Jogjakarta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 April 2016

Aku masih menyusuri jalan ini, jalan yang tak akan pernah membuatku merasa bosan untuk melewatinya. Pedagang-pedagang kaki lima, tukang becak, mbok-mbok penjual gudeg, dan kusir delman yang semuanya seperti sebuah kisah dalam cerita kerajaan zaman majapahit. Malioboro nama jalan ini, aku juga tidak tahu apa artinya nama itu. Mungkin karena aku bukan berasal dari suku Jawa, tapi aku sangat terkesan sekali dengan kehidupan masyarakatnya. Mereka sangat memegang teguh adat dan budaya, tak heran jika kota ini dijuluki kota budaya, karena biarpun zaman sudah canggih tetapi budaya di kota ini tetap teguh dipertahankan. Mungkin karena sejarah kota ini yang dulu adalah kerajaan yang cukup besar dan terkenal, dan sampai sekarang pun masih ada raja yang memimpikannya.

Tetapi mungkin persepsi dan implementasinya tidak seperti dulu, sekarang raja hanya simbol, simbol dari masih kokohnya adat dan budaya yang ada di sini. Peninggalan sejarahnya pun tetap ada dan masih dipertahankan, Jogjakarta selalu membuatku ingin kembali dan kembali lagi ke kota ini. Walaupun cuacanya tidak terlalu beda jauh dengan Jakarta yang panas, tapi suasana dan atmosfer kota ini sungguh berbeda dengan Jakarta. Tempat ini sangat cocok untuk merenung dan introspeksi diri, setidaknya untukku. Hari-hariku sepi sekarang, setelah kepergiannya. Aku pergi ke kota ini karena ingin melupakannya dan menatap masa depanku kembali. Aku rela meninggalkan keluargaku, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang menyayangiku. Aku ingin melupakan semua kenanganku di Jakarta, kenangan yang indah dan menyakitkan.

“Mbak.. permisi, saya mau lewat.” sapaan seseorang tiba-tiba menghancurkan lamunanku. Aku menoleh ke arah suara itu, dan ku lihat seseorang tersenyum ke arahku.
“Oh.. iya. Silahkan, maaf saya mengganggu jalan Mas.” kataku tergagap.
“Nggak apa-apa kok, cuma jangan kebanyakan melamun Mbak. Nggak baik gadis manis melamun di tengah jalan. Permisiiii.” dia langsung berjalan melewatiku. Apa maksudnya? Tapi memang benar, aku sudah mengganggu orang berlalu lalang di tempat ini.

“Mbak ada apa? Ada masalah ya? Saya perhatikan dari tadi Mbak bolak-balik sambil melamun. Kalau saya hitung-hitung sudah tiga kali Mbak bolak-balik jalan ini tanpa tahu apa yang diinginkan. Maaf loh kalau saya agak lancang menegur.” seorang penjual pakaian batik menegurku.
“Eh..ee..ndak apa-apa kok Bu. Saya juga mau pulang kok.” kataku malu menyadari ternyata ada seseorang yang memperhatikan apa yang ku lakukan di tempat ini. Tanpa sadar ku hitung memang aku telah tiga kali mondar-mandir di tempat ini tanpa tujuan, seperti orang linglung yang kehilangan arah. Sebaiknya aku pulang ke hotel dan istirahat agar pikiranku lebih tenang.

Tapi ternyata kakiku tidak melangkah ke hotel seperti apa yang aku ucapkan kepada ibu penjual batik tadi, melainkan menuju alun-alun. Hari menjelang malam ketika aku sampai di sana. Aku duduk di sebuah lesehan yang ada di sana sambil menyeruput wedang jahe yang langsung menghangatkan tubuhku. Sambil menikmati wedang jahe, aku melihat ke arah alun-alun yang ramai. Yah hari ini memang malam minggu dan musim liburan, jadi banyak sekali para pelancong yang menurutku datang dari luar Jogja. Di depan sana terlihat sepasang muda-mudi yang sedang asyik berbincang-bincang sambil bercanda menghabiskan malam. Ah.. aku seperti melihat bayanganku sendiri, aku melihat di sana yang berdua itu aku dan.. Lody. Yah.. aku masih belum dapat melupakan sosok itu, sosoknya masih saja lekat dalam ingatanku. Tiba-tiba seseorang mengagetkan lamunanku.

“Permisi Mbak, bisa geser sedikit duduknya.” Aku menoleh ke arah suara tersebut, dan ku lihat di sebelahku seseorang yang rasanya pernah aku jumpai. Ah ya.. kalau tidak salah manusia ini juga yang tadi siang sudah mengganggu lamunanku di Malioboro. Sekali lagi dia tersenyum dan…
“Suwun loh Mbak, kalau mengganggu. Saya juga mau menikmati wedang jahe.” katanya sopan.
“Oh.. iya silahkan. Maaf.” kataku tergagap sambil menggeser posisi dudukku.
“Terima kasih Mbak.” ucapnya. Dari gaya dan cara berpakaian dia, aku bisa memastikan kalau dia salah satu pelancong yang sedang liburan di kota ini.

“Maaf ya, kalau nggak salah kamu yang tadi siang ngelamun di Malioboro juga ya?” tanyanya kepadaku. “Soalnya saya inget banget muka kamu, kamu lagi liburan sendiri ya, biasanya kalau orang yang sedang ada masalah pasti pergi liburannya sendiri. Karena ingin merenung dan menyendiri seperti kamu… Karena menurut saya kamu pasti belum pulang dari siang, soalnya saya lihat bajunya masih sama seperti yang dipakai tadi siang. Maaf kalau saya lancang, saya tidak bermaksud untuk menyinggung.” cerocosnya SKSD, Sok Kenal Sok Dekat.

Tiba-tiba aku seperti tersadar dengan ucapnnya, aku melihat jam di tanganku. Ya ampun.. ternyata sudah jam sepuluh malam. Dan memang benar apa yang dikatakannya, aku belum pulang dari siang bahkan dari tadi pagi. Aku buru-buru menghabiskan sisa wedang jaheku dan membayarnya. Aku langsung bergegas untuk pulang tanpa mempedulikannya lagi. Malam semakin larut dan udara dingin mulai menusuk ke tulang sumsum, aku masih terpaku dengan pikiranku ketika bapak tukang becak mengingatkanku kalau sudah sampai di hotel tempatku menginap.

“Mbak sudah sampai, di sini toh tempatnya?” tanyanya sambil menurunkan sedikit becaknya ke arah depan agar aku bisa turun. “Oh iya Pak..suwun yo.” jawabku sedikit tergagap dan turun dari becak kemudian membayar ongkosnya.

Begitu sampai di kamar hotel aku langsung membanting tubuhku ke kasur. Ah.. rasanya nikmat sekali merasakan kasur yang empuk ini. Rasanya tulang-tulangku seperti mau copot dari persendian, karena seharian ini aku berjalan tanpa tujuan. Sudah hampir seminggu aku berada di sini, tetapi belum ada keinginanku untuk kembali ke Jakarta. Entah sampai kapan aku akan berada di sini. Sebenarnya aku kangen dengan Mama dan Dina, tetapi Jakarta banyak meninggalkan kenangan manis dan pahit yang ingin aku lupakan. Aku takut kalau pulang ke Jakarta kenangan itu akan muncul kembali dan membuatku sedih.

Tapi sebenarnya di tempat ini pun aku tidak merasakan kebahagiaan, aku pun tak tahu apa yang sebenarnya ku cari di sini. Luka ini teramat dalam buatku sehingga aku merasa kehilangan arah dan tujuan hidupku. Tapi aku harus tegar, aku harus kuat seperti janjiku pada Lody. Aku berusaha kuat Lod.. aku berusaha tegar.. tapi… aku nggak bisa..aku nggak bisa seperti yang kau harapkan. Tanpa terasa air mataku kembali menetes, semakin deras dan deras. Sampai akhirnya tiba-tiba handphoneku berbunyi, duuuh… siapa sih yang telepon? Sungutku dalam hati, aku berusaha menggapai telepon genggamku.

“Hallo.”
“Hallo.. Freya?” terdengar suara di ujung sana.
“Saya sendiri, dari siapa ini?” kataku sambil berpikir siapa sih yang meneleponku.
“Adduuuhhh…Freeeey.. Ini gue Dina, ampuuuuun deh nyari lo susah amat sih nek. Dari kemarin diteleponin tapi hp lo nggak pernah aktif. Ngapain aja sih lo di sana, ampe susah banget dihubungin, udah kayak tinggal di pedalaman aja nggak bisa dihubungin sama sekali.” cerocos suara di ujung telepon yang ku yakini itu adalah suara kaleng rombeng sahabatku tersayang.

“Dinnnaaa? Ya ampuuuun!!! Ini lo Dina kan? Dina sahabat gue yang paling bawel sejagat raya dan isinya. Elo gimana kabarnya?” berondongku.
“Iyaa..gue telepon lo kemaren, gue mau ngabarin kalau gue mau ke sana dan lo harus jemput gue di airport. Pesawat gue jam 1 berangkat dan gue sekarang lagi check-in nih, entar lo jemput gue di Bandara sekitar jam 3-an ya.”
“Oke nona manis, gue pasti jemput lo. Sampe ketemu di airport ya..Bye.”
“Bye.”
Klik! Telepon tertutup.

Perjalanan dari hotel tempatku menginap ke Bandara Adi Sucipto tidak kurang dari 1 jam, jam 3 tepat aku sudah sampai di sana dan aku yakin sebentar lagi pesawat Dina akan landing. Aahh.. sambil menunggu Dina sebaiknya aku membeli minuman ringan dulu, rasanya tenggorokanku kering sekali. Jogjakarta memang tak kalah panas dengan Jakarta. Setelah membeli minuman di sebuah restoran siap saji, baru saja aku ingin meneguknya, tiba-tiba.. gubrak!!! Seseorang menabrakku, atau.. aku yang menabrak sesuatu?

“Eh..sorry aku nggak sengaja.” terdengar suara seseorang yang rasanya pernah aku dengar.
“Kalau jalan lihat-lihat dong Mas.” Sungutku kesal karena minuman itu tumpah dan membasahi bajuku, aku langsung buru-buru membasuh bajuku yang basah tersiram minuman tanpa menoleh sedikit pun ke arah suara itu.
“Aduuh.. maaf ya Mbak, saya nggak sengaja soalnya saya buru-buru.” jelas manusia yang menabrakku.

“Gue nggak peduli lo mau buru-buru apa nggak, yang penting jalan tuh pake mata dong.. lihat nih baju gue sampe basah kayak gini.” sungutku masih kesal dan sambil membersihkan bajuku tanpa melihat sedikit pun ke arahnya.
“Sekali lagi maaf Mbak, saya buru-buru. Dan saya nggak akan pergi sebelum kamu memaafkan saya.” katanya lagi. Gila juga nih orang rela nungguin kata maaf dari gue? Aku menoleh ke arahnya, dan… ku dapati berdiri di depanku sesosok cowok tinggi berkulit sawo matang, dengan alis tebal dan mata yang tajam sedang menatap k earahku dengan tatapan memelas mengharapkan maaf dariku. “Kamu mau maafin saya kan.” mohonnya lagi. “Saya nggak akan pergi kalau belum dapat maaf dari kamu.”

“Loh, tadi katanya lo buru-buru, gih sana pergi.” Usirku sambil menetralisir darah yang tiba-tiba mengalir cepat ini. “Kan saya tadi bilang saya nggak akan pergi sebelum dapet maaf dari kamu, jadi kalau kamu nggak mau maafin saya, sampe kapan pun saya akan tetap di sini sampai kamu mau memberi maaf itu ke saya.” Tegasnya lagi. Cowok yang aneh, pikirku. Mana ada cowok zaman sekarang yang rela nunggu kata maaf dari cewek yang nggak dikenalnya dan itu pun cuma gara-gara hal yang sepele.
“Ya udah, gue maafin lo. Gih sana cepet pergi.” akhirnya aku memberi juga maaf itu kepadanya.
“Thanks banget ya.. sekali lagi sorry banget. Aku duluan ya, sampai ketemu lagi.” katanya tersenyum lega sambil melambaikan tangan dan pergi bergegas meninggalkanku.

Benar-benar cowok yang aneh, tapi rasanya aku pernah bertemu dengan cowok itu.. dimana yaa? Ah ya.. dia cowok yang aku temui di Malioboro dan Alun-Alun kemarin malam. Aduuuuh.. hampir lupa!! pasti Dina udah nungguin aku nih, gara-gara cowok aneh itu aku jadi lupa sama sahabatku. Aku bergegas menuju tempat di mana Dina menungguku dan dari kejauhan sudah ku lihat sosok Dina celingukan ke sana ke mari nyariin aku. Hihihi… kasihan juga tuh nenek lampir nungguin aku udah kayak “professor lang ling lung” yang di cerita komik Donal Bebek. “Dinaaa.” teriakku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Dia menoleh dan berlari ke arahku sambil merentangkan kedua tangannya untuk memelukku. Kami saling berpelukan satu sama lain melepas kerinduan yang ada. “Aduuuh.. gue kangen banget Frey sama lo. Kapan sih lo pulang, kasihan kan Nyokap lo kangen.” cerocosnya langsung panjang lebar. Ehm.. Dina emang nggak pernah berubah, tetap aja kayak kaleng rombeng. “Iya.. gue juga kangen banget sama lo Din, tapi gue emang belum bisa balik ke Jakarta. Elo sendiri kan tahu alasannya, gue juga kangen banget sama Nyokap gue tapi gue bener-bener belum siap ngelihat Jakarta lagi. Gue nggak mau kenangan tentang Lody muncul lagi dan bikin gue sedih.” ujarku.

“Udahlah.. nggak usah ngebahas itu lagi, yang penting gue udah di sini dan gue seneng banget bisa ketemu lo lagi. Cari makan yuk.. gue laper neh.” Dina mengalihkan pembicaraan karena nggak mau ngelihat aku sedih lagi. “Oke deh.. lo mau makan apa? Kita makan di sana yuk.. tempatnya enak deh, sekalian sambil ngecengin pilot-pilot.. hahaha.” Kami tertawa lepas dan berjalan menuju restoran siap saji yang ada di bandara ini.

Kami terus saja tertawa dan bercerita panjang lebar tentang aktivitas kami masing-masing selama ini. Walaupun yang banyak cerita memang Dina, karena dia itu kalau udah ngomong susah untuk berhenti, kereta aja kalah panjang sama ocehannya Dina hihihi… Sampai-sampai orang-orang di sekitar kita terheran-heran, berdua aja ributnya sama kayak satu RT, rame banget. Tapi aku nggak peduli yang penting aku seneng bisa ketemu lagi sama sahabatku dan bisa berbagi cerita apa pun dengannya. Lagi asyik-asyiknya cerita panjang lebar dengan Dina, entah kenapa tiba-tiba pandanganku tertuju ke sudut ruangan.

Di sana ku lihat sebuah foto yang membuatku merasa penasaran untuk mendekat dan melihatnya. Aku berdiri dan melangkah menuju tempat di mana foto itu terpasang. Aku tak mempedulikan panggilan dan tatapan heran Dina yang melihatku tiba-tiba berdiri dan berjalan ke sudut ruangan ini. Aku merasa foto yang dipajang di dinding itu rasanya pernah aku lihat wajahnya. Begitu sampai di depan foto tersebut, aku langsung terhenyak. Wajah itu.. wajah itu baru saja aku lihat se-jam yang lalu. Siapa dia? Kenapa gambarnya ada di sini bersama dengan foto-foto korban kecelakaan pesawat?

Aku membaca tulisan yang ada, tulisan itu berbunyi “PARA KORBAN PESAWAT TERBANG GARUDA GA200 YANG TERBAKAR SAAT LANDING DI BANDARA ADI SUCIPTO 7 MARET 2007 “. Apa? Ja..jadi makhluk yang tadi menabrakku adalah… nggak..nggaak mungkin. Itu pasti bukan dia, yang nabrak aku tadi pasti bukan salah satu dari korban pesawat GARUDA seminggu yang lalu itu. Aku nggak percaya, sama sekali nggak percaya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tanda tak percaya dengan apa yang sudah terjadi dan aku lihat saat ini. Darahku tiba-tiba seperti berhenti mengalir.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku…
“Frey.. lo kenapa sih? Lo ngelihat apa? Kok muka lo jadi pucat begitu, mereka ini siapa Frey.” Dina bingung melihat perubahan drastis di wajahku.
“Korban kecelakaan pesawat terbang yang terbakar pada tanggal 7 Maret 2007. Lo kenal salah satu dari mereka Frey?” tanya Dina masih dengan mimik wajah yang menunjukkan kebingungan.

“Din, lo tahu nggak siapa cowok ini?” Tanyaku pada Dina sambil menunjuk ke foto cowok yang tadi menabrakku.
“Nggak.. gue nggak tahu. Memangnya lo kenal sama dia Frey?”
“Gue baru aja ketemu sama cowok ini sejam yang lalu ketika gue mau jemput lo. Dia nabrak gue Din dan menyebabkan baju gue basah ketumpahan minuman yang gue bawa.. Elo lihat kan baju gue basah?” Kataku panjang lebar menjelaskan apa yang tadi terjadi sebelum aku ketemu Dina. Dina mengernyit heran, “Masa sih.. maksud lo cowok yang tadi nabrak lo mukanya mirip dengan cowok yang ada di foto ini?”
“Iya Din..mirip banget.” Jawabku.

“Ah.. nggak mungkin Frey, tapi mungkin aja memang mirip cuma bukan dia.” Dina menunjuk foto cowok tersebut.
“Nggak.. nggak mungkin. Gue yakin itu dia Din.” kataku masih tidak mempercayai apa yang dikatakan Dina.
“Jadi maksud lo.. cowok yang tadi nabrak lo itu hantunya dia? Hiiiii.” Dina bergidik. Apa iya ya? Tanyaku dalam hati, apakah yang ada dalam benakku dan ucapan Dina itu benar, artinya aku tadi bertemu dengan hantu cowok ini? Ah.. nggak mungkin, mungkin hanya wajahnya saja yang kebetulan mirip.

“Permisi Mbak.. ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan kami.
“Wuaaaaaaaa..” teriakku dan Dina bersamaan. Orang-orang yang ada di restaurant ini langsung tertuju ke arah kami berdua dengan tatapan aneh. Mungkin mereka berpikir ada apa dengan dua cewek ini, apakah mereka kesambet setan lewat. Lucu juga tampang orang-orang itu.
“Aduuuh Mas.. ngagetin kita aja sih.” sungut Dina kepada pemilik suara tadi yang ternyata pelayan restaurant ini.
“Habis Mbak berdua ini aneh, masa dari tadi bengong aja sambil ngelihatin foto-foto ini. Ada apa sih Mbak? Apakah salah satu foto ini adalah teman atau keluarga kalian?” tanyanya panjang lebar.

“Bu..bukan. Kami nggak kenal dengan wajah-wajah yang ada di foto ini. Tapi saya mau tanya tentang orang ini.” tanyaku sambil menunjuk ke foto cowok itu.
“Oh..itu..Dia itu memang salah satu korban kecelakaan pesawat seminggu yang lalu. Menurut cerita dia ingin berlibur di kota Jogja ini. Konon katanya dia selalu menghabiskan liburannya di sini, karena dia sangat mencintai kota ini. Tempat favoritnya adalah jalan Malioboro dan Alun-Alun. Dan dia adalah anak lelaki pemilik restaurant ini. Makanya fotonya dan foto para korban pesawat yang lainnya dipajang di sini.” ceritanya panjang lebar.

“Oh iya Mas..apakah dia mempunyai kakak atau adik, atau mungkin saudara kembar?” tanyaku penasaran.
“Waduh saya nggak tahu juga tuh Mbak. Tapi setahu saya dan menurut cerita orang di sini dia itu anak satu-satunya, anak tunggal!! Memangnya ada apa ya Mbak, kok tiba-tiba nanyain tentang Mas Bimo. Mbak kenal dengan dia?” dia masih bertanya dengan mimik yang penasaran.
“Kenal sih nggak.. tapi..” belum aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba Dina nyeletuk.
“Tapi kata temen saya dia tadi bertemu dengan cowok ini dan berbicara dengannya, bahkan dia menabrak teman saya Mas.” cerocos Dina.

Tiba-tiba wajah pelayan restaurant ini memucat. Dan.. “Masa sih Mbak? Waduuh, berarti Mbak bertemu dengan arwahnya Mas Bimo dong, karena menurut cerita semenjak kejadian itu banyak sekali terjadi hal-hal aneh di sini.” Tiba-tiba kepalaku berputar-putar mendengarkan apa yang diucapkan pelayan tersebut tentang apa yang sudah ku alami hari ini. Dia bilang aku telah bertemu dengan arwah cowok yang fotonya ada di dinding ini. Dan aku baru sadar ternyata cowok itu adalah orang yang menegurku sewaktu di Malioboro dan juga pada saat di Alun-alun kemarin. Artinya aku bertemu dengan… Tiba-tiba aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

Cerpen Karangan: Rini Agustriyani
Nama: Rini Agustriyani
TTL: Jakarta, 13 Agustus 1979
Alamat: Jl. Danau Toba 1 No. 17 Perumnas 2 – Tangerang 15811

Cerpen Jogjakarta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Truth

Oleh:
Hantu? Ha! Sejak kapan di dunia ini ada hal-hal semacam itu? Hantu itu tidak ada! Itu hanya halusinasi manusia yang terlalu dibesar-besarkan dengan bahasa yang bagus sehingga orang-orang mulai

Senja Di Mata Zahrani

Oleh:
Selamanya aku hanya ingin selalu di sini, menyatu dengan alam. Menikmati senja. Senja yang seakan memunculkan harapan-harapan baru. Memberikan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada jutaan pasang mata. Lukisan tangan

Cintaku Tak Terbatas Waktu

Oleh:
Seorang cowok bertahan tanpa lelah sembari memacu keringatnya yang bercucuran membasahi tubuhnya. Nafasnya mulai terengah-engah sejalan dengan waktu. Banyak orang yang ingin memberinya seteguk air, tapi ia menghiraukannya. Ia

Dibalik Tirai Penguasa

Oleh:
“Tom, tunggu saya!” teriak John dengan suara yang lantang “Ayo cepetan! Meetingnya udah mau mulai” balas Thomas Thomas dan John baru saja memakirkan mobilnya di depan lobby kantor dan

Hantu Gak Ya

Oleh:
“Wushh..” angin berhembus dengan kencang disertai curah hujan ringan. “Brakkk!! ngeung ngeung ngeung,” terdengar suara pintu dibanting angin dan engsel jendela yang digerakkan keluar masuk. “Ahh.. bukuku,” terdengar suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *