Jogja dan Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 13 October 2018

Jogja,
Kota yang penuh pesona dan keindahan yang menghipnotis, tidak heran jika banyak pendatang tersihir untuk menyusuri setiap jengkal kota ini lebih dalam lagi.
Namun bagiku, seorang perempuan yang tidak pernah meninggalkan habitatnya, Jogja adalah kota kenangan yang menjadi tempat hati dan cintanya untuk pulang. Hampir di setiap inci kota ini memiliki kenangan yang gemar mendatangkan rindu. Karena di kota inilah, aku bertemu denganmu untuk pertama kali.

Aku mengambil pena biru dan sebuah buku catatan usang yang selalu menemaniku saat aku sendirian. Di tengah lalu lalang keramaian 0 km ini aku mulai menulis kembali kenangan-kenangan yang pernah kita lalui di kota ini. Senja yang hampir usai, menemaniku saat aku menuliskan kata demi kata di dalam buku catatanku.

Ah, semuanya masih terasa seperti baru kemarin terjadi. Saat kita bertemu di terminal petang itu, saat kita salah menumpang bus trans jogja, dan saat kamu dan keromantisanmu mengundang tawa bahagiaku. Semuanya masih jelas tergambar dalam benakku.

Kuteguk sedikit kopi yang hampir dingin yang aku beli di pedagang kaki lima dekat pohon di belakangku. Kopi pahit yang terasa manis saat aku mengingatmu. Ternyata aku sudah duduk di sini hampir sepanjang senja dan tulisanku sudah memenuhi 2 halaman buku catatanku. Waktu selalu cepat berlalu saat aku mengenangmu.

Tiba-tiba tetesan air mengenai tanganku. Satu, dua, tiga, hingga tak bisa aku hitung lagi. Gerimis datang memberitahukan bahwa aku sudah harus berlalu dari tempat ini. Aku memasukan buku catatan dan penaku ke dalam tas dan meraih sebuah payung lipat lalu membukanya. Bulan februari memang masih tergolong masa musim hujan, dan itu membuatku menyukainya.

Aku berjalan meninggalkan 0 km dan berjalan menuju halte trans jogja terdekat yang bisa aku jangkau. Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “balik aja lah.” Gumamku pelan. Setelah sampai di halte dan membayar tiket, aku menunggu bus trans jogja datang. Di halte ini aku dan kau juga pernah melakukan hal yang sama. Saat itu aku marah-marah seperti orang tak waras karena seorang perusak suasana, dan kau ada di sana untuk menenangkanku.

Tak lama kemudian bus yang aku tunggu datang. Nampak suasana bus itu tidak terlalu ramai, jadi aku bisa duduk di kursi favoritku, kursi belakang pojok dekat jendela. Butuh sekitar 30 menit untuk sampai ke halte tujuanku, dan di sepanjang perjalanan aku menatap hanya jalanan yang basah karena hujan. Aku membuka ponselku untuk mengusir kebosanan. Dan tanpa sadar aku membuka obrolan kita beberapa tahun lalu.

“B, kayaknya kita gak bisa ketemu lagi.”
“kenapa emang?”
“J mau pulang Papua.”
“loh terus kuliahnya?”
“ya gak papa, lagian udah telat juga bayarnya.”
“lah, terus? Kalo J pulang di sana mau ngapain? Lanjut kuliah apa kerja apa gimana?”
“ya ngapain aja lah.”
“mmm, emang kenapa J mau pulang?”
“abis di sini bosen gak bisa ngapa-ngapain.”

Setetes cairan bening yang dingin mengalir dari sudut mataku. Semuanya terasa baru terjadi kemarin dan sekarang kamu sudah tidak di kota ini lagi. Sudah lewat beberapa tahun yang lalu saat kamu pamit pulang ke tempat asalmu. Dan saat itu juga tanpa pemberitahuan kamu tidak pernah menghubungiku lagi. Beruntung aku masih bisa melihatmu lewat akun media sosialmu, walaupun kamu hampir tidak pernah memposting apapun.
Tapi aku masih bisa melihatmu di kota ini, kamu ada disetiap tempat yang aku datangi, di manapun itu. Aku bertahan hidup dengan kenangan ini.

Kuusap tetes demi tetes cairan bening yang hangat dengan punggung tanganku. Halte setelah ini adalah tujuanku, aku bangkit berdiri dan berjalan mendekati pintu keluar. Hujan sedang masih menjatuhkan diri ke bumi sementara aku keluar dari bus dan sampai di halte tujuanku. Aku tidak tau persis di mana aku sekarang, namun di dekat halte ini adalah tempat aku menginap selama aku mengais kenangan tentangmu yang teringgal di kota ini.

Aku kembali membuka payungku dan berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi karena hujan. Sesekali tanganku menengadah untuk menikmati tetes demi tetes hujan yang mengalir di telapak tanganku. Setelah berjalan sekitar 5 menit sampailah aku di sebuah guesthouse. Aku selalu menginap di sini.

Kututup lagi payungku dan masuk lalu beranjak masuk kekamar yang aku sewa. Aku letakan payung basah di tanganku di pojok sebelah lemari pakaian dekat pintu, merebahkan tubuhku di ranjang. Kupandang langit-langit dengan menerawang.
J, hanya dengan mengingatmu saja B bisa bertahan sampai sekarang. Hanya dengan mengingatmu saja B bisa melawan rasa sakit dari kesepian dan kehampaan tanpamu. Bahkan saat kamu tidak pernah muncul lagi untuk B, hanya dengan ingatan tentang J saja B bisa melewati itu semua. Tapi apakah masih belum cukup B bertahan? Apakah B masih harus menunggu J kembali ke sini untuk kita? Apakah disana J merasakan rindu yang sama? Atau malah J tidak merasa rindu sama sekali? Jangan-jangan di sana J sudah menemukan tambatan hati baru dan melupakan B? Apakah penantian B akan sia-sia?
Pertanyaan-pertanyaan yang sama itu terus saja menghantui pikiranku. Seakan selalu mencari celah untuk meracuni ingatan berhargaku tentangmu. Sedangkan ingatan tentangmu malah semakin akrab dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu. Seperti darah yang lebih menyukai karbondioksida yang mematikan daripada oksigen yang menghidupkan.

Kubuka kembali buku catatan dan mulai menuliskan kenangan apa yang aku temukan hari ini tentangmu. Mulai dari kopi pahit, halte bus, dan pesan singkat terakhirmu. Kutuliskan setiap detail huruf yang terlintas di pikiranku saat kenangan tentangmu hadir kembali di tengah kenyataan yang memilukan ini, berharap bahwa kau meninggalkanku hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak nyata.

Aku merindukanmu, aku mencintaimu.
Kata yang sama yang selalu aku tulis di akhir catatan harianku.
Kata-kata itu bahkan sudah tidak bisa menggambarkan perasaanku padamu. Aku tidak berani mengungkapkannya karena aku takut bahwa hanya aku saja yang menganggap perasaan ini begitu hebat sehingga dapat memberiku kekuatan untuk bertahan selama ini. Aku takut hanya aku yang merasakan cinta, tapi kamu tidak.

Aku meraih ponselku dan membuka galeri, kemudian aku membuka folder yang berisi foto-fotomu. Kamu selalu nampak bahagia. Dan aku berharap aku bisa menjadi salah satu alasan kamu untuk bisa tersenyum cerah.

Malam ini aku kehilangan kewarasanku lagi saat aku mengingatmu. Seakan kombinasi rindu dan hampa menjadi lawan yang mustahil dikalahkan akal sehatku. Rindu dan hampa bagai cairan bersifat korosif yang sedikit demi sedikit menggerogoti hatiku hingga meninggalkan lubang menganga seperti sekarang.

Air mataku yang mengalir dan menjatuhkan diri sudah tidak terhitung jumlahnya. Hanya aku sendiri bersama foto dan catatan ini melawan kesepian, kesedihan, dan kesendirianku. Hampir seperti mau mati rasanya. Bagiku tidak ada peluang menang melawan mereka, namun hanya dengan cara itulah aku sadar bahwa kamu masih berada di dunia yang sama dan dibawah langit yang sama.

Air mataku telah surut seiring dengan fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur. Sinarnya yang kuning kejinggaan memasuki kamarku melalui lubang fentilasi dan celah gorden yang sedikit terbuka. Aku usap wajahku dengan tissue berharap kesedihanku juga sirna tersapu tissue tersebut lalu berjalan mendekati jendela untuk menyingkap gorden supaya sinar matahari dapat mengusir kesendirianku.

Beberapa menit kemudian perutku berteriak minta sesuatu untuk digiling. Lalu aku memutuskan untuk mandi dan pergi mencari makanan. Aku mandi agak lama pagi ini, untuk membersihkan sisa-sisa perang semalam yang masih berbekas di mataku.

Setelah selesai mandi aku mengecek ponselku, di sana tertera ada dua panggilan tak terjawab yang aku tidak tau siapa penelponnya. Aku abaikan panggilan itu dan mematut diri untuk mencari sarapan.
Saat sudah selesai bersiap, dan membawa buku catatan usang dan pena biruku aku membuka pintu kamar dan bersiap untuk pergi.

Namun saat sampai di depan guesthouse, aku melihat seorang laki-laki sedang berdiri membelakangiku. Dia terlihat sedang menelepon seseorang tak lama kemudian tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tidak dikenal lagi. Kuputuskan untuk mengangkatnya saja.

“Halo?” Peneleponnya ternyata adalah laki-laki. Tunggu, suara ini sangat aku kenal. Lalu laki-laki di depanku ini menoleh ke arahku.
“B, ayok pulang, orangtua kita udah nunggu di rumah.”

Cerpen Karangan: Maria Novika
Blog / Facebook: Maria Novika Diah iswari

Cerpen Jogja dan Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Pelangi

Oleh:
Sosok yang rapuh, hancur, tak dianggap itulah aku. Aku yang sekarang kelas 3 SMA, rasanya hidupku gak ada yang spesial. Masa-masa sekolahku nothing. Persahabatan, aku mungkin tidak punya sahabat,

Cintaku Pergi Ke Jakarta

Oleh:
“tok… tok… Tok…” Ketukan pintu terdengar nyaring. “Siapa?” suara terdengar jelas dari dalam rumah itu. “Ini saya dedek buk” jawabnya. “Oh nak dedek, ada apa nak?” “Wahyu ada?” “Ooo

Hingga Aku Lelah Menanti

Oleh:
Setiap malam aku selalu melihat jauh keatas, ketempat yang tidak kutahu batasannya. Aku memandangi bintang-bintang kecil yang bertaburan diangkasa. Sembari berharap bahwa mala mini dia akan muncul di hadapanku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *