Jeanoky Vanjaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 May 2014

Di malam hari gue yang sedang galau, galau banget hanya bisa berdiam diri di taman belakang rumah gue sambil menatap bulan. Gue sebut aja nama gue Chia kata temen gue sih gue anaknya baik, rajin dan cantik. Pada hari itu gue baru aja putus sama cowok gue yang namanya cakka.

*tangisan kehilangan mu
Merelakan mu untuk bersama*
Bunyi nada hp gue yang membangunkan gue dari lamunan dan gue pun mengangkat telfon yang kebetulan dari sobat gue nama nya Meimei.
“hallo! ya mei ada apa?”
“buruan deh lo keluar rumah lo!!”
“ada apa sih mei kok kayaknya heboh banget”
“udah jangan banyak tanya, buruan!”

Akhirnya gue keluar dari rumah gue dan “ASTAGA” gue terkejut apa yang gue lihat ternyata cakka sedang memukuli seorang cewek yang kebetulan cewek itu tetangga gue.
“kenapa lo kaget?” tanya meimei yang tiba tiba muncul di belakang gue, kebetulan rumah meimei di sebelah rumah gue dan nggak gue sadari air mata pun membasahi pipi gue.
“gue nggak nyangka mei? dia yang dulu gue sayang dan gue banggakan sebrengsek itu mei?” gue berbicara sama meimei sampai terisak isak.
“udah deh ngapain lo nangisin cowok brengsek kayak dia!!, mending noh lo lirik cowok yang lagi maen gitar di sebrang jalan sana, kan lo ngincar dia dari dulu” meimei berbicara sambil menunjuk ke arah jean.
“jean maksud lo?, dia kan hanya hayalan gue mei?”
“siapa tau hayalan bisa jadi kenyataan haha”. ledek meimei yang rencananya sih buat gue ketawa, dan yah akhirnya gue ketawa juga.

Pagi harinya…
“chiaa…” teriakan itu memanggil gue.
“chiaa…” teriakan itu lagi memanggil gue yang arahnya luar.
“iya…” jawab gue dari balik jendela.
Gue pun membuka gorden jendela kamar gue dan ternyata yang memanggil gue itu jean. jean pun melambaikan tangannya ke gue, dan gue juga melambaikan tangan gue ke dia.
“joging yuk” jean mengajak gue joging pagi itu, gue tersenyum dan mengangguk kecil ke jean. Gue pun keluar dan berlari menghampiri jean. Hati gue berdegup sangat kencang yah seperti orang baru jaruh cinta. Jeanoky vanjaya namanya dan akrab dipanggil jean itu adalah teman semasa kecil gue, dia baik, ganteng dan pintar.

“ke arah man kita joging?” tanyanya sama gue.
“terserah lo, gue ikut ikut aja” jawab gue.
(tinut… tinut… )
Nada sms hp gue, dan gue pun membuka pesan singkat dari meimei.
“cie.. cie.. hmm yang lagi joging sama jean” ledek meimei melalui sms. Gue hanya tersenyum dan menatap jendela di sebelah rumah gue.
“hei adik manis, kok bengong aja. yuk lari” ajak jean sambil menarik tangan gue. di pertengahan perjalanan gue berhenti tiba tiba dan terduduk.
“loh napa berhenti?” tanya jean sambil menatap mata gue.
“udahan yuk gue capek je, kita balik lagi yuk” gue mengajak jean pulang dan sambil menarik tangannya.
“eh sini gue gendong aja, kayaknya lo capek banget. ntar yang ada lo malah pingsan lagi.” katanya sambil menjongkok di hadapan gue.
“nggak usah kali je, gue nggak bakalan pingsan kok lo tenang aja” jawab gue sambil meneruskan jalan.
“udah deh nggak usah bawel, dah sini buruan naik ke punggung gue”
Gue pun nggak bisa nolak dan akhirnya gue naik ke punggung jean, lumayan cukup jauh buat nganterin gue pulang.
“okeh kita udah nyampe nih” kata jean sambil menurunkan gue.
“makasih ya je dah mau gendong gue” jawab gue.
“iya sama sama. eh gue balik ya” dengan senyum manisnya jean pamit sama gue dan melambaikan tangannya ke gue dan gue membalasnya dengan sebuah senyuman.

“uhuk… uhuk… bahagia banget kayak nya hari ini” ledek meimei yang tiba tiba ada di belakang gue.
“ahh biasa aja kok mei” jawab gue sambil tersenyum malu.
“sampai kapan mau bersikap kaku di dekat jean?” tanya meimei.
“hmm sampai perasaan gue bener bener jelas sama dia mei” jawab gue
“jelas? hahaha.. udah jelas kali chia.. gue lihat dari cara lo natap jean” ledek meimei yang kebetulan sih bener.
“ahh sok tau banget deh lo mei, udah ah gue masuk dulu gue mau mandi” jawab gue dan langsung meninggalkan meimei sambil tersenyum.

Malam harinya gue kembali duduk di taman yah biasa yang di belakang rumah gue. Tiba tiba “heiiii…” suara itu mengejutkan gue dan membangunkan gue dari lamunan gue tentangnya.
“hei jean, tumben lo malam malam kesini?” tanya gue pada jean
“hehehe.. gue buat lo kaget yaa, kagak ada gue pengen maen aja kesini” jawab nya.
“ohh iya nggak papa, sini duduk” gue pun ngajak jean duduk di sebelah gue.
“lo suka mandangin bulan?” tanya jean.
“iya je, lo suka juga?” gue balik nanya sama jean.
“iya, kalau gue lagi galau aja chia” jawab jean.
Hari mulai larut malam gue dan jean masih asyik ngobrol dan bercanda bercanda, di situ perasaan gue makin jelas kalau gue bener bener jatuh cinta sama jean.
“jean.. hari sudah malam, besok aja lanjut cerita ceritanya” sapa mama gue dari balik pintu.
“ehh tante, iya tan maaf jean lupa karena terlalu asyik ngobrol jadi nggak sadar deh kalau dah larut malam” jawab jean dan jean pun pamit sama gue dan mama gue, yang kebetulan rumah jean di seberang rumah gue.

Keesokan harinya…
Di perjalanan jean melihat gue sama meimei sedang menunggu bis di halte dekat rumah gue. (tin.. tin… tin..) klakson mobil jean yang menghampiri gue dan meimei.
“berangkat bareng gue yuk” jean ngajak gue dan meimei berangkat sekolah bareng. karena waktu itu jam telah menuju pukul 07. 00 gue dan meimei masuk mobil jean tanpa basa basi.

Sesampai di sekolah…
“je? bukannya kelas lo di atas?” tanya meimei pada jean yang sedikit heran mengapa jean masuk ke lokal nya.
“iya kelas gue emang di atas, tapi gue masih pengen ngobrol sama chia” jawab jean dan langsung mengajak chia ngombrol.

(teng.. teng.. teng…)
Bel pulang pun berbunyi.
Gue dan meimei menunggu bis di halte dekat sekolah. Berapa benit kemudian Romo pacar meimei pun datang dan mengajak meimei pulang bersama nya.
“he baby, aku anter pulang ya?”
“tapi Rom…” meimei ngelihat gue. gue pun tersenyum dan mengangguk kecil memperbolehkan meimei pulang dengan romi. meimei dan romi pun pamit dengan gue dan langsung pergi pulang. Nggak berapa lama jean nyamperin gue dan menawarkan tuk pulang dengannya.
“chia.. pulang bareng gue aja yuk, kasian lo sendirian di sini”
“nggak usah je, gue pulang sendiri aja. nggak papa kok”
“udah nggak papa yuk, lagian rumah kita kan searah” bicara jean sambil membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan gue masuk. Aroma mobil itu dan lagu melownya yang diciptakan dia sendiri menyejukkan suasana mobil itu yang kebetulan waktu itu hujan. Gue tak menyadari kalau jean nggak membawa gue pulang melainkan pergi ke caffe biasa gue sering diner sama cakka waktu itu.
“je! kita ngapain kesini?” tanya gue yang waktu itu gue kaget ngelihat nama caffe itu.
“kita makan dulu ya! laper nih” jawab jean.
“kenapa harus di caffe ini je?” tanya gue, dan air mata gue pun berjatuhan membasahi pipi gue.
“chia? lo nangis? kenapa? lo nggak suka caffe ini?” jawab jean yang sedikit heran kenapa gue nangis.
“nggak kok je, gue suka caffe ini tapi dulu?” gue semakin nangis dan semakin galau gue keinget sama kenangan kenangan gue dengan cakka dulu.
“gue ngerti sekarang, ya udah kita pulang aja ya” jean ngajak gue pulang dan sampai di rumah gue pamit sama jean, gue langsung lari dan menghiraukan mama gue yang manggil gue. Gue galau galau banget.
(tinut… tinut…) sebuah pesan singkat dari jean
“chia maafin gue ya gue nggak tau kalau caffe itu punya kenangan tersendiri buat lo dan sekarang lo galau karena gue”.
gue nggak ngebales pesan dari jean dan gue matiin gitu aja hp gue.

Keesokkan hari nya…
(teng… teng.. teng..)
Seharian itu gue nggak ada ketemu jean, gue makin galau dan gue pulang sendiri tanpa meimei. sampainya gue di rumah gue menatap ke arah rumah jean gue pun nggak lihat jean di depan rumahnya yang biasanya sepulang sekolah dia maen basket di lapangan kecil depan rumahnya. Gue makin merasa galau dan bersalah karena tak membalas pesan jean tadi malam.

Sekitar jam 19. 00 WIB (tinu.. tinut..) gue berharap isi pesan dari jean dan yah ternyata itu pesan dari jean
“chia gue tunggu lo di taman dekat sini, sekarang!”
itu isi pesan singkat jean buat gue, tanpa berfikir panjang gue pun langsung pamit ke mama dan langusung berlari ke taman. Tetapi setiba di taman gue nggak lihat jean dari sudut ke sudut.
“chiiaaa..!!” dari kejauhan seseorang memanggil nama gue yang tak asing lagi suara itu adalah jean. Gue langsung lari menghapiri jean.
“lo kemana aja? kenapa gue nggak lihat lo di sekolah?” tanya gue. tapi jean tak menjawab pertanyaan gue.
“chia? gue mau ngomong sesuatu sama lo?”
“ngomong apa je?” gue bingung tak biasanya jean seserius itu sama gue.
“chia? apakah lo ngizinin gue buat ngegantiin dia di hati lo? apakah gue boleh mewarnai hidup lo?” (tiba tiba jean nembak gue dan jujur gue kaget banget) “chia gue tau lo juga suka sama gue, gue udah jatuh cinta sama lo chia”.
diam diam meimei telah menceritakan semua tentang gue kepada jean sejak kejadian berapa hari yang lalu yang buat gue galau yah itu tentang cakka.
“lo tau dari siapa je?” tanya gue yang tekejut mendengar jean ngomong itu semua.
“lo pasti tau siapa dia, dan sekarang apa jawaban lo chia?” tanya jean sama gue.
Gue Cuma mengangguk kecil dan tersenyum manis kepadanya.
“jadi lo nerima gue?, makasih sayang” jean pun meluk gue dan mencium kening gue. Di kejauhan sana meimei hanya tersenyum dan berkata
“hayalan lo jadi kenyataan chia”.
gue pun membalas senyum meimei dan berkata dalam hati
“thank’s mei lo bisa buat hayalan gue jadi nyata dan lo emang best friend gue”

THE END

Cerpen Karangan: Widya Safitri
Facebook: Widya Safitri

Cerpen Jeanoky Vanjaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meli

Oleh:
Detak musik reage yang begitu kencang mengiringi alunan syahdu tangan Meli yang sembari tadi mengemas pakaiannya untuk pergi ke kota. Meli merasakan semangat yang begitu bergejolak di malam itu,

Nada Tanpa Re

Oleh:
Mataku terkatup. Aku melihat gelap. Pekatnya kurasakan. Seperti menyatu dengan asaku yang selalu hitam. Re biasa teman-teman memanggilku. Aku bukanlah nada Re yang menghiasi not-not lagu sehingga tampak indah.

Gara-Gara Caraka

Oleh:
“Raka…!!!” teriak Bu Ely (guru Bahasa Indonesia). Seisi kelaspun terdiam, mengalihkan padangannya ke Caraka. Bu ely menghapiri bangku caraka. “Kka, bangun ka” Nano teman sebangku Caraka mencoba membangunkannya, tapi

Delapan April

Oleh:
Hari ini aku berjalan lagi tanpa arah, kesana kemari mencari makanan untuk mengisi perut yang keroncongan ini. Di taman itu aku lihat dia duduk sendirian disana. Aku mulai menghampirinya,

Ngaret Bareng Betor (Becak Motor)

Oleh:
“Tch! Sial!,” gumam Felly kesal dengan melangkahkan kakinya menuju stasiun. “Loh, lo dari mana, Fel?,” tanya Riska heran setelah melihat baju Felly yang penuh dengan lumpur. “Biasa! Pengendara mobil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *