Janji Arga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 February 2014

Ayu terjaga dari tidurnya ketika ia mendengar ada suara berisik dari arah dapur. Tangannya bergerak mencari hp di meja di samping tempat tidurnya. Ayu menatap layar hp nya. “Oh, God, I’m late again…” Waktu seakan sangat tidak bersahabat. Rasanya baru lima menit yang lalu Ayu memejamkan mata dan terbuai dalam indahnya alam bawah sadar, tiba-tiba semuanya menghilang karena teriakan ibunya.
“Ayu, kamu ngapain lagi di kamar? cepet mandi, udah jam setengah tujuh nih! Awas aja yah, kalau mama sampai dipanggil lagi sama walikelasmu, uang jajanmu tidak akan mama kasih lagi. Uang angkot juga, terserah kamu mau jalan kaki ke sekolah sampai kakimu pincang tidak akan mama kasih lagi uang jajanmu! Ayuuu, dengar tidak omongan mama?”

Dengan langkah santai Ayu keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Ayu santai karena bukan hal baru lagi baginya mendengar semua teriakan mama di setiap pagi. Hampir setiap pagi, eh, bukan hampir tapi selalu di setiap paginya di buka dengan teriakan sang mama. Maklum ia anak satu-satunya yang punya kebiasaan setia dengan tidur alias selalu ketiduran.

Ayu dan ibunya tinggal sendiri di rumah sejak ayahnya meninggal akibat kecelakaan ketika Ayu masih kelas empat SD. Ayu sangat dekat dengan sang Ayah, sehingga kehilangan sosok ayah dengan tiba-tiba membuat Ayu terpukul saat itu. Rumah yang sepi tanpa iringan piano sang ayah ketika Ayu bernyanyi, sungguh merupakan hal terberat baginya. Terlalu besar perubahan yang Ayu rasakan. Tetapi ia bersyukur mamanya adalah tipe perempuan tegar dan cerdas. Terbukti dengan cepat mamanya, yang biasa disapa ibu Ningrum, berhasil mendapat kan pekerjaan dengan posisi baik di kantornya. Sebagai lulusan S2 Teknik Geodesi mama berhasil mendapat kedudukan manager di perusahaan alat Survei. Setelah menikah Ibu Ningrum memilih tidak bekerja karena ingin sepenuhnya mengurus keluarga, tetapi kenyataan berbicara lain dan membuat beliau harus kembali bekerja agar bisa membiayai kebutuhan mereka, apalagi tinggal di kota besar seperti Bandung bukan lah hal yang mudah. Meskipun Ibu Ningrum berusaha untuk membagi waktu dengan baik antara pekerjaan dan rumah, Ayu tetap saja merasa ada yang hilang yakni tidak ada lagi yang menemaninya bernyanyi seperti Ayah dulu.

Bel tanda pelajaran terakhir usai pun berbunyi. Semua siswa bergegas membereskan buku dan keluar kelas, begitupun dua sahabat Ayu dan Intan yang berbaur bersama siswa lainnya menuju gerbang depan sekolah. Tiba-tiba hp Intan berbunyi, “Ayu, nih Arga sms katanya ada yang mau dibicarakan sama kamu tuh, penting katanya, kamu disuruh ke…” Belum selesai Intan berbicara Ayu memotongnya, “loh, kenapa Arga gak langsung nelpon atau sms aku?” Ayu mengeluarkan hp dari tasnya, “yah… pantas hp ku mati. Arga mau ketemu dimana katanya?”
“Makanya neng kalau orang belum selesai bicara jangan dipotong dulu, kebiasaan sih, sahut Intan gusar. Arga tungguin kamu di tempat parkiran motor.”
“Yah, maaf atuh neng, jangan marah dong, hehe… ya udah aku balik duluan yah” Ayu berjalan meninggalkan Intan yang masih memandangnya.

Arga adalah pacar Ayu yang super baik dan pengertian. Arga dan Ayu cukup lama berpacaran, sejak mereka berdua masih kelas tiga SMP sampai saat ini mereka duduk di kelas tiga SMA. Gaya berpacaran mereka unik tidak seperti remaja lainnya yang selalu mengisi hubungan dengan kencan, ‘sayang-sayangan’ di sms-BBM atau saat telpon, Ayu dan Arga justru memilih untuk tidak melakukan itu semua. Mereka memiliki tipe yang sama yakni tidak suka diperhatikan bukan berarti tidak saling memperhatikan sama sekali, tetapi lebih menciptakan ruang bebas bagi mereka sendiri. Hal ini sangat membantu mereka untuk tetap berprestasi. Arga adalah ketua OSIS sedangkan Ayu juara umum.
“Hai Ga, lama yah nungguin? Maaf yah” Ayu menyapa Arga yang menunggunya di motor Vixion hitam kesayangan Arga.
“Aduh, yang susah dihubungin, udah datang yah, iya nih, lama nungguin kamu, gantinya kamu harus penuhin permintaan aku, gak pake nolak”
“Wah ada yang marah nih, ya udah, mau minta apa? Ditraktir atau dibeliin ice cream?” tanya Ayu manja sambil mencubit pipi Arga.
“Bukan itu, aku cuma minta, karena ini hari sabtu dan besok libur, aku mau main di rumah kamu malam ini, boleh kan?”
Ayu terdiam mendengar permintaan ini. Bukan Ayu tidak suka, hal ini karena Ibunya baru saja meletakkan pialanya dulu ketika SD menjuarai lomba penyanyi solo cilik seJawa Barat dan Ayu tidak ingin Arga melihatnya. Ayu tidak ingin ada yang memintanya bernyanyi lagi sebab sejak sang Ayah meninggal Ayu tidak pernah bernyanyi lagi. Baginya bernyanyi hanya bisa terasa menyenangkan jika bersama sang Ayah yang mengiringi, tanpa sang Ayah menyanyi adalah suatu hal yang sangat tidak menyenangkan.
“Hei, Yu, jangan diam aja, pokoknya nanti malam jam 7 aku ke rumah,” Arga berkata dengan nada suara yang tidak mengisyaratkan Ayu untuk mencegah. Ayu yang masih terdiam hanya bisa mengangguk dan langsung meminta Arga mengantarnya pulang.
“Ayu, ada Arga, Nak” ibu Ayu memanggil Ayu sembari mempersilahkan Arga masuk ke ruang keluarga. “Arga, tante tinggalin yah, lagi banyak kerjaan, kalau mau minum, ambil saja, jangan malu.”
“Iya tante, ini saya bawain brownies, lumayan buat temenin tante kerja” Arga memberikan brownies yang dibawanya pada Ibu Ayu, tante Ningrum.
“Wah, ada yang cari perhatian nih, kok pacarnya gak dibawain apa-apa?” Ayu yang baru keluar dari kamarnya langsung menggoda Arga.
“Kamu ini, Yu, tuh tidak lihat di tangan Arga ada coklat, masih kurang? Awas loh, gendut, ya sudah, mama masuk dulu. Arga tante masuk yah, terimakasih cakenya, lain kali jangan repot-repot, nanti ada yang marah” sambil melihat ke arah Ayu dan tersenyum.

Ketika Ayu sedang membuat minuman, Arga yang menunggu di ruang keluarga memanggil Ayu. “Ayu, kok selama ini aku main kesini baru lihat ada piala juara lomba nyanyi milikmu?”
“Iya, baru saja ditaruh mama, katanya sayang disimpan di lemari, gak bakal beranak.”
“Kalau begitu kamu bisa dong nyanyi, kok gak pernah nyanyi sih, ya udah kamu nyanyi yah, kebetulan aku bisa main piano”
Prang… gelas yang dipegang Ayu jatuh ke lantai dan pecah, ketika Ayu melihat Arga bersiap bermain piano.
“Kenapa, Yu, aku gak boleh main piano ini ya? awas jangan bergerak, aku beresin dulu pecahan gelasnya”.

Ibu Ningrum keluar dari kamar ketika mendengar suara pecahan gelas. Ibu Ningrum yang melihat reaksi Ayu berada di depan piano langsung memahami perasaan Ayu. Ibu Ningrum menghampiri Arga di dapur yang sedang membuang pecahan gelas. Ibu Ningrum mengajak Arga berbicara sebentar. Setelah Arga mendengar penjelasan Ibu Ningrum, Arga menghampiri Ayu. Namun Ayu sudah terlebih dahulu masuk ke kamar dan menolak untuk bertemu Arga dan ibunya.

Satu minggu sudah Arga dan Ayu tidak saling berbicaara. Berbagai cara Arga tempuh agar Ayu mau memaafkannya. Bahkan berteriak minta maaf di di depan kelas Ayu ketika jam pelajaran, sampai-sampai Arga harus berhadapan dengan kepala sekolah, karena dianggap tidak memberika contoh yang baik sebagai Ketua OSIS, tetap saja Ayu tidak bersedia berbicara dengan Arga. Di rumah pun Ayu memilih untuk diam di dalam kamar. Intan sahabatnya dan Ibu Ningrum, tidak tega melihat Ayu seperti ini. Akhirnya setelah berdiskusi, Ibu Ningrum menyetujui saran Intan agar piano itu dimasukkan ke gudang. Dibantu Arga, piano itu pun dimasukkan ke gudang. Namun belum sempat dipindahkan Ayu menangis dan memarahi Ibunya, Intan, dan Arga yang dianggap tidak memahami dirinya.
“Kenapa ma, kenapa piano ayah dimasukin ke gudang?” tanya Ayu sambil menagis
“Iya, Yu, biar kamu tidak ingat terus sama masa lalu kamu,” Intan yang menjawab.
“Diam kamu Tan, kamu yang usulin ide gila ini? Punya hak apa kamu?” Ayu yang tak pernah marah, kali ini membuat semua terdiam.
“Bukan itu masudku, Yu, aku cuma tidak ingin karena piano ini kamu terbayang terus sama masa lalu, sama ayah kamu…”
Prak, Ayu menampar pipi Intan, “maksud kamu apa, Tan, biar aku gak kebayang ayahku? Itu Ayah ku Tan, ada hak apa kamu melarang aku mengingatnya, jawab!!! Aku pikir kamu sahabat yang mengerti, percuma aku selalu cerita sama kamu, kamu gak pernah ngerti.”
“Kamu yang berhenti, Yu” Arga menimpali dan menarik Ayu menjauh dari Intan yang masih memegangi pipinya. “Dewasa Yu, apa kamu pikir ayah mu senang kamu kayak gini? Cuma bisa diam melihat pianonya, tanpa berbuat sesuatu? Apa dengan menampar Intan, Ayahmu akan bangga?” Arga memegang kedua pipi Ayu dan berusaha membuat Ayu mentapnya, “Lihat aku Yu, lihat mataku, kamu itu hebat ada atau tanpa adanya Ayahmu, tapi kamu sendiri gak akan pernah tahu, tanpa kamu mencoba.
“Kamu juga Arga, tau apa kamu soal ayah, dari mana kamu tahu rasa bangga ayahku?” Ayu menghardik Arga dengan tatapan tajam, “Bukan berarti kamu pacar aku, kamu berhak ikut campur semua masalahku, apalagi tentang ayah”, Ayu melepaskan tangan Arga dari kedua pipinya.

Melihat Ayu yang di luar kendali, Ibu Ningrum menghampiri Ayu dan memeluknya. Beliau membenarkan perkataan Arga tentunya dengan kalimat yang lebih halus. Intan yang meskipun masih merasa sakit karena ditampar Ayu, dengan tulus menghampiri Ayu dan membisikan “Aku tahu sahabatku ini hebat, nyanyi lagi Yu, ayahmu pasti bangga, we love you”
Ayu yang mendengar bisikan Intan spontan langsung memeluk Intan, dan menangis lalu meminta maaf. Bergantian dipeluknya sang Ibu dan Arga. Setelah cukup lama dalam pelukan Arga, Ayu memecah keheningan”Terimakasih buat semuanya, ma, Intan, Arga, bukannya Ayu gak mau nyanyi lagi, Ayu butuh waktu sendiri sekarang buat nenangin diri, tapi Ayu janji gak bakal buat kecewa kalian semua, terutama Ayah”, kemudian Ayu pamit masuk ke dalam kamar.

Satu minggu setelah hari itu, tepatnya hari Sabtu, Ayu meminta Intan dan Arga ke rumahnya. Setelah Ibunya, Arga dan Intan duduk di ruang keluarga Ayu menghampiri piano sang Ayah dan meminta Arga memainkannya untuk mengiringnya bernyanyi. Ibu Ningrum spontan bangkit dari tempat duduknya dan mencium Ayu. Intan dan Arga bertepuk tangan bersama melihat Ayu yang sudah bersemangat lagi. Arga bergegas menuju tempat piano dan mencoba memainkannya sesuai lagu Ayu. Sungguh, suara Ayu sangat bagus, apalagi lagu yang dinyanyikan lagu Ayah yang dipopulerkan Ada Band. Intan dan Ibu Ningrum tak kuasa menahan air mata. Ayu mencoba tetap tersenyum dan bernyanyio meskipun air mata juga membasahi pipinya. Satu kecupan dari Arga mendarat di pipi Ayu setelah Ayu selesai bernyanyi, “Sayang, kamu luar biasa”. Kata sayang pertama yang diucapkan Arga untuk Ayu. Dipeluknya Ayu sesaat, seakan dalam pelukan itu tergambar rasa bahagia dan bangga Arga untuk Ayu. Ayu pun merasa ada kehangatan lain dalam pelukan Arga, kehangatan yang selama ini hilang darinya, kali ini Ayu sadar cinta Arga tulus untuknya, cinta Arga bagaikan kasih ayahnya yang hilang. “Terimakasih, Ga”, Ayu melepas pelukan Arga dan menuju ke kamarnya bukan untuk berdiam diri lagi, Ayu membawa sesuatu dari kamarnya. Ternyata formulir audisi ajang pencarian bakat.
“Semuanya, Ayu udah mutusin mau buat Ayah bangga, jadi Ayu ikut ajang pencarian bakat ini, doain yah, biar Ayu berhasil. Arga, gantiin papa yah, temenin aku latihan”.
“Pasti, Yu, justru aku bangga kamu anggap aku sosok yang sama seperti Ayahmu”, Arga menimpali.

Ibu Ningrum dan Intan yang mengerti dengan situasi ini, segera menghampiri Ayu dan memberi semangat lalu memilih menuju ke ruang makan meninggalkan Ayu dan Arga. Arga mengajak Ayu ke teras depan rumah. Terdiam keduanya memandang langit malam yang bertaburan bintang. Arga memegang tangan Ayu, lalu berkata “Yu, tau kan aku gak bisa romantis? Tau, Ga, makannya kita gak pernah rayain Valentine pake coklat, pake bunga, kayak yang lain, kita cuma ngabisin waktu ngobrol berdua, gak jelas, hehehe”, Ayu tertawa geli.
“Maaf, Yu, mungkin kamu merasa aku aneh, atau mungkin kamu ngerasa bosan sama aku, tapi jujur, Yu, aku sayang sama kamu.”
Ayu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Arga, “Ssst, gak boleh ngomong gitu, justru itu yang buat aku suka dan sayang sama kamu. Kamu kan tau aku juga gak suka cowok romantis. Bagiku kamu yang sekarang sudah Arga yang sempurna”
“Thank you, Yu, tapi kali ini aku juga mau seperti cowok lain,” Arga menatap mata Ayu dengan pandangan yang tidak seperti biasanya. Yu, ijinkan aku jadi cowok kedua terhebat dalam hidupmu seperti Ayahmu, yah, aku janji gak akan ninggalin kamu, aku mau bareng-bareng sama kamu, mengiringi kamu nyanyi dengan piano ayah kamu. Mudah-mudahan dengan kita latihan terus, aku bisa bantu kamu juara”, Arga mengusap lembut pipi Ayu.

Ayu yang tidak biasa dengan sikap mesra Arga mencoba untuk tidak menghancurkan suasana malam itu, “Janji, ya Ga, gak bakal ninggalin aku sendiri sama piano itu kayak ayah, Aku sayang kamu Ga,” Ayu dengan tanpa ragu merebahkan kepalanya di dada Arga.
Arga mengiyakan permintaan Ayu dan membalas memeluk Ayu.
“Terimakasih Ayah, udah mau hadir lagi dalam Arga” Ayu yang masih dalam pelukan Arga berkata dalam hatinya.
Malam itu di bawah bintang yang bertaburan, janji Arga terpatri dalam hati Ayu.

Cerpen Karangan: Prisa
Facebook: Maria Prisila Paru

Cerpen Janji Arga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Ingin Kuliah

Oleh:
Kita sebut saja namanya Ryan, Ryan adalah siswa Alumni MAN di daerahnya yang baru saja dinyatakan lulus, malam itu setelah pengumuman kelulusan UN pada siang hari di seluruh indonesia

Daun Di Atas Batu

Oleh:
Pada sepotong ranting yang tengah terpukul arus dari pinggiran tebing yang curam, masuk ke dalam pusaran buih-buih gelombang, hanyut terbawa ke tengah laut. Ranting itu sebenarnya telah lenyap. Sebab

Lupa Caranya

Oleh:
Sabtu malam ini aku hanya menghabiskan waktuku dengan bermain gitar bareng Naco dan Saka di rumah. Pukul 20.00 tiba-tiba Naco merasa bosan dan mengajak kami untuk hang out setidaknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Janji Arga”

  1. annisa fatimatul firdausi says:

    bagus bingitz ceritanyaa.. 😀

  2. avrillia anindita says:

    Cerita nya bagus” bingtzz

  3. Cerpen nya oke banget,, moment-moment nya dapet banget 🙂 terus tingkatkan !!

  4. Imroatu says:

    Bikin terharu aja ni cerpen ;(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *