Jangan Cintai Aku Karena Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 August 2015

Wanda masih saja memandang sebuah foto yang terpampang di layar handphonenya itu sambil senyum-senyum sendiri. Sampai-sampai ia tak melihat ada Fathir yang sedari tadi melihatnya dengan aneh.
“Kamu kenapa Wan, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Fathir yang tak bisa menahan rasa penasarannya melihat tingkah temannya yang aneh itu.
“Eh, Kak Fathir.” Katanya dengan sedikit kaget. Fathir adalah kakak seniornya di kampus yang baru saja ia masuki. “Ga apa-apa kok kak. Cuma lagi liatin foto-foto masa lalu.” Jawabnya dengan tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar Handphone itu.
“Foto cowoknya ya?”
“Ya bukanlah kak.”
“Terus…?”
“Foto-fotoku waktu SMA dulu. Sama teman-teman asrama.”
“Coba liat!” fathir pun mengambil Handphone itu dari tangan Wanda.
Dilihatnya foto yang terpampang begitu narsis di layar handphone itu. Ditelusurinya satu persatu orang-orang yang berada di foto itu. Dan Oh No… fathir terkejut begitu melihat seseorang yang berada di layar itu.
“Kenapa kak?” tanya Wanda yang juga ikut kaget melihat ekspresi Fathir.
“Ini siapa Wan?” tanyanya dengan memperlihatkan orang yang telah membuatnya terkejut itu.
“Dia adikku kak. Teman asramaku. Kenapa?”
“Dia… dia mirip sama mantanku yang sering aku ceritakan sama kamu itu.”
“Oh ya…? masa sih kak?”
“Iya. Dengan melihatnya, seperti aku melihat Eva.” Jawabnya dengan lirih.
Wanda hanya terdiam mendengar perkataan cowok yang di hadapannya itu. Ia tau betul kalau cowok itu sangat menyayangi Eva, mantan kekasihnya. Yang tanpa sebab meninggalkan Fathir hingga membuat ia Galau berkepanjangan.
Dan bahkan ia sudah tidak menghiraukan Band kecil yang didirikannya bersama teman-teman kampusnya yang mereka beri nama “D’ Fanders”. Teman-temannya sangat khawatir dengan keadaannya yang seperti itu. Bukan hanya Band nya yang terbengkalai, tapi juga kuliahnya.
“Kalau kamu ga percaya, ini alamat Facebooknya.” Kata Fathir yang tetap dalam pendiriannya bahwa gadis di Handphone milik Wanda itu memang mirip dengan Eva, mantannya.
Wanda menulis alamat Facebook itu di pencarian lewat facebooknya. Tak lama kemudian, loading pun berhenti dan memperlihatkan sebuah foto gadis berkerudung seragam cream. Wanda tak dapat berkomentar apa-apa lagi melihat foto itu. Ia terus memperhatikan gadis di foto itu dengan sangat teliti. Sebenarnya letak kemiripannya terletak dimana sih?
“Gimana, mirip ga?” tanya Fathir menghampiri Wanda yang masih diam seribu bahasa.
Wanda menjawabnya lewat anggukan kepalanya. Berharap Fathir bisa menangkap jawaban lewat bahasa isyaratnya itu. Akhirnya senyum terukir di bibir vokalis itu. Wanda masih saja memandangi foto gadis itu sementara fathir sudah pergi meninggalkannya.
“Emang ia sich, kamu agak mirip sama sahabatku.” Ujar Wanda sambil memandangi gadis itu.

Hampir setiap malam, Wanda selalu mendengarkan Fathir yang ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Walaupun Fathir belum mengenalnya, tapi ia sangat berantusias untuk dekat dengannya.
“Ran, coba deh liat. Tebak, ini foto siapa?” tanya Wanda pada Kiran.
“Ya mana aku tau.” Jawabnya cuek.
“Ini foto kamu.”
“Hah, Bukan. Kapan coba aku foto kayak gitu.” Katanya mengelak.
“Hehe… emang ini bukan foto kamu sih.”
“Yeeee… trus kenapa tadi bilang itu fotoku? Eh iya, trus itu fotonya siapa?”
“Jadi gini ceritanya. Aku punya temen di kampusku, dia seniorku namanya kak Fathir. Dia selalu curhat tentang mantannya yang ninggalin dia tanpa alasan. Karena itu, dia jadi ga karuan. O ya, dia juga punya Band di kampusku. Tapi semenjak ditinggal Eva, dia jadi ga mikirin Bandnya bahkan dia jadi ga fokus kuliah. Dan kemaren, ga sengaja dia liat fotomu di Hp ku. Kata dia, kamu mirip sama Eva, mantannya. Dan sekarang dia mau kenalan sama kamu.” Jelas Wanda panjang lebar. Kiran sangat serius mendengarkan cerita dari sahabatnya itu.
“Tapi aku kan bukan mantannya itu. Dan menurutku, kita ga sama.” Kiran menentang, ia disamakan dengan gadis bernama Eva itu.
“Emang, kamu bukan Eva. tapi kalo menurutku kalian agak mirip.”
“Pokoknya nggak…!”
“Yah, terserah kamu deh. Yang penting kamu mau ya kenalan sama dia?”
“Kenapa aku harus mau?”
“Aku udah janji sama kak Fathir untuk ngedeketin dia sama kamu. Dan dia tuh baik banget sama aku. Jadi kamu mau ya kenalan sama kak Fathir?” pinta Wanda.
Kiran masih diam seribu bahasa. Ia memutar keras otaknya untuk menemukan jawaban yang akan ia ambil. Jawaban apa yang akan ia katakan pada Wanda, sahabatnya. Dari dulu ia memang tidak bisa menolak permintaan Wanda.
“Iya deh aku mau.” jawabnya terpaksa.
Wanda kegirangan mendengar jawaban sahabatnya itu, walaupun kenyataannya Kiran terpaksa.

Dua bulan kemudian…
Pagi itu para osis sedang sibuk menyiapkan tempat di Aula. Beberapa Mahasiswa juga sedang sibuk memepersiapkan segala sesuatunya. Kiran dan kedua sahabatnya Ifi dan Ifa bergegas menuju Laboratorium sekolah. Karena semua teman-temannya sudah menuju Lab untuk melaksanakan ulangan harian. Langkah mereka terhenti seketika ketika ada seseorang yang memanggil Kiran.
“Bak Wanda…” sapa Kiran menoleh ke arah Wanda yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
“Hei… kalian mau ke Lab ya?” tanyanya.
“Iya. Mbak Wanda gimana kabarnya?” tanya Ifa dan Ifi hampir bersamaan.
“Alhamdulillah baik. Kalian sendiri?”
“Baik juga kok mbak.” Serentak mereka menjawab.
“O yah Ran, ada yang mau ketemu sama kamu.”
“Siapa?” tanya Kiran penasaran.
“Kak Fathir.”
Kiran terdiam. Ia tak berkomentar apapun.
“Ayok!” ajak Wanda pada Kiran. Namun Kiran bersikeras menolaknya, akhirnya Wanda berhenti memaksanya.
Fathir yang masih menunggu kedatangan Wanda, berharap bukan hanya Wanda saja yang datang padanya melainkan Kiran yang dianggapnya mirip dengan mantan kekasihnya itu juga bersedia menghampirinya kala itu. Tapi dia harus kecewa karena Wanda datang seorang diri. Setelah Wanda menjelaskan semuanya, Fathir pun mengerti.

Usaha Fathir tidak berhenti disitu saja. Ia terus mendekati Kiran. Dan pada suatu malam, ia melephone Kiran.
“Lagi apa Ran?” tanya suara dari seberang.
“Lagi buat cerpen kak.” Jawabnya sedikit cuek.
“Owh… suka buat cerpen ya?”
“Iya.”
“Berarti kakak ganggu kamu donk?”
“Ga juga.”
“O ya Ran, ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“Loh, dari tadi kan kakak emang udah ngomong.”
“He he… kamu bisa aja. Maksud kakak ini penting.”
“Ya ngomong aja kak”
“Ran, dari pertama aku liat kamu. Aku udah suka sama kamu. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Tapi itulah yang aku rasain. kamu mau ga jadi pacar kakak?” tanyanya dengan suara gugup.
Suasana saat itu menjadi hening. Hanya ada hembusan nafas. Dengan perasaan gelisah, Fathir menunggu jawaban Kiran.
“Gimana Ran, kamu mau apa ga?” tanyanya lagi.
“Emzt… sebelumnya maaf kak. Aku ga bisa jadi pacar kakak. Selain aku ga cinta. Aku juga ga suka cowok yang ga tulus.” Jawaban Kiran cukup membuat Fathir kecewa.
“Maksud kamu ga tulus gimana?”
“Kakak suka sama aku karena kakak ngira kalau aku mirip sama mantan kakak, kan?”
Tidak ada jawaban dari seberang. Suasana kembali hening seperti sebelum Kiran menjawab perasaan Fathir.
“Itu dulu. Tapi sekarang aku benar-benar cinta sama kamu sebagai Kiran.” Jawabnya.
“Udahlah kak. Lebih baik kita jadi temen aja. Aku udah nganggep kakak seperti kakakku sendiri. Aku harap kakak ngerti dan bisa anerima keputusanku.”
“Ya udah, kalo itu emang mau kamu. Aku minta maaf karena udah suka sama kamu. Ya udah mulai sekarang, kita temenan.”
“Makasih ya kak, karena udah ngertiin aku.”
“Iya. Sama-sama.” Jawabnya, yang sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka malam itu.

Sejak kejadian itu, fathir sudah tidak sesering dulu menghubungi Kiran. Dan lambat laun mereka jadi putus komunikasi. Namun, teman-teman Fathir bergantian menghubungi Kiran atas penolakannya pada Fathir.
Salah satu dari mereka ada juga yang sempat menyalahkan Kiran, karena sejak kejadian itu, Fathir kemabli seperti dulu lagi, seperti saat dia ditinggal oleh Eva. Ia jadi tidak menghiraukan teman-temannya lagi. Bahkan Wanda pun juga sempat menyalahkan Kiran. Ada sedikit penyesalan di hati Kiran. Tapi apa boleh buat. Dia memang tidak mencintai Fathir.

Setelah beberapa bulan lamanya…
Wanda memberitahukan bahwa Fathir sekarang sudah bisa move on darinya. Sedikit lega rasanya mendengar berita itu. Ia senang akhirnya cowok yang dahulu sempat dekat dengannya itu akhirnya bisa move on darinya. Wanda juga memberitahukan kalau sekarang Fathir sudah kembali lagi pada Band kampusnya seperti dulu. Dan ia membingkis kenangan itu lewat sebuah lagu yang ia ciptakan sendiri yang berjudul…

“Seandainya”

Biarkan aku mencintaimu
Sepenuh hatiku dalam hidupku
Bayang-bayangmu selalu menghantuiku
Terukir namamu dalam hatiku
Biarkan kubawa rasa ini tuk pergi jauh
Sampai akhir nanti…

Seandainya dirimu terima cintaku
Kan ku buat dirimu bahgaia selalu
Salahkah aku bila diriku
Oh mencintaimu…

The End

Cerpen Karangan: Alief Dealova
Facebook: Alief Dealova
Gadis pecinta warna coklat ini suka menulis sejak ia duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Awalnya, ia hanya menuliskan semua inspirasinya lewat sebuah kertas yang hanya dibaca oleh teman-temannya. Saat ini ia mengenyam dunia pendidikannya di sebuah sekolah islam di Bondowoso. MAN Bondowoso
Alief Dealova

Cerpen Jangan Cintai Aku Karena Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik “Cadar”

Oleh:
Aku Nurul, Nurul Azkiya (Cahaya bagi orang yang bersih hatinya) itulah nama lengkap pemberian Abah dan Ummiku. Aku tumbuh dan besar dalam lingkungan “Aktifis Dakwah”, Abah dan Ummi sering

Teman Tak Sejahat Cinta

Oleh:
Gradak… suara keras yang membangunkan keheningan alam bawah sadarku untuk beralih kembali seperti semula. Seketika kubuka mata yang beberapa jam tertutup karena letih yang membawaku untuk menelentangkan badan di

Tak Seindah Harapan (Part 2)

Oleh:
Aku berjalan menuju ke kelas sambil tersenyum-senyum, tanpa aku sadari temanku Lusi sudah berada di sebelahku dan berkata “Ciiieee… Ciieee… Hahaha…”, Aku kaget dan berkata “Haaa? Maksuudddnya? Kamu nggak

Cinta Kasih

Oleh:
Hai gue helsyah, gue gak pernah nyangka kalau gue bakalan jumpa sama cowok yang super keren. Dia ganteng, baik, dia pinter, dan dia juga taat agama. Kurang apalagi coba,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *