Jangan Panggil Aku Meme

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 August 2013

Seperti biasa, di pagi hari aku sangat susah untuk di bangunkan. Walaupun aku sudah pasang alarm dan juga teriakan mama yang super kencang. Tetap saja aku susah untuk bangun, tapi ada satu yang membuatku bangun seketika dan ini adalah salah satu jurus andalan mama.
“MEME…! bangun!”
“jangan panggil aku dengan nama itu lagi…!” teriakku seraya menutupi kepalaku dengan bantal
“makanya ayo bangun ini sudah jam 6, kamu nanti terlambat sekolah” ibu menarik-narik selimutku dan juga aku untuk segera turun dari tempat tidur.
Huuuuuaaaaapppp! Aku menguap seenakku.

Oh iya perkenalkan aku Maylika Genta Ayun, aku sendiri juga bingung kenapa namaku begitu aneh menurut telingaku tapi anehnya kata teman-teman namaku keren. Teman-temanku sering memanggilku Genta, aneh terdengar nama seorang cowo. Tapi tak apa nama itu do’a ya mudah-mudahhan do’anya bagus.

“ta, pak Imam sakit kamu ke sekolah naik taksi aja ya…” kata mama
Mamaku memang single parent, dari mulai kerja ngurus keperluanku ya mama. Aku sangat bangga dengan mamaku bagiku mama itu wonder women. Beberapa kali aku bertanya kenapa mama tidak mencari pendamping hidup dia selalu menjawab.
“mama tidak mau membagi sayang ini untuk siapapun ta, mama akan menyayangi kamu tanpa membaginya dengan siapapun”
Mama ku masih sangat cantik umurnya baru 38 tahun, teman-teman cowoku pun sering menggoda saat mama menjemputku sekolah. Kata mereka..
“genta, cantik banget mama mu… kamu kalah saing tau”
Sebenarnya aku kesal sih, tapi memang mamaku cantik jadi aku cuek saja. Bangga saja punya mama cantik dan juga gaul. Mama juga gak kecentilan gak kaya tante-tante yang lain.

“Genta…!” teriak salah seorang temanku “tunggu…!”
“baru datang juga sin?”
Ini temanku Sinta, kalau soal wajah body jangan di tanya dia model majalah ternama. Soal pacar apalagi cowoknya seorang dokter muda lulusan Amerika. Hah kadang gue iri dengan Sinta.
“nanti pulang sekolah lo ikut gue ya.. ya” rengek Sinta
“boleh kebtulan aku gak ada yang jemput. Tapi nanti lo traktir gue makan yaaa?!
“beres, kita shopping-shopping nanti”
“aku belum di kasih uang jajan sama mama sin…?!”
“udah soal uang gampang, pokok kamu ikut aja…” Sinta menggandengku lalu mengajakku ke dalam kelas.

Ya begini suasana di dalam kelas selalu ramai, ada saja yang jadi bahan keributan. Apa lagi ada Maman, anak paling kocak satu kelas. Kata teman-teman dia mirip komedian Sule, jadi mereka menjuluki Maman anaknya Kang Sule. Lucu banget…

“me, ke kantin yuk?” terdengar suara yang sangat membuat kupingku panas.
“siapa Sin yang di panggil ma me ma me dari tadi?”
“itu si Diana..”
“heeehhh sejak kapan namanya berubah dari Diana Franklin jadi meme?”
“lo kenapa sewot banget sih ta, kalau ada orang sebutin nama MEME” Sinta mendekatkan wajahnya “itu panggilan sayang dari Aldo buat dia kan mereka udah jadian “
Setan apa yang telah merasuki tubuhku
BRAAAKKK aku pukul meja Aldo sekuat tenagaku “sekali lagi lo panggil MEME lagi sampe ke telingaku, habis lo!”
mataku membelalak rasanya semua terulang kembali, dan aku sangat membenci nama MEME. Di sekolah ini sudah puluhan orang yang aku maki-maki dan aku hajar gara-gara mereka memanggilku MEME. Bahkan berulang kali aku harus berurusan dengan guru BK. Kata guru BK ku.
“Genta apa salahnya kalau mereka memanggilmu dengan nama MEME bukankan nama itu masih berkaitan dengan namamu Maylika, Meme masih nyambung apa lagi dengan wajahmu yang baby face pantas jika namamu Meme”
Di saat seperti ini aku hanya bisa diam, diam dan diam. Meski sebenarnya banyak hal yang ingin aku utarakan karena nama itu.

“Aldo maaf ya, tapi aku mohon jangan bilang Meme lagi ya kalau ada Genta” Sinta mencoba memberi pengertian pada Aldo
“ya Sin, aku tadi juga lupa kalau ada Genta” Ado bangkit dari tempat duduk lalu menghampiriku di depan kelas
“Ta, maaf ya…” Aldo mengulurkan tangannya “aku nggak bermaksud buat..”
“ya Al, gak apa-apa maaf aku udah keterlaluan”

“ta, mama denger kamu tadi hampir bikin ribut lagi ya dengan teman sekelas mu?”
“pasti Sinta ya yang kasih tahu mama?” aku manyun saja
“gak penting yang kasih tahu Mama siapa, tapi mbok ya sudak gitu lo ta. Gak apa-apa kan kamu di panggil Meme lagi pula kejadian itu sudah lama banget?”
Aku termenung sejenak mendengarkan kata-kata mama. Memang ada benarnya juga kejadian itu sudah lama. Tapi…
“tetap saja itu menyakitkan mama, pokoknya ya aku tetap benci dengan nama Meme dan aku gak mau ada orang manggil aku dengan nama Meme titik!” aku meletakkan sendokku dan berlari ke kamarku.
Sebenarnya kejadian seperti ini sudah tidak satu dua kali terjadi tapi sudah puluhan kali sejak aku duduk di bangku SMA. Rasanya aku malu dengan teman-temanku tapi entah ini rasa egoisku yang terlalu tinggi atau bahkan mungkin rasa ini gak bisa hilang sampai aku mati nanti.

“mau cari Mey?” seorang anak cowok masuk ke dalam kelasku
“oh Genta, itu anaknya lagi duduk di dekat cendel belakang” Ani salah satu temanku menunjuk ke arahku
“Genta, ada yang nyari!”
Aku langsung bangkit dari lamunanku, aku memang jarang keluar kelas di saat jam istirahat seperti ini aku lebih memilih untuk di kelas sambil memandangi langit, ya memang kelasku berada di lantai dua jadi lebih nyaman kalau lagi galau-galau gitu deh,
“Mey,”
“bukan aku Genta,” aku berlagak super jutek apalagi saat cowok itu memanggilku dengan nama Mey
“owh iya lupa aku, kamu paling gak suka di panggil mey atau MEME ya,” cowok itu tertawa
“heemmm, ada apa gak usah bertele-tele aku lagi sibuk ini!”
Tiba-tiba anak cowo itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, “ini KTP kamu kan?”
“eh lo nyolong dimana?” bentakku sambil aku ambil KTP itu dari tangan cowo yang super rese tapi ya lumayan keren lah, bukan lumayan tapi keren sih hahahaha
“bagus ini KTP aku temuin, kalau nggak mungkin udah kesapu tukang bersih-bersih”
Ah aku baru inget, kemarin pas aku ke perpustakaan. Mungkin jatuh waktu aku masukkan ke dalam tas.
“Ta, kenapa lo gak mau di panggil mey sih? padahal nam itu cocok banget loh sama kamu?”
“apa urusannya sama loe?” jawabku ketus.
Tanpa berkata apa-apa cowo itu ninggalin aku gitu aja. Siapa sebenarnya cowok itu,?

Entah kenapa sejak kejadian satu Minggu yang lalu, kini aku dan Rehan malah semakin akrab. Dia sering menggodaku dengan memanggilku Meme, kadang aku suka dengan panggilan itu. Sering aku berdebat dengan hatiku sendiri, antara aku memang suka dengan panggilan Rehan dan rasa kecewa tiga tahun yang lalu.
“Genta!” panggil seseorang dari sudut lorong sekolah
Ah, Rehan.
“apa Rey?” aku menghentikan langkahku
“lo mau langsung pulang?”
“iya lah emang mau kemana?”
“keluar sebentar yuk, temenin aku jalan-jalan?” Rehan memohon kepadaku.
Dan aku mengagguk tanda jika aku setuju dengan permintaan Rehan. Entah mengapa saat Rehan menggandeng tanganku menuju mobilnya, ada rasa bahagia yang lama gak pernah aku rasakan.

Perjalan 15 menit, dan kita sampai di mall. Tadi kami sepakat untuk makan siang dulu, sebelum akhirnya kita jalan-jalan, muter-muter gak tentu.
“Rey sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku jengkel
“aku mau ketemu seseorang” jawab Rey
“cewek?” entah mengapa pertanyaan itu begitu saja terlontar di mulutku. Ingin rasanya aku menampar mulutku sendiri.
Tapi Rehan hanya diam lalu, seorang cewek berambut pirang berperawakan indo Belanda menghampiri kami berdua.
Hah, hatiku rasanya panas banget. Apa lagi mereka begitu akrab,
“eh sampai lupa, ini temanku Genta” Rehan memperkenalkan ku dengan cewe itu
“Nadia,” sebuah senyum tergambar di bibir cewe itu.
Siapa sebenarnya dia, pacar Rehan. Kenapa Rehan jahat, kenapa dia mengajakku jika dia hanya ingin bertemu dengan kekasihnya. Apa dia tidak melihatku di sini, apa Rehan buta?

Lama mereka berbincang-bincang aku memutuskan untuk pulang duluan. Dan apa Rehan mengiyainya, apa-apa’an ini aku hanya dianggap kambing congek. Keterlaluan Rehan ini.

Di rumah, entah kenapa aku jadi males mau ngapa-ngapain. Dan tiba-tiba butiran bening itu keluar dari mataku. Kenapa? kenapa aku menangis? ku lihat beberapa pesan serta panggilan tak terjawab dari Rehan. Mungkin dia khawatir atau juga hanya ingin pamer tadi mesra-mesraan dengan cewe yang namanya Nadia. Dan sengaja kini hp ku, aku matikan.
“ta, makan yuk. Kata bi yun kamu belum makan dari pulang sekolah?” mama mengelus rambutku.
“Genta males ma, Genta minum susu aja” aku membenanmkan wajahku ke dalam bantal.
“kenapa anak mama kok gak biasanya gini, cerita sama mama”
“ahh, mama Genta gak apa-apa?”
“jangan-jangan gara-gara cowo yang kamu suka banget manggil kamu Meme itu ya?” tanya mama sambil cekikikan.
“ih mama apa’an, gak-gak. Udah mama keluar nanti aku nyusul” aku mendorong mama keluar kamarku dan mama tetap cekikikan melihat ekspresiku.
“ma rasanya kaya apa sih kalau orang sedang jatuh cinta?”
Mama tersenyum “ya seperti apa yang sedang kamu rasakan, apa kamu lupa saat kamu mencintai… “mama tidak meneruskan kata-katanya.

Aku bangkit dari kursi lalu, pergi ke taman belakang di ikuti mamaku.
Di situ aku banyak merenung dengan mama, banyak hal yang aku fikirkan. Dari Mulai Rehan sampai ke masa laluku. Masa lalu yang indah dan tidak harus aku kenang aku sangat membenci masa laluku. Berkali-kali aku menyeka air mataku berkali-kali pula mama memelukku. Mama tahu apa yang aku rasakan begitu juga aku, aku tahu mama sangat menyayangiku. Apa lagi setelah 3 tahun lalu papa meninggalkan kami berdua demi wanita lain, semenjak saat itu aku tidak pernah menganggap aku punya seorang ayah. Dan yang membuat aku semakin sakit hati wanita itu adalah ibu dari orang yang sangat aku sayang, kak Geo pacarku sejak kelas 6 SD. Dan itu juga alasanku kenapa aku sama sekali benci dengan panggilan Meme, panggilan meme adalah panggilan sayang kak Geo untukku. Sejak kejadian itu aku tidak mau tahu lagi tentang Ayah dan kak Geo. Tapi entah kenapa kini aku mulai suka dengan panggilan itu, apalagi yang memanggil Rehan. Aku takut jatuh cinta, aku takut sakit hati tapi kenapa rasanya sekarang sakit banget saat Rehan bersama perempuan lain. Berkali-kali aku menepis perasaan itu, malah perasaan itu semakin nyata.

Hari ini aku pulang sekolah lebih awal, seperti biasa di rumah tak ada mama hanya ada kedua asisten rumah tanggaku.
“bik Yun, tolong bikinin roti sama susu ya. Antar ke kamarku nanti”
“gak makan non?”
“gak bik,” aku pun bangkit dan berjalan ke kamar. Belum sampai kamar ada orang datang, bik yun ingin membukanya tapi aku yang ingin membukanya “udah bik biar aku saja yang membukanya”
“ya non”
Betapa kagetnya aku, ternyata itu Rehan dan cewenya, sengaja aku langsung menutup pintunya lagi tapi di tahan oleh Rehan.
“mey, tolong aku mau jelasin semua ini”
“apa, gak ada yang perlu di jelasin. Dan,” aku memandang cewek yang ada di sebelahnya
“pliiss ta, lo dengerin penjelasan Rehan dulu” kata cewe itu
“ok, 5 menit aja”

Aku pun keluar, sengaja mereka tak ku suruh masuk jadi kalau memang ini keputusan terburuk maka aku bisa langsung lari ke dalam rumah dan meninggalakan mereka di luar.
“mey, aku tahu kamu cemburu kan waktu aku dan Amanda di mall kemarin, aku sengaja memang memancing kamu supaya aku tahu sebenarnya kamu suka sama aku juga apa tidak, ternyata benar kamu sayang kan sama aku mey, tolong jawab yang jujur aku sayang kamu mey. Dan ini Amanda dia bukan mantanku gebetanku atau apalah dia itu keponakanku”
Aku hanya mendengarkan semua celotehan Rehan, aku tak mengerti harus berkata apa
“sekarang terserah kamu, kamu gak mau nerima aku gak apa-apa tapi tolong jangan marah sama aku mey. Aku mau kita akrab kaya dulu lagi”
Aku terdiam sejenak “apa yang kamu bilang itu semua benar Rey?”
Rehan mengangguk
“aku juga, juga sayang kamu Rey. Tapi kamu harus janji satu hal sama aku?!”
“apa Mey?”
“jangan tinggalkan aku ya, dan jangan pernah buat aku kecewa. Dan satu lagi aku suka kamu manggil aku Mey”
Aku tersenyum dan sebuah pelukan hangat melinggkar di tubuhku. Aku bahagia akhirnya aku bisa menemukan penggati kak Geo yang terus menghantui hidupku.

~ The End ~

Cerpen Karangan: Atik Wulandari
Facebook: adhek cayank kakak
nama : atik wulandari
ttl : trenggalek, 24-10-1995
tempat tinggal : samarinda, kaltim

Cerpen Jangan Panggil Aku Meme merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Diam

Oleh:
Aku berjalan tanpa arah yang pasti menembus tipisnya rintik hujan, angin bertiup membuat jaket dan jilbabku berterbangan. Kuteringat pada sebuah kejadian tadi siang di sekolah. Saat itu cuaca tidak

Ji Chang Wook dan Penggemar Kelas Berat

Oleh:
“Yeoboseyo. Halo.” “Lisa lagi sibuk, ya?” “Biasa, lagi nyeterika tiap minggu pagi.” “Jam sepuluh ke rumahku, ya. Aku punya film Korea baru.” “Film apa? Apa judulnya?” Tut… tut… tut….

Secret Admirer

Oleh:
Aku menutup buku diaryku sambil tersenyum puas. Suasana pagi ini benar-benar terasa sejuk. Pancaran sinar matahari pagi yang beriringan dengan suara gemerisik daun-daun dari atas pohon yang terkena angin.

Persaingan, Banyak Persaingan

Oleh:
Sialan! Ini semua gara-gara cowok pindahan itu, Akihiro! Kenapa dia harus lahir di Jepang dan jadi keturunan Jepang? Kenapa dia jadi famous banget di 8-4 dan di angkatan? Dan,

Notebook Pengungkap Rahasia Hati (Part 3)

Oleh:
“Kamu kalau mau deketin Afif, jangan kayak gitu. Kamu itu harus…” Aku sedang bersama Dinda dan memberi tau hal yang tidak disukai dan disukai Afif. Saat Dinda mendekati Afif

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *