Johan (Jodoh di Tangan Tuhan)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 13 June 2015

Hari ini kerjaan lagi numpuk. Nggak ada waktu buat istirahat. Suasana di kantor tampak sepi. Hanya ada aku dan Febri rekan kerjaku yang solid. “Rajin bener lu? Istirahat dulu bentar!” sambil menepuk bahuku. Aku tetap fokus memandang layar monitor sambil ngetik keyboard. “Nggak ngambil cuti lu Jo…? Lembur mulu tapi gaji lu kagak naik-naik.” Febri memandangku iba, sesekali memijit badanku yang kurus. “Thanks Feb, ya gini deh Feb lo kan tau ndiri gue banting tulang begini demi karir gue juga… lagian gue kepengen banget naikin haji orangtua gue dan bantu nyekolahin adek gue yang lagi kuliah.” jelasku sambil duduk santai di sebuah kursi. “Jo umur lu udah nggak muda lagi… lu udah sewajibnya buat nikah Jo… lu nggak kepengen ngerasain surga dunia? Kalo lu kerja mulu mana dapat jodoh!!” tegas Febri.

Tanpa sadar aku kembali teringat pada sosok wanita pujaanku. Wanita yang kucintai dan sangat kudambakan semenjak SMP. Entah kenapa perasaan ini tak pernah mati. Meski dia selalu nyakitin, cuekin, bahkan sempat memaki. Namun rasa sayang ini tak pernah sirna. Kebencian adalah dusta belaka. Karena semua luluh ketika kudapati senyumannya. Masih terasa getir cinta yang dulu. Bagaikan dejavu, kisah lama itu kembali terulang.

Waktu itu aku lagi ada di kantin. Nunggu seseorang yang tak lain adalah Nayla. Gadis cantik bermata indah. Sudah hampir setengah jam aku nunggu. Hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Jantungku berdetak hebat, kakiku gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran. Ya, inilah efek yang terjadi disaat aku bertemu dengan Nayla, meski dari kejauhan. Perlahan aku menghampirinya yang tengah lahap menyantap mi instan. GUBRAAK!!! Aku terjatuh tepat di depan Nayla, dan lebih parahnya mi yang tengah ia santap menyambar mukanya. “OMG!!!” teriaknya sambil menatapku sinis. Aku bergegas membersihkan mukanya dan seragamnya yang kotor. Namun dengan emosi ia mengelaknya. “Dasar! Stupid!” teriaknya marah sambil pergi meninggalkan kantin bersama dengan sahabatnya. Planing pertama gagal.

Hari kedua. Hari ini nggak boleh gagal aku harus bisa nyatain perasaanku pada Nayla. Nggak peduli caciannya. Nggak peduli diterima atau nggaknya. Yang jelas perasaan ini kuluapkan padanya. Suasana di kelas tampak sepi. Hanya ada aku dan Nayla yang tengah fokus membaca. Ya, inilah salah satu alasanku mengaguminya. Dia smart dan rajin. Dia sering memenangkan olimpiade bahasa inggris seindonesia. Aku kembali menghampirinya. Nggak peduli didengarin atau nggaknya yang jelas aku nyatain dulu. “Na.. na.. na.. nay…” sapaku gugup. Dia memandangku dan menyimpulkan sedikit senyuman. Oh Tuhan… apa aku bermimpi? Ini pertama kalinya dia tersenyum padaku, sangat manis. Ditambah lagi dengan lesung pipitnya. “A…a..kuu… cii…” pembicaraanku terhenti ketika dia beranjak pergi. Planing kedua gagal lagi.

Kebahagiaan menghampiriku. Karena barusan aku dapat nomor handphone Nayla dari Raya sahabatnya. Malam ini aku mencoba menghubungi nomornya. Namun tak ada jawaban. Hingga aku nekat sms dia. Sms itu berisi…
“Hay Nay… apa kabar? Lagi apa?” sms singkatku terkirim. Sudah satu jam aku nungguin balasan dari dia. Sampai aku ketiduran di sofa. Tiba-tiba handponku berdering. Sms masuk dari Nayla. Aku bahagia tak terkira. Jejangkrikan kesana kemari sambil bernyanyi sendiri. Aku mulai membuka pesannya.
“Baik… lagi sibuk… maaf ya..” Pesan singkat yang menyakitkan. Tapi aku berusaha sabar dan kembali membalasnya.
“Maaf aku ganggu… masih ingat sama aku?” sms terkirim.
“Ngk” balesnya singkat. Aku terdiam di tengah kekecewaan. Air mata lambang kesedihan. Ya itulah yang tengah kurasakan. Meski terbilang nggak gentel, tapi ini sungguh menyakitkan daripada jatuh dari genteng sekali pun. Perlahan aku hanyut dalam lautan mimpi.

Hari demi hari berganti. Tak terasa satu bulan berlalu. Ini sungguh mengharukan. Aku masih menunggunya semenjak awal masuk SMP hingga SMA. Nggak tau kapan hatinya yang terbilang keras itu mampu aku lunakkan. Penantian yang cukup panjang dan mengesankan. Datanglah suatu kabar yang menyakitkan hati. Dia yang kudambakan kini tak lagi sendiri. Dion atlet basket yang rupawan, putih, tinggi dan pintar berhasil meluluhkan hatinya. Aku tak ada bandinginnya. Bagaikan berada dalam kobaran api yang menyala. Aku hancur, lemah dan tak berdaya. Sempat aku putus asa. Namun seminggu setelah itu mereka putus. Semangatku kembali terasah. Kali ini aku mencoba memberanikan diri. Nggak peduli caciannya. Nggak peduli diterima atau nggaknya. Yang penting perasaan ini kuluapkan padanya. Itulah prinsipku selama ini. Semuanya kukorbankan untuknya. Meski hinaan terus kudapatkan.
“Nay…!!” sapaku padanya
“Iya apa Jo?” tanyanya singkat
“Aakuu… maauu…” bicaraku gugup
“Mau apa?” Nayla menatapku aneh
“Aaa…kuuu… maa.. uuu… mau ke toilet mumpung lagi sepi!!” Karena gugup aku memutar pembicaraan dan berlalu meninggalkannya. Untuk kesekian kalinya aku gagal lagi.

Suasana di taman sekolah. Tampak Nayla tengah asyik mengobrol bareng Raya. Aku mencoba menunggu mereka selesai ngobrol. Dari posisi berdiri, jongkok, hingga duduk di lantai telah kulakukan. Namun pembicaraan mereka tak kunjung usai. Hingga akhirnya bel masuk pun berbunyi. Planing buat nembak gagal lagi.

Nah ini saat yang tepat buat aku nembak Nayla. Saat tak ada satu orang pun yang mengganggunya. Jantungku kembali berdetak hebat, kakiku gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran. Aku pun mulai berbicara.
“Na… na.. nay…” sapaku sambil menyeka keringatku.
“Apa lagi?!” tanyanya sinis.
“Se… se… se…”
“Semangka?” potongnya
“Bukan..!! se.. se.. se..”
“Sepatu?” ia mulai kesal.
“Bukan.. aa… aa..kuu.. a.. kuu..” aku bicara gagap
“Kamu ini terobsesi sama Aziz Gagap ya? Dari tadi ngomong gagap mulu.” Dia bosan dan malah ninggalin aku lagi. Gagal lagi.

Tahun demi tahun berganti. Saatnya kami pensiun dari jabatan SMA. Aku melanjutkan pendidikanku di salah satu perguruan tinggi di Padang. Aku mengambil jurusan manajemen dan aku lolos. Sudah hampir 4 tahun. Hanya tinggal menunggu 5 bulan lagi untuk wisuda. Perasaanku masih seperti dulu. Aku masih tetap mencintainya, seperti pertama kali bertemu. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja dia datang padaku. Aku bahagia tak terkira. Namun semua tak sesuai dengan jalan pikiranku. Dia datang hanya untuk memberikan sebuah undangan pernikahannya dengan seorang pria asal Canada. Oh Tuhan… perasaanku benar-benar hancur. Sepuluh tahun aku menunggu. Namun ini balasannya, semua sia-sia. Apa yang bisa kuperbuat? Aku tak berdaya, lemah, tak mampu berbicara sepatah kata pun. Dalam diam kupandangi undangan ini. Kuikhlaskan dirinya bahagia bersama pria lain. Walau berat, namunku sadar akan ini semua. Bahwa jodoh ada di tangan Tuhan.
“Jo… Jojo!! Woy!!” teriakan Febri menyadarkanku dari lamunan panjang. Aku tersadar dari lamunanku. Aku menatap Febri dan tersenyum. “Gue belum mau nikah Feb..” jawabku singkat. Febri memandangku aneh dan menggelengkan kepala.

Satu bulan setelah itu. Aku dipindahkan ke Jakarta untuk melaksanakan pekerjaan. Suatu hal yang sangat berat. Karena aku harus meninggalkan Ibu dan adikku di Padang. Namun, ini adalah tugas yang harus aku penuhi. Setelah seminggu di Jakarta, tak kusangka aku bertemu dengan Nayla. Masa lalu yang selama ini aku rindukan. Aku melihatnya bersama dengan seorang gadis kecil, cantik sekali mungkin itu anaknya. Namun aku tak melihat suaminya. Dia memandang ke arahku. Namun sepertinya dia tak mengenaliku lagi. Sudahlah kukubur semua tentangnya. Lagian dia sudah punya keluarga. Aku akan berdosa bila terus mencintainya. “Jojo!!!” suara itu memanggil namaku. Aku tertegun merasa tak percaya ternyata dia masih mengingatku. Akhirnya kami betemu kembali saat dewasa ini telah kami sandang. Dia masih seperti dulu, cantik dan mempesona. “Apa kabar?” tanyanya padaku sambil tersenyum. “Aku baik.” akhirnya pembicaraan kami berlanjut. Lama berbicara memberanikanku bertanya tentang suaminya. Namun ia tak menjawabnya. Dia hanya diam dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Aku sontak kaget dan menyeka air matanya yang terus mengalir. “Suamiku pergi meninggalkanku disaat aku mengandung Rinda anakku.” Aku terdiam mendengar penjelasannya. Suaminya begitu tega padanya. Ternyata tujuannya menikahi Nayla hanya untuk harta. Tanpa sadar aku memeluknya tak tega melihat tangisannya.

Komunikasi kami berjalan lancar. Sepertinya rasa itu kembali tumbuh. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Aku sangat menyayanginya. Namun aku tak tahu apakah dia memiliki rasa yang sama atau cinta ini tetap bertepuk sebelah tangan seperti dahulu. Saat itu kami lagi di taman. Tak tau mengapa dia menatapku dan kemudian menggenggam tanganku. “Jo.. maaf selama ini aku selalu membuatmu sedih.. aku selalu menyakiti hatimu.. aku menyesal atas semua ini Jo..” “Nggak apa-apa Nay. Anggap saja ini pelajaran untuk kita…” pembicaraan berlanjut. Ternyata selama ini dia juga mencintaiku dalam diam. Dia tak ingin untuk memulainya. Namun aku selalu gugup untuk mengungkapkannya. Andai saja waktu itu bisa kuulur kembali. Aku akan berani untuk mengungkapnya dengan jelas. “Tahukah kamu, bahwa aku masih mencintaimu seperti dulu?” “Aku tau… namun apa pantas kamu mencintaiku setelah aku menghianatimu? Aku hanyalah seorang janda beranak satu. Sedangkan kamu seorang pria bujang yang mungkin bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku. Aku nggak pantas buat kamu Jo!!” ucapnya merendah. “Aku mencintaimu bukan karena cantiknya wajahmu. Aku mencintaimu bukan karena kaya hartamu. Tapi aku mencintaimu karena ketulusan hatimu. Meski ragamu cacat sekali pun cinta takkan pernah pudar. Cinta hanyalah dusta bila mencintai karena rupa. Cinta takkan bertahan bila hanya memandang kekayaan. Cintaku suci, sesuci hatiku yang tulus menerimamu apa adanya.” Air mata bahagia jatuh membasahi pipinya. “Aku mencintaimu.” Ucapku sambil mendekap tubuhnya.

Love never die. Even if the world is destroyed. Love will only live, when two people love each other sincerely. Because love is a gift…

Cerpen Karangan: Indah Laras
Facebook: Indah Laras

Cerpen Johan (Jodoh di Tangan Tuhan) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenyataan Buat Tarin

Oleh:
“Sudah lama menungguku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus. “Tidak kok, Tarin. Ayo naik, tuh bisnya sudah hampir

Pertanyaan Cinta

Oleh:
Apakah itu cinta? Sebagian orang mendengarkan kata cinta selalu tersenyum bahkan tertawa, hmm tapi kenapa aku tidak pernah merasa seperti itu. Pertanyaan itu selalu menjalar di otakku. Aku adalah

Emak, Gue Jadi Artis!

Oleh:
“Mak, liat deh tuh!” kataku seraya menunjukkan jari ke arah televisi. “Apaan sih?” timpal Emak yang penasaran. “Itu loh mak acara di tipi. Noh, emak liat kan? Duh mak,

Belum waktunya

Oleh:
Assalamu’alaikum wr.wb Dias, sepertinya hubungan kita selama ini sudah terlalu jauh. Aku merasa terlalu banyak mudharat yang terjadi di antara kita. Mungkin lebih baik kita mengakhiri saja semua ini.

Kehilanganya

Oleh:
Aku memcoba membukakan mata ku, yang terbangun dari mimpi indah ku, sorotan sinar mentari memantul ke arah jendela kamar “ya ampun sudah siang” gumam ku dalam hati segera ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *