Jodoh dan Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 September 2018

“Hai nona cantik? Kenapa kamu bersedih?” seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri Dira dan duduk di sampingnya, yang sedang berada di sebuah taman waktu sore.
Dira hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Ceritalah, biar kamu lebih tenang” ucap lelaki itu
“Maaf aku tidak bisa cerita sama orang asing, yaitu kamu” ucap Dira tersedu-sedu
“Ohh maaf, menurut aku kalo nangis karena lelaki itu gak penting, di luar sana masih banyak lelaki yang lebih baik dari dia. Apalagi kalo dia nyakitin kamu, lebih baik kamu tinggalkan saja dia” ucap lelaki itu
“Tau apa kamu soal aku menangis, aku menangis bukan karena disakiti” jawab Dira agak kesal
“Lalu?” lelaki itu bertanya kembali
“Lelaki yang aku cintai dan sayangi, kini dia telah pergi meninggalkan semua orang di dunia ini” Dira dengan menangis tersedu-sedu
“Dia sangat baik, perhatian, semuanya ada pada diri dia, dia membuat semua orang nyaman di sisinya, tapi sayang umur dia terlalu cepat untuk meninggalkan dunia ini” lanjut Dira dengan sedih.
“Kamu masih beruntung ditinggalkan kekasih, aku ditinggalkan seorang ibu” ucap lelaki itu sedih
“Tapi aku menyayangi kekasihku” ucap Dira menatap lelaki itu agak kesal
“Ya, aku tau, tapi itu tidak seberapa dengan kita menyayangi seorang ibu, kasih sayang ibu lebih besar dari kasih sayang seorang pacar, lelaki masih banyak, tapi ibu kita hanya 1 di dunia ini” jawab lelaki itu tegas
Dira pun menarik nafas mencari ketenangan
“Jangan sedih ya, aku yakin kamu akan menemukan cintamu lagi” ucap lelaki itu sambil memegang pundak Dira dan tersenyum
“Makasih” jawab Dira singkat dan membalas senyumnya

“Kak Dio ayo kita pulang” teriak anak kecil dari kejauhan memanggil lelaki yang sedang bersama Dira

“Maaf aku harus pergi dulu ya? ingat jangan sedih lagi ya, nanti cantik nya hilang sedikit loh” ucap Dio tersenyum
“Iyah, makasih ya?” jawab Dira tersenyum
“Sama-sama” ucap Dio sambil bangkit dari tempat duduknya, dan segera meninggalkan Dira yang masih terduduk.

Hari pun mulai gelap, Dira cepat-cepat pulang ke rumahnya.
“Dira kok baru pulang jam segini?” tanya seorang ibu, setiba Dira datang
“Maaf bu” jawab Dira
“Mata kamu sembab, kamu masih sedih soal meninggalnya Galang?” tanya ibu kepada Dira
“Aku sayang Galang bu” ucap Dira menangis sambil memeluk ibunya
“Udah-udah sabar yah” ucap ibu sambil mengelus Dira
“Ya sudah bu, aku ke kamar dulu” ucap Dira sambil melepaskan pelukan.

Malam yang dingin Dira ditemani selimutnya yang hangat. Dira terus-terusan menangis, tiba-tiba bayangnya melihat Galang tengah berdiri disamping tempat tidurnya, Dira pun kaget dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.
“Kamu tak usah menangis seperti ini, aku ingin hidup tenang tanpa ada tangisan dari siapa pun itu. Aku sayang kamu, aku tidak mau melihat kamu seperti ini. Kamu akan menemukan cinta sejatimu yang sesungguhnya, tapi bukan aku, tapi orang lain yang sedang menanti kehadiranmu” ucap Galang dalam bayang Dira
“Tapi..” katanya terhenti saat Galang menempelkan 1 jari pada Dira
“Ini sudah takdir, kamu tidak bisa menggantinya. Bukalah matamu dan lihat dunia ini, dunia ini besar, kamu bisa memilih lelaki yang kamu inginkan, tapi tidak jodoh ataupun takdir, kamu tidak bisa sesuka hati mendapatkannya atau menggantinya dengan yang kamu inginkan. Percayalah kamu akan mendapatkan yang terbaik dari semua yang terbaik. Di sini aku akan tersenyum jika melihatmu bahagia bersama lelaki yang sudah membuat pelangi dalam hidupmu” ucap Galang sambil tersenyum
Tiba-tiba bayangan Galang pun hilang tanpa jejak.
“Galanggg…” terisak tangis Dira sambil menjerit memanggil nama Galang.

Di pagi yang sejuk ini, Dira sudah terduduk di bangku sebuah taman, sambil merenung diam, tangisnya terus mengalir dari matanya sambil membawa fotonya bersama Galang.

Dio pun mengikutinya dari belakang.
Di sebuah TPU Dira terduduk lemah menangis, sambil memeluk sebuah makam yang ada di hadapannya
“Galang, kenapa kamu pergi begitu cepat. Ayo bangun Galang, kita wujudkan mimpi kita bersama-sama. Galang, galang” Dira terus ngelantur seperti orang gila

Dio pun mendekati Dira yang sedang menangis lemah di makam
“Ayo bangun, kamu tidak bisa seperti ini terus” ajakan Dio pada Dira
“Kamu kan yang ngasih saran untuk pergi kesini?” tanya Dira
“Iyah, tapi kamu gak bisa seperti ini terus, lama-lama kamu bisa gila karenanya” ucap Dio
“Gila kamu bilang?” sentak Dira pada Dio
“Iyah, mungkin aku gila, aku gila karena Galang. Hahaha hmmm Galang” ucap Dira seperti orang gila
“Sudah ya, sekarang kita pergi dari sini” ajakan Dio pada Dira dengan lembut.

Mereka pun duduk di sebuah taman, tempat mereka bertemu.
“Kamu minum dulu ya” ucap Dio menawarkan sebotol air mineral kepada Dira
Dira pun menggelengkan kepalanya.
“Kamu harus minum, supaya kamu lebih tenang” ucap Dio kembali
Dira masih menjawab dengan gelengan kepalanya
“Tenang, aku tidak kasih racun kok dalam minum ini. Jadi, kamu minum air ini ya” ucap Dio kembali memastikan
Dira pun akhirnya mengambil air botol itu yang ada pada tangan Dio lalu meminumnya.

“Bagaimana sekarang, apakah sudah lebih tenang?” tanya Dio pada Dira
“Sudah” jawabnya singkat
Saat itu Dio melihat foto yang ada dalam genggaman tangan Dira.
“Boleh aku lihat foto itu?” tanya Dio sambil menunjuk kepada foto
Dira pun memberikan foto itu pada Dio
“Hmm.. kalian tampak bahagia dalam foto ini, dan pasangan yang cocok” ucap Dio tersenyum
“Iyah, tapi..” ucap Dira yang tak dilanjutkan
“Tapi kenapa?” tanya Dio
“Dia sudah tidak ada” jawabnya dengan sedih
“Kamu tidak usah sedih lagi. Dunia ini besar, kamu bisa memilih lelaki manapun yang kamu suka, tapi tidak dengan jodoh ataupun takdir, kamu tidak bisa memilihnya sesuka hati. Tenanglah di luar sana ada lelaki yang sedang menanti kehadiranmu. Bisa saja aku yang jadi jodohmu” ucap Dio sambil tertawa kecil
“Kamu ini bisa saja” jawab Dira tertawa
“Kan mungkin saja” balas Dio tertawa.

Keadaan pun tiba-tiba sejenak hening, dan keheningan itu kembali normal dengan adanya pertanyaan dari Dio.

“Oh iya, kita belum kenalan kan? Kenalin aku Dio” ucapnya sambil mengulurkan tangan
“Aku Dira” ucap Dira sambil menjabat tangan Dio
“Senang bisa kenal kamu” Kata Dio tersenyum
Dira pun membalas dengan senyuman manisnya
“Nah gitu dong senyum, kan cantiknya jadi gak hilang hehe” jahil Dio pada Dira
“Kamu ini bisa saja” Dira pun tertawa kecil
“Makasih ya, kamu udah buat aku lebih tenang sekarang” lanjut Dira berbicara
“Sama-sama” jawabnya singkat

Tidak sadar hari mulai sore, Dira pun buru-buru untuk pulang.
“Maaf aku harus pulang, hari sudah sore dan hampir gelap, kayanya si mau ada hujan datang” ucap Dira terburu-buru setelah melihat jam yang menunjukan pukul 17.00
“Aku antar kamu ya, boleh?” ajakan Dio
“Tidak usah, lagi pula rumah aku dekat dari sini” tolakan Dira
“Please boleh ya” ucap Dio memohon
“Ya sudah kalo kamu tidak keberatan” jawab Dira
“Asik” jawab Dio senang
“Aku ambil motor di parkiran sebentar ya, kamu tunggu disini, nanti aku balik lagi ke sini. Okeh” ucap Dio dengan senyuman
Dira pun mengangguk kan kepalanya.

Tak lama Dio pun datang dengan motornya yang berwarna Hitam.
“Ayo naik” ajakan Dio
Dira pun menaiki motor Dio.

“Rumah kamu dari sini belok ke mana?” tanya Dio pada Dira
“Belok kiri, nanti belok kiri lagi setelah itu” jawab Dira memberitahu Dio
“Okeh” jawabnya sinsingkat

Hari ke hari, Dira pun sering bertemu dengan Dio, bahkan sering jalan berdua dalam 1 hari penuh, tapi mereka tak pernah bosan melalui kebersamaan nya itu, hingga mereka akhirnya jatuh cinta. Cinta yang selama ini Dio simpan, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya Dira bisa melupan Galang yang telah pergi dari dunia ini.

“Yang ini cocok gak?” Dira menunjukan sebuah baju pernikahan kepada Dio
“Hmmm bagus, cantik” jawabnya penuh senyuman
“Ya udah yang ini ya mba” Dira memberikan bajunya ke pelayan untuk dibelinya
“Iyah” jawabnya.

Tanggal 11 pun datang, dimana pada tanggal itu adalah hari pernikahan Dio dan Dira. Pernikahan yang sederhana, yang akan menyatukan mereka untuk selamanya. Para tamu undangan pun sudah menunggu kehadiran pengantin lelaki yang belum datang sedari tadi.

“Dir, Dio udah sampe mana?” tanya ibu kepada Dira
“Bentar lagi katanya bu” jawabnya
“Uhhh, lama banget, udah pada nunggu nih” ucap ibu dengan khawatir
“Tenang ya bu, mungkin macet” Dira menenangkan

10 menit berlalu akhirnya Dio pun datang dengan keluarganya, inilah yang dinanti-nanti oleh Dira sedari tadi.
Pernikahan pun berlangsung, hingga orang-orang mengucapkan kata “Sah” untuk mereka.

Jodoh, takdir, kematian sudah ada di tangan sang kuasa, kita tidak bisa merubah dan memilihnya.
Kita tidak tahu entah kematian atau jodoh yang akan menjemput kita terlebih dahulu.
Jadilah manusia sebaik-baiknya agar esok kita siap dalam menghadapi segala sesuatu.

Selesai
Makasih yang udah mau baca cerepen aku

Cerpen Karangan: Evi Amalia
Blog / Facebook: Evi Amalia

Cerpen Jodoh dan Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku Jatuh Hati

Oleh:
“..Siska, bangun.” Teriak sang bunda pada putri kesayangannya yang mulai beranjak dewasa. “Haaa, Bundaa aku telat.” “Kamu sih dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun.” “Aduh, ya udah nggak usah mandi.

Kenangan Waktu Lalu

Oleh:
Suasana kelas yang sepi, di sekitar sekolah hanya ada beberapa murid saja yang terlihat. Memang tidak seperti biasanya, hari ini aku berangkat pagi sebab dimarahi guru salah satu mapel

Hujan Di Awal Desember

Oleh:
Hari itu sedari pagi langit Jakarta tak menampakkan keceriaannya, sepanjang hari hanya kemuraman yang diperlihatkan. Membuat siapa saja yang melihat jadi malas buat melakukan segala aktivitasnya. Kecuali yang memang

Kaichou, I Love You

Oleh:
“Kayla! Bangun.. kamu mau terlambat sekolahnya. Mama udah bilang dari dulu kan, kalau habis shalat shubuh jangan tidur. Let’s wake up..” Sebuah suara khas mama menggelegar di telinga Kayla.

Pesan Tersimpan

Oleh:
Perkenalan aku dengan dia bermula saat aku mencoba mendaftar sebagai admin di salah satu sosial media. Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia juga ikut, bahkan aku juga belum mengenal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *