Je Te Veux

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 21 July 2021

Malam bertabur bintang mengihiasi denting piano di hadapanku. Sang Maestro tak pernah berbohong akan perasaannya dalam menciptakan lagu ini, Erik Satie namanya. Karya indah nan cantikmu menjadi saksi bisu perasaan serta tanda ketulusanku untuk selalu menunggumu, tanpa tahu senyum mengambang cantik di pipiku mengaluni lagu Je Te Veux yang berartikan “Saya Mau Kamu” dimalam indah itu.

17 Tahun sudah aku menekan tuts piano, dan 17 tahun sudah kau hadir dalam angan angan pikiranku yang terus menorehkan senyum jikalau ingat semua tentangmu. Pria tampan keturunan Bandung-Korea yang menjadi bulan bulanan ibu kampung yang kabarnya ia akan segera pulang.
Han So-Jun, dengan nama Indonesia-nya, Gabriel Jun. Ia kembali setelah 4 Tahun menempuh pendidikan musik di University Of Music And Performing Arts Vienna, Austria. Kabar angin terus berdatangan seolah ialah idola kampungku. Sedikit kuceritakan tentang apa yang terjadi sebelumnya, sebelum sebuah rasa muncul setiap mengingatnya.

Saat itu umurku 5 Tahun, aku lahir dan dibesarkan di Bandung, orangtuaku sangat teramat sangat sibuk. Aku menempuh berbagai macam les tapi selalu berhenti dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, hingga pada suatu masa dimana aku begitu lelah menjadi budak kedua orangtuaku. Selama bertahun-tahun aku hidup, aku hanya tak pernah diajarkan 1 hal, yup TERSENYUM. Entah mengapa aku tak punya alasan untuk tersenyum, bahkan ketika kami hendak bersua-foto aku tak pernah menunjukkan deret gigiku yang putih cantik ini.

Aku, Masyiella Ananchita, dihari itu, tanggal 12 Oktober 2003, hari Minggu aku memasuki gedung bertuliskan “Les Piano Grateful” pukul 09.27 menemukan sedikit alasan untuk menunjukkan secercah senyuman. Kaulah alasannya
17 Tahun yang Lalu

“Ayo cantik masuk kelas ya” Kata seorang ibu-ibu dengan name tag di dadanya yang bertuliskan “Bu Mei”. Ya hari ini hari pertamaku masuk les piano, padahal menurutku, aku bisa memainkan lagu Ibu kita Kartini saja sudah cukup bagus, tinggal tekan Do Re Mi Fa Sol Mi Do aku merasa sudah hebat kok, ini malah suruh les piano yang menurutku itu membosankan.

“Hai Ella” Sapa mereka serentak yang seolah menyambutku
“H-Hai” Balasku tergagap dan segera duduk di bangku yang sudah disediakan
Tanpa ba bi bu guru les piano itu memperkenalkan dirinya, Bu Mei namanya, ia adalah tipe guru yang menyenangkan, dan ia tak suka pilih-pilih untuk bersikap baik kepada sesiapapun itu, dan hal itulah yang membuatku nyaman bermain piano sampai sekarang ini.

“Hai namaku Iel” sapanya dengan sangaaat lembut
“Ella” jawabku singkat
“Ella cantik” katanya malu-malu
Aku diam setelah mendengar kata itu
“Ya sudah semangat ya Ella” katanya lalu beranjak pergi sambil menahan malu.
Dan parahnya lagi aku tersenyum untuk pertama kalinya, diumurku yang ke-5, dihari pertamaku les piano.

Hari silih berganti menandakan waktu terus berlanjut, umurku 13 Tahun sekarang. Aku menyukai les piano karena aku mulai membiasakan diri untuk lebih terbuka dan paham akan pemahaman untuk terus tersenyum dengan gerakan tangan dan pundak yang rileks. Walau jarang, aku sesekali menarik pipiku untuk tersenyum dan tertawa, ternyata rasanya melegakan, bukan begitu?.

Suatu hari, sopirku tak kunjung menjemputku, padahal sekarang hujan, dan aku ingin segera pulang karena kedinginan dan lapar. Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan jaket hangat, Iel rupanya
“Tidak usah” kataku dingin
“Hey kau ingin mati karena kedinginan?,” katanya dengan logat ke-Korea an
“Ya, baik”

Di dalam ruang les sudah sepi, Bu Mei pergi karena anaknya jatuh dari sepeda karena terpeleset dan lupa mengunci pintu, ah sudahlah itu bukan urusanku.

Denting tuts piano menghiasi ruangan itu, aku duduk disampingnya, hangat.
“Lagu apa ini? aku belum pernah dengar”
“Je Te Veux,” Katamu sambil tersenyum
“Cantik & berat” kataku singkat

Tak terasa sudut bibirku naik menandakan aku tersenyum,
“Hahaha kamu tersenyum” katamu sambil tertawa
“Apa?” rona merah terpancar di pipiku
“Kamu tersenyum, cantik”
“Aku memang cantik, Iel.”

Lega rasanya untuk jujur pada diri sendiri bahwa aku bahagia, bukan tanpa alasan tapi karena rasa nyaman untuk berbincang ataupun berinteraksi dengan orang lain

“Kau tahu, apa arti lagu ini?” tanyanya untuk memecah rasa canggung
“Tidak, tapi sepertinya kau sangat menyukainya” terangku
“Lagu ini digunakan untuk menyambut seseorang seolah berbisik ‘hei kamu datang’, seperti itu”
“Kenapa kamu memainkan lagu ini padahal tidak ada yang datang?”
“Untuk menyambutmu, sebagai sahabatku” katanya manis
“Memang begitu kenyataannya, Iel”
“Sudahlah jangan panggil aku Iel lagi, panggil saja Jun” tegasnya
“Oke, Jun” kataku tersenyum lagi

“Kamu benar, aku sangat suka lagu ini, karena ibuku meninggal setelah memainkan lagu ini”
“Pasti berat bukan?, lihatlah aku yang tak bersyukur masih punya kedua orangtuaku”
“Sudah-sudah, kau pasti punya alasan untuk berkata begitu kan?, ngomong ngomong apakah aku lebih tua 2 tahun dari mu?”.
“Iya, apa seharusnya aku memanggilmu Kak Jun saja”
“Hey, apa aku terlihat tua?”
“Kak Jun, hai Kak Jun!!” kataku iseng

Sopirku tak kunjung datang, aku sudah lelah menunggu. Dan
“Ella ayo pulang”
“Naik?”
“AYOOOOO”

Kau menyeretku ke tengah-tengah guyuran hujan
“Seru kannn” katamu
“Iyaaa” kataku sembari membuka tangan seolah menengadah meminta air hujan
“Terimakasih Junn!!!”
“SAMA SAMA ELLAAA”

Kau pergi tak lama setelah kejadian itu.

“Jun ngga bakal ngomong selamat tinggal karena suatu saat nanti Jun bakal balik lagi dan ada di samping Ella, Jun ngga mau ngomong selamat tinggal karena Jun sayang sama Ella”
“Jangan nangis lama lama, Jun sayang sama Ella, Jun mau Ella main piano yang bagus, biar bisa terkenal kayak Erik Satie ya Ella!!” lanjutnya

Aku diam tak menggubris, seolah ragaku mati mendengarmu pergi

“Jun sayang Ella, Semangat ya cantik!!”

Hari itu hari yang takkan kulupakan
Kata-katamu kujadikan motivasi untuk terkenal seperti Erik Satie membuatku berada di posisi sekarang ini, menjuarai berbagai macam Piano Concert di berbagai macam Negara, dan trip terakhirku adalah Puerto Riko, ingin rasanya aku mencarimu, tapi aku tak menemukan setitik pun jejak perginya kamu, hingga suatu hari sebuah email masuk.

Yang berisi
“From : Han So-Jun
Hai Ella
Udah jadi Pianis terkenal nih
ini Jun, Jun bakal pulang besok lusa, Jun lupa ngasih tau Ella kalau Jun sekolah di luar Negeri. Sekolahnya bagus, temen-temennya seru!!, nanti kalau sudah sampai Jun mau cerit banyak hal ke Ella.
Udah jangan nangis, jemput Jun ya di Bandara Soekarno-Hatta pukul 12 Siang ya!!

Sayang Ella*

Singkat padat namun bisa membuatku ingin terbang saking senangnya

Dan hari ini adalah hari yang kunantikan
Setelah 10 Tahun aku berpisah denganmu
Hari ini, hari ini hari kita kembali bertemu

Kumainkan tuts piano yang sama ketika kau mainkan di hari hujan itu, dengan raut muka yang sama dan, dengan niat yang sama “Menyapamu sebagai bagian dari hidupku”

Di Bandara SoeTa aku menunggumu sembari memainkan lagu kesukaanmu

Piano yang menyatukan kita dan Lagu itu yang membuatku selalu ingat akan senyummu dan kata “Selamat Tinggal” yang masih jelas berputar di kepalaku.

Happy Birthday Jun!!

Karya ini khusus untuk kesetianku menunggu-mu

Cerpen Karangan: Hwang Song-Roo

Cerpen Je Te Veux merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Power of Love

Oleh:
Namaku Riana Chelyn Putri. Aku menjadi seorang anak tunggal setelah kematian adikku yang bernama Riana Mila Putri. Kurasa hidupku sangat sempurna, memiliki kedua orangtua yang begitu menyayangiku, dan seorang

Laura, Bidadari Hidupku

Oleh:
Kriiinggg… tanda bel pulang sudah terdengar oleh semua murid. Sakit. Itulah yang dirasakan siswa SMP kelas 7 bernama George ini. Dari tadi ia hanya menangis karena tidak memiliki teman

Gadis Pemandang Langit (Part 2)

Oleh:
3 bulan kemudian. “Bun, sepertinya Ayah sudah tak sanggup lagi untuk hidup, lihatlah.. Ayah sudah tak diterima lagi untuk kerja di perusahaan-perusahaan, mereka menolak Ayah, lalu bagaimana dengan Diky

Fate Of Two Sorcerer (Part 3)

Oleh:
Seorang Prajurit kerajaan berjalan sambil membawa nampan yang berisi makanan menuju sel milik Dareen. Ia meletakan nampan itu di hadapan Dareen lalu pergi begitu saja meninggalkannya yang sedang duduk

Kisah Sederhana

Oleh:
Manusia dengan manusia menikah, kemudian hidup bersama. Tapi kau adalah wanita yang menikahi hujan, maksudnya, kau seperti suami istri dengan hujan, saking dekatnya. –pagi itu cuaca sedang tidak menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *