Iris (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 20 September 2016

Apa yang akan kalian lakukan, jika seorang wanita berusaha mendekati kalian? Menjauh? Ya, itu mungkin pilihan sebagian besar laki-laki. Termasuk aku. Aku pun tak mengerti mengapa begitu pada awalnya. Tapi yang kutahu sekarang, aku menyesal karena menjauhinya.

Namaku Zaidan, Fairuz Zaidan. Aku memimpin sebuah perusahaan besar. Hari ini aku ada meeting bersama seorang desainer terkenal, Iriana Shiela. Perusahaanku mengadakan kerja sama dengannya untuk produk fashion. Aku sudah melihat banyak rancangannya, dan memang sangat bagus. Hanya rancangannya, bukan perancangnya.

2 jam selama meeting berjalan, aku tak banyak bicara. Aku lebih banyak memperhatikan sang desainer, Shiela. Rambutnya panjang bergelombang. Tidak seperti kebanyakan wanita karier, dia tidak mengecat rambutnya. Warnanya hitam alami. Kulitnya cerah. Wajahnya cantik, yang menurut analisisku, minim make up. Matanya berwarna kecoklatan. Nah, ini yang membuatku terus memperhatikannya. Rasanya mata itu tidak asing bagiku. Aku berusaha mengingat dimana aku pernah melihatnya. Seketika kepalaku terasa sakit. Aku berhenti berusaha mengingatnya dan kembali fokus pada meeting.

Yah, barangkali kalian perlu tahu lebih banyak tentangku. Ayahku pernah bilang, saat aku kelas 1 SMA, aku mengalami kecelakaan yang melibatkan angkutan kota dan bus pariwisata. Jangan tanya, aku memang lebih suka menaiki kendaraan umum.

Ayahku bilang, kepalaku terbentur keras. Aku tidak akan bilang bagaimana keadaan persisnya, kalian tidak akan suka. Yang jelas, aku kehilangan sebagian memoriku. Aku tak ingat sebagian masa laluku. Dan entah mengapa, aku tak merasa terlalu ingin mengingatnya.

Nah, untuk kasus desainer ini, mungkin aku pernah melihatnya sebelum kecelakaan. Entahlah, aku tak ingin mengingatnya.

Sesekali, Shiela menatapku. Ada yang aneh dengan tatapannya itu. Aku tidak mengerti dimana anehnya. Hanya saja, kulihat ada keterkejutan samar yang janggal. Tapi aku tak peduli. Tak mau peduli.

“Baik, meeting selesai. Nona Shiela, 5 bulan cukup, kan?” kata Randy, pemimpin meeting. Kenapa bukan aku yang memimpin? Karena fashion bukan bidangku, bukan bidang Randy juga. Tapi setidaknya dia lebih baik dariku di bidang itu.

Shiela mengangguk. “Lebih dari cukup.”
Baiklah, meeting berakhir. Saatnya makan siang. Kulangkahkan kakiku menuju cafe di samping kantor.

Seseorang menghampiriku saat aku mulai makan. Dia duduk di kursi seberang mejaku. Aku berhenti makan, merasa terganggu. Kuangkat kepalaku untuk mengetahui siapa yang mengganggu makan siangku ini.

Oh ternyata desainer itu. “Anda Iriana Shiela, bukan? Ada yang bisa saya bantu?” aku memulai dengan pertanyaan datar dan tatapan pergilah-dari-sini.
Biasanya, wanita yang kuberi tatapan seperti itu akan langsung salah tingkah dan segera pergi. Tapi tidak dengan wanita yang satu ini.

Aku hampir tersedak ludah sendiri saat Shiela tiba-tiba tersenyum, bukannya pergi.

“Nama anda Fairuz Aidan, bukan?”
Oh, tidak. Percakapan dilanjutkan. Padahal aku sedang sangat tidak ingin
bicara.
Malas-malasan aku mengangguk.

“Kita sedang dalam kerja sama sekarang, Tuan Zaidan. Kita sudah membuat kesepakatan dalam meeting tadi. Apa anda bisa berjanji untuk menepati kesepakatan tadi?” Shiela menatapku curiga.
Keningku berkerut, tapi aku mengangguk. “Tentu saja,” jawabku.
“Apa saya bisa memegang janji anda? Apa anda yakin bisa menepati janji anda?”
“Apa sebenarnya tujuan anda disini? Apa maksud anda menanyakan pertanyaan semacam itu?”
“Tidak ada. Saya hanya tidak yakin dengan janji anda.”
“Apa yang membuat anda tidak yakin? Pernahkah saya berbohong? Saya selalu menepati janji, Nona Shiela.”
“Apa anda yakin? Tidak adakah janji yang anda langgar, Tuan Zaidan?” dia menekan suaranya saat menyebut namaku.
Dan, dengan entengnya kujawab, “Tidak.”
Shiela tertegun. Matanya menatapku terluka.
Aku memutar mata. “Ada masalah lagi, Nona Shiela?” tanyaku cuek.
“Kamu lupa ingatan, Dan?”
Kusahut pertanyaan itu dengan cepat. “Ya.”
Aku sudah terlalu kesal untuk memikirkan suara lirihnya itu, atau perbubahan bahasa yang dia gunakan. Seolah-olah dia sudah lama mengenalku.
Pers*tan. Aku tidak peduli. Aku sudah sering menghadapi tipe wanita seperti ini. Dia sama saja dengan wanita lain yang ingin mendekatiku. Bedanya, dia tidak memakai make up tebal yang norak di wajahnya.
Aku membuka mulut untuk bicara saat suara musik yang terdengar tidak asing tiba-tiba berbunyi. Itu nada dering telepon Shiela. Dia segera merogoh ke dalam tasnya dan mengangkat ponselnya.
Sayang, sebenarnya aku penasaran dengan musik itu. Mudah sekali aku menangkap liriknya. “And I don’t want the world to see me. ‘Cause I don’t think that they’d understand.” 2 baris lirik itu sangat tidak asing.
Sepanjang telepon, Shiela hanya mengatakan kata ‘iya’. Dan kata ‘iya’ pun menjadi penutupnya.

“Maaf, Tuan Zaidan. Ada banyak yang ingin saya bicarakan dengan anda. Tapi sekarang saya harus pergi. Permisi.”
Ya… pergilah sesukamu. Aku tidak peduli.
Dan setelah dia pergi, aku masih memikirkan lagu itu.

And I don’t want the world to see me.
‘Cause I don’t think that they’d understand.

Sangat tidak asing. Aku mencoba mengingatnya. Kapan aku pernah mendengarnya? Dimana? Lalu bayangan-bayangan itu muncul di pikiranku.

Kulihat seorang gadis duduk di bawah naungan pohon. Dia mengenakan seragam SMP. Rambutnya panjang bergelombang, kulitnya cerah. Lalu ada suara musik. Lagu itu. “And I don’t wanth the world to see me. ‘Cause I dont think that they’d understand.”
Kepalaku mulai terasa sakit. Aku berusaha menghentikannya, tapi bayangan itu terus bermunculan.
“Hai, Ris. Lagu itu judulnya apa?” lalu ada suara itu. Aku tidak bisa melihat siapa yang bicara, tapi itu jelas suara laki-laki.
Gadis di bawah pohon itu menengadah. “Zaidan…” gumamnya.
Kepalaku makin terasa sakit saat aku berusaha melihat wajah gadis itu lebih jelas.
“Tidak mungkin lagu itu judulnya Zaidan, itu namaku.” aku tertegun saat mengetahui bahwa yang bicara itu adalah diriku sendiri. Pantas saja aku tidak melihat siapa yang bicara.
“Jadi, apa judulnya?”
“Iris.”

Sudah cukup. Kepalaku terlalu sakit untuk mengingat kenangan itu. Kucoba mengingat tentang ayahku, tentang pekerjaanku, semuanya asalkan jangan masa laluku. Kurasa itu berhasil. Bayangan itu telah hilang dari kepalaku.

Tidak. Aku tidak akan berusaha mengingatnya lagi. Sudah. Cukup.
Kurasa aku harus pulang. Aku butuh tidur. Aku menghubungi sekretarisku dan mengatakan padanya aku pulang lebih cepat agar tidak ada yang mengangguku.
Segera aku terlelap setelah berganti pakaian dan merebahkan diri di ranjang.

Kurasa tidur tidak membuatku merasa lebih baik. Mimpiku tak pernah sekacau ini sebelumnya.
Dalam mimpiku, aku mendengar dua suara bercakap-cakap. Satu suara laki-laki, satu lagi suara perempuan.

“Iris, kamu tahu apa arti namamu?” kata suara laki-laki.
“Tidak,” jawab suara perempuan.
Sekarang aku dapat melihat perempuan itu. Dia gadis yang sama dengan yang ada di memoriku tadi. Pakaiannya juga sama, seragam SMP. Kurasa suara laki-laki tadi adalah suaraku.
Terdengar suara tawa kecil.
“Kenapa tertawa?” tanya si gadis.
“Bagaimana aku bisa tahu lebih dulu tentang namamu…”

Lalu pemandangan berubah menjadi malam hari. Aku melihat seorang gadis yang terlihat sangat kacau berlari ke arah jalanan gelap yang sepi. Lalu kulihat mobil melaju kencang menuju gadis itu. Aku hendak berlari ke arahnya, tapi kakiku tak mau bergerak. Kurasa aku hanya boleh menonton disini.

Kemudian seorang lelaki sebayanya berlari menuju ke arahnya. Laki-laki itu menarik sang gadis menepi tepat sebelum mobil itu menabrak si gadis. Si gadis meronta dalam dekapannya.

“Iris! Kamu cari mati, ya?”
Betapa terkejutnya aku ketika aku sadar bahwa suara yang mengatakan itu tadi adalah suaraku. Ya, itu aku. Dan gadis itu pastilah gadis yang sama. Dan… bisa kusimpulkan namanya adalah Iris.

Iris berteriak dalam tangisnya, “Iya! Iya!!! Aku mau mati! Tak ada lagi yang membutuhkanku. Ayahku sudah meninggal. Ayah sudah pergi… Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Zaidan…” Iris terisak.

Baiklah, kupastikan ini adalah memoriku. Aku ingin tahu lebih banyak lagi, mumpung kepalaku tidak terasa sakit kali ini

Cerpen Karangan: Cintana Hanuun

Cerpen Iris (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Editor Waktu (Part 1)

Oleh:
“Wuis.. cerpen baru Wi?” tanya Sandy teman sebangku Wijaya. “Oh.. bukan, iseng-iseng saja aku membawa cerpen lamaku, ini cerpen yang ku tulis kelas sebelas dulu..” jawab Wijaya sambil memegang

Bertahan Pada Ketidakpastian

Oleh:
Hujan menghampiri mataku malam ini, ya tiba-tiba saja air mata ini mengalir dengan sendirinya. Di kesunyian malam jantung ini berdetak semakin kencang saat aku mengingat itu semua, semua peristiwa

Long Holiday

Oleh:
Aku membuka tirai apartementku. “Uhh sudah pagi rupanya,” kataku sambil mengikat tirai pada sisi jendela. Langit Las Vegas memang favoritku di pagi hari. Huhhh… Hari ini hari pertama libur

See You Soon

Oleh:
Dengan senyum yang tidak mau hilang dari semalam, aku dengan semangat sudah berada di sini. Sekalipun matahari belum muncul, itu tetap tidak menghalangi niatku untuk datang ke sini. Stasiun

Kamu Bisa Bertanya Dua Tahun Lagi

Oleh:
“Sudah berapa lama?” “Tujuh ratus tiga puluh hari yang lalu.” “Terlalu sebentar kedengarannya.” “Baik, enam puluh juta sekian ratus ribu detik?” “Itu terdengar lebih baik.” Ia, laki-laki itu tersenyum.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *