Janji

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 October 2020

“Tentang janji yang kamu ucap sepuluh tahun lalu.
Bukan kucatat hanya saja terasa. Ucapanmu terasa seperti ingin sekali bersamaku. Bahkan setelah entah dimana kamu. Janji yang terucap oleh bibir seseorang yang telah meninggalkanku. Bukan aku mendendam, hanya saja aku masih bisa merasakan apa yang telah dilakukannya padaku.”

“Hatiku telah sakit, itu adalah alasanku mengapa tidak mencarimu tetapi tetap saja aku merindu. Semenjak saat itu aku tidak pernah melihat lagi sosokmu. Aku tidak tahu dimana kamu sekarang, apa yang sedang kamu lakukan, dan bersama siapa.”

Lamunanku tiba tiba tersadarkan oleh sosok lelaki yang ada di depanku.
“Benar dengan Ibu Aldora” tanya lelaki itu
“Iya benar. Ada apa ya” Tanyaku
“Ini ada titipan surat buat ibu.” Lelaki itu menyodorkan sebuah amplop biru laut dengan hiasan pita cantik

Kubuka amplop itu, isinya sebuah surat. Kubaca perlahan lahan, sampailah pada isinya, aku kaget bukan main.
“Apa ini mimpi, apa ini cuma khayalanku saja?” Batinku
“Surat ini kiriman dari Farel” teriakku
Orang orang di sekitarku kaget dengan teriakanku dan memandangiku.

Orang yang janjinya selama ini menggangguku. Orang yang telah meninggalkanku sepuluh tahun lalu, kini mengirm surat untukku. Apa maksudnya ini. Apa maksudnya dengan meminta alamatku. Apakah ia akan kembali padaku dengan membawa lara yang aku rasakan ini.

Kulirik arlojiku sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Aku langsung bergegas menuju ke kantor. Aku masih kepikiran surat tadi, bukankah itu sangat aneh jika Farel tiba tiba mengirim surat dan meminta alamatku. Bukankah dia mengirim surat itu sudah berarti dia tahu alamatku.

Aku tidak bisa berpikir, selain memikirkan surat itu. Bagaimana Farel tiba tiba muncul setelah sepuluh tahun lalu.

Kring.. Kring.. Kringg..
Lamunanku disadarkan oleh suara handphoneku. Tanpa melihat siapa yang menelepon aku langsung mengangkatnya.

“Hallo bisa bicara dengan Bu Aldora?”
“Iya, dengan saya sendiri”
Suara itu seperti tak asing lagi di telingaku. Aku seperti pernah mendengar suara itu.

“Bukankah ini suara laki laki tadi yang memberiku surat” gumamku
“Ada apa ya?” aku bertanya kepada penelpon tadi
“Apakah saya bisa bertemu dengan Ibu? Kalau Ibu bisa, besok jam 1 siang di tempat Ibu biasa.” Tanya penelepon
“Iya” Jawabku singkat
“Bagaimana dia bisa tahu dimana tempatku biasa?” Dewi batinku bertanya tanya

Aku tidak bisa tidur memikirkan itu. Aku sangat penasaran siapa penelepon tadi dan siapa yang memberiku surat tadi. Dimana keberadaan Farel sekarang.

Keesokan harinya aku masih memikirkan hal yang sama. Apalagi nanti jam 1 siang, si penelepon ingin mengajakku ketemu, itu yang membuatku sangat deg degan.

Waktu hari ini kurasa sangat panjang. Apa aku yang merasa ingin sekali waktu berjalan. Apa ini yang ingin menghambat penasaranku.
Arlojiku menunjukan pukul 1 siang. Aku bergegas menuju tempat biasa. Disana aku mencari orang yang terlihat mencurigakan. Tetapi tidak ada. Aku memutuskan untuk memilih tempak duduk dahulu. Aku menengok ke kanan ke kiri tetapi tidak ada yang mencurigakan.

Tidak lama kemudian ada seorang laki laki yang mendekatiku.
“Bolehkah saya duduk disini?” Tanya laki laki tersebut
“Iya silahkan” Jawabku tersenyum
“Bukankah Anda yang kemarin memberi saya sebuah surat?” Tanyaku kepada laki laki itu
“Iya itu emang saya” Jawabnya santai
Aku pun terdiam setelah mendengar jawaban laki laki tersebut.

“Apakah kamu tidak menganal saya?” Tanyanya kembali
Aku kaget dengan pertanyaannya yang memangilku dengan “kamu”.
“Tidak” Jawabku singkat
“Kamu percaya tidak kalau aku ini Farel?”
Pertanyaan itu membuatku membeku. Lidahku terasa kaku, tubuhku membeku. Aku hanya bisa menghadap lurus ke depan tanpa bisa menggerakkan tubuhku.

Apakah benar pria yang meninggalkan lara yang membuat aku tidak bisa melupakannya sedang beradu tatap denganku saat ini?
Apakah itu benar?

“Iya benar ini aku Farel, apakah kamu tidak percaya?” Jelasnya meyakinkanku
Aku tidak bisa menjawab apa yang diucapkannya. Lidahku sangat sulit untuk digerakkan.
“Maaf jika aku telah membuatmu sakit selama ini. Aku tega meninggalkanmu saat itu. Aku minta maaf.” Jelasnya

Air mataku sudah tidak dapat kubendung lagi. Aku sudah tidak tahu mau berbuat apalagi setelah bertemu dengannya ini. Yang kupikarkan hanya ingin cepat cepat lari dari tempat itu.

“Aku kesini karena aku masih punya hutang sama kamu.” Ujarnya
Aku mulai berpikir, apa dia mencariku karena janji yang selalu kupikirkan itu.
Dan dia mengatakan bahwa dia adalah Farel, belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.

“Jika kamu tidak menginginkan aku datang, aku akan pergi. Tapi, setelah aku menepati janjiku.” Ujar lelaki itu
“Cepat ucapkan apa janjimu itu?” Tanyaku menyesak
“Janjiku adalah melamarmu.”

Sontak kaget aku mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin dia berjanji seperti itu. Janji itu sangat sulit menurutku. Air mataku semakit deras rasanya.

“Aku selama ini meninggalmu semua ada alasannya. Aku selama ini pergi hanya untuk mencari modal untuk melamarmu. Aku disana tidak langsung melepaskanmu begitu saja. Aku masih memikirkanmu selama sepuluh tahun ini. Aku selalu takut jika kamu disini sudah memiliki penggantiku. Dan aku selama 2 bulan terakhir ini, waktuku hanya untuk mencarimu.” Jelasnya membuat air mataku semakin deras

“Maaf aku tidak bisa segampang itu menerimanya. Aku masih memiliki sakit yang begitu dalam. Maaf.” Jelasku
Aku langsung cepat cepat meninggalkannya pergi. Aku tidak bisa kembali ke kantor dengan keadaan seperti ini. Aku izin dan kembali ke rumah.

Aku masih mikirkan kata kata yang diucapkan oleh Farel tadi. Mungkinkah ia sungguh sungguh melakukan itu, apa ia hanya mencuri perhatianku saja. Tetapi, jika aku melihatnya bicaranya tadi dia sepertinya tulus.

Sekarang aku malah merasa bersalah sama Farel. Aku tidak pernah menyangka ia akan berbuat seperti itu. Tanpa pikir panjang aku langsung menelepon orang yang kemarin meneleponku dan itu Farel.

“Hallo” Ucap Farel
“Aku ingin bertemu denganmu sekarang di tempat tadi siang.” Kataku cepat
Aku langsung mematikan teleponnya tampa menunggu jawaban darinya. Aku cepat cepat bersiap untuk menemuinya.

Sampai di tempat biasa aku sudah melihat Farel duduk di kusrsi yang tadi siang aku duduki. Langsung saja aku duduk di hadapannya.

“Maaf” Aku memulai pembicaraan dengan meminta maaf padanya.
“Apakah tawranmu tadi siang masih berlaku?” Tanyaku ragu ragu
“Jika masih, aku ingin menjawab iya.” Ujarku
Wajah Farel kelihatan seperti sangat kaget dengan kataku. Aku langsung tersenyum setelah mengatakan “Iya” padanya. Tangis haru menyelimuti suasana rindu ini.
“Terima kasih kamu telah mempercayaiku. Maaf jika ini terlalu sulit untuk dilalui.” Ucap Farel tersenyum.

Maaf bila harus menyakitimu seperti ini. Ini bukan maksudku, tapi ini harus menjadi yang kumaksudkan. – Farel

Cerpen Karangan: Esti Retno Listiyani

Cerpen Janji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Because Allah or Desire

Oleh:
“Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya itu sebelum mengenalmu. Aku sudah lama mengenalmu dan mengapa di ujung hatiku sudah hampir bisa melupakanmu kau datang lagi memberi sejuta kenangan bagiku.

Spesial Di Hati

Oleh:
Aku Adinda Putri, biasa dipanggil Dinda. Aku berusia 17 tahun dan masih sekolah di SMAN 1 Jakarta Timur. Hari-hariku selalu penuh canda tawa karena kehadiran sahabat-sahabatku. Waktu itu aku

Aku dan Jarak

Oleh:
Jarak? Aku menyebutnya bukan penghalang. Melainkan penghubung. Sesuatu seperti penguat atau bahkan bisa jadi suatu penghambat. Semua itu tergantung bagaimana jarak berpihak. Aku menjalani hubungan jarak jauh ini selama

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

Cinta, Jangan Buru Buru (Part 2)

Oleh:
“Hari bahagia, ku menyuntingmu, ku sematkan cincin ini di jari manismu.. dan ikrar suci, lengkaplah sudah kini kau menjadi milikku…” “Denta, tolong bukakan pintunya, sepertinya ada tamu di depan!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *