Jawaban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

Seiring detik berganti dengan asa yang kian menggema, saat rumput tersenyum menjamu mentari menandakan kehidupan, masih berlanjut sampai saat ini. Bait demi bait mulai aku untai dalam kata supaya indah jadinya, duka lara dalam sebuah ujian kini aku simpan menjadi kenangan. Dan semua masalah kemarin ku singkirkan untuk menyambut hari ini.

Siang ini aku bersama empat orang teman baikku, kami memutuskan untuk makan bersama di kantin Rusunawa. Seperti biasa kami sudah memesan makanan yang selalu sama seperti sebelumnya yaitu, dua porsi soto lamongan dan tiga porsi ayam penyet. Aku sangat menikmati makan siangku hari ini, hembusan angin segar yang menyapaku seakan-akan hidupku tanpa beban. Aku tersenyum, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan. Setidaknya aku masih bisa bahagia bersama mereka yang selalu ada untukku.

Ketika aku beralih, pandanganku tertuju pada sosok pria berkemeja batik ungu. Yah? aku sangat menyukai warna ungu. Entah apa yang membuatku terdiam dan memandangnya dalam waktu yang lama. Mungkin, karena dia terlihat rupawan, Perasaan aneh mulai muncul dalam pikiranku yang belum sempat aku mengerti. Aku terus memandangnya, tapi dia bahkan tidak melihatku, justru temannya yang membalas pandanganku. Sial…

Terdiam dalam kebisuan, tenggelam aku dalam lamunan, aku yang memulai untuk berharap agar dia dapat mengenaliku, bayangannya sejenak menari-nari di mata, menghadirkan cerita dalam hati. Malam telah tiba, bahkan sinarnya rembulan tak dapat aku lihat karena aku terlalu asik memainkan Hp (handphone). Aku bukanlah wanita yang senang ke luar malam tanpa alasan. Dulu aku sangat sibuk mengikuti kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Namun, setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri, aku menghabiskan waktuku dengan hal-hal yang membosankan.

Di kala rasa bosan itu datang, akan ku selingi dengan aktivitas nonton sambil chatting. Anehnya, ketika aku membuka akun Instagram ada nama yang tak asing memfollow akunku. Sekedar melihat namanya @Sabran_syah saja hatiku langsung takjub. Aku segera Follback dan menstalking akun tersebut ternyata benar, dia adalah pria yang aku lihat siang itu. Perasaan bahagia tak dapat tertahan namun, disusul perasaan kecewa karena malam ini juga aku harus menerima kenyataan bahwa dia sudah memiliki kekasih.

Ingin sekeras petir aku berteriak agar sesak di dadaku lenyap hilang secepat cahaya kilat. Ingin aku menangis sederas hujan agar hanyut perihnya hatiku terbawa arus kecewa. Cinta adalah mimpi yang ceritanya berakhir ketika kita terbangun, meninggalkan beberapa saat yang harus dihargai. Cinta menyerupai bayangan, ketika kita berlari dia akan tetap mengikuti.

Terasa semacam tidak memiliki namun takut kehilangan, semacam tidak mempunyai status apa pun tetapi merasakan kecemburuan. Aku memang merasa tak punya hak untuk bisa cemburu, karena aku bahkan belum mengenalnya. Tapi, perasaan ini tiba-tiba saja memberontak memberikan isyarat bahwa ada perasaan yang perlu aku pahami saat ini. Biarkanlah air mata yang mewakili perasaanku saat ini.

Surya pagi sang mentari, dengarkan lantunan suara hatiku ini, mengikuti irama kerinduan, mendengarkan senandung pagi yang cerah. Lihatlah cahayamu menusuk hangat dalam pori-pori kulitku. Hantarkan kehangatan, aku merasakan aliran syairmu menggebu-gebu dalam dada. Syair penuh arti, syair penuh harap, syair senandung pagi yang membuatku memudarkan kekecewaan yang aku alami.

Aku harus melakukan rutinitasku yaitu kuliah pagi, saat itu ketika dosen tidak masuk kelas tiba-tiba ada pesan singkat tanpa nama. Aku menyimak pesan tersebut, seperti ungkapan perasaan yang masih abstrak. Anehnya, ternyata pesan itu dari pria yang sama. Saat itu juga aku tidak dapat membendung kebahagiaan ini yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata, seperti aku berhasil memenangkan kupon hadiah jutaan rupiah, atau bahkan seperti seorang Fans yang dapat foto dan tanda tangan dari sang Idola.

Terlihat konyol bukan? tapi itulah adanya ini berlangsung sejak perutku seakan-akan penuh dengan kupu-kupu mungkin inilah yang disebut jatuh cinta. Ini belum berakhir, disusul dia ternyata invite pin BBM-ku dan akhirnya kami saling mengenal satu dengan yang lain. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya bahagia karena aku tahu pria yang aku sukai saat ini sudah memiliki kekasih. Tetapi, aku juga tidak dapat menipu diri sendiri mengikuti hati kecilku untuk melupakannya. Rasa bersalah dan keegoisanku beradu, di sisi lain bahkan aku merasa aku seperti orang yang paling jahat karena tidak dapat melupakan cinta yang mustahil ini.

Ketika mengenalnya begitu banyak hal yang terjadi secara kebetulan, kami lahir di bulan dan tahun yang sama, sama-sama anak bungsu, memiliki inisial nama awalan S. Sebenarnya kebetulan seperti ini, hanya membuat aku larut dalam imajinasi khayalanku. Tapi, aku senang dia selalu hadir di setiap malamku, menyapaku dalam setiap tidurku, aku rasa itu sudah cukup walaupun aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan, merunduk saat bertemu, salah tingkah saat berpapasan, itu sudah lebih dari cukup karena, aku mengajarkan hatiku untuk tegar dibandingkan aku mengharapkan hal yang berujung pada kekecewaan.

Mungkin yang dapat aku lakukan saat ini adalah berdoa, karena di dalam setiap doaku namanya menjadi perbincangan hangat yang sering aku ceritakan kepada sang Pencipta, itu lebih membuatku merasa lega menuangkan semua keluh kesahku, bahkan aku merasa seakan-akan Allah sedang berkata kepadaku. “Hai anak manis, saya akan berikan yang terbaik nanti, bersabarlah manis, tetap jagalah hidupmu hingga nanti tanganku akan memberikan anugerah terbaik bagimu. Jangan menangis. Tersenyumlah.”

“Baiklah Ya Allah, aku tahu semua akan indah pada waktunya.” Jawabku dalam hati.
“Sekarang aku hanya akan memberikan kaki yang kuat untukmu agar kau tetap berjalan ke depan melalui hidup yang penuh dengan problematika ini anak manis, jadilah wanita yang anggun dan kuat.”

Perbincangan itu akhirnya selesai, kegundahan dan kebimbangan akhirnya terbayarkan. Tetapi, ada kalimat yang selalu mengganjal dan tak mampu aku lewatkan, kata itu seperti ini, “Ketika hatimu mulai tidak jujur, maka sakit hati itulah jawabannya.” Sejenak aku berpikir sebaiknya biarkan semuanya berjalan apa adanya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya.

Pada sinar mentari pagi, selalu ada rindu yang ku rangkai sebelum jemari kami dapat bersentuhan. Pekat malam yang menghilang digantikan oleh hembusan angin pagi ini, di situlah mulai ku sebut sehelai nama, dan mengingatnya membuatku selalu tersenyum tanpa sebab. Aku memulai aktivitasku di hari Jumat yaitu kuliah jam 08.00 pagi. Sampai di kampus dari kejauhan kokom sudah berbisik lebih dulu, bahwa ada anak PGSD di depan. Sekedar modal nekat dan keberanian yang tipis aku langkahkan kakiku berjalan ke depan.

Seeeeettttt!! tiba-tiba ada lelaki berbaju putih berpapasan denganku dan menyapaku, “Tikung”, ini untuk pertama kalinya dia memanggil namaku. Aku berlari tak mampu membendung kebahagiaan ini, sekejap darahku mengalir deras menuju ke jari kaki dan jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Kalau cinta mampu berbicara, mungkin salam rindu yang ku beri, mampu kau pahami butirnya. Kalau cinta mampu bernada, mungkin pedih yang melarat, bisa kau sekat dari hadirnya. Kalau cinta itu santun kata, maka biarkan kita berpantun dengan nada penuh tanda tanya. Namun, kalau cinta itu adalah luka, maka biar kering segalanya, hingga tinggal parut yang tak tersisa.

Aku tak mampu bertanya pada sunyi malam di kala fajar mulai mengintip celah hari. Apakah memang rasa ini, harus ku pendam dan ku kunci rapat-rapat dalam peti pedih hati ini. Oya, masih ada hal yang ingin aku ceritakan, setiap kali si doi membuat PM (Personal Message) dan DP (Display Picture) diakun BBM (BlackBerry Messenger), tentang pacarnya aku merasakan kecemburuan yang mendalam. Hahaha emang aku siapa? Iyah, lupa bukan siapa-siapa.

Terdengar sangat memalukan, tapi itulah kenyataannya. Bahkan aku membenci diriku yang sekarang, kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumya, karena kisah percintaanku tidak pernah serumit ini. Semua lelaki yang datang padaku selalu aku pertimbangkan terlebih dahulu apakah layak menjadi kekasihku. Tapi kali ini, bahkan antara otak dan pikiranku belum sempat bernegoisasi, dan hebatnya perasaanku sudah lebih dulu mengambil alih semuanya, membuat aku berada pada titik dimana aku harus mengakui bahwa aku benar-benar menyukainya. Akibatnya, rasa cemburu itu membuatku mengambil keputusan untuk delcont dia.

Alasan terbesarku bukan sekedar cemburu tapi, aku berniat untuk melupakannya, dan mengusir perasaan yang sudah lama berkunjung. Tapi cara tersebut tidak berjalan dengan mulus, karena semakin aku berusaha melupakannya, maka perasaan itu seperti kuku, walaupun terpotong maka dia akan tetap tumbuh dengan subur bahkan tumbuhnya dapat lebih panjang dari pada sebelumnya. Tapi itu, tak lantas membuatku diam dan hanya menunggu keajaiban berharap kekasih hati menggapai jemariku dan mengatakan bahwa dia mencintaiku.

Akhirnya, aku putuskan untuk berpikir lebih realistis lagi, mengubur semua impian, mencoba membuka mata lebar-lebar untuk tegar menerima kenyataan. Aku harus berusaha melupakan cinta pandangan pertamaku. Ternyata usahaku tak sia-sia perasaan itu mulai memudar namun tak dapat terhapuskan begitu saja. Mungkin lebih baik aku menunggu dewi keberuntungan berpihak kepadaku. Sambil belajar melupakan impian yang sudah jauh larut dalam ilusi belaka. Perasaan ini masih bisa aku netralisir ketika aku sedang mengadu kepada Allah.

“Ya Allah tolong bantu aku untuk lebih peka membaca keadaan jauh sebelum kecewa. Jauhkan setiap hal bodoh yang hanya membawaku ke dalam kesia-siaan. Tolong bawa kesakitan yang terlanjur Engkau berikan. Dekatkan aku pada hal yang semestinya aku miliki. Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari ketidakpastian masa depan, keputusan yang salah, pahitnya kenyataan, hati yang berbolak-balik. Jauhkan aku dari harapan yang berujung perih. Biarkan aku belajar lagi merasakan bahagia dengan caraku sendiri.”

Sekarang aku yakin ada sesuatu yang menantiku selepas banyak kesabaran yang aku jalani, yang akan membuatku terpana hingga aku lupa betapa pedihnya rasa sakit. Tiba saatnya, siapa yang bisa percaya bahwa dewi keberuntungan menyapaku kali ini, semuanya berubah kekasih hati yang sudah lama dinanti akhirnya sendiri. Aku tidak tahu harus bahagia atau justru bagaimana? Aku percaya bahwa Allah tidak pernah kehabisan cara untuk menyatukan yang berjodoh, dan memisahkan yang tidak berjodoh, lantas, apa yang harus dirisaukan?

Entah dimulai dari mana dua insan ini akhirnya melakukan pendekatan, dan akhirnya si doi menyatakan cinta kepadaku. Tepat tanggal 23 November 2015 hubungan kami resmi menjadi sepasang kekasih. Tidak ada yang lebih indah, selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan, sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tidak ada yang akan pergi, sebab tahu bagaimana sulitnya mencari.

Tahukah engkau kekasih? sejak kehadiranmu hingga kini ruang hatiku beraroma wangi, buaian bunga-bunga rindu menari di setiap pagiku. Semakin hari bersemi, tanpa layu senyum ini tersirami cinta suci darimu kekasih hati. Jangan biarkan ku sendiri, ku hanya ingin memiliki cinta sejati, menjadi harga mati yang tidak tertawar lagi. Andai ada pengganggu hati, hati ini tegas mengatakan, “janganlah engkau ragu lagi, hati ini milikmu abadi.”

Cerpen Karangan: Sartika Kiring
Facebook: Tikung Kiring
Seorang mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Borneo Tarakan.

Cerpen Jawaban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matematika Kronis

Oleh:
Senyap ini merongrong ditiap sudut kelasku. Diam seribu kata penuh makna. Hiruk pikuk yang ramai dengan celotehan masa putih abu-abu, seakan senyap dalam jangka waktu enam puluh menit. Otak

Semua Karena Cinta

Oleh:
Bagiku cinta hanyalah sebuah skenario yang diatur. Sebentar pacaran, dan tak lama kemudian putus. Itulah mengapa aku sampai sekarang masih jomblo. Lebih baik aku menulis sebuah buku. Itu lebih

My Freaks Holiday

Oleh:
Liburan menurut gue sangat membosankan ketika gue liburan bersama bokap sama nyokap gue, karena setiap liburan kami selalu ke rumah saudara. Tiada liburan tanpa ke rumah saudara itulah motto

Indah Pada Waktunya

Oleh:
“Siang malam kunanti sebuah keajaiban atas penantianku” Ini adalah kisah tentang perjalanan kisah cintaku, aku adalah Nayla Wildania. Sekarang aku adalah seorang Manager di salah satu perusahaan di Kota

Kau

Oleh:
Kutulis cerita ini saat kau telah pergi dari hidupku, saat kau telah berhenti mendampingiku, saat kau telah pergi jauh sekali. Tapi kutulis cerita ini saat kau masih ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *