Je T’aime (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 February 2015

“Dek, kakak hari ini gak bisa jemput kamu. Tapi kakak udah minta tolong kok sama temen kakak untuk jemput kamu. Kamu tunggu aja ya”
Chika menghela nafas mengingat ucapan kakak nya di telepon tadi. Chika selalu kesal jika harus menunggu dijemput setiap pulang sekolah. Chika telah sering meminta izin kepada kakak nya agar Ia diperbolehkan membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Tetapi kakak nya tidak pernah mengizinkan Chika. Alasan kakak nya adalah karena Chika belum memiliki SIM. Chika tau, alasan sebenarnya kakak nya tidak mengizinkannya karena kakak nya takut Chika akan keluyuran setiap pulang sekolah jika telah membawa kendaraan sendiri. Chika selalu iri melihat teman-temannya yang membawa kendaraan sendiri ke sekolah.

Tiba-tiba Chika mendengar ada yang memanggil namanya, Chika menoleh, dan dia mendapati seseorang yang memanggil namanya itu adalah seorang cowok. Cowok itu beralis tebal dengan bulu mata yang lentik, tinggi badan bak pemain basket, berkulit putih, dan cowok itu mengenakan kaos berwarna putih polos serta celana jeans panjang dilengkapi dengan sepatu converse. Sejenak Chika terpana karena saking kagumnya dengan cowok itu. Cowok tersebut berjalan menghampiri Chika yang masih terpana.
“Chika kan?” ucap cowok tersebut membuat Chika tersentak. “Eh iya hehe.. Hmm siapa ya?” jawab Chika grogi. Cowok itu tersenyum sambil mengulurkan tangan, “Gue Robby”. “Oooh, ada apa ya?” tanya Chika seraya menjabat tangan Robby. Chika sangat gugup dan grogi, bukan hanya itu, Chika juga sangat senang karena bisa berkenalan dengan cowok ganteng yang bernama Robby itu. “Gue temennya Cello, lo adek nya Cello kan? Cello belum bilang kalo lo dijemput sama gue?”. “Oohh jadi cowok ini yang jemput gue. Gila, kak Cello punya temen secakep ini kenapa gak dikenalin dari dulu sih?” pikir Chika.
“Hey, kok malah bengong?” tanya Robby penasaran karena Chika tidak menjawab pertanyaannya. “Iya kak, kak Cello udah bilang sih kalo dia minta tolong temennya jemput gue, Cuma kak Cello gak bilang namanya. Tunggu ya gue telpon kak Cello dulu, mana tau lo orang jahat ngaku ngaku jadi temennya Cello” canda Chika. Robby hanya menggeleng sembari tersenyum. Chika kemudian menelpon kakak nya Cello untuk memastikan bahwa memang Robby lah yang menjemputnya. Setelah yakin, Chika kemudian pulang bersama Robby.

Ketika di perjalanan pulang, Chika keheranan karena jalan yang dilalui nya tidak ke arah jalan rumahnya. Chika cemas dan takut bahwa Robby akan melakukan hal yang macam-macam padanya. Jantung Chika berdegup kencang, tak tertinggal pula keringat dingin mengucuri badan Chika. Tetapi Chika bingung harus melakukan apa, Chika terlalu takut untuk melakukan sesuatu. Chika memikirkan semua hal yang kemungkinan bisa terjadi, Chika merinding, tapi Chika tak hanya memikirkan itu, Chika pun siaga, Ia memikirkan perlawanan-perlawanan yang bisa dilakukannya.

“Ayo dek turun, udah sampe nih” ucap Robby sambil melepaskan sit belt nya. Chika hanya diam, Ia memperhatikan rumah besar yang ada di hadapannya sekarang. Chika bertanya-tanya dalam hati, tempat apakah rumah besar itu. Chika semakin ketakutan, Ia tak beranjak dari tempat duduknya. Robby heran melihat tingkah Chika, “Gak mau turun?” tanya Robby sambil menatap Chika. Chika balas menatap Robby dengan wajah polos yang penuh ketakutan. Seketika Robby bisa membaca pikiran Chika, Robby pun tertawa sejadi-jadinya. Melihat Robby yang tiba-tiba tertawa, Chika malah semakin takut dan bingung.
“Gue baru inget, gue belum bilang kan kalo lo di rumah gue dulu, nanti Cello yang jemput lo disini..” ucap Robby setelah puas tertawa. Tetapi Chika tetap tidak langsung percaya, Chika menunduk dan berpikir keras, apakah benar yang dikatakan cowok itu barusan. Tanpa diminta, Robby langsung memperlihatkan history chat nya dengan Cello kepada Chika. Setelah membaca history chat itu Chika langsung bernafas lega, dan merasa sangat malu karena telah berpikir yang macam-macam terhadap Robby.

“Gila rumah nya gede banget! Ini rumah apa istana??” pikir Chika ketika memasuki rumah Robby. Rumah itu sangat menarik perhatian Chika, rumah itu sangat besar dengan bergaya modern classic. Setiap furniture di dalam rumah itu ditata sedemikian rupa. Chika membayangkan seandainya itu adalah rumah nya, Ia pasti akan sangat bahagia. Bukannya rumah Chika tidak bagus, rumah Chika sendiri juga tak kalah bagusnya, Cuma ya namanya manusia kan tidak pernah puas, begitu juga dengan Chika.

“Kak Cello lama banget sih” gumam Chika dengan kesal. Sudah 1 jam Chika menunggu di ruang tamu, tetapi Cello tidak juga datang menjemputnya. Robby yang sedari tadi asik bermain dengan laptop nya kemudian menoleh kepada Chika sambil tersenyum. Chika jadi salah tingkah karena melihat Robby tersenyum kepadanya. “Tunggu aja dulu, kalo 5 menit lagi kak Cello nya belom dateng, telpon aja” usul Robby kepada Chika. Tetapi Chika tidak bisa menunggu 5 menit, Ia langsung mengambil handphone nya untuk menghubungi Cello.
“Kakak kok lama banget sih!” sembur Chika ketika telponnya telah tersambung. “Aduh maaf ya sayang kakak lupa bilang, kakak gak bisa jemput kamu, tapi kakak udah bilangin ke Ravi kok buat jemput kamu. Tunggu aja ya, bentar lagi dia dateng kok.” Jelas Cello panjang lebar di ujung telepon. Setelah mendengar penjelasan dari Cello, Chika langsung memencet tombol merah pada handphone nya. Chika mendengus kesal. “Poor I am” pikir Chika. Chika kemudian mengerjapkan matanya, Ia telah membayangkan wajah kakak nya Ravi yang akan menjemputnya dengan sangat kesal.

Ravi adalah kakak kedua Chika. Anak pertama adalah Cello, kemudian Ravi, dan Chika yang terakhir. Cello telah kuliah semester 3, sedangkan Ravi baru memasuki semester 1. Cello sangat menyayangi Chika, dan Ravi sangat berbanding terbalik dengan Cello. Ravi sangat membenci Chika, yang Chika sendiri tidak tau alasannya apa. Yang Chika tau, Ravi tidak pernah ingin membuat interaksi dalam bentuk apapun dengan Chika. Ya, Ravi selalu menghindari Chika. Tak jarang Ravi mengucapkan kata-kata kasar kepada Chika. Tetapi Cello melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi dari Cello, karena jika Cello tau kemungkinan besar Ravi bisa diusir dari rumah. Walaupun begitu, Cello tetap mengetahui bahwa Ravi sangat membenci Chika. Pada awalnya Chika selalu cerita kepada Cello jika Ravi mengasarinya, dan selalu setelah Chika bercerita kepada Cello, Ravi akan menghampirinya dengan cacian yang lebih parah lagi. Sekarang Chika telah terbiasa dengan sifat Ravi yang membencinya, tetapi tetap saja Chika selalu sedih jika Ravi berbuat kasar kepadanya.

“Wey kampret, gue udah nungguin lo di luar dari tadi, ternyata lo malah asik ya pacaran disini” teriak seseorang dari pintu. Serentak Robby dan Chika melihat, dan ternyata suara itu berasal dari Ravi. Chika sangat kaget dan malu terhadap Robby. Buru-buru Chika membereskan tasnya kemudian pamitan kepada Robby. Robby masih sangat bingung dengan apa yang terjadi, dan Robby juga bingung dengan seseorang tak dikenal yang telah berada di depan rumahnya. Chika beranjak menuju tempat Ravi berdiri. Tanpa basa basi Ravi langsung menampar Chika. Seperti biasa, Chika tidak bisa melakukan perlawanan apa-apa. Chika hanya menunduk, Ia merasakan matanya telah memanas, air matanya menyesak ingin keluar. Tetapi Ia menahannya, Ia tidak ingin ketauan menangis, karena jika Ia menangis, Ia tau Ravi akan lebih marah lagi.
“Bruuk..” Ravi tiba-tiba tersungkur. Robby telah berdiri di samping Chika dengan wajah yang penuh dengan amarah. Ravi menahan sakit di wajahnya, Ia begitu emosi, darah nya telah naik ke ubun-ubun. “Heh, lo siapa?? Berani nya bogem gue!! Lo gak tau siapa gue?!!” tantang Ravi ketika telah berdiri. “Gak perlu gue tau siapa lo! Yang gue tau lo itu bencong! Beraninya nampar cewek!” jawab Robby tak kalah sadisnya. Ravi sangat kaget, belum pernah ada yang berani berkata kasar kepadanya selama ini, selain Cello. Ravi menggenggam tangannya kuat, bersiap untuk melayangkan tangannya ke wajah Robby, tetapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Chika. Robby sangat geram, Ia melepaskan tangan Chika yang memegang lengannya. “Lo apaan sih? Masalah gue belom selesai sama tuh banci!” protes Robby dengan penuh amarah kepada Chika. Chika kemudian menarik paksa Robby agar masuk ke mobil. Walaupun Robby sempat melawan, tetapi Ia mengalah juga karena memang Ia merasa sangat lelah jika harus adu jotos dengan Robby.

Selama di perjalanan pulang Ravi tak pernah berhenti mencaci maki Chika. Sekalipun Robby tak pernah memperlakukan Chika sebagai adik nya. Sesekali air mata Chika jatuh karena hatinya sangat pedih dengan perlakuan Ravi. Chika tak pernah tau apa alasan Ravi begitu membenci nya. Untung nya Ravi tidak tau bahwa Chika menangis.

Sesampai di kamar Chika menangis sejadi-jadinya. Chika selalu mengingat apakah ada sesuatu yang pernah dilakukannya sehingga membuat Ravi begitu membencinya. Nothing! Chika tidak mengingat apa-apa, yang Ia tau, sejak Ia mengenal Ravi, Ravi tak pernah peduli terhadapnya, dan Ravi juga tak pernah menganggap Ia ada. Kali ini Chika tak berniat mengadukan perbuatan Ravi kepada Cello, karena Ia tau, sampai kapanpun Ravi akan tetap begitu kepadanya.

Cerpen Karangan: Chintya Widanti
Blog: chintyawidanti.blogspot.com

Chintya Widanti
7 Apr 1997
XI IPA 6 SMAN 1 PEKANBARU
Twitter, Line, Instagram: @chintyawidanti
Facebook: facebook[dot]com/chintya.govato

Cerpen Je T’aime (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Shonichi (Hari Pertama)

Oleh:
Tanggal 10-10-10 tepat aku pertama bersekolah, sekolah yang aku impikan disaat aku smp, sekarang aku di sma terkenal di daerahku. Hati ini senang sekali, itu semua berkat doa orangtua

Yang Didambakan

Oleh:
Panggil saja Vea. Wanita kecil ini menyukai seorang pria yang kebetulan satu sekolah dengannya, yaitu Reno. Perasaannya mulai tumbuh kala masa MOS berlangsung, karena MOS itulah kali pertama mereka

Selayaknya Kisah Mereka

Oleh:
Satu persatu helaian daun mulai berguguran. Angin seakan begitu bahagia menggoda daun-daun untuk lepas dari belenggu batang agar ikut menari indah sesuai lantunan iramanya. Di negeriku memang tak mengenal

Bayang Kenangan

Oleh:
Ombak silih berganti ke pinggir pantai menyentuh pasir, aku masih saja termenung di sini mengingat kembali kesalahan yang pernah aku buat. Angin menerpa tubuhku memaksa untuk mengingat kenangan semua

Doa yang Terkabul

Oleh:
Suara kokokan ayam selalu membangunkanku di setiap hari. Keluarga kami hidup di daerah pegunungan. Hanya kami yang selalu berdoa agar mendapat rezeki dari Allah SWT. Aku dan Ayah hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *