Jangan Pergi Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 October 2015

Ketika angin malam menghembus ke arahku seketika ku teringat akan sosok lelaki yang sangat ku cinta, Ayah. Ayah adalah lelaki pertama yang selalu tinggal di dalam hatiku bahkan sejak kepergiannya yang meninggalkanku dan Ibuku untuk selamanya. Hari ini genap 5 tahun sejak kepergian Ayah. Pukul 5 sore tadi aku dan Ibu mendatangi rumah abadinya, membersihkan dan berdoa untuknya. Ku hantarkan beribu kata rindu padanya, berharap ia kan memelukku ketika ku tertidur nanti.

“Lia, masuk sayang sudah larut. Besok kamu ada kuliah pagi kan?” terdengar lembut suara wanita terhebat yang selalu setia menemani, merawat, menjaga dan mencintaku.
Ibu dialah yang menjadi inspirasi dan semangatku dalam menjalani hidup. Wanita terhebat yang selalu tegar menghadapi hidup. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu. Sesilia Agata, itulah nama yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Segera ku beranjak dari teras rumah dan segera ku tarik selimutku dan berharap bermimpi bertemu dengan Ayah. Amin.

Keesokan harinya. Matahari bahkan belum terlihat, aku sudah terbangun mengingat hari ini ada kuliah pagi. Ya jarak rumah dengan kampusku lumayan jauh, kira-kira menghabiskan 2 atau bisa sampai 3 jam. Tergantung keadaan lalu lintas di jalan. Kini aku menjalani kuliahku yang sudah 6 semester.
“Pagi Bu, bagaimana tidurnya?”
“Nyenyak sayang, kamu gimana?
“Tuhan mendengar doaku bu, semalam aku mimpi kita lagi makan malam bersama.” Ku lihat senyum indah dari Ibuku karena mendengar mimpiku. Segera ku kecup kening dan pipinya, ku minta restu dari lembut tangannya, karena berkat Ibu senantiasa mendampingi jalanku.
“Hati-hati di jalan sayang.” Nah itu salah satu berkatnya, hehe.

Huh.. perjalanan yang ku tempuh setiap harinya masih saja membuatku letih. Sesampainya di kampus, langkahku tertahan ketika ku melihat lelaki yang dulu pernah menjadi lelaki kedua di dalam hatiku. Tetapi semenjak ia meninggalkanku tanpa alasan, ku hapus semua tentangnya bahkan aku sempat lupa dengan namanya. Namun, entah kenapa aku bertemu dengannya kembali di kampus ini. Setelah 3 tahun aku berhasil melupakannya. Yah, itu kisah semasaku masih SMA.

“ta, lihatin apaan? Udah jam berapa nih? Bentar lagi kuliah mulai loh!”
Rosa sahabatku sejak SMA, nah dia tahu semua tentang kisahku dengan Ghio. Ya nama lelaki itu Ghio Febrio. Ah, sudahlah aku tak mau mau membahasnya. Ku teruskan langkahku hingga ku berpapasan dengannya, tak sedetik pun ku lalui untuk meliriknya. Oh iya, “Ata” itu nama panggilanku di kampus.
“ta, tadi tu si Ghio lihatin lo aja loh, suer deh gue.” Aku hanya menatap Oca dengan tajam berharap dia mengerti aku bahkan tak ingin membahasnya.
“upss, salah ya. Maaf deh, gak lagi deh ta”
“hmm.

Jam terus berlalu, kuliah pun selesai. Ku lanjutkan langkahku yang tiba-tiba terhenti karena ada Lucy anak Ekonomi yang dulunya teman SMA kami juga.
“ta, ntar malem ada small birthday party di rumah gue, gue harap lo bisa datang ya, rame kok, gue undang anak SMA kita juga, datang ya, ya, ya.”
Uwew undangan mendadak, datang gak ya? teman SMA? apa Ghio datang juga? Kalau ada dia gimana dong? issh, jadi males deh.
“ia, tenang aja ya cy, gue sama ata pasti datang. Banyak makanan kan? Tenang aja tenang. Kita pasti datang.” Lah ini si Oca langsung bilang iya aja, jadi makin tambah bingung. Lucy pun berlalu meninggalkan kami.

“kok diiyain sih ca? gimana kalau ntar ada Ghio? Lo gak kepikiran apa?”
“ta, kalau lo bener uda ngelupain dia, lo gak perlu takut kan? mau sampai kapan lo ngelak terus dari dia? Move on ta.”
Bener juga sih yang Oca bilang, youwes lah ntar malem aku datang.

Sesampainya di rumah, aku udah disapa dengan senyuman indah Ibuku. Lalu aku meminta izin darinya untuk acara nanti malam, sejujurnya berat hatiku untuk meninggalkan Ibu sendiri di rumah, tapi dengan sejuk ia mengatakan mengizinkanku untuk pergi, lumayan senang sih, hehe.
“ta, uda selesai? gue jemput ya.” Oca menelepon sembariku sedang mempersiapkan diri. Aku merasa nyaman mengenakan balutan gaun berwarna merah maron buatan tangan Ibuku.

Tak lama Oca sampai ke rumah lalu kami pergi menuju lokasi party Lucy. Sesampainya di birthday party yang bener-bener mewah banget dan gak cocok dibilang small party tahu gak. Cewek-cewek yang datang pada pake baju mewah yang cantik. Kalau yang cowoknya pake jas dan ada juga yang kemeja, pokoknya cool deh. Sorot mataku terhenti ketika ku melihat lelaki yang mengenakan kemeja merah berpadu dengan jas berwarna abu-abu.
“Merah-merah wih kompak lo ta ma Ghio, lihat tuh kemejanya.”

Aku terdiam terpaku, kok bisa sama sih? oalah, ah, mungkin cuma kebetulan aja. Perasaanku semakin tak karuan ketika tidak sengaja pandanganku terhenti padanya lagi yang sedang menatapku juga. Sejenak hatiku tenang, ketika melihat ia tersenyum, dan memang karena senyumannya itu aku menyayanginya dulu. Sosok lelaki yang sangat baik waktu itu, yang memberiku motivasi tapi ketika ku ditinggal oleh lelaki pertama yang ku cintai yaitu Ayah, mengapa ia juga meninggalkanku? Ayah pergi ketika ku kelas 2 SMA, dan ia meninggalkanku setahun kemudian. Sudahlah aku gak sanggup menceritakannya.

Waktu pun terus berlalu, sudah sejam kami berada di sini. Acaranya memang seru, nah sekarang waktu yang dinanti pun datang. Waktunya makan.. nyicip-nyicip. Tradisi pun dilakukan yaitu mengantre. Dan.. akhirnya giliranku memilih menu yang ku inginkan. Ku santap hidangan yang telah dihidangkan, perutku pun tersenyum lebar karena telah diisi dengan makanan-makanan yang enak. Hehe.
“sil, apa kabar?”

Aku tahu tanda suaranya, aku ingat aroma tubuhnya, masih sama seperti yang dulu, aku terdiam terkejut melihatnya. Ghio menghampiriku dan menanyai kabarku? Bagaimana ini? Aku takut, takut untuk mengenalnya lagi. Aku hanya diam dan pergi berlalu darinya, dan ia terus mengikutiku.
“sil, aku mau bicara sama kamu, tolong dengerin aku.”

Suaranya itu, sekali lagi aku mendengarnya memanggil namaku. Sesil panggilannya padaku. Hanya dia yang memanggilku dengan nama itu.
“ada apa?” jawabku dengan ketus. Tolong Ghio jangan ganggu aku lagi, aku takut, aku gak mau sakit hati lagi. Inilah pengharapanku saat ini.
“Tolong luangin waktu kamu untuk dengerin aku. Cuma 5 menit aja. Tolong..”
Apa ini? Kenapa suaranya mendadak lemas seperti benar memohon untuk bicara padaku? Tuhan, tolong jika dia berniat buruk tolong jauhkan dia dariku.

“sil, dulu aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan kamu. Hari itu aku ditelepon orangtuaku. Ia memintaku pulang ke Singapore. Ia bilang kalau Papa kritis. Sil, kalau kamu ingat, aku pernah bilang Papa punya penyakit jantung kronis, saat itu aku gak bisa pamitan sama kamu, karena aku dijemput sil, aku titip surat buat kamu. Aku titip ke Leo. Aku bersumpah Sesil, gak ada niat sedetik pun untuk jauh dari kamu.”

“Seminggu memang aku salah gak ngubungin kamu, karena kondisi Papa memang kritis, aku selalu di sampingnya sil, tapi setelah seminggu aku coba telepon kamu, tapi HP kamu mati, aku coba telepon rumah kamu, tapi gak diangkat, aku telepon Leo, dan apa? Aku malah dapat kabar yang buatku sejenak membencimu. Leo bilang ke aku. Jangan pernah hubungi kamu. karena kamu sudah jadi miliknya. Dan kamu tahu. Bodohnya aku percaya sama dia saat itu, karena kamu juga gak bisa dihubungi. Sil setelah 2 minggu Papa kritis, akhirnya dia meninggalkan aku juga, dan aku juga kehilangan kamu.”
Jantungku berdetak dengan kencangnya, merasa tak percaya, dadaku sesak mendengar penjelasannya, aku bingung harus percaya atau tidak? Leo? Karena Leo?
“Leo? dia yang bilang kalau kamu pergi karena mau tunangan sama wanita pilihan Papa kamu, dia bilang ke aku, kalau aku gak pantas buat kamu, aku gak tahu harus percaya sama siapa, aku bingung ghi. ”

Aku pergi berlari meninggalkan Ghio, sakit rasanya mendengar penjelasannya, kecewa, bahagia, bercampur semua, antara percaya dengan tidak, apakah benar? Selalu pertanyaan itu yang terlintas di benakku, aku terus berlari tanpa mempedulikan Ghio yang terus memanggil namaku, berlari mengikutiku, berlari karena ku takut apabila ku terhenti hanya ada kekecewaan, air mataku tak dapat terbendung lagi, dadaku semakin terasa sesak, kenapa? Kenapa harus seperti ini? Ghio apa aku yang salah, inginku berhenti, tapi rasa takut terus meliputiku. Aku tidak mau kehilangan lagi.

Tiba-tiba terdengar suara hantaman yang sangat keras, menghentikan langkahku, karena suara itu tepat berpusat di belakangku, hatiku tidak tenang, aku takut melihat ke belakang, sampai akhirnya, aku mendengar teriakan orang-orang memanggil nama Ghio. Tersentak ku melihat ke belakang, ku lihat semua orang berkumpul di depan mobil truk, kakiku bergetar kaku, jantungku rasanya ingin berhenti, dengan cepat aku berlari menuju kerumunan itu. Ku lihat lelaki yang ku sayangi terbujur lemas, berlumur darah di bagian kaki dan kepalanya.

“Ghio!!!” Teriakanku tak ada artinya, ketakutanku lari darinya membuatku takut untuk kehilangannya.
“tolong bawa dia ke rumah sakit” air mataku mengalir dengan deras.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku hanya bisa menangis, ku genggam tangannya yang mendadak dingin, ku lihat matanya yang sayup memandangku. Tuhan tolong selamatkan dia, doa ini terus tertambat dalam benakku, semakin erat ku genggam tangannya, aku berharap ada balasan genggaman darinya. Tetapi dia hanya lemas, tak berkata apapun, pandangannya yang semakin lama semakin redup. Tuhan tolong jangan ambil dia dariku, aku mohon.
“tunggu di sini ya bu,” Genggamanku pun terlepas ketika ia harus memasuki ruang ICU.

Waktu terus berlalu, aku mulai tidak tenang, “sudah 2 jam, kenapa belum ada yang keluar?” Tanyaku dalam hati. Sampai akhirnya seorang Ibu yang tak asing bagiku, aku pernah melihatnya di handphone milik Ghio sewaktu SMA. Ya, Ibunya Ghio. Ibunya datang dengan wajah yang sangat cemas, aku tak pantas berada di sini. Karena ku Ghio seperti saai ini. Terbaring lemah mempertahankan hidupnya.
“kamu Sesilia?” kata Ibunya padaku.
“ia saya Sesil Ibu” jawabku, ia langsung memelukku dengan erat, dia bilang Ghio selalu menceritakan tentangku pada Ibunya. Ia bilang kalau Sesil adalah wanita yang teramat ia cintai setelah Ibunya. Ya Tuhan, dadaku semakin sesak mendengar perkataan Ibunya.

“Tuhan, maafkan bila ku egois hari ini, aku sungguh memohon kepadamu, tolong jangan ambil dia dari hidupku. Tolong jangan jauhkan dia dariku, telah lama aku jauh darinya, tolong kali ini jangan jauhkanku lagi darinya. Tuhan, engkau telah mengambil Ayahku, lelaki pertama yang sangat ku cintai, kali ini ku mohon padamu, jangan ambil lelaki kedua yang sangat ku cintai di dunia ini. Aku mohon Tuhan dengarkanlah doaku ini. Amin”

Setelah 4 jam berlalu akhirnya Dokter pun ke luar dari ICU, ia menemui Ibunya Ghio, lalu Ibunya mengajakku menemaninya. Begitu tersentak dan terkejutnya aku dan Ibunya ketika mendengar kalau Ghio mengalami kelumpuhan sementara pada kaki kanannya. Tuhan begitu berdosanya aku, tapi aku sungguh bersyukur padamu karena engkau tidak merenggutnya dariku. Terima kasih Tuhan, bergegas aku dan Ibunya Ghio meninggalkan ruangan dokter, menuju ruang ICU. Ya untungnya kami berdua bisa masuk bersama. Aku sungguh ingin berada di sampingnya ketika ia siuman nanti.

Ibu Ghio menangis melihat anaknya masih berbaring lemas, dengan selang oksigen di hidungnya dan beberapa selang lain berada di mulut dan bagian dadanya, aku tak dapat berusaha tegar di situ, air mataku yang terus mengalir membuatku ingin sekali memeluknya. Aku takut ketika ia siuman dan mengetahui tentang keadaannya ia akan syok, maka dari itu aku tidak akan meninggalkannya sedetik pun, untung aku sudah menghubungi Ibuku tentang hal ini dan meminta rosa untuk menjaganya di rumah.

Tanganku terus menggenggamnya, sampai ketika fajar menyongsong, ada sedikit gerakan dari tangannya yang membalas genggamanku, aku terus melihat perkembangannya, mata mulai berkedip, ia mulai mencoba membuka matanya dengan perlahan, tangannya terus berusaha menggenggamku meskipun dengan lemas.
“Ghio…” aku memanggilnya berulang kali berharap ia dapat mendengarkanku.

Sampai akhirnya matanya dapat terbuka dan pandangannya jelas melihatku. Puji Tuhan ia dapat tersenyum melihatku. Dengan segera ku bangunkan Ibunya yang baru saja tertidur, dengan semangat ia bangun dan melihat keadaan Ghio, lalu aku beranjak ke luar, ku panggil dokter, dengan bahagianya aku dapat melihatnya membuka matanya yang indah itu.
“dokter, mengapa kakiku sulit digerakkan?” pertanyaan itu sontak membuatku dan Ibunya terkejut.

Ibunya takut untuk menjelaskannya pada Ghio. Iya takut Ghio akan terguncang perasaannya dan dapat memperburuk kondisinya. Lalu ku pegang kembali tangannya, dengan refleks ku kecup keningnya.
“Ghio, kaki kamu hanya mengalami cedera, sementara ia tidak bisa digerakkan, tetapi bukan berarti tidak bisa sama sekali, aku ada di samping kamu, ku mohon bersabar dan tetap semangat ya.” Bisikku padanya, ia hanya diam mendengar perkataanku. Tuhan, tolong jangan sampai ia merasa terpuruk.
“makasih Sesil, tapi aku malu padamu, lebih baik kamu pulang, walaupun kakiku bisa sembuh nantinya, tapi tetap saja aku tidak seperti dulu.” Ucapnya dan melepaskan genggamanku.

“kamu tahu, begitu sakit rasanya ditinggal oleh Ayahku, bahkan kamu sempat meninggalkanku, apa kamu mau meninggalkanku lagi? aku tetap di sini Ghio, aku gak mau kehilangan lagi, sakit rasanya, maafkan aku karena aku kamu jadi seperti ini Ghio, maafkan, jujur sampai saat ini aku masih menyayangi kamu, dan terima kasih kamu masih menyayangiku juga, izinkan aku merawatmu, izinkanku hidup bersamamu sampai akhir hidupku.” Dan aku pun menangis lagi.
“jangan merasa bersalah sil, aku sayang sama kamu, tapi aku takut kamu malu dengan…”
“udah ya, aku sayang sama kamu, aku terima kamu apa adanya, jangan pernah pergi lagi dariku Ghio, aku gak mau kehilangan lagi,” Aku memotong perkataannya.

Hidup ini semakin indah dengan kembalinya Ghio padaku. Setelah seminggu Ghio berada di Rumah Sakit ia sudah bisa kembali ke rumahnya. Setiap harinya aku menemaninya, membantunya melakukan kegiatannya, menemaninya kontrol kakinya ke rumah sakit, setiap hari ada Ibuku, dia dan Ibunya, hariku begitu indah. Mungkin ini rencana Tuhan, ia tidak akan pernah melihat umatnya kesepian, ia memberikan Ghio padaku sebagai pelengkap hidupku yang telah kehilangan seorang Ayah. Hubunganku dengan Ghio berjalan bahagia sampai akhirnya ia dapat berjalan dengan normal kembali, dan cinta kami akan utuh selamanya dan menjadi small family with happy everytime dan everywhere.

Cerpen Karangan: Fania Vionita Angela Simorangkir
Facebook: Fania Vionita
Nama : Fania Vionita Angela Simorangkir
Umur : 20 tahun
TTL : Binjai, 11 Desember 1994
Alamat :Jl. Bandung no. 2A BINJAI

Cerpen Jangan Pergi Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lawanku Adalah Pacarku

Oleh:
Alya Rosita adalah namaku, biasa dipanggil Aya oleh teman-temanku. Umurku 17 tahun dan aku seorang pelajar SMA. Aku sangat menyukai permainan bulu tangkis karena ketika bermain, seakan dunia tidak

Cintaku Tak Kan Berubah

Oleh:
Malam itu cuaca di luar rumah begitu cerah. Sang bulan muncul dengan kesempurnaanya, memancarkan cahaya yang sangat menawan. Aku termangu duduk di tepi teras sambil menatap bintang-bintang yang bertebaran

Penyesalanku Hingga Kau Pergi

Oleh:
Namaku biasanya dipanggil dengan sebutan Mala. Aku adalah anak kelas 3 SMA N 8 palembang pada tahun 2005. Anaknya minder karna bentuk tubuhku yang tidak ideal, humoris, care sama

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
“mau sampai kapan jomblo din?” Tanya fitri dengan mulut dipenuhi makanan. “jodoh di tangan Tuhan kali, ngomongin jodoh mah urusan belakangan aja fit” jawabku lirih. “tapi kan, semenjak putus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *