Jalan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 24 January 2013

“Umi itu ingin kamu segera menikah na, kamu kan tau umi ini sudah sering sakit-sakitan.. umi ingin sepeninggalannya umi nanti kamu sudah ada yang menjaga dan membimbingmu.”

Kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang ditelinga Nina, uminya menginginkan dirinya untuk segera menikah, memang di usianya yang sudah menginjak 24 tahun itu sudah saatnya dia untuk menyempurnakan separuh agamanya itu, apalagi dia itu adalah anak satu-satunya. Ayahnya telah meninggal dua tahun yang lalu jatuh dari tangga ketika bekerja sebagai seorang tukang bangunan. Dan ibunya kini sering sakit-sakitan, uminya khawatir jika Allah memanggilnya nanti siapa yang akan menjaga putri semata wayangnya itu.

Gadis bermata jeli itu selalu menangis disetiap selesai melaksanakan shalat tahajud. Permintaan uminya terlalu memojokannya disaat dia sedang fokus pada kuliahnya yang tinggal 2 tahun lagi tapi ibunya memintanya untuk segera menikah. Rencananya ia akan menikah setelah menyelesaikan kuliahnya. Tapi permintaan ibunya itu bukan main-main, bagaimanapun ia harus taat pada ibunya. Ditambah lagi ibunya sering sakit-sakitan.

Jalan Cinta

Di kampus Nina menceritakan apa yang kini tengah di alaminya pada sahabat karibnya. Ririn mendengarkan mendengarkan curhatan Nina dengan penuh haru, ia ingin sekali membantu sahabat karibnya itu namun ia juga bingung harus bagaimana. Ia sesekali mengusap air mata yang keluar dari matanya Nina, ia merasa begitu kasihan sampai-sampai Ririn pun terbawa ikut menangis.

“mmmm aku mau tanya, kalau misalkan ada ikhwan yang datang mengkhitbahmu gimana na, apakah kamu mau” tanya Ririn mencoba untuk memberikan saran.
“aku masih bingung rin, aku gak tau aku harus gimana” ucap Nina yang masih belum bisa memutuskan permasalahannya.
“ya kalau menurut aku seandainya ada ikhwan yang mengajak untuk serius sama kamu, aku rasa gak ada salahnya untuk kamu menerimanya, memang nikah itu tak semudah yang kita bayangkan.. namun apa salahnya jika kau menuruti umimu itu, mungkin Allah punya rencana lain dibalik semua ini” jelas Ririm mencoba untuk meyakinkan Nina.
“ya makasih atas sarannya na, aku akan coba istikharah dulu”
“nah itu lebih bagus… minta sama Allah semoga Allah menunjukan jalan yang terbaik untukmu na, di jalan cinta-Nya”

***

Setelah selesai shalat Nina pun bergegas untuk tidur ia berharap semoga Allah memberikan petunjuk jalan keluar atas permasalahannya dalam mimpi. Kebimbangannya selama ini adalah untuk memilih yang terbaik apakah melanjutkan kuliahnya atau menikah. Karena jika sudah menikah sambil kuliah pastinya repot apalagi jika sudah mempunyai anak. Belum sempat ia memejamkan matanya tiba-tiba ada bunyi sms masuk di handphone nya. Dia penasaran “siapa yang sms malam-malam gini gak biasanya”, lirihnya dalam hati. Setelah diambilnya handphone dari meja belajarnya ternyata sms itu dari Akhi Khaerul orang yang dia kenal ketika sedang mencari kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyah nya Abu Ja’far At-Thahawi di sebuah toko buku disamping kampus kebetulan kitab itu cuma ada satu dan Khaerul lebih dulu mendapatkannya. Namun dengan senang hati ia menawarkan untuk meminjamkannya pada Nina, karena Nina juga sama-sama sedang membutuhkan kitab itu.

“ass… afwan ukhty jika sms ana mengganggu istirahat ukhty, ana hanya ingin mengatakan sesuatu pada ukhty yg tentunya mungkin gak penting bagi ukhty, tapi bagi ana ini penting.. setelah ana mengenal ukhty dari perkenalan kita, maupun dari teman-teman yang kenal dekat dengan ukhty, ana yakin ukhty adalah akhwat yang shalihah. Maka dari itu ana ingin mengajak ukhty untuk menyempurnakan separuh agama ana bersama ukhty, apakah ukhty bersedia?, ana tunggu jawabannya… syukron”.

Seketika wajah Nina memerah setelah membaca sms dari ikhwan yang dikenal sangat pendiam itu, ia tidak percaya apa yang telah dikatakan oleh Khaerul lewat sms nya itu. Apakah ia serius atau tidak…. sebelum membalas sms itu ia shalat istikharah lagi terlebih dahulu, karena mungkin ini petunjuk dari Allah, hanya sekedar meneguhkan hatinya saja dia bangkit dan langsung melaksanakan shalat istikaharah.

Tepat jam sebelas malam setelah selesai dalam melaksanakan shalat istikharahnya dia baru yakin akan jawabannya yang akan diberikan untuk Khaerul, dengan mengucapkan basmallah dia membalas sms itu dan menyatakan bahwa dia bersedia.

***

Lagi-lagi uminya menanyakan hal yang sama pada dirinya, namun kali ini ia punya jawabannya, yang pasti akan menyenangkan hati uminya. Dia menceritakan tentang Khaerul yang menyatakan cintanya pada Nina yang kini mereka berdua tengah menjalani taaruf.

“umi senang jika kamu sudah punya calon pendamping, lantas kapan Si erul akan datang melamarmu na?” tanya uminya.
“Khaerul umi bukan erul” Perotes Nina.
“iya khaerul, lha wong Cuma beda dikit aja ko”
“iya deh terserah umi aja… dia bilang sebulan lagi umi setelah dia selesai mengajukan proposal untuk skripsinya”.
“oh ya udah asalkan jangan lama-lama aja, siapapun orangnya semoga dia bisa menjadi pemimpin yang baik dan mampu membimbingmu na”
“iya umi, aamiin insya Allah…”

Setelah uminya tahu bahwa ia sudah punya calon pendamping, uminya sedikit lega, ia tidak begitu khawatir jika kelak Allah memanggilnya. Begitupun dengan Nina, ia sudah bisa bernafas lega sekarang, karena sudah menuruti kemauan uminya itu, tinggal sekarang semua keputusannya sepenuhnya ada pada Khaerul. Ia percaya bahwa Khaerul adalah ikhwan yang baik, shaleh dan bertanggung jawab. Yang paling membuat Nina bahagia adalah setelah menikah Khaerul mengizinkannya untuk melanjutkan kuliahnya itu. Ternyata Inilah jalan cinta Allah untuknya.

Cerpen Karangan: Yusuf Al H.
Facebook: facebook.com/alfiansyahtakanpernahmenyerah

Cerpen Jalan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Renungan “NASIB”

Oleh:
25 tahun yang lalu, Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun

Mungkinkah Dia Jodohku?

Oleh:
Aku berjalan kaki menuju tempat biasa aku santai dan bersenda gurau dengan alam dan suasana merdu angin di dekat sawah ujung desa dekat pemandian hangat, perjalanan kesana hanya memakan

Kata Kata Bintang

Oleh:
Apakah kau pernah merasakan? Saat kau ingin berteriak tapi kau tau tak seorang pun di dunia ini kan mendengar… Saat kau ingin bercerita tapi kau tau rasanya seperti tertahan

Adira

Oleh:
“Untuk apa kamu masih berteman dengan orang gila seperti dia? Apa harus aku berkata padanya agar dia menjauhimu?” Plakk!!! Spontan saja tanganku mendarat di pipinya. Seperti tersambar, terguncang hebat.

White or Black?

Oleh:
“Yaraaaa… Cepat dikit dong! Udah jam tujuh kurang lima belas nih! Ntar telat!” Perkenalkan namaku Trisha Chiara biasa dipanggil Icha dan yang tadi kupanggil itu adalah Yara, dia adikku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *