Jomblo! No Way!!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 October 2017

Nayla melangkahkah kakinya di sepanjang koridor sekolah, pagi itu suasana tampak gelap dan hujan turun dengan derasnya. Ia mulai merapatkan kembali jaketnya untuk mengusir dingin yang menusuk tulang. Langkahnya harus terhenti saat seseorang memanggilnya.

“Nay! Tunggu!” teriak cowok tersebut sambil setengah berlari menghampiri Nayla yang kini berdiri mematung.
“I..i..iya a..ada apa Lex?” ucap Nayla terbata-bata. Jantungnya kini harus bekerja lebih ekstra.
“Lo kenapa Nay?”
“Ngg..gak ada Lex, gue cuman agak kaget aja.”
“Rileks aja kali, gue gak makan orang kok. Sebenarnya gue mau ngomong sesuatu sama lo, bisa gak?”
Nayla mengganguk kecil tanda setuju. Alex lalu mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi taman dekat kantin.
“Bentar ya gue beli makanan dulu, lo mau gak?”
“Boleh.”

Alex lalu pergi meninggalkan Nayla yang kini sedang asik memainkan jari-jarinya. Cewek berkacamata itu sangat gugup. Ia tak menyangka cowok yang selama ini menjadi idola di hatinya mengajaknya berbicara bahkan makan bersama. Rasanya kini ia berada di alam mimpi yang sangat indah dan ternyata bukan sekadar mimpi tetapi kenyataan yang membuat hatinya berbunga-bunga. Alex, anak futsal yang memiliki tubuh atletis, tinggi, putih, ditambah wajahnya yang mendukung memiliki pesona tersendiri. Nayla sudah lama menyukai Alex namun cintanya seperti bertepuk sebelah tangan, cowok tersebut tak pernah sekalipun menyapanya, tapi kini Nayla mulai bersemangat dan memiliki sedikit harapan.

“Sorry agak lama.” Ucap Alex sambil membawa sebuah nampan yang berisi dua mangkok soto dan teh es. Ia lalu menyerahkan salah satunya kepada Nayla yang langsung disambut dengan ucapan terima kasih. Alex lalu duduk di samping Nayla. Mereka langsung melahap soto yang masih hangat tersebut.
“Gue boleh nanya sesuatu gak?” Ucap Alex memulai percakapan setelah cukup lama terdiam.
“Boleh, nanya apa?”
“Lo temannyanya Dea kan? Dia itu udah punya pacar belum sih?”
Nayla langsung tersedak mendengar pertanyaan tersebut, Alex yang melihatnya langsung menepuk-nepuk pundaknya dan memberikan minum, “Lo gak apa kan?”
Nayla mengangguk kecil, setelah merasa sedikit tenang ia akhirnya mulai berbicara, “Hmm, i..iya gue temannya, tapi kalau masalah pacar kayaknya dia belum ada. Mungkin.” ucap Nayla ragu.
“Yeess!!!” Teriak Alex sedikit keras, Nayla yang mendengarnya seketika seperti tertusuk beribu jarum, rasanya saat itu ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Namun ia berusaha untuk bertahan.
“Gue itu udah lama banget suka sama Dea, lo mau gak bantuin gue untuk nyatuin kami berdua?”
Nayla tertegun mendengar kata-kata yang menyakitkan itu. Ia merasa seperti orang yang paling menyedihkan dan setelah berapa lama terdiam ia akhirnya menggangguk pelan. Alex yang berada di sampingnya tampak semakin bersemangat “Makasih banget Nay! Oke gue duluan ya! Nanti gue kabari lagi.” Ucap Alex sambil berlalu meninggalkan Nayla yang kini bergetar. Butiran hangat yang sedari tadi ditahannya mulai tumpah.

“Woy! Kenapa lo! Jelek banget muka lo! Hahaha.” Ucap seseorang saat melewati Nayla.
“Apaan si! Diam lo!” teriak Nayla kesal, rasanya ia ingin melempar makhluk yang bernama Riyan itu dengan batu tapi sayangnya cowok tersebut telah lari dan pergi tanpa bersalah. Nayla kembali menatap langit. Hujan benar-benar reda. Tapi semua tampak basah, seperti hatinya yang berkabut dan basah.

Nayla dan Alex kini berada di sebuah cafe di kawasan Jakarta selatan. Nayla telah berjanji untuk membantu Alex untuk bertemu dengan Dea di cafe tersebut. Setelah beberapa menit dari balik kaca tampak seorang cewek turun dari taksi. Penampilannya sangat modis, Ia memakai dress coklat dan sebuah tas kecil bermerek berada di tangannya. Cewek tersebut lalu melangkah masuk ke dalam cafe.

“Sorry guys agak lama.” Ucap Dea lalu duduk di depan Alex sedangkan Nayla berada di samping Alex.
“Gak apa kok.” Ucap Alex senang melihat kedatangannya, “Lo cantik banget.” Puji Alex yang membuat Nayla ingin muntah.
“Trims Lex.” Dea mengembangkan senyumnya kepada Alex, ia kemudian memesan lemon tea dan salad buah, Alex yang melihatnya langsung memuji cewek tersebut, selain cantik Dea ternyata sangat menjaga kesehatannya berbeda dengan Nayla yang saat itu sedang asik makan fried chicken. mereka lalu berbincang-bincang hangat, Nayla yang berada di situ tidak dipedulikan bahkan dianggap tidak ada keberadaannya. Ia mulai merasa kesal dan akhirnya izin ke toilet untuk menangisi nasibnya yang sangat menyedihkan. Alex lalu berpindah posisi dan duduk di sebelah Dea. Setelah berapa lama Nayla akhirnya izin untuk pulang. Ia sudah tidak tahan. Dan seperti biasa sepasang temannya itu hanya mengucapkan selamat tinggal dan tidak mempedulikannya.

Nayla kini berada di pelukan sahabatnya, Farah. Ia menangis sejadi-jadinya.
“Lo yang sabar ya Nay.” ucap Farah sambil mengelus pundak sahabatnya itu.
“Hiks.. gue udah cukup sabar Far, tapi mereka jahat banget sama gue. Apa gue jelek banget ya?”
“Lo gak jelek Nay justru lo itu cantik, tapi sayangnya lo kurang percaya diri.”
“Jadi gue harus gimana?”

Farah kemudian terdiam sesaat, ia prihatin dengan keadaan sahabatnya itu, dari kecil hingga sekarang Nayla belum pernah yang namanya pacaran atau bisa juga disebut jomblo akut karena memang orangtua Nayla tidak mengizinkannya, tetapi keadaannya sekarang sudah berubah kedua orangtuanya mulai mengizinkan Nayla pacaran asalkan ia dapat menjaga diri dan masih dalam pengawasan. Tapi masalahnya sekarang tidak ada cowok yang mau mendekati sahabatnya itu. Alasannya sederhana menurut Farah, mungkin karena penampilan Nayla yang terlihat sedikt culun. Rambutnya hanya dikucir satu dan ditambah kacamata yang membuatnya seolah-olah seperti gadis kutu buku yang membosankan.

Setelah beberapa lama Farah meraih tangan sahabatnya itu dan dengan semangat ia mengatakan, ”Gue punya ide!”
”Ide apa?” Tanya Nayla sambil menghapus air matanya dengan tisu yang telah berserakan di mana-mana. Tetapi sahabatnya itu hanya tersenyum penuh arti dan bagi Nayla itu sedikit menyeramkan, karena menurutnya senyum Farah seperti pembunuh bayaran di film-film horor yang sering ditontonnya.

Nayla dan Farah kini berada di sebuah salon, awalnya Nayla tidak mengerti untuk apa sahabatnya itu membawa ia kemari. Dan akhirnya Nayla tau bahwa Farah ingin make over dirinya. Nayla langsung menolak karena ia merasa tidak perlu melakukan itu. Farah kemudian membujuk Nayla dengan rayuan mautnya, dan ternyata cukup berhasil.

Nayla akhirnya mau dimake over walaupun ia sedikit ragu, namun Farah terus meyakinkannya. Dan kebetulan malam itu mereka juga ingin mengahadiri pesta ulan tahun temannya, Vina.
Setelah satu jam berlalu penampilan Nayla berubah drastis. Ia kini memakai dress biru yang sangat anggun dan rambutnya digerai sebanjang bahu, Farah yang saat itu sedang membaca majalah langsung tercengang melihat penampilan Nayla. Ia langsung menghambur dan memeluk sahabatnya itu.
“Lo berhasil Nay! gue yakin semua orang bakalan terpesona lihat lo!”
Nayla langsung tersipu malu, “Gak usah berlebihan Far.” Ucapnya pelan tapi sejujurnya ia sangat senang mendengar hal itu.

Nayla dan Farah melangkahkan kakinya di anak tangga menuju lantai 2 tempat pesta diadakan. Saat memasuki ruangan semua mata tertuju kearah mereka, semua takjub dan tidak percaya dengan penampilan Nayla sekarang bahkan ada yang tidak percaya bahwa itu dirinya.
“Ini elo Nay? Cantik banget!” ucap Alex kaget, matanya tak berhenti memandangi Nayla dari ujung rambut ke ujung kaki, Dea yang berada di sampingnya langsung cemburu melihat cowoknya bertingkah seperti itu, “Cantik apanya! Norak tau! Kayak ibu-ibu!” Dea langsung menarik tangan Alex dan meninggalkan Nayla dan Farah.
“Sirik lo!” ucap Farah kesal sambil mengepalkan tangannya, Nayla yang berada di sampingnya hanya diam, sejujurnya ia juga jengkel melihat tingkah laku Dea namun ia berusaha untuk menahannya.

Belum beberapa langkah mereka pergi seorang cowok menghampirinya.
“Ini elo Nay? persis banget kayak lenong! Hahahaha!”
Nayla mengelus dadanya. Riyan selalu mencari onar dengannya, rasanya ia ingin melemparkan high heelsnya kepada cowok tersebut tapi sayang cowok itu langsung pergi tanpa merasa bersalah.

Malam itu banyak yang memuji kecantikan Nayla dan ia hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Bahkan tidak sedikit cowok yang ingin berkenalan dan meminta kontaknya. Nayla seperti berada dia atas awan dan ingin terbang. Ia sangat bahagia malam itu.

Dua hari setelah kejadian itu Nayla tiba-tiba jatuh sakit. Ia demam dan terkena flu. Sahabatnya Farah berencana untuk mengunjunginya.
“Hay Far! Gue mau nanya sesuatu sama lo, akhir-akhir ini kok gue gak nampak Nayla ya?” ucap Riyan di koridor kelas sambil mendribble bola basket.
Farah sedikit kaget melihat Riyan bersikap dan bertanya seperti itu, “Iya dia lagi sakit.”
“Sakit apa?”
“Demam Yan. Btw tumben banget lo nanyain dia. Suka yaa? Ciiiiieeee.”
“Biasa aja kali, gini-gini gue juga apunya sisi kemanusiaan.”
“hahaha.. seterah lo dah! Oh ya, gue hari ini rencana mau jenguk dia. Ikut gak?”
“Boleh.”

Saat mereka asik berbincang tiba-tiba Dea datang dan langsung menyender di bahu Riyan.
“Ngomongin apa say?” Tanya Dea dengan semangat.
“Ini kami mau jengukin Nayla, lo mau ikut gak?” jawab Riyan sekenanya dan berusaha untuk menghindari Dea yang terus menempel seperti lintah. Mendengar jawaban seperti itu ekpresi Dea langsung berubah, ia seperti jengkel.
“Lebay banget sih dijenguk segala! Baru juga sakit gitu doang.”
“Santai dong! Kalau gak mau ikut ya udah!” ucap Farah kesal rasanya ia ingin menonjok wajah Dea saat itu juga. Dea diam seketika ia tampak sedang berpikir, “Oke deh gue ikut.” Ucap ia akhirnya.
Farah mengepalkan tangannya, “Dasar cewek gaje!”
“Diam lo!” ucap Dea tanpa mempedulikan Farah dan tetap mendekati Riyan. Farah yang melihatnya seketika langsung jijik. Dasar playgirl gadungan!

Sepulang sekolah mereka bertiga langsung menuju ke rumah Nayla yang tidak terlalu jauh hanya beberapa meter dan mereka sepakat untuk berjalan kaki saja. Awalnya Dea tidak setuju dengan usulan tersebut karena ia khawatir dengan kulitnya yang putih, tetapi dengan terpaksa ia tetap pergi jika memang tidak ingin ditinggalkan oleh Farah dan Riyan.
“Far lo tau gak di sekitar sini ada jualan makanan atau buah-buahan gitu?”
“Kayaknya ada Yan, emang untuk apaan?”
“Untuk si Nayla, gak enak kan kalau kita berkunjung gak bawak apa-apa, setidaknya buah-buahan.”
“Ide lo bagus juga tu, gue setuju.” Ucap Farah semangat, Dea yang berada disampingnya hanya memasang wajah jengkel. Ia tetap menggandeng dan menempel dengan Riyan. Setelah beberapa lama Riyan sangat kesal dengan tingkah laku Dea yang seperti anak-anak.
“Lo gak usah nempel-nempel terus deh. Risih gue”
“Apa sih Yan! Aku tu sayang kamu.”
“Tapi maaf, sayangnya gue enggak!” ucap Riyan dan langsung melepaskan dirinya dari Dea.
Dea langsung pergi meninggalkan Farah dan Riyan begitu saja, “Gue bete sama kalian!” teriaknya dari jauh. Riyan hanya mengangkat bahu dan tetap meneruskan langkahnya begitu juga Farah yang memang sedari tadi tidak mempedulikan keberadaan cewek sombong itu.

Semenjak dijenguk oleh Farah dan Riyan keadaan Nayla mulai membaik hingga akhirnya ia bisa kembali bersekolah. Nayla saat itu sangat bingung dengan tingkah laku Riyan yang sedikit berubah. Ia kaget saat cowok tersebut menjenguknya beberapa hari yang lalu. Riyan yang biasanya cerewet dan sering mengejeknya tiba-tiba diam dan sangat memperhatikan Nayla yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Hingga suatu hari saat Nayla sedang duduk-duduk di bangku taman sekolah, Farah tiba-tiba menghampiri dan menarik tangannya ke lapangan basket.

“Woy jelek!” teriak seseorang dari atas menggunakan speaker saat Nayla telah sampai di tengah lapangan. Nayla langsung menoleh ke sumber suara dan seketika kaget melihat Riyan berada di atasnya tepatnya di lantai 2 gedung sekolah. Cowok teresebut lalu membuka gulungan pamflet besar bertuliskan “KAMU MAU GAK JADI PACAR AKU?”
Riyan segera menghampiri Nayla yang kini mematung dan mengulangi kata-kata tersebut, “Maaf selama ini aku ngejek kamu Nay, tapi sebenarnya itu bentuk sayang aku ke kamu. Kamu mau gak nerima aku jadi pacar kamu?” ucap Riyan sepenuh hati dan terdengar tulus.
Nayla hanya tertunduk dengan mata berkaca-kaca, tak lama kemudian ia mengatakan ”Maaf aku gak bisa.”

Riyan yang mendengarnya seketika seperti tersambar petir ia tidak menyangka bahwa dirinya akan di tolaK. Tetapi cowok tersebut tetap berusaha untuk tenang, “Oke, gak pa pa, kamu punya hak untuk memilih dan aku gak bisa maksa.” Ucap Riyan dengan nada lemah.
Nayla lalu mengangakat kepalanya dan memandang cowok yang kini berada di hadapannya. Senyumnya mengembang dan membuat Riyan bingung, “Gak bisa nolak.” Ucap Nayla akhirnya yang disambut riuh oleh murid-murid yang mengelilingi mereka, seketika Riyan langsung melompat kegirangan dan memeluk Nayla.

“I love you Naaayyy” Teriak Riyan sekencang-kencangnya menggunakan speaker. Nayla yang melihat tingah laku cowok tersebut hanya tersenyum geli, mungkin sebentar lagi mereka bakalan dipanggil guru BP karena teriakan Riyan tersebut. Tapi ia tidak terlalu peduli, rasanya ia juga ingin berteriak kepada dunia bahwa ia tidak jomblo lagiii!!! Uhuuyyy!!!

Pangkalan Kerinci, Selasa, 02/01/17

Cerpen Karangan: Aisyah Anuar

Cerpen Jomblo! No Way!! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tak Terduga

Oleh:
Aku sedang berbicara lewat hp dengan sahabatku, Anggun, “Iya, Gun nanti sore jadi kok ke toko buku. Tenang aku antar kamu kok.” kataku sambil menyeruput minuman dingin yang ku

Warna-Warni Hujan

Oleh:
Jika merah adalah cinta dan kuning adalah persahabatan, maka Jingga adalah kebahagiaan. Kudengar di luar hujan turun begitu deras seolah menggambarkan kecemasannya akan takdirku. Seolah ikut merasakan segala kegalauan

Apakah Dia Alvin?

Oleh:
Siang itu, Alvin, Nandin, Yusi, Yuli, dan Aku baru saja pulang dari acara perkemahan tahunan sekolah, Kami duduk di bangku kelas 12 IPA SMA. dan, kami tinggal di kampung

Galau

Oleh:
Percakapan kedua orang tuanya masih terngiang-ngiang di otaknya. “Argggghhh!!!”gerutunya “Kenapa sich orang tuaku selalu ikut campur masalahku? Ini hidupku,aku yang menjalani,aku yang tau mana yang tebaik untuk hidupku. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jomblo! No Way!!”

  1. daffafakhi says:

    ts dari pangkalan kerinci juga. salken, saya juga tinggal di pangkalan kerinci

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *