Jatuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

Aku melihatmu di acara itu. Aku melihatmu baik-baik saja. Dan aku terluka karenanya. Aku berusaha menghindar. Memilih meja yang berjauhan, mengambil minuman dari tempat yang jauh dari jangkauanmu, tapi apa? Kamu justru datang dan membuatku berlari. Lantas kenapa kamu mengejar?

“Kamu, mau apa lagi?” tanyaku lirih.
‘Aku sudah habis seperti yang kamu bayangkan. Aku saki hati, aku hilang malu, aku kehabisan air mata, aku sudah jatuh kelewat dalam tapi semuanya memaksa untuk aku bertahan. Kamu sekarang ingin apa? Menghina? Menertawakan? Mencibir? Itu tidak ada pengaruhnya lagi. Karena kamu, sama buruknya denganku. Kamu mau apalagi, HAH? Kenapa masih bisa muncul di sini?”
“Ga, kamu mau apa?” tanyaku lagi.

Kamu berhenti di tempatmu. Ya, kamu selalu seperti itu. Membuatku kesusahan berlari, merasa diperjuangkan. Namun, setelah aku sadar bahwa aku terlalu jauh berlari dan merasa janggal karena kamu yang tidak pernah sampai untuk menangkapku, setelah aku tidak lagi sabar berlari dan berbalik untuk melihat sampai mana kamu berlari untukku, aku selalu terluka. Kamu tahu karena apa? Karena aku melihat bahwa kamu memang sedang tidak benar-benar mengejarku, dan parahnya, aku sudah benar-benar mengharapkanmu.

“Aku mau kamu Ri…” ucapmu dengan bibir bergetar.
Aku tersenyum getir mendengarnya. Sampai satu bulan yang lalu, kata-kata itu selalu aku tunggu. Tapi bagiku sekarang itu terdengar begitu menjijikkan. Muak sekali rasanya.
“Kamu egois…” desisku.
‘Kamu egois, Ga. Selalu begitu. Selalu aku yang mengalah. Selalu aku yang bertanya. Kamu mau apa, Ga? Kamu butuh apa? Kamu apa kabar? Kamu ada masalah? Kamu butuh aku, kah? Dan sialanya, kamu selalu datang kepadaku seolah-olah aku tempat pulang terbaikmu, sementara aku dengan bodohnya menyambutmu dengan tangan terbuka’

“Apanya?” tanyamu bingung. “Kamu tidak lihat? Aku menunggumu, Ri. Aku mau kamu. Kamu harusnya senang, kan?” ucapmu.
“Kenapa kamu jadi terlihat lebih menjijikkan?”
“Aku tidak mengerti, Ri.”
‘Jelas tidak mengerti, bodoh. Selama ini aku yang selau mengerti kamu, tanpa sekalipun bertukar. Selalu aku. Tidak pernah kamu berusaha mengerti. Sedikit pun tidak pernah asal kamu tahu,’

“Ri, kamu mau apa, sayang…” ucapmu lembut.
Air mata tidak bisa berbohong. Dia tumpah menghangatkan pipiku. Tumpah dari mataku yang sedari tadi sudah terasa sangat panas. ‘Kamu bertanya tentangku, Ga. Kamu tahu betapa sulitnya aku mendengar pertanyaanmu barusan?’
Kuhapus air mata itu kasar. Aku harus jauh, Ga. Aku tidak lagi ingin jatuh karenamu. Mungkin masih ada kisah lain di luar sana yang lebih baik, dan kuharap aku dapat yang terbaik. Seseorang yang bisa menjagaku dengan baik, bukan yang bisa kujaga. Kuharap, saling menjaga tepatnya.

“Jalani hidup kita masing-masing, Ga. Jalani seperti dulu dimana kita tidak saling bertemu. Buat aku jauh…” ucapku mantap.
“Kamu kejar mimpimu, aku akan kejar mimpiku. Kita masih punya kisah yang lebih baik dari ini, Ga. Kisah kita masing-masing. Kita nggak pernah bisa jadi satu. Oke… aku pergi.”

Malam itu, aku berlari darimu. Aku jauh, aku sangat ingin berusaha menjadi jauh. Aku bukan aku yang sabar. Aku tidak lagi bisa menunggu. Aku jemu. Aku tidak bisa lagi menjadi satu-satunya pihak yang memuja. Dan bahkan saat kamu sudah jatuh kepadaku saat ini juga, aku tetap tidak bisa. Hambar. Tidak ada rasa. Aku sudah lepas, Ga.

Ketika aku berlari, aku rupanya melupakan satu hal. Hujan. Aku berlari bersamanya. Bersama dinginnya. Dinginnya tidak membuatku menggigil memang. Aku tidak terganggu sedikitpun dengannya. Tapi tiba-tiba aku hilang. Gelap. Aku jatuh, Ga. Dan kamu tahu apa yang kutakutkan saat gelap itu?
Aku takut kamu yang menangkapku —lagi.

Dalam gelap ini, aku memohon.
“Jangan lagi dia, Tuhan. Sungguh, aku lebih baik hilang tak ditemukan.”

Cerpen Karangan: Annis
Facebook: Annis rati

Cerpen Jatuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Renungan “NASIB”

Oleh:
25 tahun yang lalu, Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun

Arjuna Hilang Khadizah Meninggalkan

Oleh:
Aku dinikahi seseorang yang asing bagiku, dia bagaikan pangeran yang kaya raya membawaku ke dalam istananya, dia berhati mulia dengan menerima keadaanku yang kala itu setengah gila karenamu, terlebih

Kita Bertemu Lagi Si Maret

Oleh:
Bruk! Uups aku tak sengaja menabrak seseorang. Seseorang itu berperawakan tinggi, memakai T-shirts abu-abu lengan pendek, Tangannya yang berkalungkan jam tangan dan beberapa gelang kecil yang warna-warni, kulit yang

Garsel

Oleh:
Dia. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Paling dekat aku hanya bisa menatapnya dengan jarak 10 cm. Hanya itu. Paling jauh adalah saat dia. menghilang dariku. Entah kenapa aku

Good Bye Single

Oleh:
“Dinnn.. Andien…” Terdengar suara teriakan teman gue, Suci dari depan rumah. “iyah apa? Sini masuk kamar gue langsung.” jawab Andien membalas dari kamar teriakan temannya. Suci pun langsung memasuki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *