Jerrot Makin Melorot (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 January 2016

WANITA JAHAT
Matahari yang menyorot begitu panas suasana saat aku baru saja sampai di rumah sehabis pulang sekolah di hari sabtu. Kejadian 2 hari yang lalu yaitu saat aku belum bisa menjadi pacar Anna bukan berarti aku ditolak, yang cukup membuat aku trauma pada wanita. Dan saat ini aku memutuskan bahwa wanita Abg itu jahat. Dan saat ini aku telah berjanji bahwa aku tidak ingin mengenal wanita dalam beberapa waktu ini. Bukan berarti aku pindah akan mengenal lelaki, tanpa pacar. Pasukan jomblo tidak akan melarat akan romansa cinta dan Alen juga telah berjanji bahwa ia akan menjomblo terus bersamaku, solidaritas kami yang begitu kuat hampir-hampir kami didiagnosa sepasang h*mo.

Aku yang sedang bersantai tiduran di depan tv, “ehh.. ganti baju dulu sana.” tegur Ibuku yang sedang duduk membaca majalah di ruang tamu.
“iyaa, bentar lagi, Bu.” jawabku masih asyik menonton tv.
“eh.. tadi kan Ibu jenguk anaknya temen Ibu yang lagi sakit, cakep tahu, masih kelas 11 SMA.” kata Ibu.
“Ibu itu mau jenguk orang apa nyariin aku jodoh?” jawabku lesu mendengar yang namanya wanita Abg.

“Ibu serius tau, abis semenjak kamu putus sama siapa tuh, Ibu lupa namanya, kamu gak pernah tuh ngajak pacar maen ke rumah.” kata Ibu panjang lebar.
“lagi males pacaran, Bu.” jawabku keadaan tenang.
“ahh.. kamu belum lihat anaknya Ibu Riska yang Ibu jenguk tadi, pasti kamu naksir.” rayu Ibu, aku hanya terdiam mendengar perkataan Ibuku tadi.
“aku walaupun jomblo, gak separah ini, Bu.” kataku dalam hati.

Dari kejadian 2 hari yang lalu aku mendapat pelajaran bahwa kita jangan terlalu cepat mengambil keputusan sebelum kita pastikan si Doi memang benar-benar memiliki perasaan yang sama dengan kita agar tidak terjadi adegan penolakan seperti yang aku alami oleh Anna. Ditolak si Doi alias Anna sama aja kayak mancing ikan tapi gak dapet-dapet lumayan nyesek, tapi aku mengerti satu hal bahwa terluka akan membuatmu kuat. Sejak aku ditolak oleh Anna, aku menegaskan akan menjauhinya bukan berarti karena sakit hati tapi malu ketemu sama si Doi.

PENGHAPUS MALAM MINGGU
Rintik hujan yang jatuh membasahi bumi secara perlahan menambah kegembiraan di hati ini dan terutama doa-doa kaum jomblo yang terkabul. Jomblo itu tidak jahat tetapi sedikit iri dengan keromantisan pasangan di malam minggu. Sekitar jam 7 aku yang masih saja berdiri melihat suasana di luar dari jendela kamarku sambil memegang handphone. Memegang handphone bukan berarti aku berharap ada sms atau bbm (blackberry massenger) dari seorang wanita spesial melainkan menunggu Alen yang akan hang out dimana malam ini, tidak lama handphone-ku bergetar ternyata ada sms dari Alen.

“ke mana kita malem ini?” tanya Alen di sms.
“basing.” balasku singkat.
“malem minggu ini.” kata Alen.
“sekarang, aku sudah memutuskan bahwa malam minggu dihapuskan bagi kalangan jomblo seperti kita, kenapa harus malam minggu yang spesial, jangan mendiskriminasikan malam.. semua malam itu sama saja, tidak ada yang spesial karena kita jomblo.” tegasku di sms.
“pidato bang? Entar aku ke rumah kamu.” balas Alen sedikit nada meledek.

Sudah puas aku melewati beberapa ratus malam minggu dengan kesendirian di hati ini semenjak Widya pergi jauh dari kehidupanku dan malam ini ku pertegas bahwa malam minggu bagiku sudah tidak spesial lagi layaknya dulu sebelum Widya mengisi kekosongan di malam minggu dan semua malam bagiku sama karena tidak ada matahari. Entah mengapa di malam ini aku sangat ingin melihat fotoku dengan Widya saat selfie berdua di puncak. Aku pun membuka dompet dan menarik foto kami berdua yang masih terselip di dompetku lebih tepatnya masih ku simpan di dompetku. Lalu aku melihat foto tersebut dan teringat dimana dia masih menjadi pacarku. Kejadiannya tepat 1 bulan sebelum aku putus dengannya.

“eh.. Jerrot, selfie yuk.” Ajak Widya yang sedang duduk di sampingku melihat pemandang yang ada di puncak. Jerrot adalah panggilan manja dari Widya, saat ia memanggilku Jerrot.. seakan-akan jiwaku melayang-layang dibawa olehnya. Bukan lebay, intinya aku masih ingin mendengar dia memanggilku seperti itu.
“boleh, tanda tangan sekalian?” kataku tertawa.
“apaan sih.” jawabnya menyenggol bahuku. Saat Widya baru saja ingin selfie bersamaku tiba-tiba handphonenya LowBat (alias abis battre), jahat sekali handphone itu padaku.

“yahh…” sedih Widya.
“mungkin hp-nya tahu, mana yang buruk dan baik.” kataku tertawa.
“abis pose kamu jelek sih, Rot.” canda Widya.
“salah lagi, muka aku emang gini cetakannya.. banyak yang salah.” gerutuku pelan.
“Apa?” tanya Widya.

“pake hp aku aja nih.” kataku sambil memberikan handphone-ku padanya.
“yakin hp kamu mau terima kamu apa adanya?” ledeknya lagi.
“ini sebenernya mau selfie apa ngehina?” jawabku datar.
“iya iyaa, gitu aja ngambek.” ucapnya, “senyum, Rot.” suruhnya sambil menekan tombol foto di handphoneku, cekrekk suara kamera.
“yah.. kamu jelek banget.” ledek Widya.
“banting aja hp-nya.” jawabku tertawa. Aku tidak pernah marah saat Widya mengatakan aku ini jelek karena itu bercanda walaupun kenyataan.

Begitu banyak keromantisan cinta yang kami miliki dulu. Cintaku sebenarnya dulu bukan putus karena jarak melainkan adanya orang ketiga. Aku masih sangat ingat sekali kejadiaan di waktu itu. Satu hari setelah aku putus dengannya.. aku yang sedang membuka Facebook dan tak disengaja aku melihat Widya meng-upload foto bersama pacar barunya dan hari itu sungguh menyakitkan.

Hatiku hancur, galau yang berkepanjangan, mata merah, kejang-kejang, muntah, gusi bengkak, dan seperti itulah yang aku alami pada saat melihat ia bersama pacar barunya. Dia tidak merasa berdosa sama sekali dengan santainya dia mengumbar hubungan barunya di hadapan media sosial. Padahal kemarin hari jadian kami yang ke-8 bulan tapi sayangnya tragis dan berakhir dengan putus. Jujur saat itu aku belum bisa menerima asalannya walaupun sekarang masih.

“Jerry, Ada Alen tuh di luar.” kata Ibu memanggilku sambil menggetuk pintu kamar, sontak saja itu memecah semua lamunanku tadi.
“iya, Bu.” jawabku bergegas ke luar dan menaruh foto kami di bawah bantal.
“woyy.” tegurku membuka pintu rumah dan Alen yang sedang membelakangiku.
“ke mana kita malam ini?” tanyanya sambil membalikan badan.
“masih bingung.” jawabku datar.

“gini nih kalau jomblo.” kata Alen sedikit kesal dan duduk di kursi depan rumah.
“kita kan udah janji bakal jomblo.” kataku sambil berdiri dan menutup pintu.
“ya udah, kita isi malem ini berdua aja.” kata Alen besemangat.
“terlalu romantis.” jawabku melangkah duduk di sampingnya. Dan pada akhirnya, malam minggu kami begitu sengsara.

GEBETAN DARI IBU
1 Minggu kemudian. Aku dan Alen telah memutuskan bahwa kami akan kembali bangkit dari keterpurukan kami tanpa pacar, perkataan Alen tadi malam yang cukup mengobarkan semangat cintaku. “Kita udah cukup lama nahan sakitnya kesendirian, malam minggu kemaren kita kacau tanpa arah dan sekarang aku putusin. Aku bakalan cari gebetan, semua tentang penjomblo setia aku hanguskan.” pertegas Alen tadi malam kepadaku yang sedang duduk berdua depan rumah.
“oke kalau gitu, aku juga bakal cari pacar.” semangatku depan Alen.

Dan kami berdua memutuskan akan mencari pacar. Semua aturan kami buat berdua yaitu penjomblo setia, wanita jahat, penghapus malam minggu, sekarang telah resmi dihapuskan. Jomblo menurutku itu tidak apa-apa karena jomblo sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Terkadang di hari minggu seperti ini adalah hari yang menyebalkan bagi spesiesku sering kali terlihat sesosok pasangan kekasih yang sering lewat di hadapanku main ke puncak, berpelukan di motor, mempublikasikan keromatisan dengan pasangannya dan semua itu membuat aku jadi superman. Sementara superman menyelamatkan kota dan aku yang sedang berusaha menyelamatkan perasaan ini.

Di hari minggu yang cerah ini aku yang sedang bermalas-malasan depan tv dengan raut wajah yang kusut dan berantakan karena belum mandi. “eh.. mandi dulu sana udah jam 11 ini, entar ada temen Ibu mau ke rumah sama anaknya yang ibu jenguk waktu itu.” suruh Ibu sambil berdiri.
“ya udah, birain.. Bu.” jawabku lesu.
“entar kamu nyesel gak kenalan sama dia.” rayu semakin jadi.
“enggak kok.” jawabku singkat.

Tok, tok, tok, tok.. suara ketukan pintu lalu Ibu pun membuka pintu. “eh.. Ibu Riska.” ujar Ibu yang terdengar olehku, “udah sembuh nih gadis cantik.” tutur Ibu lagi, aku pun bangun dan melirik Gadis yang berdiri depan pintu. “waw.. benar kata Ibu, cantik sekali.” kataku dalam hati dan merubah keadaan menjadi panik. Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk bersiap memantapkan diri untuk bertemu gebetan dari Ibu.

Setelah selesai mandi, aku merapihkan rambut ini dengan sisiran ala Chand Kelvin (artis indonesia) yang poni rambut seperti Arena SkateBoard dan semua telah fix, aku pun berjalan ke luar menghampiri teman Ibu. “nah.. ini dia anaknya, sini.” kata Ibu memanggilku, aku cukup malu karena gadis tersebut dan ibunya menatapku begitu serius karena posisi ruang tamu duduknya menyamping. Aku pun bersalaman dengan Ibu Riska dan juga gadis manisku yang menjemput kesendirian di hati ini. Aku yang terbuai oleh kecantikannya sehingga begitu cepat aku merasakan jatuh cinta lagi. Aku yang hanya diam kaku tidak sepatah kata pun ke luar dari mulutku karena malu.

“Jerry ini kelas berapa?” tanya Ibu Riska.
“emm.. kelas 12 di SMK YP 96, Tante.” jawabku menyengir.
“ohh.. kalau Sisi ini kelas 11 di SMA.” kata Ibu Riska.
“oh, namanya Sisi.” kataku masih menyengir sambil menganggukkan kepala.
“ya udah ajak maen ke luar, hari minggu ini, Ibu sama Bu Riska mau arisan entar rame temen-temen Ibu di sini.” perjelas Ibuku. “Iya, main ke puncak atau ke mana, sekalian kenalan.” sambung Ibu Riska.

Secara tidak langsung Ibu mengusir kami berdua secara halus namun dengan senang hati aku sangat ingin bisa berdua dengannya, “ya udah, Sisi kita lihat puncak yuk?” ajakku sedikit malu. Sisi pun hanya menganggukkan kepala itu tandanya dia mau.

Kami berdua pun berjalan menuju puncak bermesinkan motor Sisi. Pada saat di Sumber jaya sekitar 20 menit lagi sampai puncak aku pun menghentikan motor secara mendadak lalu aku pun turun. “kenapa?” tanya Sisi. “emm.. pake jaket, soalnya dingin.” jawabku sambil melepaskan jaketku dan memberikan padanya. Sisi pun mengambilnya dan terlihat lengkuk senyum bibirnya yang begitu manis, kami pun melanjutkan perjalanan.

Setibanya di sana dan memarkirkan motor. Kami duduk di sebuah tempat bersantai di puncak dan pemandangan yang begitu indah di hadapan kami berdua sama halnya dengan hatiku saat ini. Rambut terurai yang begitu cantik darinya, senyumnya yang begitu menawan, indah bola matanya bagaikan gemerlap bintang di malam hari dan hidungnya yang mancung.

“Apa aku pantas mengenalmu lebih dalam?” tanyaku dalam hati, “oh iya, katanya Ibu aku, kamu abis sembuh dari sakit?” tanya mengawali pembicaraan yang tadi hanya saling diam dan hanya terdengar keramaian pasangan yang terlihat sedang… Selfie, loncat-loncat, salto belakang, terjun bebas, dan masih banyak lagi.

“iyaa, nih.” jawab Sisi.
“sakit apa sih?” tanyaku lemah gemulai.
“Malaria.” jawabnya singkat.
“sekarang udah sembuh?” kembaliku bertanya.
“udah kok.” jawabnya masih singkat.

“sebenernya kamu di ajak ke sini itu, mau apa terpaksa atau gak ada pilihan lain?” kataku dengan nada bercanda.
“hahaha… kamu jurusan apa, Kak?” respon Sisi cepat.
“TKJ kalau gak tahu tkj, komputer.” perjelasku tertawa.
“iya tahu kok, barusan.” jawabnya tertawa, aku sangat senang pada saat melihat dia tertawa.
“emm.. Adek gak mingguan sama pacarnya?” tanyaku seperti bodoh.
“enggak ada pacar, Kak.” jawabnya.
“hah? Sama dong.” kagetku dengan spontan, sontak saja dia bingung melihat kelakuanku tadi.
“maaf.. maaf, biasa Dek.. kalau jomblo jiwanya sering terganggu.” kataku terselip tawa.

Sekitar jam 2 kami berdua pun beranjak pulang. Pria cepat sekali merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama berbeda dengan wanita yang harus mendalami karakter dari pria tersebut dan hari ini cintaku yang telah lama tertimbun masa lalu, akhirnya bisa bangun dari lamanya masa lalu yang menyeretku dalam kesendirian. Sesampainya di rumah baru saja melangkah masuk ke dalam, “oh iya, mii.. minta nomor hp atau bbm.” kataku terbata-bata.
“mana hp-nya?” jawab Sisi. “Ini.” kataku sambil memberikan handphone padanya.
“nih, udah pin bbm aku.” kata Sisi mengembalikkan handphone-ku.
“yaps, entar aku bbm.” jawabku tersenyum.

KAMU DI SISI KU
Satu minggu kemudian aku yang baru saja selesai Try Out pertama, walaupun aku saat ini sedang jatuh cinta tetapi aku akan membagi waktu.. dimana waktu ini untuk cinta dan dimana waktu ini untuk fokus ke sekolah. Dan menurutku setiap kali seseorang merasakan jatuh cinta, mereka akan lupa pada hal penting yang harus mereka lakukan dan lebih memilih menikmati cinta di masa remaja yang mungkin bersifat sementara.

Dan aku sangat beruntung bisa dekat dengan Sisi, karena sifatnya yang pengertian dan sering memberiku support menambah rasa sayangku terhadapnya begitu mendalam. Kami yang semakin dekat dan apabila aku memiliki waktu kosong, aku sering main ke rumahnya meluangkan waktuku untuknya. Namun aku belum siap mengutarakan isi hati ini karena masih trauma akan kejadian Anna di waktu itu, terkadang kenangan buruk akan menyisakan luka yang begitu lama.

Di hari senin ini yang tanggal merah menandakan libur, aku yang seperti biasa berleha-leha di depan televisi, “Jerry!” teriak Ibu dari dapur, aku yang sangat terkejut dan langsung berlari menghampiri Ibu, “kenapa, Bu?” jawabku panik.
“Ibu Riska barusan nelepon, kata dia Sisi sakit, kamu disuruh ke rumahnya.” suruh Ibu.
“Ya udah Bu, Jerry ke rumahnya sekarang, pantesan dibbm gak bales.” kataku dengan sedikit panik, aku yang belum mandi dan hanya cuci muka+sikat gigi, langsung bergegas ke rumahnya. Hatiku di sepanjang jalan yang tidak karuan habis mendengar bahwa gadis manisku sedang sakit, aku yang mampir sejenak membeli parsel buah untuk Sisi.

Setibanya di rumah Ibu Riska ting tong.. ting tong suara bel rumah yang ku tekan. Tak lama Ibu Riska pun membukakan pintu. “asalamualikum, Tante.” salamku sambil berdiri memegang parsel buah.
“waalaikumsalam.” jawab Ibu Riska.
“Tante, katanya Sisi sakit?” tanyaku dengan raut wajah sedih.
“iyaa, itu di kamarnya, ya udah masuk yuk.” kata Ibu Riska seraya mengantarkan aku melihat keadaan Sisi.
Pada saat di depan pintu kamar Sisi yang terbuka, melihat Sisi yang terbaring begitu lemas, infus yang tertempel di tangannya, matanya yang sayup membuat hatiku begitu merintih.
“ya udah masuk sana, Ibu buat minum dulu.” kata Ibu Riska meninggalkanku.

“Hai.” sapaku sambil melangkah mendekatinya, senyum kecil yang masih terlihat di wajahnya begitu jelas. Aku pun duduk di sampingnya berbaring dan menaruh parsel di dekatnya.
“Haii.” jawabnya begitu lesu.
“makanya jangan terlalu cape.” kataku sambil menggelus pipinya.
“enggak kok, Malaria aku kambuh.” jawabnya sambil memegang tanganku yang sedang menggelus pipinya.
“pantesan semalem aku, bbm gak dibales.” kataku.
“maaf.” jawabnya yang begitu lemas.
“iya gak papa kok.” kataku menenangkannya.

“makasih parselnya.” ungkapnya terselip senyuman kecil.
“aku khawatir sama kamu, karena aku sayang sama kamu.” ungkapku dengan grogi.
“aku bentar lagi sembuh kok.” jawab Sisi namun tidak merespon perkataanku tadi. Aku hanya terdiam bahwa lagi-lagi kesalahan di masa lalu terulang kembali. Aku yang terlalu yakin dengan perasaan ini hingga aku harus merasakan kegagalan lagi seperti dulu tetapi aku tidak akan menjauhi Sisi, aku akan terus dekat dengannya. Apabila cintanya memang lama untukku, aku akan menunggunya.

Sekitar satu jam aku menemaninya yang terbaring lemas di tempat tidur, “aku pulang ya, obatnya diminum.” pesanku tersenyum lebar. “iyaa, Dok.” katanya masih bisa tertawa.
“kamu bukan pasien tapi gebetan.” responku menjadi-jadi, Sisi hanya tersipu malu mendengar perkataanku tadi. Aku cukup gembira dapat menghiburnya di hari ini dan aku masih memikirkan cinta ini akan ia sampai atau terhenti begitu saja.

Sejuk hembusan angin malam temani kekosongon di hati ini. Cahaya bulan di atas menjadi sinar penerang di malam ini namun tidak dengan hatiku. Wanita yang ku tunggu lama ternyata bertolak belakang dengan keinginanku. Aku hanya bisa menghela napas ketika ia tidak membalas kasih sayangku. “apakah jomblo ini kutukan?” gumamku dalam hati. “walaupun kamu tidak membalas cintaku.. hanya di-Read, kamu akan selalu ada di sisiku.” semangatku dalam hati.

Dan mungkin aku lebih baik tanpa pacar namun ada Sisi yang menemaniku. Sisi pasti memiliki alasan tersendiri mengapa ia tidak membalas cintaku. Aku hanya berusaha mengerti dan terus mengerti.. dan kesalahan kedua kali ini menjadikanku bahwa kita harus meyakinkan perasaan seseorang yang sedang di dekat kita. Belum tentu mereka memiliki perasaan yang sama dengan yang kita rasakan. Bukan berarti kegagalan tidak bisa membuat kita melihat keberhasilan.

Cerpen Karangan: Jerry Equardo
Facebook: Jerry Equardo
Jerry Equardo masih duduk di bangku SMK YP 96 Bukit kemuning kelas 12. Itu cerita terinspirasi dari aku yang pernah mengalami kegagalan cinta beberapa kalinya.
Manager: Alana Alen Okta.

Cerpen Jerrot Makin Melorot (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Masa SMA

Oleh:
Saat itu Indah melangkahkan kaki ke sekolah baruku. Ya Sekolah Menengah Atas. Sebut saja SMA SWASTA BINTANG. Disana Ia mengenal banyak orang hebat yang tentunya akan menjadi sainganku kelak.

Senyum Terakhir Di Awal Oktober

Oleh:
Habis agustus sudah pasti september. Itu sudah menjadi hukum kekal di dunia. Tak mungkin setelah agustus terus desember. Tapi cerita ini bukan tentang kenapa setelah agustus pasti september atau

Aku Melihat Cinta di Mata Suamiku

Oleh:
Berada di antara dua lelaki yang dicintai. Bahagia. Akan tetapi, aku harus memilih salah satu karena alasan tertentu. Cintaku sama besarnya. Aku tak mungkin memilih salah satu. Karena memang

Cinta itu Rasanya

Oleh:
Dian gadis berusia 19 tahun yang merupakan murid baru di kampusnya, sedang duduk di bangku kantin, sambil mendengarkan musik melalui earphonenya. Ia membaca novel kesukaannya yang walaupun sudah sering

Potret Hitam (Part 1)

Oleh:
Di ujung jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang membawa sekeranjang kue dengan wajah berbahagia. Entah apa alasannya yang pasti banyak alasan yang bisa melukiskan senyum manis anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *