Janji 14 Februari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 12 June 2016

BRAKK… BRUKK… GUBRAK…!!!
Suara meja dan kursi yang saling berbenturan terdengar memekakan telinga. Ditambah lagi adu mulut para penghuninya. Mereka berperang memperebutkan tempat duduk. Suasana kelas XI IPA 1 benar-benar kacau pagi ini. Hari ini adalah hari pertama menempati kelas baru, semua murid berlomba-lomba menempati tempat duduk favoritnya.
“Hey, gue yang duluan tempatin bangku ini!! Elo nggak liat gue udah disini dari tadi?” sewot Gea sambil menunjuk tasnya yang sengaja diletakkan di kursi yang dipilihnya. Tatapannya tajam menantang.
“Enak aja lo, gue yang udah duluan booking. Tuh tas gue ada di kolong bangku!” balas cowok itu tidak kalah sengit. Gea melongo.
Benar saja, disana sudah ada dua tas cowok. Gea manyun langsung menyambar tasnya dan tas Risa, sahabatnya.
“Hahaha. Makanya periksa dulu, sebelum ngaku-ngaku.” Cowok itu tertawa terbahak-bahak. Gea menatapnya garang.
“Gue kan nggak tau.” Geramnya dengan tangan sudah mengepal di sisi tubuhnya.
“Alah, alesan!” Cowok itu mengibaskan tangannya di depan muka Gea. Membuat Gea makin kesal siap melayangkan tinjunya.
“Sebenernya mau lo apa sih, ngajak berantem.” Sahut Gea kesal, hampir melayangkan tinjunya kalau tidak dicegah Risa.
“Siapa yang ngajak berantem? Gue cuma ngomong doang, tapi kalo lo emang pengen, bakal gue layani dengan senang hati.” Ujar cowok itu cuek. “Mau dimana? Café, restoran, taman atau dimana?”
Gea melotot, emosinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. “Maksud lo apa, hah??!!” ucap Gea marah.
“Loh? Bukanya maksud lo ngajak berantem tuh artinya ngajak ngedate kan?” sahut cowok tersebut lagi-lagi dengan tampang cuek. “Ehm… kalo gitu, lo jadi cewek gue yang ke-60”
Napas Gea memburu. Tinju yang dari tadi ditahan sudah siap melayang ke wajah cowok itu, tapi lagi-lagi Risa menahannya dan mengajaknya duduk. Gea dan Risa langsung pergi dari hadapan cowok bernama Kevin tersebut. Kalau tidak dia bisa menjadikan Kevin perkedel.

Sudah sejak kelas satu Gea membenci Kevin. Mereka memang tidak saling kenal karena di kelas satu mereka tidak sekelas, tetapi Gea tau kalau Kevin itu playboy. Sudah banyak teman ceweknya yang jadi korban. Termasuk Riska, sahabatnya. Sayangnya Riska sudah pindah, kalau tidak pasti tadi Gea bakal dibantu Riska menghajar Kevin.
Huh hari yang melelahkan bagi Gea, sekelas dengan cowok angkuh, playboy, dan tebar pesona banget. Tapi sorot mata itu, seperti Gea kenal. Seperti sorot mata orang yang deket banget sama dia.
“Siapa ya dia. Kayaknya gue kenal.” Ucapnya penuh kebingungan. “Ah tapi, kenapa gue mikirin dia, nggak ada gunanya.”

Pagi ini Gea terpaksa harus naik angkot ke sekolah, supir pribadinya sakit. Ditambah lagi kena hukum dari Pak Anton, guru killer nan tertib lari keliling lapangan enam kali. Kalau hukumannya sendiri sih nggak masalah, tapi kali ini dia dihukum bareng Kevin. Gea sangat lemah di bidang olahraga lari, lari keliling lapangan sekali aja udah ngos-ngosan, apalagi ini enam kali.

Di putaran ketiga Gea sudah kehabisan napas dan tenaga namun dia tetap bertahan. Sebelum akhirnya dia jatuh pingsan. Sebelum terjatuh tubuh Gea ditopang Kevin. Kevin membawa Gea ke klinik sekolah.

Ada benda berkilau di leher Gea, sebuah kalung berliontinkan kupu-kupu dan berinisialkan huruf K&A. Kalung itu Kevin sangat mengenalinya, seperti kalung yang diberikan Kevin ke Anastasya empat tahun yang lalu. Kalung yang diberikannya saat mereka berjanji.
“Kalung ini, tapi nggak mungkin. Gea bukan Anastasya, mereka juga memiliki kepribadian yang berbeda. Tapi nama mereka sama.” Gumam Kevin lirih. “Kenapa saat aku cinta sama Gea dengan tulus, masa lalu itu datang lagi?”
Saat terbangun Gea bingung ada dimana, semua serba putih. Yang membuat Gea lebih terkejut karena Kevin tidur disebelahnya, menggenggam tangannya. Kevin nungguin Gea samapi sadar.
“Kevin tampan banget waktu tidur gini, nggak nyebelin.” Ucap Gea lirih. “Eh… eh kenapa gue jadi ngagumin dia. Amit-amit deh.” Sergah Gea cepat.
Kevin menggeliat pelan lalu membuka matanya. “Lo udah bangun Ge? Kalo gitu kita pulang sekarang yuk, gue anterin lo.” Ucap Kevin lembut, nggak seperti biasanya.
Gea bengong. “Emang gue udah tidur berapa lama?” tanyanya bingung.
“Bentar gue itung dulu.” Kevin menggerakkan jarinya menghitung berapa lama Gea tertidur. “Ehm… menurut itungan gue lo udah tidur enam jam. Yuk pulang gue anter.”
Gea hanya menuruti Kevin, dia berjalan mengikuti Kevin yang yang sudah duluan, tanpa satu katapun. Di dalam mobil pun Gea hanya diam, Gea bicara hanya saat mereka sudah berada di depan halaman rumahnya. Mengucapkan terimakasaih yang dibalas senyuman oleh Kevin.
“Ehm… lo nggak nawarin gue mampir gitu.” Ucap Kevin penuh harapan. “Tapi kalo lo nggak minat, gue balik sekarang deh. Lo keliatannya juga capek banget.”
“Lo mau mampir. Nggak apa-apa sih, tapi di rumah cuman ada ayah sama bunda. Lo mau?” tanya Gea, tahu gimana sifat Kevin.
“Nggak papa.” Kevin turun dari mobil dan melenggang masuk mengikuti Gea yang sudah berada di depannya.
“Assalamu’alaikum. Ayah… Bunda… Gea pulang.” Sapa Gea saat berada di dalam rumah. “Vin, lo duduk aja disitu, gue panggil ayah sama bunda dulu. Sekalian ganti baju.” Ucapnya sambil melenggang pergi meninggalkan Kevin yang sedang duduk di ruang tamu.
Gea kembali bersama kedua orangtuanya. Sifat Gea sangat berubah drastis ketika barada di rumah. Dia menjadi pribadi yang baik, penurut, dan ceria ketika di rumah namun di sekolah dia menjadi pribadi yang galak, tomboi dan menutup diri.
“Ayah, bunda kenalin dia temen sekelas Gea namanya Kevin.” Ucap Gea sopan.
Kedua orangtua Gea beserta Kevin sama-sama kaget saat berkenalan. Nggak nyangka Kevin yang dimaksud Gea adalah teman masa kecil Gea, termasuk cinta pertama Gea.
“Om… tante…” panggil Kevin bingung.
“Kevin…” ucap kedua orangtua Gea bersamaan.
“Ayah sama bunda udah kenal sama Kevin?” Tanya Gea bingung namun masih dengan nada sesopan mungkin.
“Kevin anak sahabat bunda.” Elak bunda cepat. “Gea kok Kevin nggak dibuatin minum? Gih sana buatin Kevin minum.” Suruh bunda untuk mengalihkan pembicaraan.

Gea pergi menuju dapur. Saat Gea di dapur orangtuanya menjelaskan bagaimana bisa Gea menjadi seperti ini. “Kevin maafin om sama tante, terutama Gea. Kita nggak maksud bohongin kamu.” Ucap Om Andi pelan-pelan, berhati-hati agar Kevin tidak marah. “Empat tahun lalu, saat kamu pergi, sehari setelah kepergianmu Gea kecelakaan.” Ucapannya berhenti sebentar untuk mengambil napas. “Dia koma selama dua bulan, setelah sadar ingatannya hilang. Dia tidak bisa mengingat dirinya sendiri, termasuk janji yang kalian buat empat tahun lalu. Butuh berbulan-bulan untuk membuatnya mengingat semuanya, namun tidak dengan janji itu. Namun sikapnya berubah bahkan sangat berubah.”
Kevin hanya diam mendengar penjelasan Om Andi, ia tidak menyangka ini akan terjadi. Gadis yang ia cintai sekarang ini adalah Anastasyanya empat tahun lalu yang ia kira menginggkari janji. Gadis yang selalu berusaha ia benci karena kesalahpahaman semata. “Jadi Gea itu… Anastasya, begitu Om? Berarti selama ini saya salah menganggap Anastasya mengingkari janjinya. Dan kenapa saya baru tahu sekarang ini, kenapa kalian menyembunyikan semuanya.”
“Iya, Gea itu Anastasya, tapi Gea bukan Anastasya yang dulu kamu kenal. Dan masalah janji kalian dulu, maaf tante nggak bisa buat Gea inget. Kalau kenapa kita nggak ngasih tau kamu, karena kamu udah terlalu membenci Gea.” Terang tante Hilda. “Kevin, tolong jaga Gea dengan baik. Jangan buat Gea kecewa, dia sudah cukup menderita selama ini. Tante nggak mau Gea sampai hidup dengan bayang-bayang masalalunya. Tante nggak mau buat Gea sakit lagi.” Pinta tante Hilda.
“Baik tante, saya akan menjaga Gea. Saya pamit dulu sudah sore, tolong bilang ke Gea saya pamit dan juga maaf.” Pamit Kevin sambil beranjak pergi.
“Iya, hati-hati.” Orangtua Gea mengantar Kevin keluar sampai halaman depan.
Beberapa hari berlalu, setelah hari itu, Kevin seperti menghindari Gea. Ada rasa resah dan kehilangan di hati Gea, rasa sayang yang nggak sempat ia ucapkan karena gengsi yang terlalu tinggi.
Hari yang melelahkan bagi Kevin, saat ini dia sedang termenung di kolam renang, bermain-main air dengan kakinya. Tidak menyadari Mamanya datang menghampirinya. “Kevin, sayang ada apa? Masih mikirin soal Anastasya.” Tutur mamanya penuh perhatian.
Perhatian yang selalu Kevin rindukan selama belasan tahun, perhatian yang terkuras habis oleh adik kembarnya.
Kevin hanya diam, hanya dengan melihat gelagat Kevin mamanya sudah tau apa yang dipikirkan Kevin. “Kalo kamu sayang sama Gea jaga dia seperti permintaan tante Hilda. Kamu mencintai Gea bukan karena bayang-bayang masa lalu kamu. Kamu cinta Gea dengan tulus.” Nasihat mamanya.
Kevin mendongak memandang mamanya. Dia memeluk mamanya penuh rasa sayang. Pelukan yang nggak pernah Kevin rasakan, bertahun-tahun ini. Rasa sayang yang sudah terampas darinya untuk adik kembarnya, sejak belasan tahun lalu. “Makasih ma.” Ucapnya setengah berbisik.

Minggu, 14 Februari 2016, hari yang cerah. Secerah hati Kevin, dia mengendarai mobil menuju rumah Gea mengajak Gea pergi ke suatu tempat. Tempat kenangan masalalunya bersama Anastsya, tempat dimana janji itu dibuat.
Gea sudah menunggu Kevin dengan gelisah. Ada rasa senang dihati Gea karena dia kembali mendapat kabar dari Kevin. Mobil Kevin terparkir di depan rumah Gea, tanpa turun Kevin menyuruh Gea masuk mobil karena harus bergerak cepat untuk menghindari kemacetan.

Sekitar tiga jam melakukan perjalan, mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah tempat yang indah, sebuah danau yang masih sangat hijau. Jauh dari keramaian, di daerah bandung. Di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil. Kevin menarik lengan Gea menaiki perahu, mengajak Gea ke pulau di tengah danau. Tempat mereka dulu berjanji, janji yang mereka namai Janji 14 Februari.
“Bagus banget Vin tempatnya. Gue suka banget.” Ucap Gea semangat. Selama bertahun-tahun dia tidak pernah tersenyum lepas, namun kali ini dia tersenyum dengan begitu lepas.
“Lo suka Ge.” Tanya Kevin, Gea mengangguk. “Ge, gue mau ngomong sesuatu.” Ucap Kevin ragu.
“Ngomong apaan Vin? Ngomong aja kalik nggak apa-apa kok.” Jawab Gea yakin.
“Gue… sayang sama lo Ge. Gue nggak niat nyakitin lo kok, Ge.” Ucap Kevin sambil menutup matanya. Jantungnya berdegup kencang, bahkan sangat kencang.
“Lo bener-bener sayang sama gue Vin? Bukanya gue nggak yakin sama lo, tapi gue masih takut Vin. Gue nggak mau sakit hati.” Jawab Gea sambil memainkan rumput.
“Beneran Ge. Lo percaya ya, sama gue.” Yakin Kevin.
Gea mengangguk. “Iya.” ucap Gea nyaris berbisik.
Cinta akan tumbuh seiring dengan waktu dan kebersaman. Kevin memilih Gea, meski dia sempat meragukan Gea. Takut akan mencintai Gea dengan bayang-bayang masalalunya. Hanya cukup memberikan kesempatan kedua. Ketika kamu ragu akan hatimu, hanya cintalah yang menuntunmu menemukan jawab. Karena cinta selalu berkisah.

THE END

Cerpen Karangan: Oktavia
Facebook: oktavia
Nama: Indah candra oktavia

Cerpen Janji 14 Februari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Candrasengkala Cinta

Oleh:
Semburat cahaya lembayung memperindah langit sore itu. Dengan awan merah bercampur orange, serta kabut putih seperti lukisan pigmen di atas kanvas. Semua warga di sekolah itu sibuk mempersipakan untuk

Berawal Dari Halte

Oleh:
Langit semakin gelap, gemercik rintikan hujan semakin lama semakin deras. Aku berteduh di halte bus sambil menunggu bus datang menjemputku. Bersama beberapa orang yang sepertinya kedinginan -sama sepertiku- yang

Menjadi Yang Kuinginkan

Oleh:
“Siapa aku?” aku berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerak di bibir. Yang kutahu aku adalah seorang perempuan. Kuliah di universitas dan jurusan yang kuinginkan. Memiliki nilai di tiap semester

Inikah Senja

Oleh:
Ketika senja berlalu pergi, ketika sinar jingganya mulai kelam, ketika langit biru mulai menghitam, Ia, wanita yang manis itu menumpahkan segala air mata pengharapannya. Menumpahkan segala rasa sesal akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *