Jika Matahari Tak Terbit Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia. Mungkin karena sudah sepekan terakhir ini Matahari, sahabatku selalu bermain bersamaku. Nampaknya sudah lebih dari sepekan. Ya, sudah sepuluh hari aku menghabiskan waktu liburan sekolah bersamanya. Matahari dan aku sudah berteman sejak kami masih sangat kecil. Dia sungguh menyenangkan. Dia pria yang sopan dan jujur. Bahkan, saat kenaikan dia membelikanku banyak barang yang aku sukai. Sungguh, dia sahabat pria yang hanya terlahir satu kali. Tunggu sebentar… kenapa aku jadi membicarakan Matahari? Memuji-mujinya dan mengaguminya seperti dunia hanya milik kami berdua? Sungguh janggal. Baru saja kemarin dia mengerjaiku. Aku cukup kesal memang.

Dia meminta maaf, tapi rupanya aku menyadari aku kesalnya hanya sekedar bercanda. Sekarang, aku memujinya sembari memandang ke arah langit-langit kamar. Merasakan matahari yang sesungguhnya memancarkan sinarnya ke arah jendela kamarku. Apakah aku… tidak, tidak boleh! Aku dan Matahari hanya sahabat, aku rasa. Entah apa yang selama ini ia rasakan terhadapku. Yang jelas, dia pandai menyembunyikan perasaannya. Semenjak liburan sekolah tiba, setiap hari ia bermain denganku. Dan hari ini, berjanji akan datang pukul delapan pagi. Sekarang masih setengah delapan. Lebih baik aku mandi dulu.

“Rossie, kau mau makan tidak?” suara nyaring memanggil namaku. Aku tidak segera menjawabnya. Lalu melihat jam. Lima menit lagi adalah pukul delapan.
“Tidak, Ma. Aku akan makan bersama Matahari pagi ini,” aku menjawabnya dengan nada riang. Semua beban serasa terlupakan mengingat lima menit lagi Matahari akan datang bersama sopirnya. Seperti kemarin, aku dan dia pergi ke sebuah festival bunga. Sungguh menyenangkan.

Sekarang, semakin lama aku memikirkannya, aku malah semakin tidak merasa bingung dengan perasaan ini. Kenapa otakku tidak bisa berhenti memikirkannya? Apa dia juga pernah merasa demikian terhadapku? Pukul delapan lebih lima belas menit. Aku masih sabar duduk di ruang tengah sembari memegangi ponsel. Siapa tahu Matahari akan menghubunginya. Aku menopang dagu. Perutku semakin lapar karena belum sarapan. Ke mana dia? Sudah pukul setengah sembilan pagi. Aku tahu dia bukan tipe pria yang tidak tepat waktu. Matahari sangat dan amat menghargai waktu. Tapi sekarang… ke mana dia? Ponselku juga tidak berdering sama sekali. “Matahari belum datang juga?” Ibuku menjadi ikut cemas melihat aku cemas. Aku tidak bisa duduk diam. Terus gelisah melihat ke sekeliling sudut ruang tengah seperti aku akan menemukan Matahari di salah satu sudut. Tak lama, ponselku berdering. Tertulis ‘Matahari’.

“Matahari meneleponku,” dengan semangat aku segera mengangkatnya. Ibuku juga turut mengembangkan senyumnya. Dia juga bahagia saat aku bahagia.
“Apa?” seakan sulit sekali memegang ponsel. Bibir ini menjadi pucat dan terasa tenggorokan terlalu kering untuk berbicara kata yang lebih bermakna selain ‘apa’.
“Benarkah? Bagaimana…,” aku menggigit bibirku sendiri. Ibu nampak khawatir, firasatnya tidak enak.
“Apa? Ada apa?” Ibu memegang telapak tanganku yang tidak memegang ponsel. Terasa telapak tangan ini membeku. Perutku yang sungguh lapar pun mendadak menjadi tidak ingin makan apa-apa. Air mataku perlahan mengalir membasahi pipiku. Aku menutup telepon itu. Belum pernah aku menangis setelah mendapat telepon.

“Matahari… dia kecelakaan,” ujarku sembari menghapus air mataku sendiri. Rasa aneh karena ia terlambat sudah terjawab semua. Mataku memerah dan memanas.
“Kita ke rumah sakit,” ujar Ibuku dengan segera setelah orangtua Matahari yang barusan meneleponku mengatakan di mana Matahari dirawat. Suara berat yang tadi meneleponku rupanya Ayah Matahari yang nampak pura-pura kuat di hadapan Ibu Matahari. Aku berlari menuju kamar yang disebutkan. Tanpa mempedulikan tali sepatu sudah diikat atau belum, aku tetap berlari. Tidak sempat mengatakan maaf pada orang yang tidak sengaja aku tabrak. Ibuku berusaha menandingi kecepatan aku berlari.

“Rossie, kau datang?” Ibu Matahari segera memelukku dengan erat. Kami kenal dengan sangat baik satu sama lain sejak Matahari dan aku berada di sekolah dasar.
“Tentu saja, Tante. Bolehkah aku melihat keadaan Matahari?” tanyaku sembari mengelus-elus pundak Ibu Matahari yang nampaknya sangat terpukul.
“Matahari masih dalam keadaan koma. Dokter bilang, jika ia tidak sadarkan diri sampai nanti petang, dia akan menjalani operasi di kepala. Karena kepalanya terbentur dan kehilangan darah cukup banyak,” tangis yang menetes itu tidak bisa menutupi perasaan Ibu Matahari yang sebenarnya.

Aku dengan ragu tetap memutuskan untuk masuk. Aku dengar dia kecelakaan dalam perjalanan ke rumahku. Dia tertabrak truk yang melawan arah. Aku menyeret kakiku masuk ke kamar Matahari. Suasana hening, benar-benar hening. Aku mendekatkan diri pada Matahari yang bernapas dengan tabung oksigen besar di sampingnya.

“Tolong, aku mohon, sadarlah,” ujarku sembari menahan air mata yang mendesak untuk dikeluarkan. Aku menatapnya. Dia terlihat nampak menderita. Tangan dan telapak kakinya ikut diperban. Sementara sopirnya hanya mengalami patah tulang ringan. Apakah ini adil? Atau mungkin ada serangkaian rencana indah di akhir kisah tragis ini. Rencana indah. Aku tidak sanggup menahan untuk tidak menangis. Air mata ini seakan sudah tidak pernah mengalir semenjak Matahari selalu bermain bersamaku. Sekarang, aku menangis dengan sangat deras. Semoga, tangisanku dapat membangunkannya.

“Rossie, kau mau makan siang?” Ibuku dengan setia sedari tadi menemani Ibu Matahari yang tidak bisa berhenti menangis. Sudah dua jam aku duduk di samping Matahari. Ibuku masuk sebentar dan melihat keadaan Matahari. Aku menggeleng. Melihat Matahari seperti ini, membuatku menjadi sangat kenyang. Tidak haus sama sekali.
“Rossie,” Ibuku berusaha membujukku. Aku bersikeras menggeleng. Aku hanya ingin berada di samping Matahari sampai ia terbangun. Hanya itu. Jika Matahari sudah bangun, mungkin aku akan menjadi sangat dan sangatlah lapar.

Aku duduk memperhatikannya. Batin ini terasa tersayat melihatnya terkapar tak berdaya. Padahal biasanya ia sangat ramah, senyum lebar selalu tersungging di bibirnya. Sekarang, semua itu seakan tidak akan pernah terjadi lagi. Aku memandang Matahari seperti sebuah gerhana matahari. Gelap. Cahaya matahari tertutup, itulah yang terpancar dari wajahnya sekarang. “Kau tahu, semua orang memerlukan matahari untuk bertahan hidup. Seperti aku membutuhkanmu, Matahari,” aku memaksakan senyum sembari berbisik pelan di sampingnya. Apakah dia akan mendengarnya? Itu tidak penting. Yang terpenting, Matahari bangun dan bisa mengerjai aku lagi.

Aku berdiri. Lambung seakan ingin pecah menahan lapar. Sudah pukul tiga sore dan aku belum memasukkan apa-apa ke dalam tubuhku. Sebentar lagi petang. Dia masih menunjukkan tanda-tanda belum membaik. Kalau menjalani operasi adalah jalan keluarnya, silahkan lakukan itu. Aku hendak memutar tubuhku menuju pintu keluar. Entah ini mengerikan atau tidak, aku merasa tangan dingin menarik pergelangan tanganku. Secara spontan, aku menengok ke belakang. Mata itu, pupil berwarna cokelat muda yang secerah matahari itu kembali dilihat oleh kedua mataku.

“Matahari?” aku bahkan terlalu bahagia untuk memanggil Ibunya dan Ibuku. Aku segera berlari memanggil dokter dan suster yang berjaga. Aku terlalu bahagia. Benar saja, aku menjadi sangatlah lapar. Dugaanku benar. Aku segera menghabiskan sepiring nasi goreng raksasa. Melihat mata Matahari yang begitu cerahnya seperti sinar matahari membuat nafsu makanku melonjak.

“Apa kata dokter?” tanyaku pada Ibu yang merasa geli memperhatikanku makan dengan lahapnya.
“Ehm,” ujarnya agak ragu. “Kondisinya sama sekali belum membaik. Dia tetap akan menjalani operasi besar di hari esok,” Ibuku tersenyum samar dan menatapku dengan tatapan tidak tega.
“Benarkah?” aku berhenti mengunyah. Gigiku malah terasa ngilu semua. Sendok itu ku letakkan di atas piring. Operasi besar? Meskipun aku baru berusia belasan tahun, aku tahu operasi besar itu hal yang buruk, aku tahu dan yakin.

Selesai makan, aku segera menemui Matahari. Dia masih terjaga. Menatap langit kamar rumah sakit yang mengerikan. Entah karena langit itu indah atau ia tidak memiliki hal lain untuk dilihat. “Rossie,” dia tersenyum lebar meskipun aku yakin wajahnya lebam dan sakit untuk berbicara. Matanya semakin berbinar membuatku tidak tahan untuk tidak membalas senyuman tulus yang ia paksakan dengan wajah penuh luka. “Apa aku terlihat begitu sakit?” tanyanya dengan nada cemas. “Tidak. Kau terlihat… semakin tampan,” ujarku dengan senyum hangat. Aku sedang berusaha membuatnya bahagia.

Dia tersenyum. Terlalu bahagia untuk mendengar aku memujinya? Entahlah. Tapi perasaan di batinku semakin bercampur aduk. Kenapa aku sangat tidak ingin kehilangannya?
“Matahari, besok kamu akan menjalani operasi. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu. Buka matamu di hari esok dengan menunjukkan pupil yang begitu cerah.”
“Tentu saja,” dia menjawab. Nadanya begitu ringan dan santai seperti tidak ada apa pun yang sedang terjadi. Peralatan di sekitar tubuhnya benar-benar mengerikan.
“Jika matahari tidak terbit lagi, dunia binasa. Kau Matahari, bukan?” aku tersenyum dan mencoba memberinya penguatan. Sekecil apa pun dampak dari penguatan yang aku berikan untuknya, percayalah bahwa itu tulus dari hatiku yang terdalam.

“Kau benar. Aku adalah Matahari. Entah sebagai matahari yang memberikan kecerahan di batinmu atau matahari sahabatmu, Rossie.” Aku malah merasa ucapan Matahari barusan menenangkanku. Bukannya aku yang menenangkan dia, malah dia yang menenangkanku. Apakah aku terlihat sebegitu paniknya?
“Ya, kau benar. Kau memberikan kecerahan batin untukku,” sungguh kami itu masih bocah. Sudah berkata hal yang mungkin tidak terlintas di pikiran orang dewasa sekalipun.
“Aku tidak tahu punya kesempatan atau tidak. Sekarang adalah kesempatan yang nyata untuk aku mengatakannya,” Matahari menahan napasnya sebentar sebelum melanjutkan berbicara dengan suara yang serak.

“Aku sebenarnya memiliki perasaan berbeda terhadapmu, Rossie. Entah kau menyadarinya atau tidak, aku selalu menatap dan tersenyum kepadamu dengan cara yang berbeda. Tidak, aku tidak memerlukan jawabanmu sekarang. Nanti saja,” Matahari tersenyum puas dan seakan luka di sekujur tubuhnya sudah sembuh total. Aku terdiam. Benarkah? Dia mengatakan hal itu padaku? Dia baru saja menyatakan cintanya? Awalnya aku selalu mengira dia ramah dan sok akrab dengan semua wanita. Tapi rupanya dia menatapku dengan cara yang berbeda? Cara seperti apakah itu?

“Berjanjilah padaku bahwa ini bukan pertemuan terakhir bagi kita.”
“Jika ini pertemuan terakhir pun, semua yang ingin aku sampaikan sudah kau dengar. Tidak ada beban lagi. Kau sudah mengetahui semuanya. Aku akan tenang,” ujarnya. Belum pernah aku mendengar kalimat yang begitu mengerikannya. Ini sungguh miris.
“Tidak. Matahari, dengarkan aku, kau harus tetap hidup dan memancarkan sinarmu.”

Malam tetap harus aku lewatkan di rumahku sendiri. Aku tidak bisa tidur, tentu saja. Tak berhenti memanjatkan doa agar Matahari dapat sembuh total. Agar dia bisa memancarkan sinarnya lagi. Agar aku tidak binasa. Pagi ini tepat pukul enam pagi akan diadakan operasi besar. Mungkin dapat memakan waktu seharian. Jaringan di otaknya mengalami pergeseran dan harus segera diperbaiki. Aku dengan pakaian di tumpukan teratas dan mengikat rambutku secara asal menuju rumah sakit bersama Ibu. Aku menunggu di ruang tunggu. Sofa yang empuk pun terasa begitu kerasnya. Aku melipat kedua tanganku di depan wajahku. Memohon tak henti-hentinya.

Selamatkan matahariku. Jika matahari tidak terbit lagi, maka dunia akan binasa. Aku tidak mau kehilangan kau, Matahari. Tolong bukalah matamu dengan semangat seperti bagaimana kau selalu membukanya di hadapanku dengan penuh kecerahan. Aku mohon, Matahari. Berjuanglah dengan segenap kekuatanmu. Enam jam berlalu. Dokter ke luar ruangan menghampiri aku dan Ibuku. Rasanya seperti sudah terkuras habis tenagaku untuk menanyakan hasilnya. Tatapannya meyakinkan. “Operasi kami… berhasil,” ujarnya dengan nada puas dan tersenyum lebar pada kami semua. Aku tidak sanggup menahan air mata bahagia. Tidak sia-sia selama enam jam aku memohon dan berdoa.

Kau benar-benar melakukan apa yang aku inginkan, Matahari. Ya, aku mengatakan itu seolah dia benar-benar mendengarkan apa yang aku inginkan. Terima kasih telah berjuang, aku tahu kamu bisa. Tak lama, Matahari sudah siuman. Aku adalah orang pertama yang dilihatnya. Dia tersenyum meskipun matanya belum terbuka sepenuhnya. Bayangan samar itu, dia bisa meyakinkan bahwa itu adalah aku. Rossie, sahabatnya atau mungkin lebih.

“Terima kasih Rossie,” ujarnya sembari berusaha sekuat tenaga menganggukkan kepalanya. “Karena kemarin kau memberitahuku untuk bertahan, aku bisa bertahan. Seberapa menyakitkan ini bagiku, jika aku ingat padamu, maka aku pasti bisa melakukannya,” dia tersenyum lebar. Bahagia sekali.
“Aku adalah alasanmu untuk bertahan? Kau adalah alasan aku untuk tetap terbangun setiap harinya. Karena ada matahari yang membangunkan dan memberikan kecerahan, itu alasan aku bertahan setiap harinya,” ujarku penuh kejujuran karena memang selama ini aku selalu berpikir bahwa Matahari adalah matahariku.
“Rossie, liburan berikutnya, aku ingin tetap berada di sampingmu. Jadilah sahabatku sampai selamanya,” ujarnya.

Tidak penting dia menyukaiku atau tidak. Yang terpenting, cahayanya masih sanggup menghangatkan jiwa dan ragaku sekarang. Selama dia masih memancarkan cahaya, aku akan selalu menganggap bahwa matahari akan terbit lagi di esok hari. Entah matahari entah Matahari. Karena jika matahari tidak terbit lagi, manusia binasa. Tetapi jika kau, Matahari tidak terbangun lagi, maka aku binasa. Itu berarti… sepertinya aku juga harus mengakuinya bahwa aku mulai memikirkanmu lebih daripada aku pernah memikirkan sahabatku yang lain.

Cerpen Karangan: Gabriella Alodia Jovita
Blog: precioustimewithme.blogspot.com

Cerpen Jika Matahari Tak Terbit Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepasang Mata Dari Sahabat

Oleh:
Suasana malam ini begitu dingin, tapi tidak untukku. Aku merasa gelisah, keringat dingin membasahi seluruh badanku. Malam ini begitu hening, yang terdengar hanya suara jarum jam yang terus berdetak.

Terlupakan, Gak Mungkin (Part 1)

Oleh:
Namaku Els Muise Waise, aku siswa kelas 11 Sekolah Menengah Atas di sebuah kota yang sangat buruk keadaannya. Huft keadaan udara di sekitar kota semakin panas. Asap kendaraan tersebar

Terima Kasih Sahabatku

Oleh:
MP3 playerku masih setia menemaniku hingga senja tiba. Lagu-lagu favoritku dan dia terus terputar di playlist yang telah ku buat. Membuat ku semakin tenggelam dalam kenangan saat masih bersamanya.

Bersepeda Bersama Tania

Oleh:
Hari yang cerah untuk mengawali pagi yang indah, ku rebahkan badan ku di kasur, aku ingin menikmati pagi yang indah ini. Tetapi matahari mulai meninggi, aku segera bergegas untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *