Jawaban Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 December 2017

Tch! Aku kembali berdecak melihat lokerku
Sebuah surat dan mawar putih! Isi surat yang selalu sama hanya ucapan selamat pagi dan kata-kata penyemangat!
Ah! Aku mengacak rambutku frustasi! Bergumam dalam hati menerka-nerka siapa pelaku semua ini. Apakah Miko si kutu buku sasaran bully di sekolah atau Rio cowok terpopuler sekaligus kapten basket. Aku biasa menyebutnya manusia es! Ya! Karena menurutku dia adalah cowok super dingin yang bicara pun hanya seperlunya. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam mencari beribu ketenangan. Kemudian perlahan kuhembuskan nafas yang sedari tadi aku tahan. Dan perlahan aku membuka mataku, berharap di depanku saat ini adalah surga tapi yah tetap saja hanya deretan loker dan dua benda yang masih menjadi misteri. Kukunci lokerku, dan beranjak menuju kelas.

Dug! Aku merasakan sesuatu begitu keras menyentuh kepalaku.
Sial bola basket!
“Sorry sorry, sini gue bantu” aku melirik ke arah cowok yang mengulurkan tangannya, Rio! Si manusia es!
“Makasih”
“Kaki lo berdarah, mending lo ikut gue ke uks biar gue obatin”
“Gak, gak usah nanti juga sembuh kok”
Namun Rio seolah tak mendengar, dia membawaku ke uks, membuat para fans atau para penggemarnya menatapku sinis. Dan sialnya seolah aku menikmati waktu bersama Rio.

“Nanti lo ganti lagi ya perbannya”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum menatap Rio.
“Ya udah gue balik kelas dulu, makasih ya”
“Eh tunggu” Tiba-tiba Rio menarik pergelangan tanganku.
“Kenapa?”
“Gue Rio, lo siapa?” Aku menelan ludah, menatapnya bingung, aku merasa terlihat sangat bodoh! Ah ya wajar seorang Rio cowok populer tidak mengenalku. Aku tahu diri, aku hanya cewek biasa, yang jarang bersosialisasi dan lebih sering menyendiri dengan earphone dan laptopku. Aku rasa tidak aneh si manusia es tidak mengenalku.
“Gue Shalsa”
“Hahaha, iya lo anak ips 1 kan?”
Aku mengangguk, dia tau kelasku? Apa selama ini? Ah mana mungkin seorang Rio memperhatikanku, segera kutepis jauh-jauh fikiran paling bodoh itu.
“Ya udah gue ke kelas dulu”
“Oke”

Sejak kejadian di uks itu aku dan Rio sedikit lebih akrab, dan sekarang aku tak lagi menyebutnya manusia es, aku tau Rio dia cowok humoris jauh bertolak belakang dengan yang selama ini aku fikirkan.

Kenapa sekarang rasanya berubah, aku nyaman saat bersama Rio, apa aku menyukainya? Ah semua cewek di sekolah aku rasa menyukainya, termasuk aku! Sosok pria yang nyaris sempurna di mata wanita, badan atletis berkulit putih bersih, wajah bulat dihiasi lesung pipi dan alis tebal bak ulat bulu. Ditambah prestasi yang sangat luar biasa dan sejuta bakat dalam segala bidang. Benar-benar idaman setiap wanita bukan?

Namun aku sadar seorang Rio sudah memiliki kekasih, wanita yang paling beruntung di dunia menurutku. Ya, Starla. Cewek cantik, pintar, baik, ramah dan seorang putri tunggal pengusaha kaya raya. Jauh berbeda denganku. Menurutku mereka memang cocok, bahkan sangat cocok. Mengalahkan Romeo dan Juliet.
Rio banyak bercerita tentang Starla, wanita yang sangat dicintainya, entah sejak kapan dia menjadikanku teman untuk mencurahkan masalah dan perasaan nya tentang Starla. Setiap ceritanya yang sangat menyakitkan untukku!

Oke! Aku hanya sebatas sahabat tidak lebih! Aku tahu diri! Mana mungkin seorang Rio menyukaiku? Mustahil!

Pagi ini aku kembali menemukan surat dan mawar putih, entah yang keberapa. Mungkin sudah ratusan surat jika dihitung. Tunggu! Kali ini alisku bertautan menatap bawah surat, terdapat inisial pengirimnya. Inisial E? Siapa? Aku mengerutkan keningku. Aku tidak memiliki teman laki-laki berinisial E, hanya teman wanita Elisa ah mana mungkin Elisa! Aku menepuk keningku seolah dialah yang paling bodoh.

Jam 7 malam, kafe kenanga. Aku terus memikirkan isi surat yang saat ini aku genggam di tangan kiriku.
Setengah jam lagi pukul 7, apa aku harus datang?
Bantu aku! Ah aku bisa gila di sini!

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi karena kekepoanku melebihi rasa malasku. Sepuluh menit akhirnya aku sampai di depan kafe kenanga.
Dengan perasaan gugup aku memasuki pintu kafe, mataku menyapu setiap sudut kafe, terlihat beberapa pasangan memenuhi ruangan kafe ini, namun mataku berhenti pada sosok pria yang berada diujung ruangan, yang sedang sibuk dengan ponselnya terlihat jelas dia menunggu seseorang karena hanya dia yang terlihat sendiri di sini.
Apa dia?

Aku berjalan semakin mendekat ke arahnya, sepertinya aku mengenal dia, punggung yang begitu familiar di mataku, tapi siapa? Apakah? Ah sudahlah.
“Permisi” aku berdiri di belakangnya membuatnya memutar badan menghadapku, dan sukses membuatku terkejut. Dia? Ya! Aku tidak salah. Dia Rio!

“Rio?” aku menatapnya heran
Dia hanya tersenyum menatapku, membuatku semakin bingung, aku mengerutkan keningku tak percaya.
“Duduk Shal, udah gue pesenin cokelat panas kesukaan lo”
“Jadi lo, yang ngirim surat ke loker gue selama ini?”
Rio terkekeh kecil lalu mengangguk, membuatku kembali menatapnya dengan wajah tak percaya.

Dia berdiri dan menuntunku duduk, aku gugup! Bodoh! Aku terlihat sangat gugup membuat Rio tak berhenti tersenyum menatapku.
“Gak usah bingung gitu, gue sebenernya udah lama merhatiin lo Shal, dari awal kita ketemu di perpus, sebelum gue pura-pura nanya nama lo di uks”
Aku menatapnya tak percaya, bagaimana mungkin? Apa ini kerjaan Rio? Apa dia sedang mempermainkanku? Tapi aku rasa Rio bukan tipe pria brengsek seperti itu. Lalu ini apa? Apa ini nyata?
“Gue seneng beberapa bulan ini bisa deket sama lo, gue nyaman sama lo”
“Dan soal Starla, itu gue sengaja pengen tau reaksi lo” dia menambahkan soal Starla seolah tau apa yang aku fikirkan
“Maksud lo?” aku menautkan alisku membuatnya kembali terkekeh melihatku
“Iya, jadi Starla itu sepupu gue, gak mungkin dong gue suka sama dia, gue ngarang cerita gitu cuman pengen tau reaksi lo doang, untung lo beneran gak tau dan percaya sama gue” dia mengangkat alis kirinya dan tersenyum puas melihatku
Aku menatap kesal kearahnya, bodoh! Bahkan aku tidak tau kalau Starla sepupunya, apa hanya aku yang tidak tau soal ini? Aku rasa iya! Karena aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri sampai hal seperti ini bahkan aku tidak mengetahui! Dia lalu mengacak rambutku pelan, membuat pipiku berubah seperti udang rebus. Lagi-lagi dia kembali terkekeh melihatku dan diakhiri dengan cubitan kecil di sebelah pipi kiriku.

“Rese banget sih lo yo! Lo gak lagi ngerjain gue kan?”
“Hehe, jangan ngambek dong, ya enggak lah Shal buat apa gue ngerjain lo”
“Emang apa yang ngebuat lo suka sama gue, gue kan biasa aja?”
“Ya karena menurut gue lo beda, lo gak pernah cari perhatian sama gue, gue liat lo cuek sama cowok, lo gak pernah mempan kalo dimodusin sama mereka, lo beda Shal, itu alesan kenapa gue suka sama lo, lo cewek yang selama ini gue cari” nada bicara Rio terdengar sangat serius membuatku salah tingkah, aku hanya menatapnya tanpa menjawab sedikitpun. Lama kami saling diam, tiba-tiba suara Rio memecah keheningan membuyarkan lamunanku.

“Jadi gimana Shal?”
Aku gelagapan menatapnya, bingung!
“Gimana apanya?”
“Masih gak jelas?”
Aku menggeleng cepat, membuatnya menarik nafas panjang menatapku gemas.
“Gue sayang sama lo”
Deg! Jantungku berdegup lebih cepat, kutatap kedua mata Rio, aku tidak melihat keraguan di sana aku merasa Rio tulus mengatakan perasaannya.
“Lo mau jadi pacar gue?”
Kami saling menatap, lama. Tatapan yang mampu membuatku nyaman, tak percaya dengan takdir Tuhan, selama lebih 2 tahun aku memendam perasaanku dan mencoba membuang jauh perasaanku pada Rio. Namun kini, semua menjadi nyata, seolah waktu mengasihani ku karena selama ini bertahan tanpa lelah. Aku tersenyum puas menatapnya.
“Jadi?” Rio membuyarkan lamunanku seolah dia tau apa yang kufikirkan. Terlihat jelas kecemasan di wajahnya, membuatku akhirnya mengangguk. Dia tersenyum puas menatapku, kemudian mengacak rambutku dan menggenggam tanganku.
“Makasih Shal, jadi sekarang lo resmi pacar gue” dia mengangkat kedua alisnya dan tersenyum jahil menatapku, aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Jadi E itu?” aku mengangkat kedua alisku
“Elfrio Dinata” dia menjawab dengan senyum memperjelas kedua lesung pipinya
Aku masih terus tersenyum menatapnya. Sungguh indah malam ini! Malam penuh dengan kejutan! Malam yang tak akan pernah aku lupakan!
Terimakasih Tuhan untuk takdir indah-Mu, aku akan terus menjaga senyum itu, aku akan terus menjaganya. Terimakasih telah kau kirimkan dia untukku. Terimakasih.

Cerpen Karangan: Anisa RF
Facebook: Anissa

Cerpen Jawaban Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Leave My Heart In Sengkuang

Oleh:
Alunan lagu dari salah satu band indi menggema di telingaku seraya menemani perjalananku menuju rumah kakak sepupuku yang hari ini akan melaksanakan resepsi pernikahannya. Berlokasi di Bengkulu Utara, awalnya

Sebuah Perasaan Untukmu

Oleh:
Sudah empat tahun berlalu sejak perpisahan kita. Lucu sekali hubungan ini, diawali mula dengan sebuah janji menonton kembang api bersama lalu diakhiri dengan menonton kembang api lagi. Kenangan yang

Aku Ingin Menggapai Mu

Oleh:
Dunia ini kejam dan menyakitkan, hanya berisi buli membuli. Di dunia ini kalau tidak membuli pasti dibuli, yang kuat menindas yang lemah bagai hukum rimba. Orang baik hampir tidak

Gadis Arah Jam Sebelas

Oleh:
Perut sudah mulai bereaksi mengeluarkan bunyi-bunyian. Otak juga sudah terespon dengan sangat jelas bahwa rasa lapar yang hebat menerpa. Kuraih tangan Fryan dan kulihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 17.00.

Will Gates

Oleh:
Persamaan Danang dan Will Gates: Sama-sama didrop-out dari sekolah. Apa itu artinya, Danang bisa masuk ke dalam daftar salah satu dari 100 orang terkaya di dunia versi majalah Corbes?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *