Jodoh Tapak Kaki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 30 October 2017

Nazira mengetuk ngetukan jarinya di mejanya. Ia tak henti hentinya melongok pintu masuk ruang kelasnya. Adi belum datang padahal jam pelajaran pertama telah dimulai sejak 25 menit yang lalu.
Adi memang biasa terlambat, tapi yang tak biasa adalah Zira merindukan cowok tengil itu.

“Telat lagi” sapa Zira tanpa menoleh pada lawan bicaranya. Adi selalu menyelinap masuk saat pergantian jam pelajaran, apalagi jika jam pelajaran pertama adalah biologi ia akan dengan senang hati mendekam di toilet sampai jam pelajaran usai.
“Kenapa? Kangen?” balasnya, Zira mendengus sebal.
Tiba tiba Zira merasakan kakinya terinjak sesuatu atau tepatnya seseorang, ia menoleh dan mendapati Adi nyengir lebar.
“Zona netral remember” ucapnya.
Zira kembali mendengus lalu mengalihkan pandanganya, ia benci dengan keberadaan netral zone di antara mejanya dan meja Adi, di mana tak ada seorangpun di antara mereka yang boleh menginjakkan kaki di sana. Dan sialnya Zira sering tak menyadari keberadaan zona netral itu. Sedangkan Adi tak akan sungkan membuat kakinya memar memar.

Jam istirahat adalah waktu yang membosankan bagi seorang Zira, karena ia bukanlah tipe siswa yang akan menghabiskan waktunya untuk nongkrong di kantin, ia harus berhemat. Jika tidak, ia tak bisa membayar uang sekolah bulan depan. Jika di tanya mengapa tak belajar di perpustakaan saja, ia akan menggeleng tegas mengingat penjaganya yang menyebalkan.

“Hy Zira” sapa Madri.
“Oh, hy ri” balas zira sambil tersenyum hangat. Mereka biasanya mengobrol bersama yang lain di koridor.

Adi baru kembali dari kantin ketika ia melihat Zira bersama Madri. Adi yakin kalau zira menyukai cowok playboy itu.
Zira bukanlah tipe cewek yang akan tersenyum hangat pada cowok yang mencoba mendekatinya, dirinya saja sudah mendekati gadis itu sejak pertama kali masuk sekolah, tapi tak sekalipun gadis itu tersenyum padanya.
Lelah memikirkan Zira, Adi memilih menulis puisi sambil menatap indah karya Tuhan. Dia Najwa gadis manis yang selalu memancarkan aura positif di kelas mereka.
Adi tak menyadari keberadaan seseorang yang berjingkat jingkat mendekati dirinya.

“Hy Adi, lagi buat puisi untuk Najwa ya?” tanpa menoleh pun Adi tau pasti siapa pemilik suara dengan nada mengejek itu.
Adi kesal pada dirinya karena dengan mudahnya membocorkan rahasianya hatinya pada Zira, yang membuat dirinya diledek habis habisan. Tapi untungnya, Zira bukanlah tipe cewek dengan mulut besar, karena rahasianya masih terjaga rapi.
“Adi mendingan kamu berhenti buat puisi untuk Najwa. Percuma, yang kemarin sama sekali enggak disentuh”
Adi menatap Zira tajam.
“Najwa enggak suka sama puisi puisimu, norak katanya”. Ucap Zira sambil berlalu.

Langkah gadis itu terhenti ketika merasakan lenganya dicekal kuat oleh Adi.
Nazira meringis kesakitan tapi Adi sama sekali tak peduli.
“Dengar ya gadis pemarah, Najwa adalah gadis baik baik, dia selalu menghargai karya seseorang. Dia bukanlah gadis yang tak punya hati seperti halnya dirimu” ucap Adi sambil menghempaskan lengan Zira kasar.
Zira merasakan hatinya benar benar sakit. Oke ia akui Adi marah karena kata katanya, tapi itulah kenyataanya. Dan Adi memang benar ia tak sebaik Najwa.

Hari hari berikutnya mereka tak saling bertegur sapa. Adi mendiamkan Zira. Bukan karena ia membenci gadis itu. Karena nyatanya apa yang di katakan zira benar.
Setelah bertengkar dengan Zira, Adi merasa marah pada dirinya, karena ia yakin telah menyakiti perasaan gadis itu, belum lagi ia akhirnya menemukan kertas puisi yang kemarin ia berikan pada Najwa, masih terlipat rapi, hanya saja puisi itu sekarang berada di tempat sampah.

Hatinya semakin gusar karena setiap harinya Zira semakin dekat dengan Madri. Pagi itu Adi melihat Zira tertawa bersama Madri, dan jika biasanya Zira akan menyapanya dengan ledekan kali ini ia sama sekali tak menghiraukan kehadiranya.
Adi berniat akan meminta maaf pada gadis itu nanti. Sejujurnya Zira sangt merindukan kebersamaanya dengan Adi, tapi gengsinya terlalu tinggi.

Siang itu Zira hanya termenung sendirian, Adi masih tak menyapanya, padahal di sini harusnya Zira yang marah, tapi ia sudah bertekat akan memaafkan Adi jika dia mau mengajaknya bicara lagi.
Zira masih termenung sambil menatap gambar menara eiffel yang terpajang rapi tepat di hadapanya.

“Enggak perlu dipelotoi gambar itu enggak akan berubah jadi nyata”
Zira hampir terlinjak senang ketika mendengar suara yang ia rindukan itu.tapi ia tetap mempertahankan ekspresi tak pedulinya. Ia menoleh dan mendapati Adi sudah berdiri di sebelahnya.
“Soal yang kemarin aku benar benar minta maaf” ucap Adi tulus.
“Udah dimaafin”
“Benarkah, tapi apa lengamu sakit?”
“Enggak hatiku jauh lebih sakit, tapi menurutmukan aku tak punya hati” sindir Zira.
“Oh ayolah Zira, aku benar benar kalap kemarin”
“Udah, enggak perlu dibahas lagi” potong Zira, lalu hening sejenak.

“Zira kamu benar benar suka paris” tanya Adi kemudian.
Zira mengangguk.
“Gimana kalau kita taruhan” tawar Adi.
“Taruhan apa?”
Adi menghela nafas sebelum melanjutkan kata katanya.
“5 tahun setelah kelulusan nanti kita akan bertemu lagi. Dan dalam kurun waktu 5 tahun itu siapapun di antara kita yang bisa ke paris terlebih dahulu dia yang menang. Jika aku yang menang kamu harus mencarikan jodoh untukku seorang gadis berjilbab. Dan jika kamu yang menang, aku akan mewujudkan apapun keiginanmu” jelas Adi.
“Oky, kita masih kelas xi, jadi masih ada waktu 6 tahun lagi”
Dan terciptalah janji yang mungkin kelak akan kembali memutar kisah di antara mereka.

Kelas berikutnya, Adi dan Zira tak lagi duduk bersisihan. Adi duduk di samping Najwa membuat cowok itu menjadi sedikit pendiam.
Adi dan Zira tak lagi selalu bertengkar mereka hanya sesekali saling bertegur sapa.
Zira fikir Adi telah melupakan janji mereka, untuk apa Adi memintanya mencarikan jodoh, jika gadis lmpianya sudah ada dalam jangkauanya.
Zira merasakan hatinya pedih, karena bahkan sampai hari perpisahan sekolah Adi tetap tak menyinggung tentang paris dan janji mereka.

4 tahun 10 bulan setelah kelulusan
Zira melompat lompat kegirangan sambil memegangi tiket yang baru saja ia dapatkan.
“Ke paris geratis, ke paris geratis” ucap Zira berulang ulang.
Teman temanya di kantor penerbitan hanya bisa geleng geleng geli, beberapa ada yang menatapnya iri.

Zira sedang beruntung, penulis misterius yang karyanya melejit berkat editan zira, menghadiahi gadis itu tiket ke paris. Entah mengapa mereka memiliki impian yang sama, jadi besok mereka akan pergi bersama.
Dan melihat dari karya romantis penulis itu Zira yakin dia adalah gadis yang menyenangkan.

Tapi betapa terkejutnya Zira karena ternyata teman seperjalananya adalah seorang pria. Belum reda keterkejutanya zira kembali ternganga karena pria itu adalah…
“Adi” seru Zira tak percaya.
Adi hanya nyengir lebar khas dirinya.
“Terpesona dengan aku Zira?” tanya Adi sambil tersenyum penuh kemenangan.
Zira mendengus sebal lalu duduk di tempatnya.
“Kenapa penulis itu bisa kamu?” tanya Zira menyelidik.
Adi hanya mengangkat sebelah alisnya.

Sepanjang perjalanan mereka kembali memutar kenangan di antara mereka.
“Jadi siapa pemenang taruhan ini” ledek Adi setibanya di sana.
Zira hanya tersenyum kecut, mungkinkah Adi masih mengharapkan Najwa.
“Kamu tenang aja, gadis yang aku harapkan masih sama seperti 5 tahun yang lalu, jadu tak akan sulit mencarinya” ucap Adi girang. Membuat zira kembali tersenyum kecut.
“Najwa ya?” tanya Zira memastikan.
Adi menggeleng tegas membuat zira terkejut.
“Lalu” tanya Zira.
“Gadis itu adalah… Nazira Az Zahra” zira melongo tak percaya.
“Nazira siapa?”
“Nazira yang sekarang bersamaku, Nazira siapa lagi” ucap Adi yakin.
“Tapi kan kamu naksir Najwa”
“Kapan?” tanya Adi.
“5 tahun lalu”
“Siapa bilang?”
“Kamu” ucap zira tak suka.

Adi tersenyum geli mendengar nada tak suka dalam suara Zira.
“Aku memang kagum sama Najwa. Tapi aku tak pernah merasakan hatiku bergetar saat bersama Najwa. Hatiku justru tergetar oleh gadis temperamental bernama Zira” mau tak mau zira tersipu juga.
“Tapi dulu kamu naksir Madri” dengus Adi sebal.
“Kapan?” tanya zira heran.
“5 tahun lalu”
“Siapa bilang?”
“…”

“Dulu aku memang dekat dengan Madri, dia cowok yang menyenangkan. Tapi setelah kita lulus aku justru lebih merindukan Adi yang menyebalkan”
“Benarkah kamu merindukanku?”
Zira mengangguk pasti.
“Jadi kamu mau kan menjodohkanku dengan gadis itu?”
Zira mengangguk lagi membuat Adi tertawa girang.
Mereka pun tertawa bersama di saksikan menara eiffel yang memancarkan aura romantis sekaligus megah.

END

Cerpen Karangan: Hy Na
Facebook: herlina mutia nasyiroh

Cerpen Jodoh Tapak Kaki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ruthie (Part 1)

Oleh:
“Ruth!” Langkahku terhenti demi panggilan itu. Tak terlintas sedikit pun di kepalaku tentang siapa yang meneriaki namaku di tengah jalan yang telah sesepi kuburan ini. Angkringan di dekat kampus

Siti Nurbaya Metropolitan

Oleh:
“Plis, Ma, Pa,” rengek perempuan itu sambil melirik kedua orangtuanya secara bergantian, “Kalila bukan hidup di zaman Siti Nurbaya!” katanya sambil bangkit dari meja makan, meninggalkan kedua orangtuanya yang

Sahabat Jadi Pacar

Oleh:
Nama gue Mita. Gue wanita yang sering disebut teman teman gue cewek tajir. Ya maklumlah gue berkehidupan lebih dari cukup. Gue punya banyak teman, terutama teman cowok. Tapi ada

Memeluk Duka Dua Wanita

Oleh:
Aku masih ingat saat keluargaku pindah ke kampung tanah tosora pada tahun 1985. Saat itu, aku berumur 9 bulan. Sebelumnya, keluargaku hidup dalam gubuk di kampung bersebelahan yang tak

Maafkan Aku (Part 3)

Oleh:
Tak terasa 1 bulan sudah kami menjalin hubungan. Layaknya hubungan yang lainnya, perjalanan kami pun tak semulus yang kami dambakan. Hari ini, tepat 3 hari dimana Nada tidak memberikanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *