Jodoh Pasti Bertemu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 September 2016

Perkenalkan namaku Dinda Septiani. Panggil saja aku Dinda. Usia ku 25 tahun. Hem… tua juga sudah ya. Ya bisa dibilang usia 25 tahun itu sudah dibilang matang. ya lumayan matang. tapi tidak soal cinta. oke mari kita lupakan soal itu dulu. untuk soal kehidupanku? bisa dibilang agak miris. ya gak miris-miris banget sih. orangtuaku tidak cukup harmonis. tapi ada keluarga yang selalu membuatku bertahan. teman? ya aku tergolong anak yang baik serta manis. di dalam hidupku semua orang baik dan yang baik sama aku sudah aku anggap keluarga. ya aku bahagia bisa memiliki mereka semua.

Keluargaku bisa memanggil namaku dengan bungsu. ya aku anak terakhir dari lima bersaudara. dan semua telah menikah. jangan tanya aku kapan nyusul mereka semua. ya maksudnya kapan nyusul mereka menikah loh ya. jangan mikir yang macam-macam. untuk urusan yang satu ini aku agak tertutup alias pemalu.

Aku hanya gadis sederhana yang mempunyai tinggi 150 cm dan berat 60 kg. its amazing right? ha ha ha. but my look is still beutiful. namun aku beruntung. syarat untuk masuk kerja tidak seperti calon pramugari yang harus tinggi di atas 150 cm dan berat harus ideal atau muka harus cantik seperti angelina jolie. dan aku harus bersyukur Tuhan memberikanku wajah tidak seperti Taylor swift *eh abaikan yang ini ngaco*. aku bekerja di bagian keuangan dan paling cantik sekali hahaha. ya jelas sih soalnya yang lain cowok *ini garing*.

Guys, ini hari pertama aku kerja. sebenarnya udah seminggu yang lalu. tapi aku selalu menganggap hari kerjaku adalah hari pertama. bukan hari yang kesekian kalinya. kenapa begitu? kalian pasti menanyakan di dalam hati kalian terdalam *oke ini lebay*. tentu jawabannya karena biar semangat selalu memicu kalian bekerja. biar bosen tidak menghinggapi otak kalian. agar kalian selalu merasa betah dan nyaman yang sama dengannya kalian selalu merasa bersyukur masih mempunyai pekerjaan *ini proses kedewasaan selama 25 tahun*.

“Dinda, kamu bisa kerjakan ini sekarang? dua jam lagi akan saya ambil”.
“Siap pak laksanakan”. Ya begitulah jawabanku kalau bos memintaku untuk mengerjakan tugas kantor. berasa kayak polisi lagi upacara.

Dua jam kemudian…
“Permisi pak ini tugas yang tadi Bapak minta”
“Oh iya taruh di atas meja saja”
“Baik pak kalau begitu saya permisi”
“Dinda tunggu sebentar, ini ada tugas promosi buat kamu”
“Promosi apa ya pak?”
“Promosi untuk naik jabatan? apa kamu mau? semua pegawai mengharapkan ini. tapi karena kerja kamu lebih baik dari yang lain. jadi kamu yang salah pilih”.
“iya pak. tapi promosinya kemana ya pak kalau boleh tahu?”
“Promosinya ke Papua. Di sana masih minim pegawai. saya harap kamu bisa menerima promosi ini. hanya tiga bulan saja. semua fasilitas seperti tempat tinggal sudah ada disediakan dari kantor. apa kamu bersedia? saya kasih waktu kamu tiga hari untuk memikirkannya”
“baiklah pak. akan saya pikirkan dulu. saya permisi pak”

Nah loh dapat promosi dari kantor. kalau pegawai lain senang. kalau aku Cuma bisa ketawa datar. bayangin aja ya guys ketawa datar itu gimana. kalau dipikir lagi siapa sih yang gak mau naik jabatan? tapi kenapa harus sejauh itu ke Papua sana. apa di sana aku bakal nemuin jodoh. haha not impossible.

Sesampainya di rumah
“kamu sudah pulang dind”
“iya bu tadi dinda habis rapat makanya lama. bu, ada yang mau dinda omongin”
“apa nak? kok langsung tegang mukanya?”
“gini bu, emmm gimana ya ngomongnya. Dinda dapat promosi bu dari kantor”
“bagus dong din. itu artinya kamu pegawai yang berbakat”
“iya dinda tau bu. tapi promosinya ke Papua. ibu gapapa kalau dinda ke sana tiga bulan?”
Ibu terdiam “sebenarnya ibu berat kamu tinggalin. tapi kamu sudah cukup matang untuk jaga diri. lagi pula ini kan urusan pekerjaan. ibu hanya bisa berdoa untuk kesuksesanmu nak”
“aaaa ibu. aku sayang ibu” meluk sambil sedih

Hemmm… akhirnya aku memutuskan untuk mengiyakan permintaan bos. gak perlu nunggu tiga hari buat bilang iya. tapi aku gak mau bilang dulu sebelum harinya sudah tiga hari haha.

Sebelum aku bersusah susah di sana. mari kita buat “note of me”

Day 1:
– Makan sepuasnya
– Jalan sepuasnya
– Hang out bareng temen
– Karaoke sepuasnya
Day 2:
– Jadi foto model dadakan
– Ke Taman Mini Sepuasnya
– Keliling Jakarta kalo perlu sampai ke Bekasi sana *eh gak deh kejauhan*
Day 3:
– Pergi jalan sama keluarga
– Pacaran sama mama papa kakak. alias family time

Day 4:
Dan ini lah saatnya aku harus pergi. Tahan aku… tahan aku *ala ala sinetron*

“oke din kamu siap?” Tanya bos kurang yakin.
“insyaallah saya siap pak. demi pekerjaan dan tanggung jawab”
“baiklah. kamu akan di antar sama supir ke bandara dan di sana ada yang bertugas menjaga kamu selama di sana. nama nya Rendi Saputra. dia baik dan dia akan mengarahkanmu selama di sana”
“okelah pak. doakan saya bisa mengerjakannya dengan baik. saya pergi dulu pak. selamat siang”

Cukup sedih sebenarnya meninggalkan kota yang berjuta-juta kenangan. tapi semoga ada hikmahnya yang aku bisa ambil dari pekerjaan ku ini.

Selama di perjalan, aku hanya bisa melamun. ya ngalamunin nasib sih lebih tepatnya. selama bertahun-tahun belum ada kepisah sama keluarga selama ini. haha agak alay tapi namanya juga manusia. wajar kalau ada masa up and down. ceileh ngeri bahasanya. #okebhay

“oke pak sampai sini saja ngantarnya. terima kasih sudah ngantarin”
“iya mba sama-sama. hati-hati di jalan ya. jangan lupa sama mas Rendi di sana yang bakal nemenin mba. orangnya tingi dan putih”
“oke baiklah pak. terima kasih lagi. saya pergi dulu”

Saat itu keberangkatan tinggal empat puluh lima menit lagi. sambil ngisi waktu aku beli makan dulu terus ke toilet. sekeluarnya dari toilet. gak sengaja aku tertabrak tubuh seorang pria yang kekar. tapi ini bukan penyanyi dangdut yang nyanyi astuti loh ya.

“maap saya gak sengaja”
“oh iya gak papa”

Sejujurnya kesal sih. sudah berapa kali ketabrak cowok tapi gak ada yang nyangkut. duh ngerasa jomblo banget yah.

“penerbangan… menuju papua akan segera berangkat…”

Akhirnya… semoga ada keajaiban ya disana.

Beberapa jam setelah duduk di pesawat, sampai juga di bandara papua. welcome to my new city *ngomong sama diri sendiri*.

*hp bunyi sms*
“aku ada di gate 5. pake baju merah pake topi coklat celana hitam. cepet aku nungguin dari tadi”

5 menit aku diam. detik berikut nya aku baru ingat. dan Cuma membalas, “ini Rendi?”. dan dia hanya membalas “Y”. Betapa sakit hatinya Cuma dibalas gitu doang. dari belakang aku sudah lihat dia dari kejauhan dan di tanganku sudah ada segenggam kertas buat balas smsnya yang singkat padat jelas itu.

5 langkah dari belakang. dan bum kena kau.
“heh kamu yang balas sms kayak kekurangan keyped. gak bisa apa agak panjangan sedikit balasnya”
“bisa agak sopan sedikit mba?” sambil balik badan
Aku terpesona liat mukanya, 5 menit kemudian… “eeeiyaa maap”
“kenapa? terpesona liat kegantenganku?”
Bangun dari sadar mau muntah denger gituan. “pede banget kamu. ganteng aja eggak”
“yakin? cewek banyak ngantri loh”
“ih malas banget. cepet antar aku ke penginapan. kamu sudah dikasih tau bos kan?”
“sudah kamu ikutin aku aja. aku di sini kerja ya jadi jangan coba suka sama aku”
“pede banget sih kamu cowok”
Ya begitulah percakapan kita. agak menjijikan tapi buat aku senyum-senyum sendiri kalau ingat.

tok tok “permisi ini Rendi”
“ngapain malam-malam ke sini”
“jangan kepedean ya cewek. aku ke sini mau nanya kamu sudah makan atau belum. kalau belum aku mau ngajak makan”
“jangan bilang ini permintaan maaf kamu karena sudah membuat cewek secantik aku kesal”
“hah? hih pede. kalau gak mau ya udah aku pergi makan sendiri sampai kenyang”
“eh tunggu. iya deh aku ikut. sebentar aku ganti baju dulu”

10 menit kemudian
“ayo berangkat”
“dasar cewek lama banget sih”
“ye Cuma 10 menit di bilang lama”

“ini tempat makan langganan aku selama di sini”
“selama di sini? memangnya sebelum ke sini kamu dari mana?”
“aku dari Jakarta. aku pindah ke sini karena orangtuaku pengen aku mandiri. bokap nyuruh aku mimpin perusahaan yang dia gak bisa kontrol sendiri. ya karena aku cowok anak pertama jadi aku mau. demi orangtua aja sih”
“wah keren juga ini cowok” ngomong dalam hati
“kamu kok diem aja? maap ya soal tadi pagi”
“oh iya gak papa. aku juga minta maaf udah jutek sama kamu”
“ahaha aneh aneh aja ya”
Percakapn kami berlangsung manis semanis gula. eh semanis wajahku deh. lucu singkat dan ahh susah dijelasin kata-kata.

Keesokan harinya
Aku dijemput Rendi. selama aku di sini dia bener-bener ngejagain aku banget. yang aku pikir bakal bener-bener ngelakuin semua sendiri ternyata aku salah nol besar. aku ngerasa aman dan nyaman banget selama sama dia. dia yang kukira sok banget karena kegantengannya dia *akhir nya ngaku juga dia ganteng*. aslinya baik banget sampe aku klepek-klepek. emmm… betul banget yang banyak orang bijak bilang. “Jangan menilai orang dari luarnya aja”. ya itu pas banget buat dia *ngomong sama foto nya di hp*.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. gak berasa banget hari-hari aku lewatin di Tanah Papua ini. mulai dari kebiasaannya, orang-orangnya, bahasanya yang aku agak kurang paham. ya walaupun gak sempet jalan-jalan karena pekerjaan. setidaknya aku nyaman di sini.

Sebelum aku balik ke Jakarta. aku pamitan sama warga setempat di mana aku tinggal.

“kalau ada waktu ke sini lagi ya mba dinda. kunjungilah kita-kita di sini. jangan sungkan”
“iya bu insyaallah hehe”
“itu suaminya ya mba?”
“ah yang mana bu? yang itu kah? lain bu hehe”
“undang-undang lah kita kalau menikah”
“iya bu doakan saja. saya pergi dulu bu. selamat siang”

Sedih rasanya tapi aku juga merindukan tanah kelahiranku. ‘Jakarta… im coming’. ngomong dalam hati sambil melamun
Tiba-tiba ada yang nepuk bahu dari belakang.
“ngalamun mulu kerjaannya. dibayar kamu emangnya? haha”
“apa sih kamu. sedih tau rasanya. tapi mau gimana lagi hehe”
“setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. itu takdir. dan takdirku adalah bertemu kamu”
“mulai gombal kamu ya haha”
“sudah siap semua kan? ayok cus pulang”

Sepanjang jalan aku kepikiran omongannya yang tadi. mikir dia becanda apa Cuma main-main. sesekali aku lihat ke arah mukanya buat mastiin dia becanda apa nda. tapi seorang Rendi masa iya bisa gitu. ah tapi dia kan cowok. wajar kalau bilang gitu hehe.

Sesampainya di bandara.
“makasih ya sudah diantarin”
“apaan makasih. aku ikut ke Jakarta”
“gak usah repot-repot Ren. aku bisa sendiri kok”
“kamu ngomong apaan sih? masih ngantuk kah? haha. aku kan orang Jakarta. Jelas lah aku mau pulang ke rumahku. Tugasku sudah selesai”
“hah? kamu gak ada cerita”
“penting memangnnya? haha”
“ah kamu”

Sepanjang di perjalanan aku nahan rasa maluku. betapa pedenya aku ngomong begitu tadi. huft.
“kamu kenapa? malu ya? haha” Rendi ngeledek sepanjang di pesawat.
“sudah kamu diam aja”
“sebenarnya aku anak dari bos kamu”
“Pak bos Sudicipto maksud kamu? kamu gak ada bilang sih”
“terus kalau aku bilang kenapa? bokapku mau liat sejauh mana aku bisa mandiri dan bisa handle perusahaan tanpa dia. tapi dia gak tega juga liat aku gak berpengalaman gini ngurus perusahaan. akhirnya dia kirim kamu”
“tapi kenapa harus aku”
“karena kamu spesial”
“iya spesial. dari awal aku suka kamu. tapi aku pengen rubah hidupku dulu. yang dulu manja menjadi mandiri. ya ini jalannya. begitu aku sudah ngrasa lebih baik baru ku telepon papaku dan mengirim mu ke sini biar kita dekat. so sweet kan aku?”
“so sweet dari mana? ini mah namanya aku dikerjain”
“aku serius dind. aku mau lamar kamu di pergantian tahun depan. kamu mau kan?”
“aku gak bisa jawab sekarang ren. aku ngantuk. bangunin aku kalau sudah sampai ya”
“dasar cewek”

Sesampainya di Jakarta.
“Temuin aku di belakang kantor besok jam 8 pagi. pake baju yang rapi dan dandan yang cantik ya. abis ini ada supir yang jemput kamu buat antar ke rumah. istirahat yang cukup. aku gak mau kamu sakit”.
“wuuu sok perhatian kamu ganteng”
“biarin yang penting aku sayang kamu”

Sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri. gak pernah ngebayangin bakal begini. setahun ke belakang kisah cintaku. hidupku begitu menyedihkan. berharap ada keajaiban setelah promosi dan itu menjadi kenyataan. cinta memang abstrak. bisa datang kapan dan dimana saja. kalau kata lirik lagu ost film Marmut Merah Jambu sih. tapi memang bener. orang yang pernah kukenal gitu-gitu aja sekarang menyatakan cinta padaku. ah rasanya mau terbang aja.

Keesokan harinya…
Aku pergi tepat jam 8 ke belakang kantor. seperti biasa. gak ada apa-apa. sempat kecewa. ngerasa dikerjain tapi pas ngehadap belakang, ada seorang cowok pake jas putih. oh ganteng banget. membawa bunga mawar banyak banget. diikutin pegawai yang lain yang juga bawa bunga dan ada bosku juga di situ. dan sebuah cincin yang dibalut kotak hati berwarna merah.

“dinda… dengarkan aku. setahun ini aku mikirin kamu. aku berusaha berubah demi kamu dan hari ini aku berhasil berdiri depan kamu. depan orangtua aku. aku pengen kamu yang nemanin sampai hari tuaku selamanya. Cuma kamu. Kamu mau terima cincin ini sebagai tanda kamu mau menikah denganku”.
“kamu serius? aku Cuma pegawai ayah mu Ren. apa pantas?”
“aku gak mandang dari itu dind. aku serius”

Keheningan mulai terasa. aku terdiam seakan tidak percaya. aku berusaha mantapkan hatiku. berusaha meyakinkan hatiku.

“iya aku mau Ren. aku juga sayang kamu”
“makasih din” *meluk*

Semua orang bertepuk tangan termasuk ayahnya. aku pun tersenyum bahagia. jangan iri ya guys hehe. percayalah kebahagianmu akan selalu menyertaimu kalau kamu selalu yakin dan berusaha. kesempatan itu akan selalu ada guys.

Tepat 1 Januari 2015 yang diyakini keluargaku dan keluarganya Rendi adalah hari baik. Kami melangsungkan akad nikah. sah lah kami menjadi suami istri. kebahagiaanku bertambah lengkap karena melihat ibuku turut bahagia melihatnya. penutup tahun 2015 ini menjadi momen bahagiaku. terima kasih Tuhan. Engkau maha baik.

Cerpen Karangan: Devi Juliasari
Blog: devijulia96.blogspot.com

Cerpen Jodoh Pasti Bertemu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suddenly You Changes My Life (Part 1)

Oleh:
Drrrttt drrrttt drrrttt, getar handphone gadis itu berbunyi. “Assalammu’alaikum. Ran?” suara laki-laki dari ujung sana. “Wa’alaikumssalam, ayah ada apa?” ucap gadis dengan nada mengantuk. Rani Ramadhani adalah seorang gadis

Second Star

Oleh:
Hiasan lampu khas pesta tampak begitu menyilaukan di mataku ditambah suara musik yang mengalun keras menggelegar di telingaku mengiringi pasangan-pasangan yang tengah asyik berdansa membuatku merasa sedikit pusing. Ditambah

Kuharap Kamu Baca Ini

Oleh:
Rabu, 10 Desember Pukul 06.10 tepatnya 3 tahun lalu. Di halte depan rumah susun gue nunggu angkot buat ke sekolah. Waktu itu gue masih berstatus pelajar SMK, sebenarnya sih

Kurir Cinta

Oleh:
Meraih jaket, meraih kunci vespanya, dan menghentakkan snickersnya, lalu segera berlari menuju vespa cokelatnya yang ia namai “brownis”. Banyak dosen yang menantikan setumpuk makalah yang harus diserahkan Miko hari

Dia Kekasihku Bukan Musuhmu

Oleh:
Pagi itu aku tengah duduk melamun di dalam kelas. Jam masih menunjukan pukul 06.30 sehingga kelasku masih sepi. Kubayangkan seseorang yang sangat cantik tengah tersenyum apik kepadaku. Sungguh, sejak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *