Isi Surat Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 August 2014

Keinginanku untuk menulis ini berawal ketika aku yang baru saja pulang dari suatu tempat rekreasi bersama teman-temanku. Sebenarnya aku tidak berencana mengajak teman-temanku mampir di rumah, tapi karena kebetulan jalur pulang mereka melewati kawasan rumahku, jadi aku menawarkan mereka mampir untuk sekedar melepas lelah.

Waktu itu, kami datang berpasang-pasangan kecuali ada satu temanku yang tidak membawa kekasihnya. Setelah di rumah, aku mempersilahkan teman-temanku memasuki ruang tamu dan beberapa menit kemudian, aku menyuguhkan kopi dan kue kering kepada mereka walaupun mereka tidak memintanya. Hal seperti ini memang biasa dilakukan orang-orang di kampungku.

Di rumah, karena orangtuaku tidak pernah merusak kebahagiaan anak-anaknya selama itu bersifat positif, aku dan teman-temanku berbicara dan tertawa seenaknya. Lama kelamaan, kami yang semula duduk melingkar dengan kopi dan kue kering di tengah tiba-tiba berubah posisi tanpa kami sadari. Mereka yang berpasangan mencari tempat yang nyaman untuk sekedar berpelukan, aku dan kekasihku serta teman yang tidak membawa kekasihnya hanya terdiam melihat semuanya. Aku bukannya tidak mau melakukan apa yang dilakukan kebanyakan temanku, tapi aku menyadari bahwa ini adalah rumah orangtuaku dan bukan cafe ataupun diskotik.

Cukup lama pemandangan seperti itu terlihat, akhirnya aku memberanikan diri untuk menegur teman-temanku. Di antara mereka, ada yang langsung menanggapi teguranku namun ada juga yang mengabaikannya. Bahkan ada yang dengan tenang berkata kalau apa yang dilakukan adalah suatu hal yang biasa. Mendengar ucapannya, aku merasa sedikit tersinggung. Kulangi teguranku dengan senyuman paksa, namun tidak juga menyadarkannya. Aku yang tersinggung masih menahan emosi sambil melontarkan teguranku untuk yang ketiga kalinya. Tidak juga berhasil menghentikan kelakuannya. “Okay, memang jaman sekarang sebagian besar orang menganggap segalanya serba wajar-wajar saja. Tapi ini rumahku dan ada aturan yang harus dipatuhi oleh setiap orang yang ada disini!!” ucapku dengan nada keras. Ia kemudian bangkit dari duduk dan melepas pelukannya. “Oww, kalau kamu mau ngusir kita-kita dari rumahmu, bukan kayak gini caranya!!” balasnya dengan tatapan mata yang tajam sambil mengajak temanku yang lain untuk pulang. Di satu sisi aku merasa bersalah, karena telah menyinggung perasaan teman-temanku. Tapi di sisi lain aku merasa bahwa tindakanku adalah benar, karena pemandangan seperti itu memang tidak pernah terlihat di rumahku terlebih oleh orangtuaku.

Seperginya teman-temanku dari rumah, aku dipanggil oleh ayahku lalu ia bertanya kepadaku tentang apa yang baru saja aku lakukan. Aku jelaskan semuanya dengan kepala tertunduk. Banyak pertanyaan yang ditanyakan kepadaku sebelum ia bercerita tentang masa lalu yang sangat jauh berbeda dengan jaman yang sedang aku jalani saat ini. Ayah bercerita tentang banyak hal yang telah terjadi pada masanya. Mulai dari hal-hal mistis, permainan, cara berpacaran, sampai pada moral. Ayah terus saja bercerita tentang semua perbedaan yang telihat jelas, namun aku memintanya fokus pada satu hal yang sejujurnya membuatku tertarik. Hal itu adalah cara berpacaran pada jaman ayahku dulu. Ayah memulai ceritanya tentang cara berpacaran pada masanya dulu. Ayah memberikan gambaran dengan menjadikan dirinya dan ibuku sebagai contoh. Katanya, sebelum ia mendapatkan hati ibuku, ia harus bersusah payah mendekati ibuku. Cara mendekatinya pun tidak mudah, setiap hari ia harus menulis surat yang nantinya dikirimkan melalui sahabat terdekat dari ibuku. Meski ia terkadang tidak mendapatkan balasan atas surat yang dikirimkan kepada ibuku, ia tetap mengirimkan surat-surat berikutnya. Ayah terus saja bercerita tentang usaha dan pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan hati ibuku. Sampai suatu hari, ia mendapatkan balasan atas surat yang ia kirimkan kepada ibuku. Sejujurnya, Aku tidak ingin bertanya tentang isi surat yang dikirimkan karena aku merasa bahwa setiap orang memiliki privasi sekalipun dia adalah ayahku. Tapi rasa penasaranku seakan menyuruhku untuk mencari tau tentang isi surat itu. “Yah, kalau boleh aku ingin tau isi surat yang ayah kirimkan kepada ibu sehingga ibu memberi balasan kepada ayah” ucapku sambil tersenyum memotong cerita. Ayah hanya tertawa mendengar ucapanku, dan aku melihat ada sesuatu yang tidak pernah dilupakan oleh keduanya. Wajah ayah terlihat begitu senang dibalut dengan rasa malu untuk mengatakan kepadaku isi surat itu. Ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit rumah seakan membayangkan masa-masa indah itu. Ia tersenyum dan aku sama sekali tidak mengetahui apa yang tersembunyi dibalik senyumannya. “Yah, apa isi surat itu?”, ucapku menyadarkannya. “Oww surat itu, iya surat itu isinya…” jawab ayah terkejut seperti kebingungan. Meski sejenak terdiam, ayah menceritakan tentang isi surat yang dikirimkan kepada ibu. Setelah banyak surat yang ia kirimkan, dan meski ayah yakin kalau semua suratnya dibaca, hanya satu suratlah yang mendapat balasan dari ibuku. Sebelum ayah benar-benar menceritakan isi surat itu, ia menatap wajahku lalu mengalihkan tatapannya kembali ke arah langit-langit rumah. Kali ini ia tidak hanya membayangkan indahnya masa itu, ayah juga menceritakannya dengan penuh penghayatan.

“Telah banyak kata-kata yang kurangkai untuk menjelaskan betapa inginku mendapatkan hatimu, dan semua itu tidaklah berarti jika aku berbicara tentang pengorbanan yang kulakukan. Semua surat yang telah aku kirimkan kepadamu adalah lukisan atas apa yang aku rasakan. Aku tidak pernah memintamu untuk mempercayai setiap kata pada tulisanku dalam surat itu, namun aku berharap jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya setelah membaca isi suratku. Saat ini mungkin kamu dapat melihat bahwa aku bukanlah seorang yang bergelimang harta, bukan juga orang dengan tampang yang sempurna. Aku hanyalah seorang lelaki berbadan kurus dengan kumis jarang-jarang. Tapi yakinlah, akan kulakukan apapun yang bisa aku lakukan untuk mewujudkan segala yang kau impikan. Dan ketika aku tidak mampu mewujudkan impianmu, datanglah lalu bisikkan kepadaku bahwa kau akan menemaniku dalam mewujudkan impianmu. Renungkanlah setiap kata pada suratku ini. Dan ketika kamu telah mengerti maksudku, letakkan suratku ini di sampingmu ketika kau hendak tertidur di malam hari. Lalu saat kau terbangun di pagi hari, ingatlah bahwa aku akan tetap pada pendirianku untuk mendapatkan hatimu dan berusaha untuk mewujudkan setiap impianmu semampuku…”.

Begitulah isi surat yang aku kirimkan kepada ibumu, ucap ayah sambil menarik nafas panjang lalu dihembuskannya kembali untuk melepaskan keromantisan yang kini menjadi kenangan indah untuk mereka. Setelah aku tau isi surat yang ayah kirimkan kepada ibu, entah apa yang membuatku ingin mendengarkan kelanjutan ceritanya. Belum sempat aku katakan kepada ayah untuk melanjutkan ceritanya, tiba-tiba ibu menyuruhku membereskan beberapa gelas dan tupperwear yang tadinya aku gunakan untuk menyuguhkan teman-temanku kopi dan kue kering. Hmmm, rasa penasaranku terhadap kelanjutan cerita ayah harus aku simpan sejenak sampai aku selesai membereskan ruang tamu.

Beberapa menit kemudian, setelah semuanya selesai aku bereskan, aku kembali ke tempat ayahku dan memintanya melanjutkan cerita. Ayah pun melanjutkan ceritanya tanpa bertanya sampai dimana. Mungkin ayah ingin segera mengakhiri cerita indahnya yang tidak akan pernah bisa terulang kembali. Ketika ia mendapatkan balasan dari suratnya, ia merasa bahwa ibu telah menyanggupi semua yang dikatakan. Lalu aku bertanya tentang isi balasan suratnya, namun ia tidak menceritakannya. Ayah hanya mengatakan bahwa suratnya yang mendapat balasan dari ibu adalah surat yang menjadi saksi bisu atas ketulusan ibu kepadanya sekaligus menjadi kekuatan bagi ayah untuk mewujudkan impian mereka selama ini. Surat itu juga yang menjadi alasan kenapa aku dan lima orang saudaraku terlahir ke dunia. Tanpa surat itu, tidak akan ada cinta di antara ayah dan ibu. Tanpa surat itu, tidak akan mungkin aku dan lima saudaraku terlahir di dunia ini. Dan tanpa surat itu aku tidak akan pernah mengerti tentang perbedaan masa lalu yang penuh ketulusan dan pengorbanan dengan masa penuh kebohongan dan kemunafikan yang sedang aku jalani.

Akhirnya, ayah meninggalkanku dengan rasa penasaran akan isi balasan surat dari ibu. Sejak saat itu, hari-hariku selalu dihiasi oleh rasa penasaran itu. Setiap kali aku bertanya kepada ayah, ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Hingga suatu hari, rasa penasaranku berubah menjadi sebuah kesadaran. Aku menyadari bahwa setiap pengorbanan seseorang jika disertai dengan ketulusan dan kejujuran pasangan akan mampu mewujudkan impian yang mustahil sekalipun. Dan yaa, aku membenarkan kesadaranku itu.

Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori
Facebook: Nicky Fals (Untukmu Negeri)

Cerpen Isi Surat Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Senyuman Untuk Kakak

Oleh:
Hari masih siang tapi hujan sudah mengguyur ibu kota, Dania yang baru saja keluar dari kelas tak sempat pulang karena hujan turun begitu deras. Dania mencoba menelepon kakaknya tapi

Jono Dan Sekuntum Bunga Daisy

Oleh:
Asap dari soto panas menghembus muka Jono yang kusam. Dia menyeruput kuahnya dengan hikmat di pojokan. Bisingnya kantin tidak menghalangi keringat Jono untuk menetes dari dahinya. Sendok berisi kuah

Spektrum Ilusi

Oleh:
Terdapat sebuah rasa takjub bercampur iri manakala terpampang cerahnya langit pagi bersama hilir mudiknya koloni burung burung gereja, mereka terbang dengan bebasnya tanpa terbelenggu ikatan adat maupun kepercayaan. Pergi

Salju di Kubutambahan

Oleh:
Tanganmu sedang sibuk merangkai pola berbalut kasih dalam dekapan tanganku. Eratnya peganganmu menyiratkan getir kelemahan meminta perlindungan. Kau menggenggam jari dan menatapku lekat. Aku tak pernah bisa menatap lurus

Toys Can Be

Oleh:
“Apa yang bisa kau harapkan dari sebuah dongeng, Saffron? Kau bahkan seorang perempuan, sering mengompol pula. Ingat! Namamu ‘Saffron’ jadi berpikirlah dengan jernih!” kesal Ron pada adiknya. Yang diomeli

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *