain. Di kampus dia tidak punya teman, tapi dia sangat mandiri. Sehingga rasanya terlihat bahwa teman bukan hal pentng baginya. Entah apa, pasti Rini punya alasan untuk ketertutupannya.

“Apa aku bisa menghubungimu kapanpun di luar tugas kita?” Aku memikirkan berulang kali untuk mengucapkan kalimat ini.
“Sebaiknya jangan Daf, kita hanya perlu membahas soal tugas saja”. Sepertinya aku baru saja ditolak. Ah bodohnya aku, begitu cepat yakin bisa dekat dengan Rini.

Observasi berjalan lancar. Kami menemui salah satu perempuan yang berada di sebuah lokalisasi. Perempuan itu sangat ramah. Meski hidup dalam lingkungan yang buruk, nampaknya rasa menghormati tamu masih tertanam dalam dirinya. Ibu Anita sudah meninggalkan dunia kelam yang digelutinya tiga tahun silam. Dia kini hanya menjalankan bisnis rumah makan saja di wilayah itu. Tidak sulit membujuknya menceritakan kehidupan lampaunya. Aku melihat Rini begitu serius dengan observasi ini. Nampaknya dia tidak ingin melewatkan apapun. Bahkan kadang pertanyaan yang diajukannya menjurus terlalu dalam sehingga Ibu Anita kesusahan menjawabnya.

“Apa Ibu punya anak dari hasil pekerjaan di masa lalu Ibu?” Aku rasa ucapan Rini sudah keterlaluan.
“Rin, kayaknya jangan tanya begitu deh”. Aku merasa tidak enak dengan Ibu Anita.
“Gak apa-apa nak Dafa, saya memang mau ceritakan semuanya”. Ibu Anita mencoba bersabar dengan pertanyaan Rini.
“Saya punya anak dari seorang klien. Sejak berusaha membesarkan anak itu, saya mulai meninggalkan kehidupan kelam saya. Tapi sulitnya mendapat pekerjaan membuat saya meninggalkannya di panti asuhan dan sekarang mungkin dia seusia kalian”. Ibu Anita mulai bercerita tentang anaknya.
“Kenapa Ibu tega melakukannya?” Rini terus mencecar Ibu Anita.
“Saya tidak mampu menghidupinya. Akan lebih baik jika dia tidak hidup bersama Ibu seperti saya yang dianggap sampah masyarakat”.
“Apa Ibu sudah melihatnya. Apakah dia baik-baik saja?” Aku semakin merasa aneh dengan ucapan Rini.
“Dia sudah kuliah dan menjalani hidupnya dengan baik. Ibu panti asuhan menjaganya dengan baik. Tapi saya belum melihatnya, setiap saya minta fotonya, Ibu panti asuhan tidak memberikannya. Dia tidak ingin bertemu saya. Mungkin dia malu”. Tiba-tiba Rini menangis setelah Ibu Anita menyelesaikan ungkapan hatinya tentang anaknya.
“Ayo pergi Daf”. Rini langsung menghambur keluar dari rumah Ibu Anita.
“Apa saya berbuat salah?” Ibu Anita merasa bingung dengan sikap Rini.
“Tidak Bu, saya permisi dulu ya, mau menyusul Rini”.
“Iya, hati-hati nak”.
“Terima kasih Bu”.

Rini menangis keras bersandar pintu mobil. Ketika aku masuk, dia berusaha menghapus airmatanya.
“Maaf Dafa”. Ucapnya dengan suara serak. Bukan permintaan maaf, aku lebih ingin mendengar alasannya.
“Apa kamu kenal Ibu Anita Rin, kenapa kamu menangis?”
“Tidak, tidak, dia bukan Ibuku. Aku tidak punya Ibu”. Rini malah bergumam sendiri. Dia meracau tidak jelas maksudnya. Wajahnya terlihat begitu frustasi. Aku mulai menaruh curiga bahwa Ibu Anita ada kaitannya dengan Rini. Dia memang sudah terlihat gusar sejak kami berangkat tadi.
“Aku akan antar kamu pulang”.
Aku mengantarnya pulang. Kupikir Rini tinggal di kos-kosan. Ternyata dia tinggal di sebuah panti asuhan. Setelah mengucapkan maaf dan terima kasih, Rini keluar dari mobilku. Tanpa kalimat sampai jumpa dia segera berlari masuk ke panti asuhan. Rasa penasaranku semakin besar. Aku memutuskan turun dan menemui pemilik panti asuhan. Seorang perempuan paruh baya mengahampiriku setelah menungu lima belas menit. Perempuan ramah yang tidak lain pemilik panti asuhan itu menyambut baik diriku. Namanya Ibu Elina. Aku mulai bertanya soal Rini kepadanya.

“Hidup Rini sangat sulit. Dia begitu tertutup pada siapapun. Semua karena dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dia malu jika ada yang tahu tentang dirinya yang merupakan anak seorang perempuan yang kelam hidupnya. Sudah sejak usia dua tahun dia ditinggalkan. Setiap kali Ibunya kemari, Rini tidak mau menemuinya”. Penjelasan panjang Ibu Elina mulai membuka mataku.
“Siapa nama Ibunya?” Aku takut dengan jawaban yang kudapat. Ibu Elina bilang nama Ibu Rini adalah Anita. Jadi inilah sebab airmata Rini tak berhenti sepanjang hari ini.

Aku sangat khawatir dengan keadaan Rini. Berulangkali aku meneleponnya, tapi dia tidak menjawab. Aku begitu cemas, sampai-sampai aku melakukan hal aneh ini. Rini adalah gadis yang baru saja aku kenal, tapi aku tidak ingin dia sedih. Berulangkali smsku tidak berbalas. Aku tidak menyerah, karena pikiranku masih terus ingin tahu keadaannya.
Kesejukan udara pagi dan segarnya air dingin telah menyapaku. Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Layaknya akan pergi kencan, aku berpakaian serapi mungkin. Bergegas kulajukan mobil ke panti asuhan. Aku bermaksud menjemput Rini. Aku akan menghiburnya dan kami bisa berangkat kuliah bersama.

Sudah hampir dua jam aku memarkir mobilku di depan panti asuhan. Rini tidak keluar juga. Padahal harusnya kami ada kuliah pagi ini. Apakah Rini absen hari ini? Aku segera menelponnya, walaupun kecil kemungkinan dia mengangkatnya.
“Halo Daf, ada apa?” Tak kusangka dia mengangkatnya.
“Aku di depan panti, keluarlah”. Tidak kuberi banyak alasan biar dia penasaran.
Rencanaku berhasil dan Rini keluar dari panti. Aku menyambutnya dengan senyuman selebar mungkin. Dia membalas senyumku, meski terkesan dipaksakan. Masih kulihat sisa-sisa kepedihannya kemarin dari kantung matanya.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Rini tanpa basa-basi.
“Dari dua jam lalu. Aku pikir kita bisa berangkat bersama”. Jujurku pada tujuanku sendiri.
“Jangan kasihani aku Daf, kemarin itu cuma…”.
“Aku sudah tahu, jangan diteruskan. Ayolah Rin, biarkan aku bantu kamu”. Aku tidak tahu bagaimana meyakinkan Rini.
“Kenapa harus kamu Dafa, kita hanya orang asing yang bertemu karena tugas kelompok”.
“Bukan itu, tapi aku memang dipertemukan denganmu dengan alasan apapun itu supaya kamu membuka dirimu”. Aku berusaha meluluhkan pikiran Rini yang begitu kuat.
“Kamu percaya padaku, makanya kamu menunjukkan hal yang kamu anggap kelemahanmu di depanku. Aku mencoba memahaminya, karena aku yakin bisa membuatmu membuka diri untuk mengakuinya”.
“Kamu tidak tahu apapun Daf, jangan ikut campur”.
“Bagaimanapun Ibu adalah surga yang harus kamu rengkuh, meski dirinya sendiri yang menjauh darimu. Dia memikirkan hal terbaik untukmu, meski itu berarti meninggalkanmu”.
“Omong kosong apa yang kamu bicarakan Daf”.
“Aku memang bukan siapa-siapa Rin. Kamu yang menjalaninya. Jadi mana aku tahu kalau kamu menderita, karena kamu tidak mengatakannya. Bukankah Ibumu juga begitu. Kamu menutup dirimu dan membuatnya tidak tahu apa-apa tentang perasaan kamu”. Aku sepertinya sangat kelewatan pada Rini. Aku berucap melebihi batasanku.
“Selesaikan semuanya, hanya itu satu-satunya cara. Jangan berpura-pura tidak terjadi apapun, Rini”. Aku tidak tahu apakah ucapanku akan berpengaruh pada Rini. Teman-temanku bilang, dia punya hati batu. Hidupnya begitu sulit dan kekuatan yang dimilikinya tidak lain hanya dirinya sendiri. Baginya dekat dengan orang lain artinya membuka diri, sementara dia punya hal yang dia anggap memalukan untuk dibagi, yaitu tentang Ibunya yang hidup dalam kekelaman.

“Presentasi yang bagus sekali dari Dafa dan Rini”. Pujian dosenku sangat melambungkan anganku saat ini. Aku dan Rini berhasil menyelesaikannya. Nilai kami adalah yang terbaik. Aku lega sekali, bukan karena nilaiku. Tapi karena Rini menyelesaikan masalahnya. Dia mulai membuka dirinya, dimulai dengan hidup bersama Ibunya. Mereka pindah ke area ruko tak jauh dari rumahku. Ibunya masih membuka rumah makan dan aku selalu dapat jamuan gratis setiap kali kesana. Rasanya menyenangkan saat aku bisa merubahnya.

“Kamu yang membuatku sadar Daf, pentingnya punya teman. Aku punya tempat berbagi saat semua terasa sulit. Terima kasih, Dafa”. Senyum Rini lebar sekali hari ini. Aku tidak lagi melihat guratan gusar di wajahnya. Dia sudah bahagia sekarang.
“Apa aku teman pertamamu?” Aku mulai menggodanya. Ini sangat menyenangkan saat dahinya mulai berkerut merasa terusik oleh ucapanku.
“Pastinya, entahlah kalau lebih dari itu”.
“Jangan menggantungku Rin, aku butuh status”. Dia tak menjawabku, malah menjulurkan lidah meledekku. Lalu berlari meninggalkanku.
Tanpa jawaban atau persetujuan, aku tetap mencintainya.

Cerpen Karangan: Dwi Suprobowati
Facebook: dwi.sarunja[-at-]facebook.com

Cerpen Introvert merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Lembaranku

Oleh:
Mentari menyibak kabut, cahayanya menerobos masuk ke celah-celah jendela. “Kring.. kring.. kring..” suara alarm membangunkanku dari mimpi indahku. Samar-samar aku lihat jarum jam. “Sial aku terlambat,” batinku. Terdengar klakson

Inikah Takdir Tuhan?

Oleh:
Pernahkah kamu jatuh cinta? Beginikah rasanya? Sesakit ini? Oh, Ya Tuhan, mengapa jatuh cinta begitu menyakitkan? Akankah selamanya tetap seperti ini? Ah, aku berharap, aku takkan jatuh cinta lagi,

Pengirim Misteri

Oleh:
Pagi itu mentari bersinar dengan cerah dan sekolahku sudah ramai. Tiba di pintu kelas ternyata di dalam kelas sudah banyak murid yang sudah datang. Namun aku merasa aneh karena

Broken Home Is Test For You

Oleh:
Pagi itu aku di beri tau oleh orang tuaku tentang rencana perceraian mereka. Aku tak tau kenapa mereka mau bercerai… Padahal mereka akur akur saja selama ini “jadi gimana

Nino’s Story

Oleh:
Seperti biasa, Nino menyapa siapa saja yang dia lihat saat akan menuju kelas dengan senyum yang lebar. Dia memang sosok yang ceria dan ramah. Idola di sekolahnya. Sangat sempurna,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Introvert”

  1. Super :’)
    Endingnya juga aku sukaa~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *