Je T’aime (Aku Mencintaimu)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 21 June 2017

‘Lima tahun, bukankah waktu itu terbilang cukup untuk bisa berada di dekatmu. berdiri di sampingmu dan mencoba membuat hal-hal indah bersama.’

Catatan itu masih tersimpan rapi di laciku dalam balutan diary. Buku biru mungil yang dulu tak pernah bosan menemaniku menuliskan semua hal tentangnya. Sampai akhirnya aku menyerah dan membiarkan sebagian lembar tetap kosong dengan hanya menyimpannya. Aku takut, jika aku memulainya lagi, aku akan kembali tertidur dalam waktu yang lama. Sama halnya dengan dulu.

Tin… Bunyi klakson dari beat hitam terdengar jelas di telingaku. Tanpa membuang waktu lagi aku segera meraih tas selempangku dan bergegas menuju pintu.
“Bonsoir, Ma cherie (Selamat malam, Sayang). Kamu sudah siap.” Masih dengan cara yang dulu, cowok yang sekarang berdiri tepat di depanku kembali meniru gaya Pangeran dengan mengulang kalimat yang sama.
“Tentu, Mon cheri.” dan aku meraih uluran tangan sang Pangeran untuk kemudian kami bergegas melewati pagar hitam meninggalkan halaman rumahku.
Untuk kesekian kalinya kami akan melakukan hal yang sama. Menikmati waktu bersama dengan kembali mengunjungi tempat yang sama.

“Mon cheri. Bukankah seharusnya kita belok di perempatan tadi?” Ucapku tepat di telinganya, setelah aku merasa sedikit asing dengan jalan yang sekarang kami lewati. Sudah ribuan kali kami mengunjunginya. Dengan mata tertutup pun aku masih bisa merasakan setiap sudut jalannya.
“Kita akan pergi ke tempat lain.” Teriak dia. Maklum, kami sedang berada di jalanan, sedikit teriakan akan membantu kami berkomunikasi di tengah keramaian lalu lintas kota.
“Jadi kita tidak akan pergi ke kedai ice cream seperti biasanya?” Sahutku.
“Tidak Ma cheri. Tenang saja kamu pasti juga akan menyukainya.” Kali ini aku hanya bisa menyerah. Mencoba menebak sendiri tempat yang akan kami kunjungi.

Tiga puluh menit. Kami berhenti tepat di depan parkiran. Begitu turun dan melepaskan helm maroon yang sama seperti miliknya, mataku kubiarkan menjelajah mengelilingi tempat sekitar. Nihil saja aku masih tidak bisa menyimpulkan dengan pasti tempat apa ini. Meskipun banyak kendaran yang terparkir di sini, bagiku masih terbilang sunyi untuk menyebutnya sebagai taman.

“Aku akan membawamu mendekat.” Kali ini tanpa menunggu persetujuanku dia langsung menarikku. Membawaku berjalan menuju bukit kecil tepat dimana dia kali ini bersandar merebahkan diri.

“Danau.” Kataku tidak percaya.
“Kamu menyukainya?” Kali ini aku berjalan mendekatinya. Menyandarkan tubuhku tepat di sampingnya.
“Danau, kerlip lampu, ribuan bintang, dan juga kamu Bukankah tempat ini cukup indah untuk bisa disebut menarik.”

Ach, aku tidak boleh tertidur lagi. Bahkan untuk sedetik pun aku tidak boleh memejamkan mata. Karena hanya imajinasi tentang dia yang aku dapat. Hanya itu yang akan aku dapat begitu aku kembali mengingatnya. Matanya. Tatapannya. Senyumnya. Oh Tuhan, tujuh tahun dan ingatan itu tidak pernah hilang dari benakku. Semua masih terlihat jelas bahkan untuk pertama kali aku menatapnya.

Saat itu untuk pertama kalinya aku mengunjungi perpustakaan. Dan aku melihat dia. Dia yang di awal tahun hanya bisa aku pandang. Tidak, bukan hanya di awal tahun saja, tapi dua tahun sebelumnya. Dia masih orang yang sama yang sering aku pandang saat aku masih memakai seragam putih biru. Hingga sampai pada masa putih abu-abu dan kegemaran dia mengunjungi perpustakaan. Aku yang sebelumnya tidak punya hobi ke perpus, mendadak tidak pernah absen mengunjunginya. Iya memang aku sengaja bukan untuk mencari buku, tapi terlebih sering mencari dia. Sampai pada akhirnya kami satu langkah lebih dekat dengan bertukar sapa. Iya, sebatas bertukar sapa. Entahlah bagiku matanya selalu menyejukkan, dan setiap perkataannya membawa kedamaian tersendiri di hati. Karena itu, cukup buatku untuk sekedar menyapa atau mendapat sapa darinya.

Dua tahun, sejak hari perpisahan itu, aku masih tetap mengingat setiap hal darinya. Cara dia tersenyum, tatapannya. Cara dia bicara, sikap, bahkan aroma dari parfumnya. Hari kelahirannya, setiap tanggal penting untuknya, semua masih kental dalam ingatanku. Dan hari ini, benarkah dia menuliskan ucapan itu untukku.

“Happy birthday, wish you all the best.” kalimat singkat yang menjadi kado terindah di hari ulang tahunku.
“Terima kasih, untuk doanya.” Balasku, berharap dia masih punya waktu untuk kembali membalas.

Masih di hari itu, kami bercerita panjang lebar. Tentang pendidikanku dan juga tentangnya. Dia yang sekarang menempuh semester empat di Fakultas Kedokteran. Dan aku berada di semester dua dengan fakultas yang sama. Meskipun tidak dalam perguruan tinggi yang sama. Iya, aku terlambat satu tahun. Satu tahun aku berada dalam kebimbangan. Jujur saja, waktu itu aku punya hemophobia. Keadaan dimana aku takut melihat darah. Sampai pada akhirnya phobia itu benar-benar hilang, dan aku memasuki fakultas itu.

Aku benar jatuh hati padanya. Sampai aku lihat, dia berada di antara deretan tamu undangan menghadiri acara wisudaku. Dia terlihat sedang berjalan mengarahkan kakinya menuju tempatku. Dia semakin mendekat. Bahkan sekarang dia berdiri di hadapanku. Tepat di depanku. Dia menatapku, aku yang terlebih dulu menatapnya membuat mata kami saling beradu pandang. Tiga puluh menit, benarkah? apa mungkin waktu berjalan melambat. Sampai aku benar merasakan tatapan matanya yang menyejukkan itu dalam waktu yang cukup lama. Juga aroma parfum itu, aku merasakannya, masih kucium aroma parfum yang masih sama dengan terakhir kalinya aku berada di dekatnya.

“Selamat, Dokter muda Dean Alena.” Dia menjabat tanganku. Tidak, Kali ini dia benar-benar menjabat tanganku. Bahkan aku merasakan hangatnya telapak tangannya menyentuh telapak tanganku. Benarkah ini semua terjadi. Benarkah dia Aringga, bukan, tepatnya dr. Aringga, orang yang selama ini aku kagumi dan aku jadikan alasan dalam setiap hal, benarkah dia datang untuk mengucapkan kalimat itu langsung di depankku. Benarkah… benarkah…

Brugh, Sekali lagi aku terjatuh dari tempat tidurku.

Cerpen Karangan: Desi Widya
Facebook: Desidee

Cerpen Je T’aime (Aku Mencintaimu) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


It’s You?

Oleh:
“Contoh Kak Harry! Dia anak rajin dan selalu jadi juara kelas! Kamu? Nilai nggak pernah jauh dari D-E-F. Mau jadi apa sih kamu?” Olokan mama kembali terngiang dalam benakku.

Amira’s Love Story

Oleh:
“kriiinggg…” bel masuk sekolah berbunyi, menandakan bahwa upacara penerimaan siswa-siswi baru akan segera dimulai. Upacara adalah salah satu hal yang paling tidak disukai oleh gadis berambut ikal ini. Dari

Miliaran Kerikil

Oleh:
Untuk semua yang datang membawa kepedihan. Saat kreatifitas tidak disalurkan bisa tumpul, saat kemampuan tidak dipakai bisa hilang, tapi saat cinta tidak pernah diberi? Apa sebenarnya hakikat dari cinta?

Perjuangan Cinta Nita

Oleh:
Ada sepasang kekasih panggil saja Nita gadis keturunan jawa betawi dan Apip pria keturunan jawa asli. Mereka pacaran sejak duduk dibangku SMA. Pada saat Nita lulus SMA orangtuanya mengirimnya

Semoga Bukan Hanya Rasaku Saja (Part 1)

Oleh:
Suasana kelas yang perlahan mulai penuh, dihiasi wajah–wajah ceria dan wangi khas pagi hari yang menyegarkan. Namun berbalik dengan itu semua, Ran, dengan raut muka gelisah, sesekali memandangi pintu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *