Ja(t)uh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 August 2013

Aku dari awal tidak meminta untuk dipertemukan. Kau tahu, pertemuan ini hanyalah ketidak-sengajaan antara aku dan kau. Ingatkah kau?

– 2010 –

Aku berlari di pinggir pantai dan terjatuh, lalu kau menolongku.

Aku jatuh bukannya aku sengaja, bodoh kalau aku menyengajakan terjatuh di depanmu. Lalu kau tertawa. Mukaku memerah dan aku berpaling. Kau tanya: namamu siapa? dengan jelas aku jawab: Rafika.

Kekonyolan kau lakukan lagi. Pertanyaanmu yang kedua masih sama: siapa namamu?

Aku menghela nafas dan menjawab sambil kesal, Rafika.

Kau tersenyum, dan kau bertanya lagi.

Siapa namamu, adik kecil?

Aku semakin kesal. Ditambah dengan kalimat belakangmu menanyakan namaku. Aku berteriak kencang, RAFIKA! Dan kau terkejut.

Tanpa basa-basi aku menendang pasir dan aku kembali berlari.

Aku duduk di bawah nyiur hijau. Melambai, daunya melambai. Pohon kelapa itu sendirian, temannya jauh, 5 meter darinya.

“kenapa pohon kelapa ini sendirian ya?”

Lalu seseorang menepuk pundakku.

“DOOR!” kejutnya.

“Mau ngapain lagi sih, Om?”

“Kok Om?”

“Iya. Karena kamu udah panggil aku anak kecil. Duh kalo aja aku bawa KTP, aku bakal liatin ke kamu.”

Pria itu menepuk-nepuk angin. Melukis entah apa di atas angin.

“Rafika” katanya usai melukis angin.

“Apa?”

“Aku tidak memanggilmu, ya.”

“Lalu tadi?”

“Aku melukis namamu di angin. Hanya aku yang bisa melihat.”

“Dasar om-om” aku mendengus dan aku berbaring di atas pasir. Pantai yang indah, aku mencintai pantai ini sejak kecil.

30 menit tanpa membuka mulut. Pria itu mengajakku bicara. Mengulurkan tangan dan berkata “Agif. Namaku Agif, bukan Om atau Oom” dia tertawa, begitu juga aku.

Obrolan kami semakin seru, hingga akhirnya matahari mengucapkan selamat tinggal dan si langit berubah warna, jingga.

Kami menuju gerbang luar, berjalan tanpa sepatu. Sadar akan baju yang kami kenakan telah berubah menjadi lap pasir. Kami tertawa melihat satu sama lain.

– Pasar Kaget, Minggu –

Mendengus aku melangkahkan kaki menuju keramaian. Masih pagi buta dan aku dipaksa membuka mata demi tiga ikat bayam, setengah kilo cabai merah, seperempat bawang putih dan bawang merah, dan 4 potong ikan es. Ibu, benar-benar monster.

Aku benci bau pasar dan berantakannya komplek di hari Minggu. Aku rasa aku perlu meminta walikota atau gubernur untuk menertibkan semuanya dan melarang orang-orang berjualan di hari Minggu. Selain kotor dan bau, pasar Minggu ini membuatku kehilangan waktu tidurku. Namun untuk menghindari “anak gadis kok bangun siang” aku rela bangun jam 05.00. Lagi-lagi karena Ibu.

Ada pria kemarin tersenyum kepadaku. Ah. Om. Eh maksudnya, Agif.

“Kamu jualan?”

“Ya. Hari Minggu doang. Bantu-bantu orang rumah.”

“Oh ya? Wah…”

Aku mencari-cari penjual ikan es, biasanya ada disini.

“Kamu cari apa, Fik?”

“Ikan es, mana ya ibunya?” mataku sibuk mencari dimana ikan itu berada.

“Tuh!” Agif menunjuk ke arah jam 10.

“Terima kasih, aku duluan ya” senyumku membuat Agif tak bergerak dan tak sadar bahwa pelanggan telah berdatangan.

– Mall, Sabtu –

Kebosanan menghampiriku. Aku tahu, menunggu lamaran kerja tak mudah. Aku sudah memasukkan berkasku di beberapa perusahaan, namun karena belum rezeki, panggilan itu selalu tertunda. Ibuku sudah beberapa kali menyuruhku untuk bekerja atau mencari suami yang bekerja.

boro-boro suami, Bu… pacar weh ora punya

Aku selalu menggelengkan kepala jika aku ditanya: mau ibu nikahin sama Roy? Ganteng, anak polisi, dia juga udah kerja. Wes kamu nikah aja sama dia, ga susah.

Sayangnya, materi bukan apa-apa bagiku… Bu.

Aku sudah pernah berpacaran 1,5 tahun lamanya dengan pria kaya. Beni, namanya. Ia pengusaha batu bara. Ayahnya teman ayahku. Hanya saja kami putus, hal sepele.. bagi pria. Namun bencana bagiku. Ia menyelingkuhiku dengan seorang model. Yang aku tahu, model itu adalah model ternama. Ya memang benar, pengusaha kaya mana mau sama penyanyi cafe sepertiku.

Aku memasuki toko kaset. Aku lirik kaset lagu jazz keluaran terbaru, namun hanya Michael Buble-lah yang selalu menarik perhatianku. Kolot, atau bagaimana ya?

Keheranan hadir kembali. Otakku berputar dan heran.

kenapa ketemu terus sih ya?

Aku berjalan pelan-pelan dengan niat menjauh namun… gagal.

“Kamu darimana?” tanya Agif.

“Aaaa… anu… ehh… dari toko kaset.” jawabku gugup.

“Kita ketemu terus, jangan-jangan jodoh?”

Aku tersenyum dan ia mencubit pipiku.

Kami bertegur sapa setiap hari, mengucapkan selamat pagi, siang, bahkan malam tanpa henti. Kami mengucap rindu bersama, memaafkan dan menerima.

Aku dan Agif tengah berpacaran saat ini. Dunia seakan milik kami berdua.

Keluargaku telah mengetahui Agif adalah kekasihku. Begitu juga aku di hadapan keluarganya.

– Teras rumah, 2012 –

Aku menunggu kabar dari Agif. Lelah tanpa henti selalu aku cek handphoneku. Bukan hanya itu, aku juga menelfon Tasya, adiknya Agif.

Sudah dua bulan tanpa komunikasi dan tanpa pesan. Aku berpegang penuh pada kesetiaan. Rasa cintaku yang besar membuatku ikhlas akan semuanya.

sepucuk surat dari Rani Kumasta, Ibu Agif.

“Nak Fika. Maaf, ibu mengirimkan surat ini. Bukan pertanda buruk atau apa, hanya saja ibu bingung menghubungimu kemana.

Kabar kamu gimana sayang? Ibu dan keluarga baik-baik saja. Begitu juga Agif. Jangan khawatir, kami sekeluarga baik-baik saja.

Fika sudah dapat kerjaan, nak? Dimana kalau iya? Ibu dengar dari Agif, kamu sudah bekerja.. syukurlah kalau begitu.

Oh iya, apa kamu udah coba masak rendang? Dulu kan ibu udah ajarin kamu, waktu kamu main ke rumah… kapan-kapan dibawa ya..

Fika, kamu bisa kirim nomor hp kamu? Tolong ya.. ibu mau ngobrol..

Dapat salam dari Agif, katanya dia kangen banget sama calon istrinya ini…

salam,

Rani Kumasta, Agif dan keluarga”

Aku terkejut. Segera aku balas surat dan aku tunggu balasannya, setidaknya 2-3 hari lagi surat ini akan sampai. Aku menghela nafas…

– Juni, 2012 –

Dering telfon berbunyi. 4 bulan setelah balasan surat, barulah Bu Rani meneleponku.

“Halo ini Fika ya?”

“Iya bu apa kabar?”

Obrolan panjang, cerita panjang lebar dari Bu Rani. Aku tertawa geli ketika ia menyebutkan bahwa aku sudah hamil. Darimana aku hamil, calon suaminya tak kunjung memberi kabar.

Tiba-tiba aku sedih dan aku bertanya,

“Bu, Agif ga pernah sms aku selama dia kerja… apa dia udah lupa sama aku bu?”

“Loh… enggak sayang. Nih ibu lagi sama Agif.”

“Mana bu aku mau ngobrol…” pintaku pada Bu Rani.

Terdengar bunyi ayat suci berlantunan. Aku terheran.

“Halo, Bu? Lagi pengajian?”

“Enggak sayang…”

“Jadi?”

“Kita lagi di acara pemakanam Agif. Dia sudah tiada, nak..”

Telepon terputus dan sekujur tubuhku lemas.

Segera aku mendial ulang nomor telepon Bu Reni.

“Ibu! Cerita ke Fika yang sebenarnya bu” teriakku.

Agif jatuh dari lantai 17 saat dia membuka jendela apartemennya. Saat itu ia sedang rapat bersama menteri luar negeri Turki. Ia sempat menelepon ibu waktu itu, namun entah mengapa suara teriakan Agif begitu besar dan terdengar bunyi ledakan. Langsung tidak ada suara disana, hanya teriakan orang meminta tolong dan ambulance. Ibu segera menyusul Agif, sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, sayang… umur tidak ada yang tahu. Allah menjemputnya dan memberikan tempat yang lebih baik. Maafkan Agif, nak Fika. Agif titip sesuatu untuk Fika.

Aku tidak bisa menarik nafas lagi. Tertahan dan sepertinya aku benar-benar kehilangan seluruh kendali organ tubuhku. Aku terkujur kaku, tidak bergerak sama sekali.

Aku sadarkan diri. Ruangan putih tanpa hiasan. Aroma farmasi dan alat bantu pernafasan ada di sekelilingku. Aku membuka mataku perlahan. Ada sosok Agif di depanku. Tersenyum, mencium keningku.

“Kamu baik-baik saja, sayang”

Aku bermimpi. Untung kau tidak mati, sayang. Aku jatuh di dalam ketidak-sengajaan pertemuan, dan aku jatuh cinta tepat di matamu.

Aku membuka mataku lebih luas lagi. Tidak ada Agif disana.

Aku bermimpi ternyata, ia benar-benar sudah jauh dariku. Kamu dimana?

“Aku di surga, sayang. Cepat kesini”

Tidak ada bunyi alat rumah sakit lagi, selimut putih telah menutupiku dari ujung kepala hingga kaki.

sekarang aku bersamamu, Gif.

Cerpen Karangan: Hesty Indah Pratiwi
Blog: http://dailyoftea.wordpress.com
Hesty Indah Pratiwi, bisa dipanggil Tea. Mahasiswi perguruan tinggi swasta di Bandung. Kontak: @teaaw / hestyindahpratiwi[-at-]gmail.com

Cerpen Ja(t)uh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Apa Dengan Sunset?

Oleh:
Dia! Dia, sangat senang melihat matahari terbit. Keindahannya begitu luar biasa, karya agung sang maha kuasa. Namanya mentari hidupnya sederhana dan penuh perjuangan. Terkadang rasa lelah selalu ia dapat

Cinta dalam Secangkir Moka

Oleh:
Deras hujan membuatku mual tuk menatap jendela kayu tua,tugas kantor yang membuatku pening menumpuk seperti pohon cemara yang teruntai menjadi suatu keindahan langka.tak selang beberapa lama langit berhenti menangis,ku

Untitled (Part 1)

Oleh:
Mentari tersenyum menyambut insan yang terbangun dari buaian mimpi. Setelah melakukan semua aktivitas pagi mulai dari bersih-bersih, menyiram bunga, mandi dan lain-lain, aku segera mengambil seragam osis yang tergantung

Bintang Baru Di Tahun Baru

Oleh:
“Kalau aku jadi langit, kamu jadi apa?” “Aku mau jadi astronot biar bisa samperin kamu ke langit.” “Loh, kok astronot sih? Kamu harus jadi bintang.” “Memangnya kenapa?” “Karena aku

Evangelistas (Part 1)

Oleh:
Adakah hal yang begitu kau sukai di dunia ini? Beberapa orang menjawab memasak, membaca, atau menyulam wol di musim dingin. Semua orang memiliki hobi masing-masing. Aku mencintai petualangan. Mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *