Istriku Bersuami Iblis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 July 2017

Dengan atau tanpa sebatang rok*k yang aku hisap ini, aku tetaplah merasa sepi. Hujan pertama setelah kemarau panjang membuat tanah di halaman berbau khas. Kunikmati tiap jatuhnya air hujan ini sambil duduk di kursi yang biasanya kutempati bersanding dengan Halla, istriku. Istriku yang selalu bersedia mengadukkan secangkir kopi, mengambilkan asbak atau hanya sekedar mendengarkan cerita tentang dunia kerjaku. Sore ini terasa berbeda dimana kopiku terlalu manis karena kubuat sendiri. Aku menggunakan bekas bungkus rok*k ku sebagai asbak pengganti. Kursi di sampingku juga kosong, tempat yang biasanya diisi oleh sesosok wanita pendamping hidupku punya alasan tersendiri.

Sudah dua hari terakhir istriku pergi ke rumah orangtuanya meski dia hanya berpamitan melalui sepucuk surat yang ditulis dengan bahasa halus tetapi aku tahu bahwa ada perasaaan benci, marah terhadapku, dan apatis. Kubaca sekali lagi surat yang dari tadi kugenggam di tangan kiri.

Kepada Arya, Suamiku
Dengan terpaksa mas, aku membawa Bara pergi ke rumah orangtuaku. Aku membawa pakaian untuk kami berdua. Aku juga mengambil uang tabungan sebesar 200 ribu untuk aku jadikan ongkos selama perjalanan. Maaf Mas, aku sengaja tidak membawa HP. Aku mohon mas selama 3 hari ini aku tidak ingin bertemu Mas dulu, jangan jemput aku. Aku terpaksa melakukan ini semua
Istrimu
Halla Prameswari

Selama 5 tahun menikah, ini pertama kalinya istriku berbuat seperti ini. Tidak salah lagi, ini dilakukannya karena merasa terkhianati olehku. Semua amarah istriku beralasan. Istri mana yang tidak tersakiti saat menelepon suaminya di tengah malam karena khawatir, mengira suaminya sedang kelelahan banting tulang di tempat kerjanya. Tetapi ternyata yang mengangkat telepon itu adalah seorang wanita. Wanita Tuna Susila yang sedang mendekap suaminya yang sedang terlelap kelelahan.

Dulu aku adalah sosok penghancur bagi masa depan istriku. Istriku harus meninggalkan bangku sekolah SMA karena mengandung. Aku adalah bapak biologis dari jabang bayi tersebut. Aku menikahi istriku setelah melewati perdebatan panjang antara keluarga kami berdua.
Banyak yang diperdebatkan waktu itu seperti apakah aku meneruskan kuliah yang tinggal beberapa puluh sks lagi ataukah bekerja untuk menafkahi istri dan calon anakku. Orangtuaku yang lebih dari segi materi, ketimbang ibu istriku yang hanya seorang janda tua punya beban moral berat. Meski mereka tercoreng hitam di mukanya olehku tetapi mereka tetap menganggapku anak dengan tetap menanggung nafkah calon keluargaku sampai aku bergelar sarjana.

Istriku halla adalah gadis cantik yang dulu aku kejar kejar dengan banyak saingan. Gadis cantik ini memiliki senyum yang teramat manis, bagiku senyum itu mirip senyuman seekor kucing terlepas entah apakah kucing bisa tersenyum. Selain itu gadis cantik ini sosok yang sangat pemalu, pipinya selalu merona saat kugoda. Aku berani menghantam wajah lelaki yan berani menggoda gadis cantik ini
Aku lupa bujuk rayu, kata cinta apa yang membuatku berhasil mendapatkan hati gadis cantik ini, yang aku tahu pasti adanya bisikan iblis. Sang Pembisik yang membuat kami kelepasan menuruti birahi di suatu malam. Iblis ini pula yang membuatku menuruti ajakannya untuk minum alkohol dan berzina dengan WTS yang sebenarnya tidak memiliki paras seelok istriku.

Kilatan petir yang mengagetkanku dan gemuruhnya yang memecah lamunan panjangku. Kuhisap Rok*kku yang hampir menjadi puntung. Aku masuk ke dalam rumah dengan membawa kopi manisku yang tinggal separuh. Aku bersiap untuk menunaikan sholat Maghrib. Sholat yang kurencanakan bukan hanya untuk memenuhi kewajibanku saja tetapi juga untuk memohon ampunan Tuhanku. Tuhanku adalah Tuhan yang telah siap menghukumku kelak atas dosa zina.

“Nak Arya, Sebenarnya ada apa?” Tanya Ibu mertuaku sambil menaruh secangkir kopi pekat kesukaaanku
Aku yang baru menempuh perjalanan luar kota untuk sampai di rumah mertuaku masih sibuk membenarkan posisi duduk. Pertanyaan ibu mertuaku belum sempat kujawab
“Ibu sudah menanyai Halla tetapi katanya ini urusan keluarga yang tentunya nak Arya sendiri yang berhak memberi tahu ibu”
“Memang bu, saya yang berhak memberi tahu ibu akan tetapi untuk saat ini lebih baik kami berdua menyelesaikannya dulu”
“Halla tadi berpesan ke ibu, kalau nak Arya datang ia tidak bisa menemui kamu sekarang nak”
“Lho kenapa bu”
“Ibu juga tidak tahu nak”

Sebenarnya aku marah tetapi apakah pantas aku marah pada istriku setelah semua ini. Terhitung sudah tiga hari aku tidak bertemu dengannya. Entah kenapa, aku tahu kalau istriku ada di kamar belakang, aku ingin mendatanginya.
Tetapi aku mengurungkan niatku, aku ingin melihat apa yang selanjutnya Halla lakukan. Setelah dua jam, aku pamit pulang ke ibu mertuaku. Aku sudah berada di halaman saat ibu mertuaku menghampiri lagi dan memberikanku 2 lembar uang seratus ribuan dan secarik kertas. Dengan singkat ibu mertuaku menjelaskan bahwa itu surat dari Halla.
Tatapan mataku membuat ibu mertuaku paham bahwa aku tidak menginginkan beliau di dekatku saat membaca surat ini, maka dari itu dengan sendirinya beliau meninggalkanku lagi. Kubuka dan kubaca perlahan.

Aku marah sekali setelah membacanya. Bagaimana tidak isi surat itu, adalah Halla mengembalikan uang tabungan yang tempo hari ia ambil selain itu ia juga minta talaq padaku. Ya, aku marah tetapi juga bingung. Sampai sinikah pernikahanku? Apa kata orang orang yang mencelaku saat aku menikah dulu kalau sampai mengerti aku akan bercerai? Bagaimana nasib istriku? Terutama yang menjadi perhatianku adalah nasib anakku, Bara.

Aku putuskan harus bertemu istriku sekarang juga, dengan kemarahan aku masuk kembali ke rumah mertuaku. Ibu mertuaku yang seakan mengerti mauku langsung menunjuk ke arah kamar belakang. Dengan cepat aku mengetuk kamar itu. Satu kali dua kali kuketuk pintu kamar itu tetap diam tak bergeming. Setelah ketukan ke tiga, pintu kamar itu terbuka perlahan. Semakin jelas bahwa yang berada di balik pintu itu adalah istriku
Kemarahanku semakin memuncak saat kami berdua saling pandang tanpa halangan apapun. Kuangkat tanganku. Kuangkat tanganku dan kututup mataku, maka menangislah aku di depan istriku. Aku menysal berbuat demikian, aku takut kehilanganmu, aku tak akan mengulangi semua ini, tolong jangan minta cerai. Semua itu ingin aku katakan tetapi entah kenapa aku hanya bisa menangis dan menangis.

Aku kaget saat tiba tiba istrikuku memelukku erat erat. Aku hanya bisa membalas pelukan itu dengan tangisan. Aku tahu bahwa istriku tetap milikku. Dan aku berjanji tak akan menyakitinya lagi. Sekarang aku tahu bukan iblis yang melakukan dosa tetapi diriku adalah sosok iblis itu sendiri. Iblis yang sedang menangis lebur di pelukan Halla.

Cerpen Karangan: Wisnu H.A
Facebook: facebook.com/tiga.angkaenam.980

Cerpen Istriku Bersuami Iblis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hati Yang Bergejolak

Oleh:
Praaakk.. suara pecah piring itu terdengar lagi. Entah pecah yang ke berapa kalinya. Mungkin kalau seperti ini terus, piring di dapur bisa habis. Terdengar suara bentakan Bapak pada Ibu,

Kenangan Saat Hujan

Oleh:
Saat ini hujan. Padahal tadi pagi cuaca benar-benar cerah. Tapi beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi, hujan langsung turun dengan derasnya. Seolah tengah menjebakku untuk tetap tinggal. Menjebakmu

Cinta Kasih

Oleh:
Hai gue helsyah, gue gak pernah nyangka kalau gue bakalan jumpa sama cowok yang super keren. Dia ganteng, baik, dia pinter, dan dia juga taat agama. Kurang apalagi coba,

Happy Birthday’s Arum Kamila

Oleh:
Kukira cinta pertama akan selamanya bersamaku. Ternyata aku salah. Bahkan dia menyakitiku. Aku memang membencinya. Tapi aku tak akan menyalahkan wanita sepenuhnya. Mungkin aku yang salah karena mencintainya pada

Ombak Yang Bergelombang

Oleh:
Matahari masih terlihat malu-malu menampakkan wajahnya. Udara pagi yang dingin menyapa Annissa lewat jendela kamar yang telah ia buka. Annissa telah bersiap dengan handuk dan baju ganti di tangannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *