Jangan Pernah Melepaskan Tanganku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 October 2019

Hari ini adalah masa pertama kali aku masuk sekolah di smp 2 bakhtari. Di awal sebelum masuk para tim sekolah dan osis mengadakan MOS (masa orientasi siswa). Kegiatan itu dilakukan pada tanggal 12 juni 2014. Kegiatan berlangsung diadakan selama 3 hari. Hari pertama adalah perkenalan guru guru dan tim osis. Hari ke-2 aku tidak mengikuti karena sedang sakit. Hari ke-3 semua siswa harus mendapatkan seluruh tandatangan tim osis beserta keterangannya. Saat itu yang kuketahui hanya 8 orang saja dan ada seorang yang belum kuketahui namanya setelah aku mendapatkan informasi dari teman teman ternyata namnya FIRDAUS YUDI biasanya dipanggil yudi. Entah kapan saat pertama kali kami bertemu kami hanya berdiam saja. Lalu ada temanku dea memanggilku. “anis! Kamu dipanggil sama bang yudi tu” teriak dea memanggilku. “eeh.. tumben tumbenan ya udah lah aku kesana aja” jawabku keheranan.

Aku mencari bang yudi tapi tidak ketemu. “katanya tadi aku dipanggil sama bang yudi tapi mana tuh anak” gumamku kebingungan. “satu, dua, baa!!! Hayoo mau ngapain” teriak bang yudi mengetjutkan aku dari belakang. “astagfiruallahalaziim.. bang yudi nih! Ngagetin aja e.” omelku karena terkejut. “Entah kenapa hari ini bang yudi wajahnya agak riang, Padahal kan hari ini lagi puasa.” Gumamku dalam hati.

Bang yudi langsung menarik tanganku dan mengajakku berkeliling sekolah. “Oh yah nis, kamu udah dapat tandatangan kakak kakak yang lain belum..”
“belum bang.. abisnya kakak kakaknya harus sembunyi.. macam mana nak dapat” gerutuku agak kesal.
“ya udah sini abang bantuin, abang bacain data datanya kamu yang nulis.. gimana? jadi kan tinggal minta tanda tangaan mereka?” Tanya bang yudi atas idenya. Tanpa berpikir panjang aku pun setuju. “oke!”.

Setelah selesai mengisi semua datanya bang yudi bertanya padaku “emm.. anis kamu mau gak jadi pacar aku… aku gak akan maksa kamu untuk jawab hari ini juga kok.. aku pasti akan tunggu jawaban itu.. gimana” sontak aku terdiam. Tak kusangka bang yudi mengajakku jadi pacarnya. “emm… oke aku akan jawab permintaan bang yudi pas satu hari sebelum masuk sekolah gimana bang?” Tanyaku kepadanya. Bang yudi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Aku pun membalas senyumannya.

Tak terasa 2 jam pun berlalu.. aku dan bang yudi segera mencari kakak kakak yang sembunyi. Satu persatu bukuku sudah terisi oleh tanda tangan mereka. Aku dan bang yudi berlomba siapa yang sampai ke majelis dia menang. Aku dan dia sangat menikmatinya.

Lalu terdengar suara pak kepala sekolah “perhatian seluruh siswa diharapkan kalian menuju ke tengah lapangan untuk berbaris dan pulang” pak kepala sekolah menyuruh kami segera berbaris untuk pulang. “bang yudi ayo itu bapaknya udah manggil..” ucapku kepada bang yudi. “Baiklah ayo!” jawabnya. Dia menggenggam tanganku tapi bukannya menolak aku malah membiarkannya.

Sekitar 3 menit pak kepala sekolah memberikan informasi kami pun pulang. Tapi aku belum pulang karena orangtuaku belum menjemputnya. Ternyata mama mengirim pesan katanya mama gak bisa menjemputku karena pekerjaannya lagi. “hmm.. lagi lagi.. kerjaan terus aku tuh gak butuh uang aku hanya ingin perhatian dari kalian” bicaraku dalam hati.

“Tiiitt tiiittt!” terdengar suara klakson motor dari arah belakangku. “aaniis!!!” ayo abang antar rumah anis dimana?!” teriak bang yudi sambil terus membunyikan klaksonnya. “gak usah bang aku bisa pulang jalan kaki” jawabku sambil menundukkan kepala. Bang yudi langsung memakirkan motornya dan menghadap ke aku. “kamu kenapa niss… kok kamu sedih, udah jangan sedih kan ada aku… ayo senyum sekarang biar abang yang antar ke rumah anis yaaa, pliss” bang yudi berusaha membujukku. Aku menatap matanya dan tersenyum.

Setelah berbincang bincang pasal di mana kami tinggal, gak disangka ternyata rumah kami dekat dan satu kompleks yaitu di kompleks bahagia. Kami langsung tancap gas ke rumah. “Bang rumah abang di mana?” aku bertanya kepada bang yudi. Dia langsung menunjukkan rumah yang ada di depan rumahku. “tuu rumah abang… hahahahh kayaknya jodoh nii” jawab bang yudi hingga membuatku tersipu malu. “ya udah dadah” ucapku. Banya yudi segera membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.

Ketika memasuki gerbang rumahku dan membuka pintu, aku melihat bi ina salah satu pembantuku menyambutku dan bertanya bagaimana sekolahnya enak atau tidak? Dan aku menjawabnya dengan tersenyum. Semenjak aku lahir bi ina lah yang mengurusku sehingga aku menganggap bi ina sebagai ibuku sendiri. Dari pada mama dan papa yang selalu saja sibuk dengan pekerjaannya, menghabiskan waktu dengan bekerja dan mereka sama sekali tidak memperhatikanku. Aku selalu berpikir apakah jika aku mati baru mereka mau peduli denganku. Seseorang pernah berkata kalau hidup itu adalah hal yang sangat istimewa dan kebahagiaan akan selalu datang pada semua orang. Tapi bagiku hanya orang yang bisa mendapatkan kebahagiaan.

TOK… TOK… TOK… “non… ayo kita buka puasa dulu sudah adzan non…” terdengar suara bi ina memanggilku. “baik bi aku datang sebentar lagi” jawabku kepada bi ina. Aku segera turun ke bawah dan aku melihat 2 kursi kosong. Ternyata mama dan papa makan di luar karena pekerjaan yang super sibuk itu.
“bi, mama sama papa makan di luar lagi” ucapku agak kesel. “iya non… nyonya sama tuan sedang ada pekerjaan yang banyak… udah non jangan sedih kana da bi ina di sini” ucap bi ina yang memujukku sambil memelukku.

Tak terasa bulan puasa berakhir dan begitu juga hari idul fitri tanpa ada kesenangan bahagia. Aku melihat tanggal ternyata 2 hari lagi sudah mulai masuk sekolah. Seperti biasa aku selalu membeli kebutuhan sekolahku. Aku segera mengambil kartu ATM yang isinya bermilyar uang untuk aku gunakan. Mama sama papa selalu memberikan 5 juta untuk satu bulan aku habiskan. Tetapi, aku gak mau kayak mama yang selalu memboroskan uang. “bi ina aku pergi dulu ya!” teriakku dari depan pintu. “ya non hati hati naik mobilnya!” teriak bi ina yang sedang membereskan kamarku.

Ketika aku sedang menutup gerbang ada seseorang yang menutup mataku. “hayoo tebak siapa aku?” gurau bang yudi padaku. “bang yudi…” tebakku menjawab tingkah konyolnya. “bang temani aku belanja kebutuhan sekolahku yuk, sekalian kita jalan jalan”. Tanyaku kepadanya. “oke”. Jawab bang yudi dengan semanagat.

Aku segera mengambil mobil kesayanganku dan membiarkan bang yudi menyetir. Kami langsung menuju toko buku. Setelah selesai belanja aku mengajak bang yudi ke taman wahana. Sesampainya di sana aku mengajak bang yudi menaiki salah satu wahana komidi putar. Di sana aku dan bang yudi hanya berdiam saja. Tidak seperti biasanya suasananya menjadi canggung.

“anis kamu terima gak permintaanku yang pas bulan puasa” Tanya bang yudi sambil memegang tanganku. Hatiku berdegup kencang tak pernah aku rasakan hal ini waktu hari yang lain. Dengan terbata bata aku menjawabnya. “Aa..kuu. Maksudku, aku mau jadi pacar abang.” Akhirnya aku lega sudah mengatakannya. Aku dan bang yudi jadi sama sama malu..

“bang gimana kalau kita merayakan hari pertama kita jadian dengan makan eskrim” usulku dengan agak malu. “Oke dek abang terima.. ayukk bang yudi menaruh tangannya di atas pundakku dan kami sangat bahagia. Dalam hati aku bergumam “apakah ini yang namanya kebahagiaan.. aku gak pernah ngerasa seperti ini.. akhirnya alllah mengabulkan permintaanku, untuk bahagia bersama orang yang benar benar aku cintai.. terima kasih allah.”

“dek es krimnya mau rasa coklat atau strawberry?” Tanya bang yudi kepadaku. “emm rasa coklat aja deh bang” jawabku. Dari dulu makanan yang aku sukai hanyalah coklat. Hampir semua coklat di seluruh Negara sudah pernah aku makan.

Tak terasa waktu sudah hampir senja. Aku dan bang yudi segera masuk ke mobil dan pulang ketika kami sudah sampai di rumah aku menyuruh bang yudi untuk masuk dulu. “bang ayo masuk dulu.. ada yang ingin aku kasih sama abang”. “tapi dek nanti mama sama papamu marah kalau adek bawa pacarnya ke dalam rumah.” Jawab bang yudi “Gak apa-apa kok lagian di rumah Cuma ada aku dan bi ina, mama dan papa kan lagi sibuk dengan pekerjaannya yang ada di luar sana.” gerutu aku. Akhirnya bang yudi mau masuk. “assalamualaikum bi” ucap kami berdua sambil masuk ke dalam. Aku menyuruh bang yudi untuk membawa barang belanjaannya di atas meja. “bang taruh aja disitu, lalu duduk dan tunggu aku buatin air dulu.” Bang yudi hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.

Cerpen Karangan: Nurdwiyanti0810
Blog / Facebook: Nur Dwiyanti
Nama: Nur Dwiyanti
Tempat/tanggal Lahir: Kijang / 08 Oktober 2001

Cerpen Jangan Pernah Melepaskan Tanganku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Word Destiny (Part 2)

Oleh:
Cuaca sangat cerah hari ini dan juga hatiku terasa nyaman. Angin semilir menemaniku dan juga seseorang laki-laki yang sudah bersamaku selama dua tahun ini. Tak terasa, sahabatku itu tak

Suara Hati Sarah

Oleh:
Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Para siswa Madrasah Aliyah segera berhamburan keluar kelas. Terlihat dua orang perempuan yang sedang sibuk mengeluarkan sepeda dari parkiran, sambil mengobrol. “Sarah, ntar belajar

Ketika Waktu Menggenang

Oleh:
Ada suara jerejak seperti pelepah dan ranting pohon yang diseret, ada derit suara timba yang ditarik diperigi. Kelopak mataku bergerak-gerak hendak menuruti telinga yang lebih dulu terjaga….lalu sunyi…..seorang laki-laki

Hujan Dalam Satu Harapan

Oleh:
Rintikan hujan masih membasahi bumi Jemonistan, bau tanah makin menusuk indra penciuman manusia. Sambil merebah asa di iringi temaram langit kelam di ujung angkasa, seorang diri berjalan menepaki arah

Waiting 360 High School Love

Oleh:
Ternyata bukan sesuatu perkara yang mudah merasakan jatuh cinta. Butuh penantian panjang untuk mengerti arti dari sebuah cinta, karena cinta bukan apa yang dilihat tapi apa yang dirasakan Semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *