Isi Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 June 2017

Aku menatap gerbang sekolah baruku. Hari ini hari pertamaku di SMA ini sebagai murid pindahan kelas 2. Sekolah yang besar, luas, dan fasilitas yang lengkap. Aku tidak menyangka ayah dan ibu akan memindahkanku ke sini.
“Aku harus belajar yang rajin..!” gumamku mengepalkan tangan.

“Kau yang di sana,” tiba-tiba seseorang memanggilku dari depan. Suara yang berat, seorang laki-laki yang tingginya sepantaranku. Dia memakai seragam sekolah dengan rapi, rambutnya yang hitam, dan tatapan mata yang tajam. Dia tanda ‘KomDis’ di lengannya.
“Y-Ya, saya?” aku terkejut sambil menunjuk diriku. Ketua KomDis??
“Hm… Kartina Arai?” tanyanya tenang.
“Benar, itu nama saya,” ujarku pelan.
“Bel sekolah sudah lewat 5 menit. Walaupun kau ini anak baru, kalau sampai terlambat aku akan menghukummu tanpa ampun,” jelasnya dengan tatapan tajam. “Cepatlah.”
“Ah, iya… Maaf,” dengan segera, aku langsung berlari ke dalam sekolah. Siapa orang itu? Menakutkan… semoga aku tidak bertemu dengannya lagi…

Sampainya di kelas, aku diperkenalkan. Kebetulan guru yang sedang mengajar sekarang adalah wali kelasku, Bu Riska, beliau mengajar IPS. Dan aku mendapat tempat duduk di bagian tengah. Tapi entah kenapa di sampingku kosong, lalu… Sejak aku masuk ke kelas ini, orang-orang menatapku aneh. Apa ada yang salah dengan wajahku?

‘Cklek!’ pintu terbuka. Dan masuklah anak laki-laki yang kutemui tadi.
D-Dia..! Orang menakutkan itu!, pikirku kaget.
“Renza, kamu ke mana saja? Terlambat pelajaran itu tidak baik,” tegur Bu Riska.
“Kewajiban yang tertandai di lengan saya lebih penting. Lagipula nilai saya tidak akan turun hanya karena terlambat begitu saja,” ujarnya dengan ketus.
Hei, memangnya boleh berbicara ke guru seperti itu?, aku semakin kebingungan.
Bu Riska tak bisa lagi berbicara. “Baiklah, baiklah, duduk di tempatmu.”
Dia berjalan ke arah kursinya yang tepat berada di sampingku, SAMPING?! Jadi…. aku sebangku dengannya..? Jadi perasaan tidak enak ini adalah aku sebangku dengannya?
“Apa ini? Bukankah harusnya aku duduk sendiri?” tanya Renza.
“Hanya itu kursi yang tersisa. Kau ini juga jangan sendiri terus,” ujar Bu Riska.
Wajah Renza terlihat kesal. Tapi pada akhirnya, dia duduk. “Apa boleh buat.”

“Jadi… Kau selalu duduk sendiri?” tanyaku.
“Kau berani bicara padaku begitu saja?” dia menatapku dengan tajam lagi.
“E-Eh, maaf…” aku terkejut dan ketakutan. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya…

Waktunya istirahat.
“Ngh… Akhirnya selesai,” aku merenggangkan tubuhku. Tepat saat bel berbunyi, Renza langsung keluar kelas. Buru-buru sekali…
“Kartina! Kartina!” semua anak-anak di kelas langsung menghampiriku.
“Ada apa..?” aku kebingungan.
“Bagaimana rasanya duduk di samping Renza?” tanya salah satu anak laki-laki.
“Kasihan kamu ini… Hari pertama sekolah, dan hidupmu sudah sial. Jadi, Renza adalah Ketua Komite Kedisiplinan. Dia juga sudah hampir menguasai sekolah ini, seakan-akan dia kepala sekolahnya. Hampir semua orang yang ada di sekolah takut padanya. Tapi sepertinya dia tetap menjaga sikapnya terhadap orang yang lebih tua,” jelas seorang perempuan.
“Ya, benar. Sikap kejam dan dinginnya dahsyat. Sekali kau melihat matanya, kau akan mengalami mimpi buruk 7 hari 7 malam!” seru laki-laki lain.
“Apa itu tidak terlalu berlebihan…?” tanyaku ragu.
“Tidak, ini fakta. Pernah ada yang mengalaminya. Jadi, sebaiknya kau berhati-hati untuk tidak melanggar peraturan di depannya. Kami menjelaskan ini demi kebaikanmu,” kata yang lain. “Tak pernah ada yang tau isi hatinya.”
Tapi… apa benar tidak ada hal baik yang dia punya?, pikirku.

Tak lama, bel masuk berbunyi. Aku menghabiskan hari-hariku duduk di samping Renza dengan gugup dan perasaan merinding. Tapi, meski orang-orang mengatakan dia orang yang menyeramkan, dia selalu memperhatikan pelajaran dengan baik. Tanpa terasa, semua ini berjalan begitu cepat. Sudah 3 bulan berlalu, tapi tak ada yang mau bertukar duduk denganku.
Sampai pada akhirnya, hal yang tak kusangka datang juga…

“Untuk menutup pelajaran, ibu akan membagikan kelompok untuk kedepannya. Kali ini satu kelompok hanya dua orang, ya. Jadi langsung saja dengan teman sebangku kalian,” jelas Bu Fitri, guru IPA. “Kalian buat artikel lebih lengkap tentang bab kali ini.”
Aku harus sekelompok dengan orang ini?? Apa jadinya??, pikirku kaget.
“Kita kerjakan di rumahmu,” ujar Renza tiba-tiba. “Oke, kalau begitu hari ini saja, ya. Kutunggu di depan gerbang sekolah, jangan terlambat,” Renza beranjak dari tempat duduk dan keluar kelas.
A-aku bahkan belum bilang apa-apa…, pikirku kebingungan. Orang itu juga seenaknya saja. Apa sih yang dia pikirkan?

Sepulang sekolah, aku langsung menuju gerbang sekolah sesuai dengan yang dikatakan Renza. Sejak pelajaran IPA tadi, entah ke mana dia pergi. Guru-guru juga sepertinya sudah memakluminya karena dia anak yang pintar.
“Renza!” panggilku dari jauh.
“Jangan mengatakan namaku dengan keras,” ucap Renza ketus.
“B-baik…” jawabku ketakutan.

Kami berjalan ke rumahku tanpa berbicara sepatah kata pun. Renza berjalan di depanku, sementara aku di belakangnya. Dia tidak mau aku berjalan di sampingnya karena katanya kami akan terlihat seperti berteman. Orang macam apa itu?

Beberapa saat kemudian, kami sampai di rumahku. Lalu aku bisa mendengar suara orangtuaku berbicara dengan keras. “Ayah dan ibu?” aku menghampiri pintu rumah. Pembicaraan mereka bisa kudengar.
“Apa maksudmu perceraian kita harus dipercepat?!” ibu berteriak.
“Istri baruku akan terlalu lama menunggu kalau kita bercerai saat umur Kartina 20 tahun! Aku sudah memberikannya pendidikan yang pantas di sekolah ternama di daerah ini. Lagipula aku akan tetap mengirimkan kalian uang!” balas ayah.
Pertama kalinya aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu sekeras ini. Selama ini mereka selalu tersenyum di depanku. Atau… mereka seperti ini ketika aku tidak ada.
Ah.. Rasanya mau menangis… Ternyata aku dipindahkan ke sekolah bagus ini karena mereka akan bercerai… Apa aku pantas bahagia..?, pikirku menahan air mata.
‘Tep..’, seketika aku tidak mendengar apapun. Sepeti ada yang menutup telingaku.
Benar juga… Aku lupa ada Renza di sini…
“Maaf, kita pindah saja ke tempat lain,” bisiknya pelan di telingaku. Lalu secepatnya dia menarik tanganku.

Kami pergi ke taman yang tidak jauh dari rumahku. Renza menyuruhku duduk di bangku taman dan pergi.
Kenapa orang itu meninggalkanku..?, pikirku kesal. Tapi tak lama, aku mendengar suara langkah kaki. Dan itu adalah Renza. Dia membawa dua minuman kaleng.
“Kau berhutang satu padaku,” dia melemparkan salah satu minumannya.
“Kalau tidak mau membelikanku sebaiknya tidak usah,” ujarku. “Tapi… terima kasih..”
Dia duduk di sampingku dan meneguk minumannya. “Tadi itu… sering terjadi?” pertanyaan yang tidak kuduga darinya pun kudengar.
“Kenapa tiba-tiba kau peduli?” tanyaku ketus.
“Hm… Entahlah. Jawab saja,”
Aku mendengus kesal. “Sejujurnya itu pertama kalinya. Selama ini kukira keluargaku bahagia, keluarga harmonis, yang tidak pernah ada pertikaian. Tapi setelah mendengar hal tadi, aku mulai berpikir bahwa dari dulu semua itu palsu…”
Renza diam mendengarkan.
“Lagipula, percuma juga aku menceritakan ini padamu. Paling-paling kau hanya ‘masuk telinga kanan, keluar telinga kiri’, kan?” ujarku.
“Tidak juga,”
“Hah?”
Renza menarik napas pendek. “Kita pertama kali bertemu, bebrapa bulan yang lalu. Jarang mengobrol, apalagi bertegur sapa. Meski sebangku kita bahkan tidak pernah akrab.”
“Heh, kau baru menyadarinya?” ketusku.
“Itu adalah hal-hal yang kau pikirkan, bukan?” potongnya.
Aku terkejut. Sejak dulu pastinya aku akan berpikir begitu!
“Tapi, itu bukanlah hal yang kupikirkan. Tak pernah sekalipun terbesit dalam benakku hal seperti itu dari awal kita bertemu. Yang ada hanyalah, ‘Cewek ini terlihat berbeda dari yang lain’, ‘Dia menarik juga’, ‘Aku ingin berkunjung ke rumahnya’, ‘Aku ingin berbicara dengannya’,”
Aku hanya diam kebingungan.
“Yang kupikirkan di rumahmu tadi, ‘Pasti menyakitkan baginya’, ‘Aku tidak mau dia tersakiti’, ‘Apa air minum saja bisa memperbaiki suasana hatinya?’. Mulai dari semua kata-kata itu… tanpa sadar…” Renza menggantung kalimatnya.
“Aku telah jatuh cinta padamu.”
“Ap-apa…” aku gelagapan. Semakin bingung dengan semua yang dia katakan barusan.
“Maaf kalau tatapanku mungkin tajam, tapi sejak dulu wajahku memang seperti itu. Aku juga jarang mengajakmu ngobrol karena gugup. Tidak pernah ada maksud menjauhimu,” jelas Renza memerah.

Dia… ternyata orang yang pemalu? Aku tidak menyangka dia akan begini. Wajahnya yang tadi terliat menakutkan, seketika jadi bercahaya. Pesonanya yang tersembunyi pun akhirnya bebas. Rasa sakit yang tadi kurasakan, seketika telah hilang.
Benar-benar… Aku tidak boleh menilainya begitu saja.

END

Cerpen Karangan: Defsom Anclov
Blog: www.arsyafclover.blogspot.com

Cerpen Isi Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Manis Tiara

Oleh:
Kemarin semua terasa baik-baik saja. gue bangun pagi tapi susah move on dari kasur gara-gara asik main twitter, pulang sekolah gue kalah adu ayam, malamnya gue keluyuran sama temen.

Cinta Masa SMA

Oleh:
Ana menatap layar Handphone miliknya dengan derai air mata. Hatinya sedih dan kecewa membaca sebuah pesan singkat yang dikirim oleh seseorang yang sangat ia kenal. “Bukankah sudah ku peringatkan

2014

Oleh:
Sekian bulan setelah aku bersabar untuk menanti dia, laki-laki itu fajar, orang yang kutunggu untuk kembali di hidupku, namun semuanya terasa begitu semu bahkan tak pernah terbayang di anganku

Penggila

Oleh:
Lelaki itu duduk tak tenang pada batu cadas yang keras, sekeras deru debam kendaraan yang lalu lalang pada mulusnya Pantura yang tak pernah lengang. Sinar mentari pagi yang mulai

Berkah Puasa

Oleh:
Kata orang Bulan Puasa adalah bulan penuh berkah. Aku sangat menikmati hari demi hari, walau terkadang rasa haus dan lapar menyerang. Aku selalu tersenyum ceria. Bulan puasa ini adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *