Janji Sang Pejuang Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 November 2018

Pagi itu untuk sekian kalinya orang-orang bekerja keras mencari nafkah demi sesuap nasi. Rata-rata mereka bekerja sebagai petani, pedagang, dan nelayan di desa terpencil di Lombok. Desa ini memang kurang mendapat perhatian dari kalangan atas, gaji yang mereka peroleh tidak sesuai dengan kerja keras mereka. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan.

Seperti halnya perempuan janda itu yang bernama Minah yang hanya mengandalkan hidupnya sebagai pedagang gorengan. Suaminya telah meninggal dunia karena serangan jantung yang dideritanya. Janda itu hanya mempunyai satu anak perempuan, yang ia beri nama Kinanti Syahira Lubis atau biasa dipanggil Kinan. Kinan telah ditinggal oleh ayahnya sejak ia masih bayi, dan sampai saat ini Kinan tidak pernah melihat wajah ayahnya seperti apa, karena ibunya tidak mempunyai foto-foto tentang ayahnya. Kinan hanya dapat mengetahui tentang ayahnya dari cerita-cerita ibunya saja. Maka dari itu, setiap malam sebelum tidur, Kinan selalu berharap dan berdoa agar dapat bertemu ayahnya lewat mimpinya.

Sejak kecil Kinan selalu membantu ibunya menjual gorengan di daerah sekitar rumahya. Tetangga-tetangganya selalu senang jika Kinan datang menjual gorengannya, karena selain Kinan cantik, gorengan yang dibuat oleh Kinan dan ibunya ternyata sangat enak dan gurih. Walaupun begitu keluarga kecil ini memiliki banyak harapan, seperti ibunya yang berharap dapat menyekolahkan Kinan, dan tentunya memiliki bisnis besar dalam menjual gorengan-gorengannya. Di samping itu anaknya Kinan, juga mempunyai mimpi yang amat besar yaitu ingin mempunyai rumah, mobil, dan memiliki anak yang banyak dan sehat agar ia tidak kesepian lagi dalam berkeluarga, karena selama ini ia hanya tinggal bersama ibunya saja dan ia ingin memliki keluarga besar yang ia impi-impikan. Saat Kinan dan ibunya sedang salat mereka selalu berdoa agar dapat merubah nasib buruknya itu dan dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sampai suatu hari ketika Bu Minah sedang mengiderkan gorengannya. Ia bertemu dengan seorang Kepala Sekolah dari SMA N 1 Lombok yang bernama Pak Rusdi, dan Bu Minah ditawarkan untuk berjualan di kantin sekolahnya, karena sma tersebut memang sedang kekurangan pedagang kantin. Akhirnya Bu Minah dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Lalu ia langsung menceritakan hal tersebut kepada Kinan anak semata wayangnya. “Nak, ibu baru saja ditawarkan pekerjaan!” Ucapnya “Perkerjaan apa Bu?” Tanya Kinan “Ibu ditawarkan untuk menjual gorengan di SMA N 1 Lombok!” Jawab Bu Minah “Wah aku senang sekali Bu mendengarnya, kapan ibu akan mulai bekerja di sana?” Tanya Kinan “Mungkin minggu depan ibu sudah bisa bekerja di sana,” Jawab ibunya “aku ikut jualan di sana ya Bu,” Ucap Kinan “Iya Nak, sekarang kamu angkat jemuran dulu sana, yang sudah kering di belakang!” Ucap ibu sambil melipatkan pakaian “Baik Bu,” Jawab Kinan dengan tersenyum.

Hari itu adalah hari pertama Kinan dan Ibu Minah ke SMA N 1 Lombok. Mereka berjalan kaki melewati Taman Cinta yang ada di desa deket rumahnya, rumornya taman tersebut bukan sekadar taman biasa, namun dipercaya dapat mempersatukan dua insan manusia yang sedang bercinta. Ketika Kinan dan Bu Minah menjual gorengan di SMA N 1 Lombok hasilnya sangat memuaskan, karena gorengannya terjual habis pada jam istirahat pertama. Murid-murid sangat menyukai gorengan yang dimasak Bu Minah. Saat itu Pak Rusdi bertemu dengan Bu Minah. “Bagaimana hari pertama berjualan di sini, Bu?” Tanya Pak Rusdi “Wah makasih banyak ya Pak, baru jam istirahat pertama saja, sudah habis terjual, Pak!” Ucap Bu Minah dengan tersenyum “Bagus lah kalo begitu, ngomong-ngomong dia ini siapa ya, Bu?” Tanya Pak Rusdi sambil menunjuk ke arah Kinan yang sedang membereskan dagangannya “Oh dia itu anak saya Pak, namanya Kinan, kenalkan Nak ini Kepala Sekolah yang ada di sini namanya Pak Rusdi,” Ucap bu Minah “Saya Kinan Pak,” Saut Kinan “Kenapa kamu tidak sekolah saja?” Tanya Pak Rusdi “Dulu saya sempat sekolah Pak, tapi saya lebih memilih membantu ibu saya saja lagi pula saya juga tidak mempunyai banyak biaya untuk sekolah, uang saja hanya cukup untuk makan.” Jawab Kinan “Loh, kamu nggak boleh putus asa, sekarang kan pemerintah sudah mencanangkan program beasiswa, jadi tidak ada lagi alasan untuk tidak bersekolah karena masalah ekonomi, ya sudah besok kamu sudah mulai bersekolah yah?” Ucap Pak Rusdi “Baik Pak kalo begitu,” Jawab Kinan “Ya sudah kalo begitu, ini ada sedikit rezeki untuk kamu membeli peralatan sekolah,” Ucap Pak Rusdi “Aduh nggak usah Pak, kita terlalu banyak ngerepotin Bapak!” Ucap Bu Minah “Sudah tidak apa-apa itu sudah kewajiban sekolah untuk membantu siswa-siswinya!” Ucap Pak Rusdi “Terima kasih banyak ya, Pak!” Saut Bu Minah “Terima kasih banyak juga ya, Pak!” Saut Kinan “Ya sama-sama, sukses selalu ya untuk kalian!” Ucap Pak Rusdi “Baik Pak,” Jawab Kinan dan ibunya dengan serentak. Pak Rusdi memang baik dia telah menjadi jembatan kehidupan bagi keluarga kecil tersebut.

Pagi itu Kinan dan ibunya berangkat ke sekolah bersama dengan berjalan kaki. Sesampainya di kelas Kinan duduk bersama Mayang. Selain dia baik dia ternyata juga pintar bahasa inggris. Sehingga jika Kinan kesulitan dalam belajar bahasa inggris, Mayang dengan senang hati membantunya. Bel pulang pun berbunyi, Kinan mengajak Mayang ke kantin dan memperkenalkan Mayang pada Bu Minah, ibunya Kinan. Setelah ke kantin, Kinan dan ibunya diajak bareng pulang bersama Mayang menggunakan mobil. Setelah sampai rumah, Mayang pun diajak untuk mampir ke rumah Kinan, tapi karena Mayang sedang ada acara, jadi terpaksa ia tidak mampir.

Suatu hari Bu Minah jatuh sakit karena demam, sehingga ia tidak bisa berjualan. Akhirnya Kinan ke sekolah sendiri dengan berjalan kaki dan ketika sedang berjalan di Taman Cinta, kaki Kinan merasa sakit ia pun terjatuh. Saat itu ada lelaki tampan dengan mengenakan seragam sekolah membawa mobil dan berhenti menolong Kinan. “Kenapa kaki kamu?” Tanya lelaki itu sambil memegang kakinya Kinan “Kayanya kaki aku agak keseleo, karena buat jalan aja sakit banget,” Jawab Kinan. Tanpa basa basi lelaki tersebut memijatkan kakinya Kinan, hingga akhirnya kakinya pulih kembali dan ia dapat berjalan lagi seperti biasa. “Makasih banyak ya, kamu udah bantuin aku!” Ucap Kinan dengan tersenyum dan menatap lelaki itu sambil pergi meninggalkannya “Hei.. kamu mau ke mana? Biar aku antar kamu saja?” Ucap lelaki itu sambil mengejar Kinan “Aku mau ke sekolah,” Jawab Kinan “Aku juga mau ke sekolah, memangnya kamu sekolah di mana?” Tanya lelaki itu “Aku sekolah di SMA N 1 Lombok, memangnya kamu di mana?” Jawab Kinan “Wah, kalo begitu sama dong aku juga sekolah di sana, Aku anak baru, Kalo begitu kenapa kita nggak barengan aja?” Ucap lelaki itu “Tapi kan aku nggak kenal sama kamu!” Ucap Kinan dengan tegas “Perkenalkan aku Fadli, tenang aja aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok! nama kamu siapa?” Ucap Fadli “Beneran kamu orang baik-baik? Aku Kinan,” Ucap Kinan. Setelah itu Kinan memasuki mobil Fadli dengan sangat terpaksa.

Di dalam mobil mereka hanya terdiam terbelenggu dengan pikiran mereka. Setelah mereka sampai di sekolah Kinan dan Fadli memasuki kelasnya masing-masing. Kinan pun menceritakan hal tersebut kepada Mayang, bahwa ia bertemu dengan lelaki yang bernama Fadli, yang telah membantu memijatkan kakinya Kinan yang sedang keseleo.

Bel istirahat pun berbunyi, waktunya Kinan dan Mayang pergi ke kantin, tapi pada saat di kantin tiba tiba perutnya Mayang sakit, akhirnya dia ke UKS dan tidak jadi makan di kantin. Ketika di kantin, Kinan bertemu lagi dengan Fadli dan mereka bercakap-cakap. Bel istirahat telah usai. “Oh ya Kin, kamu mau nggak, nanti pulang bareng aku?” Tanya Fadli “Hm.. gimana yak, yaudah deh,” Jawab Kinan dengan tersenyum. Sepertinya Fadli telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kinan.

Ketika bel pulang berbunyi Kinan dan Mayang pergi meninggalkan kelas, Kinan pun bertemu dengan Fadli dan memperkenalkannya kepada Mayang “Oiya Mayang ini yang waktu itu aku ceritain loh, yang udah bantuin aku, kenalin Fadli ini Mayang!” Ucap Kinan “Fadli” Saut Fadli “Aku Mayang, salam kenal ya, ngomong-ngomong aku pulang duluan ya Kin, soalnya supir aku udah nunggu dari tadi!” Ucap Mayang “Oh ya udah hati-hati ya, May!” Saut Kinan dan Fadli. Setelah itu Kinan dan Fadli masuk ke dalam mobil.

Sesampainya di rumah Kinan, Fadli pun ditawarkan makan bareng di rumah Kinan. Setelah selesai makan, Fadli pamit pulang dan berterimakasih kepada Bu Minah dan Kinan. Bu minah sangat menyukai sikap Fadli yang tidak sombong kepadanya, karena meskipun Fadli orang kaya, dia tidak malu untuk berteman dengan orang-orang kalangan bawah seperti Bu Minah dan Kinan.

Hari libur telah tiba, Kinan pun diajak oleh Fadli untuk mengunjungi rumahnya dan memperkenalkan kepada ayahnya. Kinan dan ayahnya Fadli saling bercakap-cakap dan ternyata Kinan baru tau bahwa ibunya Fadli ternyata juga telah meninggal dunia sejak Fadli masih bayi, sama halnya dengan Kinan yang telah ditinggalkan pergi untuk selama-lamanya oleh ayahnya. Kinan dan Fadli memang sudah ditinggalkan oleh satu orangtuanya sejak masih kecil, tetapi mereka tidak pernah menyerah dalam menjalani hidup karena tantangan hidup bagi mereka itu bukan untuk dihindari melainkan dihadapi dengan sikap yang bijaksana.

Setelah sekian lama mereka bersama-sama. Fadli pun mengajak Kinan untuk bertemu di suatu tempat di mana mereka pertama kali bertemu yaitu di Taman Cinta. Di taman tersebut, Fadli dan Kinan duduk di kursi putih yang panjang. Fadli pun mengutarakan isi hatinya yang paling dalam kepada Kinan. “Kin, aku boleh nggak ngomong sesuatu sama kamu?” Tanya Fadli “Memangnya kamu mau ngomong apa?” Jawab Kinan “Kita sudah lama sekali bersama-sama Kin, bahkan hampir setiap hari, jujur Kin aku nggak bisa menahan semua perasaan ini terus-menerus, aku mencintai kamu, apakah kamu ingin menjadi kekasihku?” Tanya Fadli dengan kenjantanannya sambil duduk di bawah kursi putih dan memegang tangan Kinan. Kinan pun langsung melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangan pada Fadli lalu berkata “Aku juga mencintai kamu Fad, tapi kamu tau kan kita berbeda kelas sosial?” Jawab Kinan sambil tegasnya “Kin, Justru perbedaan itu yang mempersatukan kita, lebih dari itu hanya angin yang berlalu, kenapa kamu harus mengelakan semua ini?” Ucap Fadli “Aku nggak mengelakan Fad, baik Fad aku akan menerima kamu, tapi aku punya syarat untuk kamu?” Ucap Kinan sambil menatap Fadli “Apa syaratnya?” Tanya Fadli “Kamu harus mau menerima aku dan ibuku apa adanya!” Ucap Kinan dengan penuh keyakinan “Baik Kin, kalo itu yang kamu mau, aku berjanji sama kamu hari ini dan untuk selamanya, bahwa aku akan mencintai kamu sampai maut yang dapat memisahkan kita!” Ucap Fadli dengan janjinya “Kamu Janji?” Tanya Kinan sambil menunjukan jari kelingkingnya “Ya, aku berjanji” Jawab Fadli sambil menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Kinan.

Akhir ajaran telah usai, Fadli dan Kinan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan tapi mereka tidak melanjutkan untuk kuliah, mereka memutuskan untuk menikah. Mereka hidup bahagia bersama. Sahabatnya yang bernama Mayang telah diterima di Oxford University. Fadli pun meneruskan perusahaan ayahnya yaitu sebagai Direktur Utama Hotel Bintang Lima. Serta Bu Minah ibu dari Kinan sendiri sukses berbisnis besar menjual gorengannya. Demikian pula mimpi-mimpi Kinan terwujud yaitu memiliki rumah, mobil, dan mempunyai banyak anak yang sehat. Setelah bertahun-tahun berumah tangga, Fadli memberikan janji kepada Kinan bahwa jika Fadli telah meninggal dunia, dia ingin dihajikan dan didatengi kuburannya setiap hari jumat oleh Kinan, dan tentunya Fadli ingin Kinan mengurusi anak-anaknya dengan baik. Saat mendengar janji-janji itu Kinan merasa bingung mengapa tiba-tiba suaminya berbicara seperti itu ketika Kinan sedang mengandung anak kesepuluh yang berusia sembilan bulan.

Tiba saatnya ketika anak kesepuluh terlahir di dunia. Tepat pada saat itu juga Allah SWT mempunyai kehendak lain untuk Fadli, Fadli telah dipanggil oleh sang Maha Pencipta pada umur empat puluh tahun karena penyakit jantung yang dideritanya. Penyakit tersebut sama halnya seperti penyakit yang diderita oleh ayahnya Kinan, Kinan tidak pernah menyangka bahwa ternyata peristiwa itu muncul kembali dihadapannya. Namun Kinan meyakini bahwa sutradara yang terbaik adalah Allah SWT, jadi Kinan telah ikhlas menerima kenyataan tersebut. Dan kini hidup Kinan selanjutnya adalah menepati janji-janji dari sang mendiang suami.

Cerpen Karangan: Dania Hasna Ningtyas
Blog / Facebook: Dania Hasna Ningtyas
Nama saya Dania Hasna Ningtyas. Saya telah dilahirkan di dunia ini pada tanggal 30 Oktober 1996. Hobi saya adalah menulis cerpen, puisi, mungkin next writting adalah novel. Hobi saya tersebut saya tekuni ketika saat kaki kiri saya patah, dan terpaksa saya harus cuti kuliah. jadi saya pikir untuk membuat waktu saya lebih produktif saya lakukan saja hobi tulis menulis ini. memang tulisan saya masih belum handal, namun saya pantang menyerah untuk terus belajar.

Cerpen Janji Sang Pejuang Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Yang Tertinggal (Part 2)

Oleh:
Nata sangat merasa tidak enak pada Dion. Bagaimanapun juga dia hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Walaupun menyakitkan itu lebih bukan dengan jujur terhadap perasaanya? Kalau dilihat dari luar tentu

Tanpa Mu Atau Ada Kamu

Oleh:
Aku tau apa tentang manusia berkemeja di belakangku ini? Disini di tempat ini, selalu. Tak ada yang berbeda dari tahun ke tahun. Tak ada cerita berbeda yang akan tercipta.

Jangan Renggut Pangeranku, Dik

Oleh:
“Terima! Terima!” riuh suara terdengar dari halaman kampus. Puluhan mahasiswa sigap berdiri memandangi pemandangan yang ada di depannya. Berkerumun dan berkasak-kusuk mengomentari sesuatu yang diimpikan oleh hampir seluruh wanita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *